Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 49. ANAKNYA CACAT


__ADS_3

"Makan pelan-pelan," tutur Benny dengan intonasi lembut, senyuman lembut diulas.


Dinar terkekeh kecil, ia mengangguk perlahan. Tangan Benny sesekali tampak mengusap perlahan sudut bibir Dinar yang tekanan bumbu ikan bakar dengan tisu, Mark yang berdiri di tempat pemanggang ikan bakar mencabik. Rasanya dari tadi, posisi Mark diisi oleh Benny. Walaupun pria itu sudah dianggap sebagai ayah kandung oleh Dinar, tetap saja. Mark tak suka ada pria lain yang menyentuh istrinya, Dinar malah melototi dirinya yang ingin mendekat ke arah kursi.


"Aku jadi ingat saat Om Ben menemaniku berkemah bersama Mama di belakang rumah. Lantaran pria itu ada perkejaan di luar kota," kata Dinar, ia menjadi ingat masa, itu.


Sebelum semuanya berubah jungkir-balik, katanya sang ayahnya ke luar kota. Dinar sangat ingin berkemah bersama kedua orang tuanya, hal hasil ia menangis diam-diam di taman belakang rumah. Benny yang kebetulan ke rumah, mendapati si kecil Dinar menangis. Menawarkan untuk membuat tenda di belakang rumah, dan menyiapkan tempat pembakaran untuk memanggang jagung, ayam, dan ikan bakar. Hanya untuk menyenangkan hati Dinar, sekaligus menemani Anggun.


Faktanya ayahnya sama sekali tidak bekerja di luar kota, ayahnya pergi ke luar kota untuk menemani wanita simpanannya.


Benny menghela napas kasar, dan berkata, "Saat itu saat paling terburuk, sebab mamamu diam-diam mengetahui apa yang dilakukannya oleh papamu."


Dinar meletakkan perlahan ikan bakar di atas piring, yang berasa di pangkuannya. Ekspresi wajahnya tampak mulai serius, melirik ke arah Benny.


"Om," panggil Dinar cepat. "Om dan Mama sudah sangat lama bersama, Om jelas mencintai Mama. Lantas mengapa Om tidak mau memperjuangkan Mama saat itu, ku rasa. Jika Om mau berjuang keras untuk Mama. Om adalah orang yang akan berdiri di sisi Mama, dan bisa membahagiakan Mama," lanjut Dinar penasaran.


Benny menipiskan bibirnya, ah, pria paruh baya ini kembali mengingat masa lalu. Ia tumbuh besar bersama Dinar di sisinya, menjadi sahabat Dinar. Ayahnya adalah seorang supir pribadi ayah Dinar, sungguh. Benny tahu diri dengan posisi dirinya, bagaimana seorang anak dari bawahan menginginkan posisi pendamping untuk putri majikannya. Mereka jelas berbeda, ditambah lagi. Anggun jatuh cinta dan tergila-gila pada Amar. Lelaki gagah dengan derajat yang sama dengan Anggun, membuat Benny insecure.


"Saat itu, kami jelas berbeda, Dinar. Apakah kamu tidak melihat dua perbedaan di antara papamu dan Om?"


Dinar mengerutkan dahinya. "Perbedaan," ulang Dinar memberat. "Ya, tentu saja aku melihat dua hal yang berbeda. Om Ben adalah lelaki yang baik, bertanggungjawab, tulus, serta pekerja keras. Sedangkan dia, hanya lelaki manipulatif, licik, dan tidak tahu diri," tutur Dinar membuat Benny terkekeh kecil.

__ADS_1


Dinar sangat tidak menyukai Amar, sumpah. Ia merasa Amar ayah terburuk yang pernah ada, tidak tahu malu dan manipulatif. Bahkan melahap harta kakeknya, membuat ibunya sengsara.


"Kamu salah, Dinar," balas Benny lirih, setelah menghentikan kekehan kecil.


"Gak, Om. Aku gak salah, itu benar adanya."


"Papamu adalah seseorang Tuan muda yang masa depannya telah disusun oleh orang tua, begitu pula dengan ibumu. Sedangkan Om gak begitu, Om harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Ibarat kata Om mulai dari 0, mereka berdua memulai dari angka 8. Bagaimana bisa Om melawan orang yang seperti itu?"


Dinar mengeleng sekilas. "Om salah, besar. Wanita itu luluh dengan perjuangan seorang pria, sekeras apapun hati seorang wanita. Kami akan luluh melihat kerasnya perjuangan, pengorbanan, serta ketulusan yang diperlukan tanpa kepalsuan. Begitu pula dengan Mama, apalagi Om Ben lebih dahulu kenal Mama. Om Ben lebih tahu cara meratukan Mama dan paling penting adalah Om Ben tulus sama Mama."


Ekspresi wajah Benny terlihat tak percaya, Dinar menghela napas kasar.


"Om Ben masa, gak percaya. Noh, itu pria yang ngipasin ikan bakar itu adalah contoh nyatanya, Om. Dia bukan tipeku, telinganya bertindik, lagak sok player, gombal nomor 1, dan paling ngeselin dia mesum. Tapi karena aku melihat dia berjuang keras, gak bersandiwara. Aku... luluh, bukan karena dia Ayah dari anakku. Tetapi karena effort-nya, gak main-main." Dinar menunjuk ke arah Mark.


"Sabar, Sayang! Ini sudah selesai, aku akan bawa ke sana. Bilang sama anak kita, Daddy Mark akan memanjakan dia," teriak Mark semangat 45, padahal tadi tampak berwajah masam.


Benny terkekeh, Dinar mengulas senyum tipis. Tangannya diturunkan perlahan.


"Ya, sepertinya kali ini kamu benar, Dinar." Benny bergumam menyetujui.


"Nah, kalau begitu. Om Ben, mau 'kan ke Jakarta sama aku dan Mark. Mama menunggu di sana, Mama butuh Om Ben. Aku percaya, jodoh Om Ben dan Mama akan terjalin. Bukankah sudah saatnya, Om Ben menunjuk diri Om Ben pada Mama. Jangan bersembunyi terus di balik layar, Om Ben harus menjadi pemeran utama juga. Sekarang gak ada yang namanya Tuan dan Nona muda, terlepas dari status di masa lalu. Om Ben dan mamaku, merupakan pasang yang memang ditakdirkan bersama," pungkas Dinar, tak bisa dibantah.

__ADS_1


Benny diam barang sejenak, sebelum mengangguk menyetujui. Benny sekarang sudah hidup lebih dari kata berkecukupan, ia memiliki lahan perkebunan di puncak. Ia bekerja keras sembari menunggu Anggun, Benny akan hidup berdua dengan Anggun. Merajut kisah yang terlalu lama tertunda, apalagi Dinar mendukung dirinya untuk maju.


...***...


Peluh yang mengalir deras, sorot mata yang datar. Dua belas jam ia berjuang menahan rasa sakit untuk melahirkan anak itu ke dunia ini, perjuangan bukan main-main. Menahan rasa sakit yang sulit untuk Anjani utarakan. Anak itu lahir dengan keadaan memprihatinkan, bibirnya sumbing dan sebelah kakinya yang bengkok. Lasmi mengendong cucu pertamanya menatap lemah ke arah Anjani, anaknya terlihat melirik jijik pada sang cucu.


"Jauhkan dia dariku, Bu!" seru Anjani, berang.


Lasmi mendesah kasar, dan berkata, "Cobalah dilihat lagi anakmu, Anjani. Dia lucu seโ€”"


"Aku bilang bawa jauh, ya, bawa jauh, Bu! Lucu dari mananya? Dia anak cacat, aku jijik melihatnya. Bagaimana bisa aku melahirkan anak seperti itu, apa kata orang jika anak yang aku lahir 'kan kayak gitu. Pasti keluarga Mas Damar akan menertawakan aku, gak! Gak boleh. Buang dia, Bu! Tolong buang!" potong Anjani menggebu-gebu.


Lasmi terperanjat, ayah Anjani masuk ke dalam ruangan inap. Keduanya membawa Anjani lahir ke bidan di pinggir kota, mengirit biaya lahiran. Ini sungguh mengejutkan bagi Edi, sang cucu malah terlahir cacat.


"Apa sih, Bu! Kalau Anjani gak suka gak usah dikasih sama dia. Anak ini nanti kita kasih saja sama ayahnya," celetuk Edi, membuat Lasmi melotot.


"Kok, gitu, Yah? Mau bagaimana pun ini masih cucu kita," protes Lasmi.


Edi melirik ke arah bayi merah di gendongan sang istri. "Anak kita banyak, Anjani harus bekerja setelah ini. Siapa suruh gagal nikah sama orang kaya, anaknya cacat pulak."


Anjani merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang, mengarub kedua matanya. Semuanya kacau, kenapa hidupnya tidak bisa bahagia? Ia sudah berjuang keras. Bahkan mantan istri dari Damar, mengandeng lelaki kaya raya, tampan lagi. Ia pernah tak senagja bertemu saat ia melihat-lihat keperluan bayi di mall. Hanya lihat-lihat saja, saat itu ia melihat bagaimana bahagianya Dinar. Kenapa Tuhan tak adil? Dinar bisa bahagia kenapa Anjani tidak? Air matanya tumpah ruah, takdir terlalu buruk untuk Anjani.

__ADS_1


Bersambung...


Hadeh, mental korban๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ๐Ÿ˜ฎโ€๐Ÿ’จ yang jadi pelakor siapa, malah meras tersakiti sendiri ๐Ÿซฃ


__ADS_2