
"Jadi, kau hamil? Kok bisa? Bukannya kau dan Damar sudah pisah?" Putri nyaris berteriak heboh mendengar curhatan sang sahabat.
"Wait, jangan katakan kalau itu adalah anak si Dokter ganteng?" Eva mendadak over thinking mendengar sang sahabat hamil 4 minggu.
Sedangkan perceraian Dinar baru saja 1 bulan lalu, masa mereka melakukan hubungan badan untuk merayakan perpisahan? Nyaris membuat Eva dan Putri tak paham.
"Ha? Anak Dokter Jackson maksudmu, Va?" Putri malah bertanya balik pada Eva bukan pada wanita yang tengah mengutarakan kehamilannya.
Dinar hanya diam membiarkan kedua sahabatnya mengutarakan apa yang tegah terlintas di otak mereka berdua, setelah keduanya selesai. Maka Dinar akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, agar keduanya mengerti.
"Lah, kok tanya sama aku. Tanya sama Dinar, harusnya," tukas Eva.
Putri dan Eva kembali membawa sorot matanya mereka berdua ke arah Dinar, yang terlihat mengulas senyum tipis.
"Bukan, ini bukan anak Dokter Jackson." Dinar menjawab, telapak tangan mengusap perut datarnya.
"Jangan bilang kalau apa yang kini ada di terlintas di otakku ini benar. Bahwasanya anak itu adalah anak Damar," celuk Eva, manik matanya tampak fokus pada Dinar.
"Gila, aja kalau itu anak si bajingan," timpal Putri setengah kesal.
Dinar mendesah berat, dan menjawab, "Anak ini bukan anak Damar ataupun anak Dokter Jackson. Anak ini... dia anakku sendiri."
"Kok jadi ambigu begitu Dinar, bukan anak Damar atau anak si Dokter ganteng. Lalu siapa Ayah dari anak itu, kau mendadak membuat kami khawatir. Jangan katakan kalau kau kena penyakit Bu Lilly yang mau mendapat anak itu dari donor ******," ujar Eva mendadak mendapatkan pemikiran gila.
__ADS_1
"Ih, kok malah ngomongin hal ke sana, si, Va! Dinar gak mungkin melakukan hal gila. Walaupun sebenarnya masalah yang dia hadapi bisa bikin otaknya mendadak gak normal," tukas Putri menolak pemikiran gila Eva.
"Siapa tahu, kita gak ada yang paham. Apalagi Dinar dan Bu Lily 'kan lumayan dekat. Bu Lilly orangnya anti nikah klub, nah sering banget dia ngomong kalau mau ambil donor ******. Kayak bule-bule di luar negeri, katanya dia gak mau nikah. Karena trauma," balas Eva, menjelaskan pemikiran aneh bin nyeleneh pemilik butik tempat mereka bertiga berkerja.
Putri menggaruk leher belakangnya, yang mendadak gatal. Pemikiran sang pemilik butik memang aneh, masa Dinar ketularan aneh juga? Eva dan Putri membawa atensi mereka secara serentak ke arah Dinar.
"Gak begitu, Eva! Putri! Anak ini, hah, bagaimana caranya aku ngomongnya, ya," sahut Dinar pelan. "... aku gak sengaja. Sumpah, ini semua terjadi karena kami sama-sama mabuk. Semoga pria gila itu gak ingat selamanya apa yang terjadi pada malam itu. Kalau sampai, tahu. Aku bisa-bisa keluar dari lubang buaya, masuk lubang singa," lanjut Dinar mendadak merinding.
"Siapa dia? Kau mau merahasiakan dia dari kami berdua?" Eva menyipitkan kedua matanya menatap penuh intimidasi ke arah Dinar.
Dinar mengerang kesal, tangannya digenggam perlahan oleh Putri dengan ekspresi khawatir. Membuat Dinar tak bisa menyimpan rahasia gila itu sendirian, mau bagaimana lagi.
"Anak ini anak dari keturunan Louis, kalian tahu dengan perusahaan Suka Maju? Dia adalah seorang CEO sekaligus dia Ayah dari anak ini," jawab Dinar jujur.
Eva meraih gawainya mengetik nama perusahaan yang bergerak di bidang kontruksi itu, benar saja. Nama sang CEO, foto, dan beberapa rumor tentang CEO perusahaan itu langsung tertera.
Putri mengambil alih gawai Eva, membaca berita yang tertera di sana. Ekspresinya tampak terkaget-kaget, bagaimana bisa sahabat mereka malah berurusan dengan lelaki seperti ini. Lebih bajingan daripada Damar si brengsek.
"Makanya, untuk saat ini. Aku berharap banget untuk kalian berdua merahasiakan tentang Ayah dari anak ini, akan lebih baik orang-orang tahu ini anak Damar. Aku gak mau berurusan dengan dia," pinta Dinar setengah memelas.
Di satu sisi ia bahagia, pada kenyataannya Dinar tidak mandul. Wanita ini bisa hamil, meskipun terdengar aneh. Selama menikah dengan Damar mengapa dirinya tidak bisa hamil? Lalu berhubungan dengan Mark. Ia langsung isi, satu tanda tanya yang melintas di otak Dinar. Saat konsultasi Dinar sempat bertanya perihal rahimnya, apakah ada masalah. Lantaran tidak ada tanda-tanda kehamilan, beberapa tahun belakangan.
Dokter yang menangani Dinar mengatakan kalau rahim Dinar subur, tidak ada masalah. Bahkan Dinar yang hamil sekarang tampak begitu sehat, tidak merasa banyak kesulitan seperti ibu hamil pada umumnya. Bawaan bayi di dalam rahimnya cukup tenang, Dinar bisa makan dengan nyaman.
__ADS_1
"Aduh, aku mendadak pening," gumam Putri lirih.
"Ya, lebih baik orang-orang berpikir dia anak si Damar. Kau kelihatan senang, aku jadi gak bisa ngomong apa-apa melihat ekspresi wajahmu itu," ucap Eva, pasrah.
Dinar mengulas senyum lebar merentangkan kedua tangannya, Putri dan Eva tersenyum tipis. Memeluk Dinar dari sisi kanan dan kiri, ini jauh lebih baik daripada melihat sang sahabat kehilangan arah.
...***...
Damar memijit kecil kedua sisi dahinya, mendengar rengekan Anjani. Uang lagi, dan uang lagi. Damar tidak tahu harus berkata apa dengan Anjani, Damar harus segera pindah ke Medan untuk menjadi dosen di salah satu universitas di sana. Kepindahan Damar ke sana sudah pasti butuh uang, Anjani tidak ingin mengerti sama sekali.
"Ayolah, Mas! Aku ke mana-mana butuh mobil. Masa Ibu hamil kayak aku harus ke mana-mana sama motor. Bahaya untuk anak kita," rengek Anjani kembali terdengar.
Rasanya tidak ada yang salah mau pakai motor atau mobil, Damar mendesah kesal.
"Anjani, siapa yang mau bawa mobilnya? Kau jelas-jelas gak bisa bawa mobil. Pakai saja motor yang ada," tolak Damar, wajahnya tampak kusut.
"Aku 'kan bisa belajar, Mas. Kalau pun Mas gak mau beliin mobil baru. Kasih aja mobil yang sekarang Mas pakai untuk aku, ya," jawab Anjani keukeh ingin memiliki mobil.
Biar apa? Biar bisa dilihat oleh tetangga rumahnya. Rumah reyot sudah menjadi bagus sekarang, apalagi kalau ada mobil di depan rumah yang terparkir. Sudah pasti para tetangga makin panas dibuatnya, walaupun Anjani hamil di luar nikah. Yang penting lelaki yang menghamili dirinya adalah lelaki berada, yang siap membahagiakan Anjani.
"Mobilku akan aku jual, untuk biaya pindahan ke Medan," papar Damar.
"Ha? Dijual? Emang Mas Damar kehabisan uang. Sampai jual mobilnya? Mas Damar 'kan bisa titip aja mobilnya di rumahku. Lagian Mas akan bolak-balik dari Medan ke Jakarta, nanti Mas Damar sampai di Jakarta. Mau ke sana dan ke sisi sama kendaraan umum?" Anjani tak ingin melepas sepersen pun uang Damar.
__ADS_1
Damar diam, lagipula ia tak ada niat bolak-balik dari Medan ke Jakarta.
Bersambung...