
Suara denting lift berbunyi nyaring kala pintunya terbuka, Dinar mengayunkan langkah kakinya untuk ke luar dari lift. Baru saja 3 kali ia melangkah, Dinar mendapati eksistensi wanita paruh baya berdiri tegap di depan pintu masuk apartemen milik Dinar. Dilihat dari pakaian yang dikenakan, tidak satu pun barang tiruan. Dahi Dinar mengerut, ia tidak ke kenal dengan wanita di depan sana.
Perlahan namun pasti kaki jenjang Dinar berhenti, wanita paruh baya yang masih tampak cantik diusianya tak lagi muda. Mengulas senyum tipis, menyapa Dinar.
"Maaf, Bu! Mau cari siapa, ya?" tanya Dinar sopan, kala ia berada di depan tubuh Wulandari.
"Kamu yang bernama Dinar, bukan?" tanya Wulandari, nampaknya mengenali Dinar hanya dalam satu kali lihat. Wanita ini cantik, dan tampak anggun.
Kepala Dinar mengangguk perlahan, masih mengerutkan pangkal dahinya. Ya, sudah pasti si bontot tergila-gila pada Dinar. Ibu empat orang anak itu paham, mengapa Mark bisa bertekuk lutut pada wanita cantik di depannya ini. Sampai melupakan tujuannya untuk menghabiskan sisi hidup, yang katanya akan berpetualang ranjang sampai tutup usia.
Wulandari diam-diam tertawa geli di dalam hati, Mark yang merasakan virus cinta menjadi seperti saat ini. Bayangan 'kan saja, dari 24 jam. Mark meneror Wulandari selama 20 kali, hanya untuk meminta sang ibunda berbicara dengan Dinar. Ingat! Mark sudah pernah meminta Dinar untuk menjadi istrinya, tetapi ditolak mentah-mentah. Kali ini Mark ingin sang ibu yang bertindak, Mark masih belum berbicara dengan Dinar perihal kehamilan wanita satu ini.
"Aku ke ini untuk berbicara dengan Nak Dinar," sahut Wulandari, mengulas senyum segaris. "Apakah Nak Dinar bisa meluangkan waktu sebenar saja?" pinta Wulandari.
"Maaf sebelumnya, Bu ini—"
"Ah, iya. Sebelumnya perkenalkan namaku Wulandari, mamanya Mark yang bertetangga tepat di samping apartemen Nak Dinar." Wulandari mengulurkan tangannya ke arah Dinar.
Dinar tampak kikuk bercampur was-was menerima uluran tangan ibu dari si tetangga gila, ia mengulas senyum paksa.
"Oh, iya, Bu! Kalau begitu tunggu sebentar." Dinar melepaskan perlahan tangan Wulandari, bergerak maju.
Tangan Dinar bergerak merogoh tasnya, menempelkan kartu dengan cepat pada pintu. Suara pintu apartemen yang terbuka terdengar jelas, Dinar masuk terlebih dahulu. Mendorong pintu apartemen lebih lebar untuk menyambut kehadiran wanita sosialita satu ini, Wulandari masuk ke dalam apartemen Dinar.
__ADS_1
Manik matanya mengedar menatap ke sekeliling ruangan, aroma pengharum ruangan langsung menyapa paru-paru Wulandari. Ia dipersilakan untuk duduk di sofa, Dinar bergerak dengan cekatan. Meletakkan tas yang ia bawa ke atas lemari, lalu beralih ke arah kitchen set tanpa sekat.
Wulandari membuka bibirnya, meminta untuk Dinar tidak repot-repot. Sayangnya Dinar membelakangi Wulandari, meraih dua cangkir berukuran sedang dan jus jeruk yang tadi pagi ia buat. Menuangkan di atas dua gelas, lalu kembali meletakkan ke dalam kulkas. Dinar melangkah mendekati sofa ruangan tamu, membawa nampan. Tubuhnya membungkuk kecil, meletakkan nampan dibantu oleh Wulandari. Dinar duduk di sofa singel, arah menghadap Wulandari.
"Silakan diminum, Bu!" seru Dinar ramah.
Wulandari mengangguk, segan juga kalau tidak meminum minuman yang sudah disuguhkan pada dirinya. Wulandari menyesap perlahan, sedikit saja, gelas diletakkan kembali ke tempatnya.
"Jadi, maksud kedatanganku ke sini adalah untuk membicarakan tentang hubungan Nak Dinar dengan Mark," ungkap Wulandari tanpa harus berbasa-basi. "Sebagaimana yang Nak Dinar tahu, Mark sangat mencintai Nak Dinar. Dia mengatakan kalau Nak Dinar tengah hamil anaknya Mark, jadi aku rasa. Ini harus dibicarakan secara kekeluargaan, untuk itu. Mohon maaf atas apa yang terjadi, dan aku berharap Nak Dinar mau secepatnya menikah dengan Mark. Demi jabang bayi yang ada di dalam rahim Nak Dinar," lanjut Wulandari tampak begitu tenang.
Kedua mata Dinar terbelalak, bagaimana bisa Mark tahu perihal kehamilan Dinar? Jangan-jangan Mark ingat tentang malam di antaranya kemeja baru oleh Dinar, tetapi bagaimana bisa?
"... mohon maaf sebelumnya, Bu Wulandari. Anu... aku tidak mengerti apa yang terjadi, aku memang hamil. Tetapi bukan anak Mark, sepertinya ada kekeliruan di sini. Apakah Bu Wulandari tidak tahu, atau Mark tidak ngomong bahwasanya aku adalah seorang janda. Lebih tepatnya baru bercerai dengan suamiku, anak ini anak mantan suamiku. Aku tidak pernah tidur dengan Mark," dusta Dinar, yang awalnya tampak ragu.
Oh God!
Wulandari mendadak merasa kepalanya nyut-nyutan, si bungsu benar-benar di luar nalar. Dinar menarik secara paksa kedua sisi bibirnya ke atas, wajahnya tampak tenang. Berbanding terbalik dengan hatinya yang bergejolak, Dinar tidak mau dinikahi oleh pria manapun. Ia hanya ingin hidup berdua dengan anak yang ada di rahimnya, dan juga ibunya.
Kenapa orang-orang tidak mengerti ini, Dinar hanya ingin hidup tenang. Trauma dan luka di dalam hati Dinar terlalu besar untuk siapa pun yang menawarkan untuk mengobatinya, Dinar ketakutan.
"Ah, maaf," gumam Wulandari terlihat malu. "Sepertinya Mark bercanda terlalu jauh, kalau begitu maaf sekali sudah menganggu waktunya Nak Dinar. Aku harus segera pamit, sekali lagi maaf ya," sambung Wulandari malu bukan kepalang.
Dinar mengangguk patah-patah, dan berkata, "Iya, gak apa-apa kok, Bu! Kalau begitu hati-hati di perjalanan pulang."
__ADS_1
Dinar dan Wulandari sama-sama bangkit dari posisi duduknya, melangkah ke arah pintu ke luar. Pintu dibuka dan ditutup kembali, tubuh Dinar merosot di lantai. Kedua tungkai kakinya kehilangan tenaga untuk berdiri dengan tegak, peluh menetes deras.
"Aku harus pergi dari sini," monolog Dinar, dengan kedua manik mata tampak bergerak liar.
Satu-satunya pilihan untuk menyelamatkan kehidupan Dinar adalah pergi, orang lain mungkin tidak tahu. Bagaimana rasanya ketakutan menjalin hubungan, rasa ketidak percayaan pada hubungan baru.
...***...
"Ada-ada saja," gumam wanita itu terdengar lirih.
******* lelah mengalun. "Ya, mau bagaimana lagi, Mbak. Dia yang bodoh, kami yang malu. Termasuk sama Mbak," ujar Sri dengan ekspresi tak berdaya.
"Eh, tapi apakah kamu tahu, Sri?" tanya Jubaidah membuat kening Sri semakin berkerut.
"Tahu soal apa, toh, Mbak?" tanya balik Sri tak paham apa yang dimaksud oleh sepupu dari pihak ibunya ini.
Tohir dan Jubaidah menginap di rumah orang tua Damar untuk 4 hari, ia menceritakan kejadian 2 hari yang lalu. Disaat ia bertemu dengan Dinar, menyatakan keterkejutan perihal perceraian Damar dan Dinar. Sri menceritakan secara ringkas, tidak menutupi kesalahan Damar.
"Dinar, kayaknya hamil loh," jawab Jubaidah dengan ekspresi wajah serius.
"Ha? Iya, ta?" Sri terkesiap.
Kepala Jubaidah mengangguk cepat. "Iya, dia awalnya gak jujur. Tapi karena aku ngomong tahu ciri-ciri wanita hamil, dia jujur. Namun, katanya itu bukan anak Damar," tutur Jubaidah, kembali.
__ADS_1
Bersambung...