
Dinar merapikan beberapa gaun di butik, penampilan Dinar memang sangat banyak berubah. Tidak ada perut berlemak, pakaian seragamnya terlihat begitu pas mencetak lekuk tubuh Dinar. Eva dan Putri sangat senang melihat penampilan Dinar, karena sang sahabat sudah sangat jauh berubah. Rambut pendek Dinar ditata dengan rapi, dijepit ke belakang.
TING!
Lonceng pintu masuk membuat mereka bertiga langsung membalikkan tubuh, tak lupa menarik kedua sudut bibir mereka ke atas. Melengkung untuk menyambut kedatangan pembeli namun, senyum mereka langsung surut. Melihat dua orang yang datang, melangkah masuk ke dalam ruangan butik. Eva dan Putri langsung melangkah cepat mendekati Dinar dari pada menyongsong kedatangan dua orang pembeli yang terlihat begitu mesra.
"Mas Damar! Kok kita ke sini sih? Katanya mau ke butik mahal," ucap Anjani yang terlihat ketakutan melihat keberadaan Dinar.
Awalnya Anjani senang sekali akan membuat gaun pernikahan di butik ternama, yang kata Damar adalah tempat bergensi. Membuat gaun pernikahan yang begitu indah, ada juga yang sudah siap jadi. Sebagai contoh yang mungkin bisa jadi inspirasi untuk si calon mempelai wanita, Damar terlihat tersenyum menyeringai melihat wajah Dinar.
Wanita sombong ini, perempuan yang membuat Damar harus berguling-guling di lantai karena perbuatan Dinar. Hampir saja adik kecilnya bermasalah karena apa yang dilakukan oleh Dinar, untung karena wajah cantik Dinar. Membuat Damar tidak melakukan hal gila padanya, bisa saja Damar memukul Dinar saat ini. Namun, melihat bagaimana wanita di depannya ini membalas senyumnya dengan ekspresi ramah, ingat! Pembeli adalah raja. Selogan yang selalu membelenggu pegawai toko, tapi mereka lupa. Ada raja yang tidak memiliki mahkota di kepalanya, yang tidak bisa memanusiakan pegawai. Dituntut untuk dilayani dengan baik, tapi lupa dengan rasa kemanusiaan.
"Tenanglah, tempat ini adalah butik ternama Anjani. Bahkan pembuatan desainer bajunya adalah seorang mahasiswa yang pernah ditawari oleh kampus ternama di Paris," sahut Damar dengan pandangan mata menatap intens wajah Dinar yang terlihat biasa saja.
Meskipun hati Dinar terasa sakit, karena untuk menyekolahkan Damar sampai S2. Dinar yang saat itu ditawari beasiswa oleh banyak kampus di Paris, harus menguburkan impiannya. Dinar tidak ingin menghilangkan tanggung jawabnya sebagai seorang istri, apalagi saat itu Damar juga butuh biaya. Dinar mundur, perempuan ini memiliki menolak banyak tawaran. Pada akhirnya, Dinar harus bekerja di butik teman satu jurusan. Banyak yang menyayangkan Dinar yang menolak tawaran yang cuma satu kali seumur hidup, karena Damar.
"Ha? Benarkah, Mas? Wah! Hebat sekali, loh," sahut Anjani antusias.
Namun, saat kedua matanya berbenturan dengan Dinar, Anjani menciut. Ia hanya mengandeng tangan Damar, sedikit bersembunyi di belakang tubuh Damar.
"Wah! Darahku mendidih mendengarnya," sahut Eva dengan ekspresi wajah kesal.
"Kacang lupa dengan kulitnya. Manusia memiliki gelar pendidikan yang tinggi ternyata tidak mampu menyamai pendidikannya. Tak malu pada gelarnya," timpal Putri ikut berbicara dengan nada sinis.
Damar abai, pria itu tidak begitu peduli dengan sinisan dari Eva dan Putri. Sahabat Dinar yang sedari awal tidak suka dengan Damar, karena menilai Damar menghabiskan semua uang. Damar memoroti uang Dinar, Dinar yang berkerja keras untuk Damar. Tapi setelahnya, Dinar yang ditendang dari kehidupan Damar. Bukannya Damar berbuat baik, dan bahkan sampai mati pun Damar tidak akan bisa membalas kebaikan Dinar. Tapi apa yang terjadi? Damar malah menyakiti Dinar. Menginjak-injak harga diri Dinar, dan pengorbanan Dinar.
__ADS_1
"Sudahlah, Eva! Putri!" seru Dinar dengan nada tenang. "Mereka ada pelanggan hari ini. Kita harus berkerja secara professional."
"Kau bodoh, hah! Dia sedang mempermalukan kau, Dinar!" seru Eva kesal.
"Benar, Dinar! Kau itu jangan begitu baik, dong. Ada banyak butik di Jakarta ini, lalu kenapa dia bisa ke sini. Sengaja ingin menyiksamu, itu," timpal Putri tak kalah kesalnya.
Berbeda dengan teman-teman Dinar, Damar malah tersenyum lebar mendengar perdebatan keduanya. Dinar menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. Ia melangkah mendekati keduanya, senyum tipis terbentuk.
"Selamat datang di butik kami, seperti yang Bapak Dosen katakan. Butik ini adalah butik terbaik di Jakarta, karena salah satu pegawai adalah seorang mahasiswa yang hebat. Kalau begitu, ayo. Saya antarkan Bapak Dosen dan pasangan Bapak keruangan," ucap Dinar membuat kedua sisi rahang Eva dan Putri ingin jatuh ke tanah.
"Inilah yang dinamakan pegawai yang propesional," sahut Damar dengan senyum lebar. "Tolong tunjukkan jalannya. Aku ingin gaun yang terbaik dan indah untuk kekasihku. Dan tolong untuk lingkar pinggangnya bisa sedikit lebar. Takutnya anak kami kenapa-napa."
Senyum Dinar semakin lebar, dan berkata, "Oh, Bapak Dosen tenang saja. Ayo, saya antarkan ke tempatnya."
"Kau lihat?" tanya Putri pada Eva saat punggung belakang Dinar semakin menjauh.
"Iya, apa yang direncanakan oleh Dinar? Aku merinding melihat dia tersenyum," balas Eva.
"Damar mungkin lupa, Dinar bukan perempuan bodoh. Dinar adalah orang yang membuat Dosen mesum di kampus dipermalukan. Sampai tidak diterima di kampus mana pun, setelah Dinar tersenyum seperti tadi. Dia mengeksekusi Dosen mesum itu," ucap Putri kembali.
"Benar. Aku merasa ada rencana gila," timpal Eva.
Sontak saja keduanya mengangguk serentak, dikira Dinar cupu! Ternyata Suhu.
***
__ADS_1
"Bersulang!" Eva berseru keras dengan gelas jus diangkat tinggi.
TING! TING! TING!
Gelas kaca itu langsung beradu, ketiganya berada di rumah Eva. Di kamar gadis manis itu, dengan beberapa cemilan dan minuman dingin. Dinar terkekeh kecil melihat bagaimana ekspresi wajah kedua sahabatnya, terlihat begitu bahagia karena kegilaan Dinar. Mereka minum secara perlahan, sebelum Dinar meletakan gelas jus manga di atas meja. Bersandar di badan ranjang milik sang sahabat, melihat sembari memperhatikan wajah cerah dari keduanya.
"Apakah kau tahu Dinar? Tadi saat wajahnya memerah karena nominal angka baju yang harus dibayar. Gila! Aku ingin sekali mengabadikannya sosial media," ucap Putri dengan wajah semringah.
"Setuju! Apakah dia pikir harga sebuah gaun desain Dinar itu murah. Kau benar-benar hebat, Dinar. Kalau aku jadi kau, jangankan berpikir untuk menguras uang Damar. Melihat dia saja mungkin aku langsung mengamuk karena kesal. Tapi, kau? Benar-benar hebat," puji Eva pada Dinar.
Dinar melipat kedua tangannya di bawah dada, dan tersenyum lebar. "Itulah salahnya meremehkan orang lain, mungkin bagi dia akan melukai aku dengan datang membawa pelakor itu. Aku akan menangis karena Damar memberikan gaun terbaik untuk calon istrinya. Sedangkan aku menikah dengan dia memakai baju kebaya biasa, tapi nyatanya? Aku malah membuat dia harus mengeluarkan uang seratus juta untuk sebuah gaun saja."
"Tapi... kau baik-baik saja, bukan? Karena saat pernikahanmu. Kamu harus memakai kebaya ibumu," ucap Putri dengan nada hati-hati.
Dinar tidak mengangguk atau tidak pula mengeleng, dusta kalau Dinar bilang dia baik-baik saja. Ada terselip rasa sakit hati, karena bagaimanapun mereka pernah menjadi pasangan suami-istri. Meski belum sah bercerai, masih pada tahap pemanggilan pertama saja. Mediasi, dari pengadilan agama. Untuk Dinar dan Damar, sayangnya Dinar tidak akan pernah datang.
Usapan di punggung belakang Dinar yang bersandar di tubuh ranjang, langsung terlihat menoleh ke arah Putri. Keduanya memeluk Dinar dari kedua sisi.
"Kami berdua akan selalu bersamamu, Dinar!" seru Putri dengan nada lembut.
"Benar, kami akan mendukungmu," timpal Eva.
Dinar terharu karena memiliki sahabat yang setia, mendukung Dinar. "Terima kasih, Eva! Putri! Tanpa kalian berdua, aku tidak tahu apakah aku akan memiliki keberanian sebesar ini."
Bersambung...
__ADS_1