
"Minum dulu, Dinar!" Mark mengulurkan botol air yang baru saja ia buka tutup botolnya.
Kepala Dinar mengeleng perlahan, ia cukup syok mendengar ibunya masuk UGD. Sang ibunda mencoba melakukan tindakan nekat, apa yang membuat ibunya seperti itu? Padahal beberapa tahun belakangan Anggun jauh lebih tenang. Apa yang sebenarnya ayahnya lakukan, sampai sang ibu melukai urat nadinya.
Mark duduk di samping Dinar, tangannya bergerak membuat Dinar mau tak mau menggenggam botol dengan kedua tangannya.
"Minumlah sedikit Dinar, kamu tenang saja. Seperti apa yang dikatakan oleh Dokter yang menangani Bu Anggun, keadaan Bu Anggun sekarang sudah baik-baik aja. Meskipun kedua tangannya harus diikat agar tidak lagi menyakiti sendiri," tutur Mark lembut, ia tahu Dinar terguncang dengan tindakan nekat calon ibu mertuanya itu.
Dinar mendesah berat, ia menggeleng lemah. "Mamaku tidak pernah bertindak seperti ini, Mama hanya berteriak keras. Menghancurkan barang-barang yang ada di dekatnya, hanya itu. Namun, ini untuk pertama kalinya Mama berusaha untuk menghabisi nyawanya sendiri," gumam Dinar, mengutarakan pemikirannya.
Telapak tangan Mark bergerak mengusap perlahan punggung belakang Dinar, nyatanya Dinar hidup dengan luka yang menahun. Wajar baginya trauma pada hubungan baru, Mark menginginkan Dinar. Mark ingin Dinar menjadi istrinya secepatnya, ia ingin wanita ini berada di dalam pelukannya. Melihat masa lalu Dinar, ibunya berharap Mark melihat Dinar secara saksama.
Dinar dipenuhi oleh duri, setiap rasa sakit dari kehidupannya. Menjadi cambuk untuk Dinar maju, menyongsong masa depan. Dinar berjuang keras untuk tetap waras dan menjadi manusia terbaik yang ia bisa, Dinar bahkan membuka hatinya untuk mencintai lawan jenis, berharap akan membangun istana kokoh. Memberikan semuanya untuk hidup lebih baik, nyatanya semuanya diinjak-injak oleh Damar. Lantas apakah perempuan itu akan bisa mempercayai sebuah hubungan lagi? Sang ibu meminta Mark memberikan Dinar waktu. Dan pelan-pelan menunjukan pada Dinar, bagaimana perasaan Mark sesungguhnya.
"Kita bawa Bu Anggun pulang, kamu maupun aku. Kita bisa bersama-sama mengurusnya, memberikan cinta pada Bu Anggun. Katanya itu bisa membantu agar kondisi Bu Anggun bisa pulih," ucap Mark serius.
Atensi Dinar langsung tertarik untuk fokus pada wajah Mark, pemuda ini serius? Ingin mengurus ibunya? Damar saja yang sudah menikah dengan Dinar. Menolak mentah-mentah ide tersebut, Damar tak ingin menjadi ikutan gila karena Anggun. Apalagi bisa saja teriakan Anggun menganggu tetangga mereka, Dinar harus mengalah.
"Kamu serius? Tidak mudah mengurus orang yang sakit, Mark. Kamu akan muak dengan semua teriakan dan tidak sedikit barang-barang di mansion akan dipecahkan oleh mamaku," balas, Dinar mencoba menelisik ekspresi wajah Mark.
Mark menarik ketua sisi bibirnya ke atas, dan berkata, "Aku tidak masalah dengan hal seperti itu, kita memiliki banyak orang di sana. Aku bisa meminta Mbak Elsa mengirimkan kenalannya untuk berkonsultasi tentang psikis Bu Anggun. Kita bisa belajar bersama-sama menghadapi Bu Anggun, siapa tahu kalau Bu Anggun hidup bersama kita. Akan menjadi kembali sehat, Bu Anggun juga berhak melihat tumbuh kembang cucunya nanti. Aku sama sekali gak berkeberatan, Dinar."
__ADS_1
Dinar diam, ekspresi wajahnya masih tampak tak yakin. Bisa saja ini merupakan omong kosong Mark, hanya untuk bisa memikat dirinya lebih jauh lagi. Namanya juga lelaki, apapun akan dilakukan untuk menarik hati perempuan yang ia sukai. Setelah merasa tak tertarik lagi dan bosan, bisa saja Mark membuangnya bak habis manis sampah dibuang.
Ya, tidak ada salahnya. Dinar akan melihat sampai kapan Mark akan bertahan untuk keukeh ingin hidup bersama Dinar dan sang ibunda.
...***...
Bola mata Eva berotasi malas, kenapa lagi Damar datang ke butik. Muak Eva melihat wajah Damar, berbeda dengan Damar lelaki itu tampak berdiri tegap di depan Eva. Tidak perduli bagaimana masamnya ekspresi wajah sahabat—mantan istrinya satu ini.
"Aku hanya ingin tahu di mana Dinar, Eva. Hanya itu saja, kalau kamu mau kasih tahu di mana Dinar. Maka aku akan langsung pergi dari sini," ucap Damar tegas, dan keras kepala.
Eva menghela napas kasar. "Aku gak tahu Dinar di mana, dan kalau tahu pun. Gak punya niat tuh buat kasih tahu situ," jawab Eva sekenanya.
Damar benar-benar ingin sekali menaikan intonasi nada suaranya melihat cara Eva menjawabnya, tidak lagi ada sopan santunnya.
Eva sontak saja berdecak kecil. "Lah, emang situ siapanya Dinar? Hei, tahu diri dikitlah. Udah nyakitin anak orang, datang-datang kayak gak ada dosa, najis banget," balas Eva, mencemooh Damar.
Kedua tangan Damar terkepal kuat, bibirnya terbuka akan tetapi laju kata tertahan di kerongkongan. Kala derap langkah kaki dari sepatu high heels mengetuk lantai lorong menuju ke arah meja resepsionis, Damar menoleh ke arah Lily. Wanita itu melirik Damar dengan dagu terangkat tinggi, keangkuhan lady yang paling Damar benci.
"Ada apa ini?" tanya Lily, melirik ke arah Damar dan Eva secara bergantian.
Damar melangkah mendekat Lily, selain Eva maupun Putri. Wanita satu ini pun cukup dekat dengan mantan istrinya, siapa tahu kalau Lily tahu keberadaan Dinar. Lantaran Damar beberapa hari ini ke apartemen Dinar, mau puluhan kali ia mengetuk pintu apartemen tidak ada sahutan sama sekali. Menunggu di lobi sampai larut malam pun tidak ia dapati kehadiran Dinar, jalan satu-satunya adalah bertanya pada sahabat terdekat Dinar.
__ADS_1
"Aku ke sini mau bertanya perihal keberadaan Dinar," kata Damar dalam satu kali tarikan napas.
"Ah, Dinar," ujar Lily, ia melirik ke arah Eva yang masih berdiri di belakang meja resepsionis. Eva mengeleng kecil, memberikan kode agar Lily tidak mengatakan apapun perihal Dinar. Lily kembali membawa manik matanya ke arah wajah Damar, yang tampak penuh harap padanya.
"Tolong katakan di mana Dinar berada, Lily," pinta Damar memelas.
"Kalau kamu tahu di mana Dinar sekali pun, emangnya kamu mau apa?" tanya Lily, dengan intonasi nada meremehkan.
"Aku akan bertanggung jawab akan kehamilannya," balas Damar cepat.
Eva terbelalak mendengarnya, telapak tangannya mengatup mulutnya terbuka. Berbeda dengan Lily, sang pemilik butik terkekeh renyah mendengarnya. Dahi Damar berlipat, tak paham dengan reaksi Lily.
"Oh, maaf," ucap Lily. "Sepertinya kamu salah paham dengan kehamilan Dinar, ah, atau kamu hanya berpura-pura ingin bertanggung jawab pada anak itu. Entah itu anakkmu atau bukan, yang jelas kamu sudah menyesal karena kehilangan berlian yang berharga. Bagaimana rasanya menikahi wanita ingusan? Dan berakhir di depak dari pekerjaan? Dinar, tidak butuh tanggung jawab busukmu itu. Perempuan setangguh Dinar gak butuh kamu Damar, entah itu dari segi mengayomi sampai menafkahi. Dinar itu perempuan mahal, yang harus tak hidup dengan pria murahan sepertimu. Cih! Aku juga heran kenapa Dinar mau aja nikah sama pria kere bin gak tahu diri kayak kamu, binatang saja masih tahu cara berterima kasih. Nah, sekarang kamu bisa pergi dari sini. Pintu keluarnya ada di belakangmu," lanjut Lily, mengusir Damar.
Urat leher Damar mencuat, wajahnya memerah. Mulut busuk wanita di depannya ini terlalu kasar, tangannya terangkat Eva terpekik keras.
HAP! BRUK!
Pergelangan tangan Damar dicekal, dan dorong ke arah belakang. Eva mendesah lega, sedangkan Lily membeku, punggung lebar pria menghalangi Lily. Entah kapan Roy masuk, dan sampai di dekat Lily.
"Dasar lelaki banci, beraninya sama perempuan. Harusnya Dinar sadar sebelum menikah dengan pria rendah sepertimu," cibir Roy kesal.
__ADS_1
Damar menatap nyalang ke arah Roy, lelaki sialan ini lagi. Membuat Damar semakin kesal saja.
Bersambung....