Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 45. AKAN AKU LAKUKAN APAPUN


__ADS_3

Sorot mata Dinar menatap ke arah ibunda yang terbaring di atas ranjang, lembutnya sentuhan di pinggang rampingnya. Menyentak Dinar, wanita itu melogok ke arah tangan nakal Mark. Tangan Dinar bergerak, memukul pelan punggung tangan Mark. Pemuda itu meringis kecil, Dinar mendelik. Mark mengangkat kedua tangannya ke atas, pertanda sang pria menyerah.


"Bagaimana? Apakah Mama mertuku sudah istirahat?" tanya Mark berbisik.


Dinar mengangguk kecil, menipiskan bibirnya. Sorot mata Dinar kembali bergerak kecil menuju wajah tenang sang ibunda, Anggun baru saja mengonsumsi obat tidur. Hingga terlelap, Dinar tidak percaya sebegitu kerasnya Anggun bertahan dalam neraka dunia. Anggun tidak menyerah untuk hidup saja, sudah merupakan hal yang paling Dinar syukuri.


"Kalau begitu kita keluar dari sini, biarkan Mama Anggun beristirahat," ujar Mark kembali terdengar pelan.


Tangan Mark meraih pergelangan tangan Dinar dengan lembut, keduanya melangkah menuju pintu ke luar. Mark berhenti di depan mematikan lampu kamar, kembali melangkah dan menutup pintu kamar. Dinar melepas perlahan genggam tangan Mark pada pergelangan tangannya, kedua tangannya di lipat di atas perut mulai terlihat besar.


"Kamu tahu apa yang terjadi, dan diam saja?" Dinar sontak saja menodong Mark dengan pertanyaan.


Mark bergidik melihat sorot mata Dinar yang berkilap diterpa lampu dinding.


"Hehe... aku tidak punya pilihan, Dinar. Aku pun sebenarnya tidak tahu perihal ini, sekarang aku akan jelaskan apa yang terjadi. Sebelum itu, ayo ke duduk di gazebo," jawab Mark, pria ini jujur.


Dinar melangkah lebih dahulu, meninggalkan Mark dengan ekspresi setengah kesal. Mark menghela napas berat, ibu hamil cantik itu sepertinya diliputi rasa kesal pada Mark. Diayunkannya kedua tingkai kakinya lebar-lebar, mengejar langkah kaki Dinar. Dinar lebih dahulu duduk di bibir gazebo, disusul oleh Mark.


"Jelaskan," titah Dinar mengalun, tanpa harus melirik ke arah Mark.


"Mama Anggun sendiri yang datang ke ruang kerjaku, di malam hari. Ku pikir ada yang dicari oleh mamamu, siapa tahu mamamu berpikir kalau tempat itu adalah ruangan kerja papamu. Anehnya, sorot matanya berbeda. Ia duduk di sofa, dan memangil namaku. Beliau bukankah sudah sangat lama mengatup kedua bibirnya, meskipun aku kayak orang gila bercerita padanya berjam-jam. Tiba-tiba ngomong begini, 'Mark! Dududuklah di depanku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.' Syok, aku sampai bengong untuk beberapa detik. Seperti ini." Mark menjelaskan dengan intonasi nada suara dan ekspresi wajah mencontoh ekspresi wajah Anggun malah itu, serta suara Anggun.


Cara Mark menjelaskan dengan wajah ekspresif membuat sudut bibir Dinar tak mampu ditahan naik tinggi ke atas, Mark terperanjat.


"Eh, eh, barusan kamu tersenyum dengerin penjelasanku 'kan?" Mark heboh sendiri.


Dinar membuang muka, dan berkata, "Gak, tuh! Siapa yang bilang aku tersenyum."


"Coba, lihat sini. Tadi jelas loh kamu tersenyum," bantah Mark begitu bersemangat ingin melihat senyuman Dinar.

__ADS_1


"Gak," tukas Dinar sebelum tawa keras melambung lantaran jari telunjuk Mark bergerak menusuk pinggang Dinar.


"Nah, itu malah ketawa." Mark tak berhenti mengetik pinggang Dinar.


"He—hei!" Dinar bergerak menahan tangan Mark.


BUG!


Punggung belakang Dinar terbentur tiang gazebo, oke! Mereka harus segera berhenti. Embusan napas hangat Mark, menerpa wajah Dinar. Jarak yang terbentang di antara mereka kurang dari satu jengkal tangan, manik mata teduh Dinar bersirobok dengan manik mata hitam legam nan tajam milik Mark. Tangan Dinar yang berposisi menggenggam tangan Mark, kedua kelopak mata Dinar berkedip kecil.


DEG! DEG!


Udara dingin malam terasa mendadak panas untuk keduanya, seakan-akan tidak ada nada lain. Selain debaran jantung keduanya yang mengila, Dinar meneguk kasar air liurnya kala manik mata tajam itu bergerak pada bibirnya. Sialan! Mengapa ia seakan memanggil dirinya, Mark memejamkan kedua kelopak matanya. Mengikis jarak di antara mereka berdua, gerakan kepala yang perlahan miring. Ujung hidung bangir Mark, menyentuh sisi pipi kiri Dinar.


KREK! BRUK!


Tubuh Mark terjerembab ke belakang, tangan Mark mengusap ujung hidung mancungnya. Dinar bangkit dari posisi duduknya, jarinya telunjuknya begerak menunjuk Mark.


Sumpah.


Dinar tidak sengaja, hanya saja ia mendadak malu. Bergerak terburu-buru masuk ke dalam mansion, membiarkan pemilik rumah mengusap ujung hidungnya bangir yang memerah. Astaga! Dinar itu manusia atau kucing? Kenapa malah main mengigit Mark begitu saja, disaat-saat tak tepat. Untung saja tidak dilihat oleh pembantu rumah, terutama Bik Sumi. Yang ada Mark akan malu bukan kepalang, lantaran saat ingin mengecup bibir Dinar. Malah berakhir digigit, lihat saja nanti. Mark akan balas dendam pada Dinar setelah anak itu lahir, Mark yang akan mengigit Dinar sampai puas.


...***...


"Pak Damar!" seruan keras di belakang tubuh Damar, menghentikan laju pergerakan kaki Damar.


Damar membalikkan perlahan tubuhnya menghadap ke arah pria tua yang kini berdiri dengan buku kecil di tangannya, Damar mengerutkan dahi, dan menyipitkan kedua matanya.


"Ya, maaf. Bapak ini siapa, ya?" Damar bertanya balik pada pria yang rambutnya sudah nyaris seluruhnya memutih.

__ADS_1


Pria tua itu tersenyum, ia mengulurkan tangannya pada Damar. Dahi Damar berlipat, ia menerima uluran tangan dari sang lelaki berpakaian necis di depannya ini dengan ekspresi wajah meragu.


"Nama saya, Aji. Saya ini yang akan membatu calon istrinya Bapak Damar untuk membalik nama sertifikat rumah menjadi nama Anjani," paparnya.


"Ha? Maksudnya bagaimana, ya, Pak?" tanya Damar, sebelum menarik kembali tangannya. "Saya tidak pernah berniat untuk mengalih nama sertifikat rumah atas nama Anjani. Apalagi saya belum pasti akan menikah dengan Anjani," sambung Damar, membuat Aji terkejut.


Alamak, bagaimana ini? Ia pikir pria ini memang akan memberikan rumah atas namanya dibalik nama menjadi nama Anjani. Lantaran kata Anjani, rumah Damar akan menjadi mas kawin pernikahan mereka nantinya. Apakah Aji telah masuk para zona bahaya, lantaran sepertinya lelaki di depannya ini tidak tahu menahu. Ah, anak tetangganya itu tengah berbuat licik, Aji mendapatkan tatapan tajam dari Damar membuat bulu tumbuhnya berdiri.


...***...


Rambut panjang dipotong sebahu, dicat seluruhnya menjadi hitam. Pakaian Anggun terlihat begitu mewah, Dinar tersenyum lebar memperhatikan bagaimana cantiknya sang ibunda.


"Wah, cantiknya mamaku," puji Dinar tampak ceria.


Anggun menarik kedua sisi bibirnya ke atas, menepuk kecil punggung tangan sang putri.


"Setelah ini kamu mau ikut sama Mama?" tanya Anggun, melirik ke arah pantulan cermin salon.


"Emangnya mau ke mana, Mama?" tanya Dinar mengerutkan dahinya.


"Mengambil hakmu," sahut Anggun terlihat tenang.


"Hakku," gumam Dinar mengulang perkataan sang ibu. Pupil matanya membesar, kala dia paham apa yang dimaksud oleh sang ibu. "Mama bermaksud untuk mengambil saham dan perusahaan Papa?"


Kepala Anggun mengangguk dan menipiskan bibirnya. "Ya, itu adalah perusahaan gabungan, Dinar. Milik Opa dan Eyang, karena cerdiknya Amar. Dia meminta saham besar diberikan untuk ia kelola. Eyangmu, karena mencintai Mama, putri satu-satunya. Ia rela memberikan semuanya untuk kami, dan bersepakat dengan Opa membuat hak waris jatuh pada kamu. Cucu pertama, sayangnya eyangmu harus pergi lebih dahulu sebelum bisa melihatmu berulang tahun untuk yang ke-5 tahunnya. Semuanya Mama berikan pada papamu, tetapi dia menceraikan Mama setelah apa yang dia dapatkan. Dan menyembunyikan surat hak waris sampai detik ini. Rumahan, property, dan perusahaan itu adalah milikmu, Dinar. Mama ingin mengambil semuanya, dan ganti rugi luka yang dia torehan pada Mama. Tidak tersisa, gak, Mama gak berniat untuk menyisakan satu pun untuk mereka." Anggun berucap tegas.


Ah, sekarang Dinar mengerti. Mengapa Lidia begitu baik padanya, nyatanya wanita itu mengambil semua yang ibunya miliki tanpa sisa. Pengkhianatan Damar tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan Amar—ayahnya.


"Mama mau, aku akan lakukan apapun untuk Mama," sahut Dinar, bertekad.

__ADS_1


Apapun untuk ibunya ini, apapun. Dunia dan seisinya pun akan ia berikan asalkan ia melihat senyuman Anggun, dan tawa ceria Anggun.


Bersambung...


__ADS_2