Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 44. HARAPAN MARK


__ADS_3

"Mau sampai kapan kita harus kayak gini, Mas?"


Amar yang baru saja masuk ke dalam kamar tidur utama berhenti melangkah, ia melongok ke arah Lidia. Wanita yang sudah melahirkan dua orang keturunan untuk Amar, sayangnya. Meskipun anak dilahirkan merupakan dua orang anak lelaki, wasiat untuk warisan keluarga diwariskan dengan jelas untuk Dinar. Cucu pertama sekaligus cucu satu-satunya yang diakui oleh ayah Amar dan ibu Amar, walaupun Amar menduduki kursi CEO. Pada kenyataannya Amar bukanlah orang yang berkuasa, entah bagaimana ayahnya begitu licik. Sampai mati pun pria tua itu tetap melindungi Anggun, untuk bisa bersama dengan Amar.


"Mau bagaimana lagi, semuanya tidak akan bisa diubah." Amar bersuara.


Lidia bangkit dari posisi duduknya, melangkah mendekati sang suami. Lelaki ini merupakan orang yang membuat Lidia mendapatkan banyaknya cemoohan dan hinaan, orang ketiga tidak pernah mendapatkan tempat terbaik di masyarakat. Kemana pun Lidia pergi bersama Amar, tatapan sinis dan bisikan merendah selalu dilemparkan oleh banyak perempuan. Apa salahnya dalam jatuh cinta? Lidia lah yang memiliki Amar. Ia adalah kekasih Amar, sebelum Amar menikahi Anggun. Lantas mengapa Lidia harus mengalah? Hanya hanya karena tempat yang ditempati oleh Anggun sedari awal adalah miliknya.


"Kamu sudah minum obat?" tanya Amar lembut, tangannya terangkat menyentuh pipi Lidia yang tampak semakin tirus.


Kepala Lidia sontak mengangguk perlahan. "Ya, sudah," sahut Lidia pelan. "Bagaimana kondisi Anggun?"


Amar mendesah kasar, dan berkata, "Dia dibawa oleh Dinar, entah apalagi yang ingin Anggun lakukan. Hanya agar Dinar semakin membenciku."


Lidia menipiskan bibir, wanita paruh baya ini akui. Ia merasa bersalah pada Dinar, sorot mata tajam Dinar dan kata ketus Dinar membuat Lidia tersakiti. Bagaimana pun di darah Dinar, sama dengan darah kedua putra Lidia. Lidia berniat membesarkan Dinar, bersamaan dengan kedua anak lelakinya. Ia hanya tidak suka dengan Anggun, wanita itu dinilai terlalu angkuh. Hanya karena berasal dari kalangan berada, dan mendapatkan dukungan orang tua Amar. Ibu mertuanya sampai tutup usia, tak pernah menerima kehadiran Lidia sebagai menantu. Bagi mertuanya, Lidia dan kedua cucu lelakinya adalah aib. Karena kebodohan Amar, bahkan wanita tua itu tak sungkan menyatakan bahwasanya Amar akan menyesali keputusannya.


"Dia sedari awal memang begitu, kalau memang Anggun adalah wanita baik-baik. Dia gak akan mau menerima pernikahan kalian Mas, lantaran dia tahu ada aku yang masih menjalin hubungan denganmu saat itu. Bahkan dia dengan liciknya, mencoba memutuskan hubungan kita," tutur Lidia, dengan sorot mata aneh.


Lidia lupa, status seorang kekasih dan status orang yang menikah itu sangat jauh berbeda. Anggun menerima perjodohan lantaran Amar menyatakan ia membutuhkan Anggun, Anggun yang naif lantaran mencintai Amar. Menerima pernikahan, ia tak tahu menahu jikalau hubungan antara Amar dan Lidia masih terjalin. Sampai hari itu, ia mendapati kebersamaan yang seharusnya tidak lagi terjalin.


"... ah, iya. Bagaimana dengan Ronal?" Amar mengalikan pembicaraan yang tak menyenangkan.

__ADS_1


Lidia mengigit bibir bawahnya, dan mengeleng. "Maaf, Mas. Seperti yang Mas Amar ketahui, Ronal tidak bisa menjadi seperti Dinar. Dia tidak sehebat Dinar, kali ini pun ia sama sekali tidak bisa mendapatkan nilai terbaik."


Amar berdecak sebal, apa yang sebenarnya terjadi. Dua putranya sama sekali tidak memiliki kelebihan apapun, Ronal yang tidak bisa apa-apa. Jika bukan karena uang dari dirinya, mana bisa Ronal sampai  melewati masa-masa sekolah dengan tenang. Lantaran Ronal terbilang selalu mendapatkan nilai terburuk di sekolah, sedangkan Geral. Putra bungsu Amar, dia sakit-sakitan. Dari kecil sampai usia 18 tahun, masih saja sakit-sakitan. Seakan-akan Tuhan menghukumnya melalui kedua putranya.


Jauh berbeda dengan Dinar, anak itu pintar sedari kecil. Berprestasi seperti Anggun di masa remaja, ia tumbuh tanpa bantuan apapun dari Amar. Bahkan ibu Amar pun ditolak saat memberikan bantuan, bagi Dinar. Ia tak ingin seper pun uang dari Amar maupun keluarga Amar, sekarang Amar sudah tua. Anak yang pertama tidak akan pernah bisa mendapatkan jabatan milik Amar, entah itu diwariskan secara sah atau pun tidak.


"Maaf, Mas," gumam Lidia lirih.


"Tak apa-apa, Lidia. Yang penting saat ini adalah kesehatanmu, dan juga Geral. Untuk Ronal, mau bagaimana lagi. Dia memang tidak punya bakat di bidang apapun," sahut Amar pasrah.


...***...


Hampir saja Dinar berteriak keras, lantaran Mark mengejutkan dirinya. Bayangkan saja, pemuda gila itu entah kapan masuk ke dalam kamar yang Dinar huni. Tergolek di samping Dinar, dengan kedua mata terbuka lebar menatap ke arah Dinar.


Sungguh Mark bersyukur sekali, seiiring bertambahnya usia janin di dalam kandungan Dinar. Rasa mual, mood swing yang sering kali melanda sang CEO menghilang. Telapak tangan Dinar mengusap degup jantungnya, sebelum melayangkan tatapan kesal pada ayah dari sang janin. Hobi sekali membuat Dinar terkejut, oleh kehadirannya sudah seperti jelangkung saja. Datang tak diundang, pulang tak diantar.


Dinar secara perlahan duduk dari posisi tidur miringnya, Mark ikut bangkit. Dinar melirik perutnya sudah mulai menonjol, ia dapat merasakan pergerakan di dalam rahimnya.


"Kenapa, Sayang? Apakah anak kita nakal lagi?" Mark bersuara heboh melihat ekspresi Dinar mendadak termenung, sebelum meringis kecil.


Dinar menoleh ke asal suara, dan berkata, "Anak ini gak nakal, yang nakal adalah kamu, Mark. Masuk kamar ini senaknya sendiri, berapa kali sih aku ngomong. Jangan ke sini pagi-pagi."

__ADS_1


Oke, Dinar mulai mengomel akan kebiasaan menyelinap Mark. Sumpah, Mark tidak melakukan hal aneh. Hanya masuk ke dalam kamar, naik perlahan di atas ranjang. Merebahkan tubuhnya miring ke arah Dinar, ia ingin menatap wajah Dinar. Hanya itu, rasanya satu hari tanpa melakukan rutinitas satu ini. Mark akan uring-uringan di ruangan kantornya, bahkan meeting penting pun akan mendadak tak nyaman untuk para karyawan kantor Mark. Sebab, selalu saja ada yang diomeli oleh Mark.


"Jangan marah-marah gitu, dong. Aku cuma numpang tidur 20 menit di sini. Kalau kamu dah bangun kayak gini, kan langsung ngusir aku. Jadi, santai! Jangan marah-marah, masih pagi, Sayang." Mark beringsut mundur, turun dari atas ranjang.


Dinar mendesah berat, samar-samar mereka berdua mendengar suara berisik dari arah luar. Dinar ikut turun dari ranjang, melangkah mendekati pintu ke luar. Jelas sekali ia mendengar suara heboh di arah dapur, nama ibunya dibawa-bawa. Dinar dan Mark melangkah terburu-buru, menuju dapur. Langkah kaki kedua pemuda itu berhenti dengan pupil mata membesar, Dinar merasa dejavu dengan keadaan saat ini.


Dengan apron pink, rambut hitam dicepol ke atas, spatula bergerak memindahkan makan ke atas mangkok sebelum diletakkan di tempat cucian piring. Tubuh itu beralih ke arah orang-orang yang menonton, senyuman lembut sorot mata yang hidup. Membuat bibir Dinar bergetar hebat, matanya memerah.


"Ayo, makan. Mama sudah siapkan makanan kesukaan Dinar," ucapnya lancar sekali, dan lembut.


Tumpah, air mata Dinar jatuh berderai. Ia bahkan untuk barang sesaat lupa dengan perutnya yang membesar berlarian mendekati tubuh Anggun, bibir yang 1 bulan ini masih masih terkatup rapat kini sudah terbuka dengan leluasa. Mata yang selalu tampak kosong tampak cerah, Dinar memeluk tubuh Anggun. Pelukan yang tak sempurna, mengingat ada jarak yang terbentang oleh perut Dinar yang mulai menonjol.


"Ma—mama," panggil Dinar, bergetar dan tergagap.


Sungguh! Apa ada mukjizat yang turun di mansion Mark? Sampai ibunya seakan-akan waras kembali. Anggun membalas pelukan Dinar, mengusap lembut punggung belakang Dinar.


"Ya, Sayang. Ini Mama," jawab Anggun lirih.


Mark menghela napas lega, dengan kode mata. Mark meminta para pembantu rumah meninggalkan ruangan dapur, memberikan privasi untuk ibu-anak satu ini. Mark mengulas senyum kala manik matanya bertemu dengan manik mata Anggun, wanita paruh baya itu cukup mengejutkan Mark. Tepat ke minggu ketiga tinggal bersama mereka, dikala Dinar terlelap. Anggun mendatangi ruangan kerjanya, itu membuat Mark syok bukan main. Anggun menjelaskan situasi yang terjadi, dan meminta Mark merahasiakan ini dari Dinar. Setidaknya ia merasa lega, ibu mertuanya itu baik-baik saja.


'Aku harap ini adalah permulaan untuk kebahagiaanmu dan ibumu, Dinar.' Mark mengangguk kecil, sebelum melangkah meninggalkan keduanya.

__ADS_1


Biarlah Anggun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan jujur pada Dinar. Walaupun tindakan Anggun dinilai bodoh, akan tetapi Mark mencoba mengerti kebohongan yang Anggun bangun. Karena rasa sakit yang dalam membuat ia gelap mata, meskipun demikian. Anggun mau merubah pemikiran gilanya itu saja sudah lebih dari cukup, Mark ingin melihat Dinar berbahagia.


Bersambung...


__ADS_2