
Kedua manik mata Dinar terlihat bergerak liar menghindar dari pandangan mata Mark ke arahnya, sedangkan Mark malah menghela napas kasar. Tidak ada untung yang diraih oleh Mark dari perempuan cantik yang ditemui di klub malam, bayangkan saja! Mark sudah sangat tegang. Kala acara inti dari pergulatan akan dimulai, Dinar malah memuntahkan isi perutnya ke baju Mark. Sebelum perempuan itu harus kehilangan kesadaran sepenuhnya, seorang Mark Louis. CEO perusahaan terbesar nomor satu di Indonesia, harus merasakan lahar panas dari dalam perut Dinar. Untung cantik, kalau tidak mungkin bisa saja Mark meminta security apartemen mahal itu untuk membuang tubuh Dinar keluar. Hingga tak membuat Mark kerepotan dengan ulah si perempuan, baru kali ini Mark dimuntahi oleh perempuan.
Dan lucunya Mark malah tetap mengurus perempuan cantik yang tampak kikuk di depannya, setelah sempat ada drama salah paham di antara mereka berdua. Dinar mungkin berpikir kalau mereka sudah tidur bersama, karena tubuh bagian atas Mark yang bertelanjang dada. Dan di perpotongan leher jenjang Dinar penuh dengan tanda kemerahan dari Mark, kegilaan yang tak Dinar sendiri pahami. Dinar akui bahwasanya perempuan cantik satu ini kehilangan akal sehatnya, Dinar benar-benar kacau tadi malam. Sedikit banyak Dinar masih ingat pembicaraannya dengan pria gagah di depannya ini, serta kegiatan panas keduanya.
"Jadi... kita, itu, tidak melakukan anu, itu, kan?" tanya Dinar tersendat-sendat dengan kalimat yang kacau.
Mark sontak menyadarkan punggung belakangnya di sofa, dengan tangan di lipat di dada. Pandangan sang pria lurus ke depan, gila! Apapun kondisi perempuan dibalut kemeja hitam kebesaran milik Mark. Sungguh di luar dugaan, terlihat begitu seksi dan panas dalam satu waktu. Meskipun Dinar belum mandi, sekali pun. Mengingat tentang pakaian yang Dinar pakai, di siang hari ini. Lantaran gaun berwarna putih tulang dengan tali spaghetti milik Dinar terkena carian muntah perempuan ini sendiri.
"Hah! Iya, bisa dibilang begitu. Acara tadi malam gagal, karena kamu yang terlebih dahulu muntah," balas Mark dengan intonasi nada berat. "Meskipun aku sangat ingin melanjutkan kegiatan panas tadi malam. Sayangnya aku tidak suka bekerja keras sendirian, aku ingin kamu juga membalas setiap sentuhanku pada tubuhmu."
Dinar membeku, bulu kuduk Dinar sontak berdiri mendengar jawaban yang keluar dari bibir Mark. Wah! Dinar tak paham dengan pemikiran seorang casanova seperti Mark Louis. Perempuan cantik ini baru sadar siapa yang tadi malam berusaha Dinar goda, banyak sedikitnya Dinar tahu siapa Marka Louis. Karena Dinar berasal dari keturunan orang kaya, sebelum harus menjadi tulang punggung untuk sang ibu. Keluarga Dinar pernah menghadiri pesta perusahaan Mark Louis, perusahaan yang sangat besar. Dari usia remaja sampai dewasa, Mark selalu mendapatkan sorotan. Kehidupan glamor, membuat banyak sekali rumor-rumor yang berterbangan di kalangan wanita. Terutama di group chat alumni sekolah SMA Dinar, yang di mana berisi anak-anak orang kaya.
Para perempuan suka sekali membahas dan bergosip tentang pria gagah, yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Mark adalah pria yang suka bergonta-ganti wanita, meskipun tanpa ada status. Setiap perempuan akan dengan senang hati membuka paha mereka untuk Mark, lantaran pengaruh yang Mark miliki. Dan sialnya, Dinar hampir saja jatuh pada kubangan lumpur lain.
Kepala Dinar mengangguk pelan, dan terkekeh dibuat-buat, demi menghilang rasa canggung. "Ah, begitu ternyata. Sebelumnya aku mau minta maaf pada Tuan muda Mark. Dan aku akan mengganti rugi atas kesalahan tadi malam, sekali lagi terima kasih."
Sebelah alis mata Mark terangkat, dengan pandangan mata tidak mengerti. Apa yang ingin wanita satu ini ganti? Mark tidak butuh uang, karena ia punya banyak uang.
"Apakah aku seperti seorang pria yang butuh uang?" tanya Mark dengan nada mencemooh.
Dinar tercekat, ia melirik sang pria yang memakai kaus oblong. Tentu saja bukan kaus bisa, mengingat siapa Mark. Ingin rasanya Dinar kembali memaki keras. Sepertinya Mark tersinggung, atas niat Dinar yang ingin bertanggung jawaban, karena sudah muntah pada baju Mark.
"Oh... maaf, aku salah. Sekali lagi maaf," sahut Dinar mati kutu.
Mark masih memperhatikan Dinar, kepala wanita cantik itu sontak menunduk. Jari jemari tangan Dinar saling bertautan, lantaran merasa tertekan berada di apartemen mahal itu.
__ADS_1
"Tapi, meskipun begitu. Bukan berarti kamu bisa lepas dari tanggung jawab, alih-alih membayar ganti rugi dengan uang. Aku ingin cara ganti rugi yang lain," ucap Mark membuat kepala Dinar yang tadinya menunduk langsung terangkat.
"Hah? Eh, maksud ganti rugi seperti apa yang Tuan muda Mark mau?" tanya Dinar dengan nada hati-hati.
Bukan karena wanita satu ini takut dengan Mark, hanya saja malas repot-repot memiliki urusan yang panjang dengan Mark. Kalau bisa, Dinar mau urusannya dengan Mark selesai dengan cepat.
Mark menarik garis bibirnya ke atas, dan berkata, "Pertama-tama jangan pakai embel-embel Tuan muda. Panggil saja dengan Mark, seperti tadi malam kamu memanggilku. Lebih terdengar sangat menggairahkan, lalu yang terakhir. Aku ingin kamu ganti rugi dengan tidur bersama denganku. Karena tadi malam, kita tak jadi tidur bersama."
GLEK!
Dinar tercekat mendengar jawaban Mark, tidur bersama dengan pemuda satu ini? Gila saja. Dinar melakukan hal gila seperti semalam sebab kehilangan akal sehatnya, ternyata alkohol bukanlah teman untuk Dinar. Perempuan cantik ini tidak lagi menyentuh minuman beralkohol terkutuk itu lagi, lantaran dampak yang didapatkan oleh Dinar benar-benar sangat luar biasa.
"Mohon maaf, Tuan Mark! Untuk yang satu itu aku tidak bisa melakukannya," jawab Dinar dengan cepat tak lupa ekspresi Dinar langsung terlihat serius. "Aku paham kalau Tuan tidak butuh uang. Karena memiliki banyak uang, namun sayangnya tubuhku tidak sebanding dengan semua uang yang Tuan miliki. Tadi malam terjadi karena aku tidak sadar dengan apa yang terjadi, pengaruh alkohol yang membuat aku begitu. Sekarang aku sudah sadar sepenuhnya, sekali lagi aku ingin mengucapkan maaf."
Setelah itu Dinar langsung bangkit dari posisi duduknya, bibir Mark langsung terbuka lebar. Apakah perempuan cantik satu ini ingin bermain permainan tarik-ulur dengan dirinya? Dinar berbalik tubuhnya. Menghadap ke arah Mark sekali lagi dengan ekspresi serius.
Kedua kaki jenjang Dinar melangkah meninggalkan ruangan tengah apartemen mewah Mark, melangkah mendekati kamar yang tadi ditempati oleh keduanya. Oke, untuk saat ini Dinar mencoba untuk bermuka tebal. Tidak tahu malu lantaran sudah terlanjur basah, lebih baik mandi sekali.
KLIK!
Pintu kamar tertutup, mulut Mark terbuka tanpa ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Apa yang sebenernya terjadi? Kenapa Mark tidak bisa mengelabui perempuan cantik itu. Biasanya para wanita yang akan merengek untuk bisa naik ke atas ranjang Mark, kali ini berbeda. Malah Mark yang meminta Dinar untuk tidur dengannya? Lalu apa tadi perempuan itu katakan?
"Gila! Apakah ada yang kurang dariku? Kenapa pesonaku tak mampu membuat Dinar tergoda? Tunggu. Mari tenangkan diri terlebih dahulu, Mark. Ini pasti permainan Dinar untuk membuat aku menjadi kacau seperti ini," gumam Mark merasa resah.
***
__ADS_1
Dengan kasar Damar menarik pergelangan tangan Anjani, membuat gadis remaja itu mengaduh kecil. Sayangnya Damar tidak peduli dengan suara ringisan dari Anjani, terus menarik Anjani menjauh dari rumah keluarga Damar. Hari ini adalah acara pernikahan Amira, adik bungsu Damar.
"Aw! Sakit, Mas Damar!" seru Anjani dengan nada mencicit.
Damar melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Anjani, kala mereka berada di belakang rumah kosong. Damar mengedarkan pandangan matanya ke sekitar, takut-takut ada orang yang melihat mereka.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Damar dengan nada panik.
Baik ayah, ibu, dan adik Damar tidak suka dengan Anjani. Mereka semua sudah tahu siapa perempuan yang membuat hancur rumah tangga Damar dan Dinar, karena itulah Damar harus membawa Anjani menjauh.
Anjani mengusap perlahan pergelangan tangannya yang terlihat memerah karena ulah Damar, kekasaran ayah dari sang janin. Menarik napas perlahan, dan membuangnya dengan kasar.
"Mas! Aku ini anak didik di sekolah Bu Amira. Dan kelas kami juga mendapat undangan dari Bu Amira," balas Anjani dengan nada kesal. "Lalu apa salahnya kalau aku ke sini, untuk berkenalan dengan keluargamu."
Damar menarik napas kasar dan membuang napas perlahan, melihat ke arah Anjani. "Apakah kau gak tahu kalau keluargaku tidak suka terhadap hubungan kita? Aku tidak mau kau kenapa-napa di sana. Kau paham bukan kekhawatiranku? Apalagi kau saat ini sedang hamil."
Damar membujuk Anjani dengan intonasi nada lembut, mengusap perlahan puncak kepala Anjani. Gadis cantik itu menghela napas kasar mendengar bujukan dari Damar, Anjani tahu bagaimana tidak sukanya keluarga Damar padanya. Tapi, Anjani tak ingin berjauhan. Anjani akan berusaha untuk membuat keluarga Damar setuju pada Anjani, apapun yang terjadi.
"Hah! Iya, baiklah," balas Anjani menyerah.
Damar tersenyum lebar, dan mengusap perlahan puncak kepala Anjani. Membuat senyum di bibir Anjani terukir, Anjani akan membuat Damar menikahi dirinya.
"Da-damar? Kau, kah itu?" tanya sang ibu dengan nada kurang percaya dengan apa yang dilihat di depan sana.
Kedua pupil mata Damar langsung membesar, ia menurunkan tangan dari atas kepala Anjani. Derap langkah kaki mendekati mereka berdua terdengar sangat jelas, Anjani pun ikut membeku.
__ADS_1
Bersambung...