
Pintu kamar mandi terbuka lebar. Sebelum tertutup kembali. Helaan napas letih mengalun melalui mulut. Dinar menatap ke arah ranjang, di mana Damar telah terlelap tidur dengan posisi memunggungi dirinya. Biasanya, Damar akan menungguinya. Bercerita tentang banyak hal, masalah di tempat kerja sang suami. Ataupun tentang rencana ke depannya. Beberapa bulan ini, Damar sangat jauh berubah, pria ini cenderung abai dan dingin.
Kedua tungkai kakinya terlihat lebar menuju ranjang, mengitari ranjang. Duduk di pinggir bibir ranjang, mengusap pelan anak rambut hitam legam milik Damar. Bibirnya tersungging tinggi, melihat betapa tampannya sang suami. Embusan napas halus, mengalun lambat. Dinar akui, jika ia sangat mencintai pria yang tengah terlelap ini. Ia akui, jika cinta pada pandangan pertama pada Damar. Senyum kotak khas yang mampu memperangkapnya dalam pesona. Manik mata coklat tajam yang membuat dadanya tak berhenti berdebar keras. Meskipun telah memiliki status yang jelas, perasaan itu tetap utuh dan hidup di diri Dinar.
"Aku kangen banget bisa berbicara banyak sama Mas. Kayak dulu lagi, aku kangen banget saat Mas tertawa bersamaku," ucap Dinar lirih. "Tapi entah kenapa Mas sangat jauh berubah. Apakah ada hal yang membuat Mas tak sukai dari diriku? Jika ada, aku berharap Mas mau ngomong padaku. Agar aku bisa merubahnya. Aku... aku, takut sekali. Perubahan Mas membuat perasaan buruk menghantuiku menjadi nyatanya, Mas!" lanjut Dinar semakin bernada serak.
Air matanya meleleh di kedua sudut mata Dinar dengan perlahan, perasan Dinar mulai tak karuan. Dinar adalah wanita yang jarang dan pantang mengeluarkan air mata, ia dikenal sebagai wanita kuat dan tangguh. Serba bisa dan mandiri, begitulah teman-teman dan orang-orang terdekatnya para melihat sisi Dinar. Ia ingin tampak kuat agar tak membuat orang terkasih khawatir. Ingin bisa banyak hal, agar tidak menyusahkan orang lain.
Seperti yang ibunya katakan. Ia harus menjadi wanita mandiri, tangguh, dan kuat. Terutama jangan mengandalkan banyak hal pada lelaki, lelaki tak suka dibebani oleh banyak hal. Itulah yang menjadi pegangannya, sebisa mungkin tidak ingin membuat Damar kesusahan karenanya. Tidak ingin ribut karena uang, waktu yang tak bisa ia berikan. Dan banyak hal lainnya.
Dinar menarik kembali tangannya yang mengusap anak rambut hitam lebat milik Damar, telapak tangannya mengusap ke dua pipi yang basah.
"Mas! Tolong, jangan membuatku semakin takut," cicitnya di akhir sebelum ia memutuskan berdiri dari posisi duduknya. Melangkah menuju pintu keluar.
Rasanya sangat sesak sekali dada Dinar, jikalau boleh jujur Dinar memiliki trauma mendalam pada sebuah ikatan suci pernikahan. Dinar melihat bagaimana mudah hubungan pasangan suami-istri hancur, dan berpisah. Namun Dinar mulai merubah dirinya, untuk mencoba melalui yang terbaik untuk hubungannya dan Damar. Mungkin, rumah tangga kedua orang tua Dinar boleh hancur. Bukan berati rumah tangga Dinar dan Damar akan mengalami hal yang sama, Dinar mencoba untuk positif dalam banyak hal.
KLIK!
Pintu tertutup rapat, dengan perlahan kedua kelopak mata Damar terbuka pelan. Manik mata coklat tajam itu menatap pintu kamar yang tertutup. Ranjang bergerak, kala tubuh Damar bangkit dari posisi tidur, duduk bersandar di dasbor ranjang. Ia memang tidak tidur, pria ini berpura-pura tidur kala pintu kamar mandi terbuka. Siapa sangka malah mendengar suara serak dan tangis dari Dinar. Ini kali pertama ia mendengar tangis Dinar.
Telapak tangan besar itu mengusap kasar wajah tampannya. "Maaf," gumam Damar melirih.
__ADS_1
Damar tahu ia salah, pria bermata ini tajam ini jelas sangat tahu akan kesalahannya. Masalah hati sangat sulit untuk dijelaskan dengan lugas, bukankah cinta bisa datang dan pergi sesuka hati? Bisa hidup dan mati. Manusia tidak benar-benar mampu mengontrol perasaannya.
...***...
Dinar terlihat tersenyum dengan lebar, saat ibu mertua memuji ketangkasan Dinar. Keluarga Damar sangat menyukai Dinar, lantaran Dinar sangat pintar dalam bersosialisasi. Sangat pandai dalam mengambil hati orang sekitarnya, hingga banyak yang senang dengan Dinar. Apalagi wanita karir ini serba tahu, serba mandiri. Hingga membuat banyak para ibu-ibu kagum dengan Dinar, tentu saja tidak terkecuali keluarga Damar.
"Aduh! Bu Sri pasti bangga banget, ya, punya menantu kayak Neng Dinar. Udah manis, baik, ramah, pintar melakukan banyak hal lagi. Jadi, iri."
Komentar salah satu tetangga ibu Damar melihat betapa cekatan Dinar dalam mengolah makanan, rambut hitam legam Dinar digulung ke atas. Memperlihatkan garis leher jenjang milik Dinar, yang dipuji langsung terkekeh malu.
"Oh, tentu saja. Menantu siapa dulu? Putraku bisa seberuntung ini. Gak ada yang bisa menyaingi Dinar, bahkan Papa Damar kalau lagi sakit. Biasanya minta dimasakin sama Dinar, udah kayak anak perempuan kami sendiri," balas Sri dengan nada bangga.
Serentak ibu-ibu tangga rumah Damar riuh, pada tetangga juga iri dengan Damar. Yang bisa dapat istri seperti Dinar, setiap ke rumah mertua. Dinar tidak pernah tanpa membawa bingkisan, tak juga sungkan membagikan ke tetangga rumah ibu mertua. Dan tersenyum ramah pada orang-orang, Dinar juga menantu yang ringan tangan. Melakukan pekerjaan rumah mertuanya, tidak pernah menganggap jika dirinya adalah seorang menantu. Tapi seorang anak perempuan yang akan merasa risih melihat rumah kotor, atau ada yang kurang enak dipandang mata. Dinar selalu positif, membuat aura positif Dinar langsung tersalurkan.
Dinar tertawa kecil, di rumah Damar sedang ada acara lamaran. Adik bungsu Dinar akan menikah dalam waktu dekat, malam ini adalah lamaran untuk adik Damar.
"Eh! Iya, mana Damar? Dari tadi gak kelihatan," tanya ibu-ibu berdaster motif polkadot.
Dinar yang mendengar nama sang suami ditanyai, mengehentikan kegiatannya. Dengan senyum lembut dikembangkan, membawa pandangan pada ibu-ibu sana.
"Mas Damar Dosen yang sangat sibuk, paling bentar lagi sampai. Tunggu, saja. Ibu Nunung pasti gak sabar lihat aku mesra-mesraan sama Mas Damar, ya?" Dinar menjawab dengan melontarkan candaan.
__ADS_1
Lagi-lagi suana dapur terdengar riuh oleh suara ibu-ibu, meskipun bibir Dinar tersenyum lebar. Dan wajahnya terlihat begitu ceria, berbanding terbalik dengan hati Dinar. Wanita ini sedang tidak baik-baik saja, lantaran tiga puluh menit yang lalu. Ponsel sang suami dijawab oleh suara seorang gadis, yang tidak tahu siapa. Saat ditanya di mana sang suami malah dimatikan sepihak, dan tidak aktif dihubungi sampai saat ini.
Hati Dinar sedang berapi-api, namun tidak bisa memperlihatkan bagaimana marahnya Dinar saat ini. Karena yang utama saat ini adalah acara lamaran adik iparnya, nanti Dinar akan berbicara dengan Damar. Urusan rumah tangga, tentu saja di urus di rumah mereka.
...***...
Suara gaduh di ruangan tamu, terdengar samar oleh Dinar dari dalam bilik kamar Damar. Orang-orang sudah pulang, waktu baru menunjukkan pukulan dua belas malam. Dinar dan Damar harus bermalam di rumah keluarga Wijayanto, Dinar membuka pintu kamar. Derit pintu yang terbuka membuat keempatnya berhenti berdebat, terlihat Amira bangkit dari posisi duduknya. Wajah Amira tampak memerah, gadis berusia dua puluh empat tahun itu menyelonong masuk ke dalam kamar.
"Sudahlah, Mas! Besok pagi kita bahas. Damar pasti capek, apalagi Dinar. Dinar sedari tadi siang bantuin Mama di belakang," ucap Sri dengan nada lembut.
Terlihat jelas Jon mendekus kasar, Damar bangkit dari posisi duduknya. Melangkah mendekati Dinar, terlihat jelas Dinar memberikan jalan untuk sang suami masuk kamar. Dinar tersenyum lembut pada Sri dan Jon, ayah serta ibu mertuanya.
"Selamat, malam, Ma! Pa!" seru Dinar pamit.
"Ya, istirahatlah, Nak," sahut Jon pelan.
Sedangkan Sri mengulas senyum saat pintu tertutup, Jon langsung melotot pada sang istri.
"Masalah ini harus selesai, Ma! Anak itu mulai nggak waras. Mau diletakkan ke mana muka Papa ini, Ma? Kalau sampai Dinar tahu," cicit Jon dengan nada kesal.
Bukan hanya Jon saja, perempuan berusia lima puluh tahun itu pun sama gusarnya. Sri bangkit dari posisi duduknya, dengan wajah letih.
__ADS_1
"Papa pikir cuma Papa saja yang begitu, Mama juga sama, Pa! Malu, Mama," balas Sri tak kalah kesalnya dengan intonasi nada lirih.
Bersambung...