
Putri dan Eva saling adu lirikan mata, kehadiran eksistensi pria berjas hitam tampak menatap ke arah Dinar dengan ekspresi serius.
"So, apa yang membuat Tuan Mark datang ke butik ini tanpa calon pengantin?" tanya Dinar seramah mungkin pada lelaki gila satu ini.
Mark tersenyum menyeringai, dan menjawab, "Kenapa tidak ada pengantin? Apakah Nona Dinar yang cantik ini tidak melihat jikalau pengantin cantikku ada di sini juga?"
Dinar menggerjab melirik ke sekeliling lobi butik, di sana hanya ada mereka berempat saja. Kedua sahabat yang berdiri dengan guratan ekspresi wajah tidak paham, Dinar mendesah berat. Meskipun begitu, ia kembali mengulas senyum pada CEO player di depannya ini.
"Ah, jangan bercanda, Tuan Mark. Aku sama sekali gak ngelihat ada perempuan lain di sini selain dua karyawan butik yang memang bekerja di sini," jawab Dinar sesopan mungkin.
Sebelah alis mata tebal yang ditata rapi milik Mark, langsung saja ditarik naik. "Ya, kah? Gak kelihatan? Tunggu, biar aku perlihatkan calon pengantin yang ikut hadir bersamaku di sini tapi malah gak kelihatan oleh Nona Dinar yang cantik," sahut Mark, tangannya tampak bergerak merogoh saku jas.
Benda pipih persegi panjang itu dikeluarkan, Eva dan Putri hanya menjadi penonton sekaligus pendengar yang baik saja. Tidak menampik jikalau keduanya cukup penasaran dengan pembicaraan Dinar dengan pria yang baru dua hari yang lalu mereka ketahui sebagai ayah dari janin di dalam kandungan Dinar-sahabat mereka.
"Nah, ini dia. Calon pengantinku, Nona Dinar!" Mark berseru mengarahkan layar ponsel dengan lensa kamera yang terbuka ke arah Dinar.
Senyum sopan yang diulas oleh Dinar langsung memudar kala manik matanya mendapati, wajahnya sendiri yang terlihat di sana. Tangan Dinar bergerak menurunkan ponsel yang diarahkan oleh Mark ke arah dirinya, ekspresi wajah Dinar langsung terlihat datar.
"Silakan ke luar, Tuan Mark. Di sini tidak melayani lelucon konyol, serta menjahit baju pria." Dinar menunjuk ke arah pintu kaca ke luar yang tertutup.
Mark menyimpan smartphone miliknya kembali ke tempatnya, tersenyum tipis pada Dinar. Agaknya wanita cantik satu ini marah, padahal ia tidak bercanda.
"Loh, kok, ngusir pembeli," kata Mark, ekspresi wajah tanpa dosa.
Dinar menipiskan bibirnya, ayah dari anaknya ternyata jauh lebih gila daripada apa yang dipikirkan oleh Dinar. Buktinya tidak mau menyerah, walaupun sudah ditolak beberapa kali.
__ADS_1
"Jangan memancing emosi, ini masih terlalu pagi untuk harus membuat orang lain naik darah, Tuan Mark!" Dinar berkacak pinggang.
Oke, Dinar tidak tahan lagi melayani gangguan Mark. Kepala Mark mengangguk sekilas, mungkin ia harus mundur dahulu. Agar bisa maju 100 langkah untuk mendapatkan kucing Persia satu ini, ternyata mengejar-ngejar wanita tidak seburuk apa yang Mark pikirkan.
"Siap, Nona Dinar yang cantik. See you next time, Honey!" Mark mengalah.
Tangan Mark menyisir rambut hitam legam ke belakang, memperhatikan wanita yang merenggut. Tubuh atletisnya berbalik, melangkah menuju pintu ke luar. Putri dan Eva yang berdiri di balik meja resepsionis setengah berlarian ke arah Dinar, berdiri di kedua sisi tubuh Dinar.
Pintu kaca transparan itu terbuka lalu tertutup kembali, jantung Dinar rasanya mau copot. Takut-takut si gila ingat, bahwasanya mereka sempat terjebak one night stand. Saat Dinar datang membawa ganti rugi kemeja mahal milik Mark, lelaki itu mengajaknya minum bersama. Dinar yang masih dalam keadaan labil, menerima ajakan Mark. Dan entah siapa yang memulai dan siapa yang menggoda, hingga berakhir di ranjang.
Beruntung Dinar bangun lebih dahulu, membereskan kekacauan. Dinar harus bekerja ekstra keras, menghilang bukti kalau ia tidur malam itu bersama Mark.
"Gila, Dinar. Dia, kalau dilihat dari mata telanjang, so hot!" seru Putri nyaris memekik heboh.
Putri berdecak kecil. "Hei! Si Damar beda kelas kali, Eva. Damar itu kere bin gak tahu diri, udah gak punya harta. Gak punya harga diri pula, kalau cowok tadi. Dia punya segalanya, jadi masih pantas kelihatan kayak kadal Arab, eh mungkin kadal Qatar. Biar lebih keren," balas Putri, menggebu-gebu.
Dinar mendadak memijit kedua sisi pelipisnya, menghela napas kasar.
"Hah, aku harap dia gak lagi kelihatan di mataku. Mau dia kadal gurun, buaya buntung, atau apalah namanya itu. Yang pasti aku gak punya minat sama dia," balas Dinar menghela napas kasar.
Dinar melangkah menuju ruangannya, Putri dan Eva tampak bertengkar kecil masih membahas pria tadi. Eva di bagian kontra, dan Putri pro.
...***...
"Silakan diminum, Tante," ujar Dinar berbasa-basi.
__ADS_1
Wanita paruh baya sosialita itu mengeleng kecil, Dinar tidak memaksa untuk wanita pongah satu ini untuk menyentuh minuman yang Dinar buat.
"Aku gak akan lama-lama, yang perlu aku bicarakan dengan kamu, Dinar. Aku harap kamu jangan ganggu putraku, jangan merayu Roy," balas Linda dengan ekspresi wajah menahan kesal. "Pertunangan kalian berdua sudah sangat lama putus, aku harap jangan ada hubungan apapun lagi di antara kalian," lanjut Linda.
"Tanpa mengurangi sopan-santunku, aku sama sekali tidak pernah menganggu Roy. Aku yang harusnya meminta pada Tante untuk menjaga putra Tante, agar tidak datang mengejar-ngejarku. Aku gak peduli bagaimana perasaannya padaku, yang jelas. Aku pun gak punya minat untuk bersama putra Tante," jawab Dinar dengan ekspresi tenang.
Linda mendengus tampak mencemooh, wanita ini menjadi janda setelah menikah. Ini membuat Linda semakin resah, takut-takut putranya kembali bersikeras untuk menikahi Dinar. Apalagi ia menolak mentah-mentah perjodohan dengan Lily, perempuan yang pas untuk Roy.
"Kamu yakin, kalau gak sedang mengoda Roy. Dia yang ngejar-ngejar kamu? Yang benar aja," tukas Linda, menyalahkan Dinar.
"Mau Tante percaya atau gak, itu bukan urusanku. Yang jelas aku tidak pernah menggoda Roy, gak punya waktu juga untuk melakukan itu. Sebaiknya Tante pasangkan rantai pada Roy, biar bisa Tante atur lebih leluasa lagi. Jika Tante sudah selesai ngomongnya, silakan pulang. Aku punya banyak pekerjaan yang harus aku bereskan," sahut Dinar, menarik senyum paksa untuk diulas.
Linda bengkit dari posisi duduknya, menghela napas kasar.
"Cih, janda miskin saja belagu," gumam Linda mencemooh Dinar.
Wanita paruh baya itu melangkah menuju pintu ke luar, astaga! Kenapa seharian ini hatinya tidak menyenangkan. Pagi diganggu oleh Mark-ayah dari sang janin, malamnya malah diganggu oleh ibunya Roy.
Pintu apartemen dihempaskan depan keras, Dinar menutup perlahan kelopak matanya. Ada apa dengan orang-orang? Dinar hanya ingin hidup tenang.
"Apakah aku harus ke luar negeri saja? Biar tidak ada gangguan dari banyak orang. Ayah anak ini berbahaya, kalau dia tahu tentang anak ini. Entah ide gila apa yang akan keluar dari mulutnya. Belum lagi si Damar masih saja tidak mau diam, mengangguku," gumam Dinar nyaris berbisik, ia lelah.
Lama-lama kalau terus begini, Dinar bisa stress berat. Ia butuh sekali ketenangan dan membuat dirinya sesantai mungkin, agar bisa hamil dalam keadaan sehat.
Bersambung....
__ADS_1