Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 11. HARGA DIRI


__ADS_3

Dinar menarik napas perlahan, sebelum mengembuskan dengan kasar. Wanita cantik itu memperbaiki seragamnya, sebelum tangan Dinar terangkat. Mengetuk beberapa kali pintu ruangan sang pemilik butik, tiga kali pintu diketuk. Seruan dari dalam memberikan instruksi untuk Dinar masuk ke dalam ruangan, Dinar memutar engsel pintu. Mendorongnya masuk ke dalam, perempuan sebaya dengan Dinar terlihat. Dinar menutup perlahan pintu ruangan, sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan. Berdiri tepat di depan meja sang bos, dengan pandangan penasaran.


"Bu Bos," panggil Dinar pada perempuan yang sibuk dengan ponsel ditangannya.


Perempuan itu mengangkat pandangan matanya ke arah Dinar, Dinar terlihat menipiskan bibirnya. Dari pergerakan manik mata wanita itu terlihat jelas kalau sang pemilik tengah memindai sang bawahan, Dinar terlihat begitu berubah. Apa yang membuat Dinar jadi berubah? Setidaknya itulah yang melintas di otaknya.


"Ada apa Bu Bos, memanggil saya ke sini?" tanya Dinar dengan intonasi nada formal.


Walaupun Dinar dan Lily satu kampus, mengambil jurusan yang sama. Lily adalah putri dari salah satu pengusaha kaya, menjadi pesaing Dinar saat di kampus. Baik Lily maupun Dinar sama-sama terkenal, karena mempunyai kemampuan desain pakaian yang bagus. Sayangnya Dinar adalah orang yang terpilih mendapatkan beasiswa untuk sekolah S2 di Paris, sedangkan Lily harus mengambil jalur mandiri untuk sekolah di Paris.


Meski begitu, Lily bukanlah wanita picik. Ia malah diam-diam mengagumi karya buatan Dinar, sayangnya kekaguman itu berakhir kekecewaan. Setelah mengalahkan Lily, Dinar harus menyerah untuk beasiswa. Hanya karena suami Dinar tidak ingin ditinggalkan, dan karena harus memenuhi tuntun seorang suami. Ada berapa banyak wanita di luar sana, yang harus berkorban berhenti bermimpi. Karena harus memenuhi kewajiban sebagai seorang istri namun yang terjadi? Seorang istri tetap berada di bawah kendali seorang suami. Seakan semua yang dikatakan itu mutlak, dan apa yang dilarang tidak boleh sama sekali disentuh. Beginilah jadinya, seorang Dinar Aprilia Santoso.


Lily mendorong berkas yang ada di depannya, ke arah Dinar. Wanita berambut sebahu itu hanya melirik berkas yang ada di depannya, Lily mengalihkan pandangan matanya ke arah Dinar. Sedikit menengadah menatap wajah cantik Dinar, seperti dahulu lagi.


"Cukup mengejutkan, kemarin butik kita bisa menjual desain ini pada pembeli. Hanya saja tadi pagi ada yang mengeluh, karena ditawarkan desain mahal. Karena mereka orang awam, biar aku tebak pasti dia adalah suamimu," ujar Lily dengan intonasi nada rendah.


Dinar tercekat mendengar perkataan Lily, sebelum Lily memutar layar komputer sedikit ke arah Dinar. Butik mereka memiliki media sosial tersendiri untuk memajang beberapa karya, yang tentu saja sudah dipatenkan. Di bawah postingan terbaru. Terdapat komentar dari akun palsu, untuk berkeluh kesah. Dan itu baru 30 yang lalu, Lily menghela napas kasar.

__ADS_1


"Ini merupakan tindakan yang tidak profesional, Dinar. Kau mungkin bisa saja kesal dengan apa yang terjadi pada suamimu. Tapi tetap saja, di sini dia adalah seorang pembeli. Kalau kau merasa keberatan untuk melayani dia, lebih baik kau oper saja padaku. Kalau sudah begini bisa saka nama baik butikku hancur," nasihat Lily pada Dinar.


Dinar mengangguk kecil, kepalanya menunduk. Dinar akui, ia memang ingin mengerjai Damar. Tapi, sepertinya ini diluar etika jual beli.


"Maafkan saya, Bu! Saya tidak akan mengulanginya lagi," sahut Dinar pelan.


Lily mengangguk, dan berkata, "Lihatlah! Pada akhirnya pilihanmu tetap salah Dinar. Menikah dengan orang yang salah tetap akan menghancurkan kehidupanmu. Bukankah kau tahu pasti bagaimana keluarga seperti kita dibentuk? Kau maupun aku, harus merasakan pahitnya pengkhianat. Tapi, kenapa kau masih saja memberikan kesempatan untuk lelaki menyakiti perasaanmu!"


"Pembicara ini di luar pekerjaan, Bu Bos," tegur Dinar dengan intonasi nada rendah. "Kalau tidak ada lagi yang ingin Bu Bos katakan. Aku akan segera kembali, mengerjakan pekerjaanku."


Lily berdecak kecil mendengar jawaban Dinar, Lily dan Dinar. Sama-sama berasal dari keluarga broken home, pedihnya melihat sebuah pengkhianatan. Bedanya, ayah Lily tetap mempertahankan ibu Lily menjadi istri pertama. Bukankah, saat pria sukses ia tidak akan cukup dengan satu wanita. Namun, berbeda dengan seorang wanita saat seorang wanita sukses. Ia tidak butuh satu pun lelaki di sisinya untuk bahagia.


"LILY!" seru Dinar keras.


Lily tersentak mendengar teriakan keras, wajah cantik Dinar terlihat merah padam. Dinar benci ayahnya, sampai ke urat-urat nadinya. Ia benci pada pria yang memberikan dia darah, dan memberikan ia karma. Kenapa harus Dinar yang menerima karma dari pria bejat itu. Dinar sampai mati benci sekali pria itu, mengambil uang pria itu? Najis bagi Dinar. Sekarat pun Dinar tidak akan mau uang ayahnya.


"Hah! Tolong, kita bicarakan saja tentang pekerjaan Lily. Aku... tidak ingin berdebat apapun di pagi ini. Untuk mamaku, aku yang akan mengurusnya. Jangan ikut campur," lanjut Dinar sebelum membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan Dinar.

__ADS_1


***


Pria paruh baya itu menatap garang ke arah wajah tampan dosen di depannya, darah Amar mendidih melihat sang menantu. Sedangkan sang pria hanya menunduk dalam, berdecak kecil pria paruh baya itu terdengar.


"Kau berselingkuh di belakang putriku? Bukankah saat itu aku sudah memperingatkan kau. Jika tidak boleh menyakiti putriku!" seru Amara dengan nada keras.


Damar hanya menghela napas kasar, ayah mertua. Damar akui terkejut dengan indentitas Dinar, setelah menikah dengan Damar. Pria ini baru tahu kalau Dinar adalah putri salah satu konglomerat, karena ia dipanggil ke kantor dekan.


"Aku minta maaf, Papa! Aku dan Dinar tidak lagi cocok bersama," ucap Damar dengan suara pelan.


PRANG!


Asbak kaca tempat rokok langsung pecah, saat mendengar jawaban Damar. Damar terlonjak kaget mendengar hempasan asbak rokok pecah, meneguk kasar salivanya.


"Kalau kau bercerai dengan putriku. Aku pastikan kau akan langsung keluar dari kampus ini, perlu kau ketahui. Kau bisa masuk mengajar di universitas bergengsi ini karena siapa? Karena aku. Kau bilang ingin membahagiakan, Dinar! Aku masukan kau ketempat yang bagus dengan gaji yang besar. Untuk apa? Untuk membahagiakan putriku. Bukan untuk berselingkuh di belakangnya," marah Amar Santoso dengan nada mengelar. "Cuih! Putriku yang bodoh. Kenapa jatuh cinta dan menikah ada ngengat kotor sepertimu, ini. Harusnya dia mendengar perkataanku. Menikah dengan pria sebanding dengan dia, tapi malah menikah dengan sampah masyarakat seperti, kau. Hah, membuat tekanan darahku naik saja."


Amar bahkan meliur, karena kesal. Pria itu bangkit dari posisi duduknya, menatap marah pada Damar. Ia melangkah meninggalkan ruangan dekan, kedua tangan Damar mengepal erat. Dari mana datangnya keangkuhan, Dinar? Tentu saja dari pria tadi. Damar benar-benar benci keluarga Dinar. Merendahkan dia sampai detik ini, Damar merasa rendah diri setiap disandingkan dengan Dinar. Harga dirinya sebagai lelaki hilang, jika disandingkan dengan Dinar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2