
"Aku gak bohong, Mama!" sahut Mark menggelegar.
Wulandari melirik dengan mata kesal, kedua tangannya dilipat di bawah dada. "Apa bukti kalau emang anak di rahimnya itu adalah anakmu? Dia gak mungkin berbohong Mark. Gak mudah menjadi Ibu tunggal, Dinar sudah pasti tahu hal ini," balas Wulandari, ia tidak mengerti dengan cara pikir Mark.
Kalau memang anak itu adalah cucunya, tidak mungkin untuk Dinar berdusta. Apalagi wanita itu malah baru saja menjadi janda, Mark tidak mengatakan apapun perihal status Dinar. Si bungsu hanya mendesak Wulandari untuk datang melamar Dinar, itu terus berulang.
"Dan, kamu! Kenapa kamu gak ngomong kalau dia baru saja menjadi janda, Mark. Dinar dengan berterus terang kalau anak yang ia kandung adalah anak dari mantan suaminya," lanjut Wulandari, memarahi Mark.
Mark mengusap kasar wajahnya, merah padam. ******* lelah mengalun, tangan Mark bergerak melonggarkan ikatan dasinya. Membuka 3 kancing teratas kemeja hitam yang ia kenakan, Mark pikir tadi malam ibunya berhasil membujuk Dinar. Lantaran Wulandari sama sekali tidak memberikan kabar, nyatanya sang ibu ditolak dengan dalih yang dinilai tidak masuk di akal sama sekali.
Mark memang tidak memiliki bukti pasti kalau anak yang ada di dalam rahim Dinar merupakan anaknya, tetapi Mark yakin sekali. Mimpi itu benar adanya, terjadi pada malam Dinar dan Mark minum alkohol. Kedatangan Dinar mengantikan kemeja yang sepat Mark pinjamkan, Mark menawarkan alkohol yang baru ia beli. Kadarnya cukup tinggi, saat bangun di siang hari Mark tidak menemukan siapapun di ranjangnya. Ada yang aneh, seprai ranjangnya telah berganti. Serta ia memakai pakaian lengkap, pakaian yang ia pakai di malam itu malah berada di mesin cuci. Begitu pula dengan sprei, kedua-duanya telah dicuci dan sudah dikeringkan tinggal di jemur sedikit saja.
Mark tidak menaruh curiga, bisa saja Mark lupa kalau pembantu yang biasanya memang ditugaskan untuk membersihkan rumah dan mencuci pakaian Mark. Menganti sprei, untuk pakaiannya ia yang mabuk menukarkan pakaian baru.
"Pertama, anak itu adalah anakku, Mama," kata Mark
keukeh, membuat Wulandari berdecak kesal. "Yang kedua, mereka sudah bercerai cukup lama. Dinar adalah korban perselingkuhan, mereka menikah 5 tahun tanpa anak. Anak itu, anakku. Aku tegaskan selagi lagi anak itu anakku, Mama. Aku gak peduli apapun status dia, mau janda atau gadis. Yang jelas aku tergila-gila padanya," lanjut Mark, menggebu-gebu.
Wulandari menipiskan bibirnya. "Coba deh kamu lihat wajahmu di kaca, Mark. Kamu sudah kayak masmu, saat dia menginginkan wanita itu. Lantas apa bedanya kamu dan masmu? Gak ada, Mark. Kalian mulai lumpuh secara logika. Oke, fine! Kita anggap saja Dinar berdusta. Kalau anak itu memang anakmu, lantas mengapa dia berbohong? Sudah pasti dia gak mau kamu menjadi pasangan hidupnya, Mark. Intinya dia gak mau kamu, kalau kamu terlalu terobsesi sama dia, itu bukan cinta Mark. Hati-hati," jawab Wulandari memberikan nasihat pada sang putra.
Mark mendesah kasar, mengusap kasar surainya, ia tahu Dinar tidak ingin hidup bersama dirinya. Wanita itu jelas sekali menegaskan tidak ingin menikah dengan pria mana pun, meskipun anak itu milik Mark. Tetapi sang wanita tak ingin dinikahi bisa apa?
"Aku dan Mas berbeda, Mama! Mas mencintai wanita yang salah, sementara aku mencintai wanita yang benar," tukas Mark, tegas. "Aku akan berjuang untuk Dinar mau menerima diriku. Tidak peduli seberapa sulit dan berapa banyak waktu yang aku habiskan. Yang jelas aku akan memperjuangkan Dinar dan anakku, Mama hanya perlu memberikan restu untuk kami nanti," lanjut Mark, ia membalikkan tubuh membelakangi sang ibu.
__ADS_1
"Hei! Mau kemana, Mark?" teriak Wulandari menanyai mau kemana sang putra yang tampak kacau.
"Mau menculik anak orang." Mark menjawab sebegitu santainya, melangkah lebar keluar dari ruangan kerja sang ibu.
Oke, Wulandari mulai pening bukan main. Kenapa dia punya dua putra yang bebal, hanya 2 orang putri saja yang mau menuruti perkataannya. Jari jemarinya bergerak memijit kecil kedua sisi kening, ah, Wulandari lupa. Kalau sang suami pun sama gilanya seperti putranya, mau marah pun percuma. Sekali mereka memutuskan, maka tidak akan pernah goyah.
"Apa harusnya aku gak nikah sama papanya Mark, kalau tahu anaknya plek ketiplek kayak papanya, begitu. Aku bisa mati sebelum melihat semua cucuku beranjak remaja," dumel Wulandari frustrasi.
...***...
Ekspresi wajah Dinar tampak tenang, meskipun degup jantungnya berdebar keras. Ekspresi wajah Mark tampak santai sekali, apakah Wulandari sudah berbicara dengan Mark? Kenapa reaksinya setenang ini, mendadak Dinar merasa tak enak hati.
"Ayo, duduklah! Kok malah berdiri di sana saja, Dinar!" Mark berseru dengan kode tangan mengarah pada sofa di depannya.
Bulu tubuh Dinar berdiri, ia meneguk saliva yang tersangkut di kerongkongan dengan perlahan. Secara perlahan ia melangkah. Was-was duduk di sofa apartemennya, Mark tampak membuka beberapa kotak makanan. Dinar hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Mark, pemuda itu tampak meraih sepotong cup cake. Digigitnya ujung cup cake, lagi-lagi tersenyum lugu.
"Silakan dimakan Dinar, aku gak tahu kamu suka rasa yang mana. Jadi aku beli semua varian rasa," sambung Mark.
Dinar meraih satu cup cake, menggigitnya perlahan mengunyahnya. Ada beberapa pula variasi minuman dingin di atas meja, Dinar pikir Mark akan mengamuk. Ingin ditolak untuk masuk ke apartemen, rasanya tidak mungkin. Lantaran Mark sudah pasti tahu Dinar ada di apartemen, melalui cctv sialan yang telah dipasang. Sekarang Dinar baru paham, mengapa Mark tahu kapan Dinar ada di apartemen dan kapan ia berada di luar.
"Ini minuman rasa vanilla, lebih aku rekomendasikan untuk Ibu hamil." Mark mengelurkan minuman dingin ke arah Dinar.
Dinar meraihnya, sebelah tangannya memegang cup cake, yang satu lagi memegang minuman dingin. Mark bangkit dari posisi duduknya, mencoblos sedotan ke dalam lubang minuman. Ia tersenyum lagi, bergerak duduk kembali ke sofa. Kembali mengunyah kue lainnya, Dinar yang ketakutan mendadak bigung harus bagaimana.
__ADS_1
"Ma—makasih," gumam Dinar tergagap.
Ia menyesap perlahan minuman dingin hingga tinggal separuh, dapat ia rasakan bagaimana intensnya Mark menatap ke arah dirinya.
"Bagaimana, enakkan?" tanya Mark kembali terdengar bersuara.
Kepala Dinar mengangguk perlahan, diletakkan minuman kembali ke atas meja. Dinar mengigit kembali potongan cup cake, dikunyahnya secara perlahan.
"Aku akan mengambil cuti beberapa bulan di perusahaanku, aku meminta Papa mengelola perusahaan untuk sementara waktu," tutur Mark, menjelaskan tanpa harus ditanya oleh Dinar.
Dinar menguap, kepalanya mengeleng. Kantuk menyerang Dinar, berat sekali kepalanya. Samar-samar ia mendengar kata-kata yang mulai tak jelas dari bibir Mark.
PLUK!
Cup cake yang ada di tangan Dinar jatuh kelantai, bersamaan dengan tubuh Dinar yang tergolek di sofa. Ekspresi wajah Mark yang tadinya tampak ramah memudar begitu saja, ia bangkit dari posisi duduknya.
"Dinar! Kamu, salah bermain-main denganku. Sekali aku katakan kamu adalah milikku, maka sampai kapan pun. Gak akan pernah berubah, Sayang!"
Jari jemari Mark bergerak mempermainkan anak rambut Dinar, ia menyeringai.
"Just, stay with me, my love!" Mark tersenyum semakin lebar mendengar deru napas teratur Dinar.
Bersambung...
__ADS_1
Celaam ih, Om Mark🫣🫣Adek Atut, tapi boyeh lah ya, diculik Ama om Mark🤣🫰🏻