
Senyum lebar menyapa Dinar, perempuan hamil itu tampak mendadak bad mood melihat kehadiran pria gila yang sekarang merangkap menjadi tetangga gila. Bersandar di pembatas pagar, menghadap ke arah balkon apartemen Dinar.
"Bukankah pagi ini tampak begitu cerah, Honey? Meskipun tidak dapat menandingi cerahnya sorot matamu," sapa Mark, dengan senyuman lebar kembali terlihat jelas.
Dinar sontak saja mengernyit, bibirnya tampak berkerut. "Hah, ada apa dengan udara di apartemen ini. Mendadak hawanya menjadi begitu dingin, membuat aku merinding saja. Apakah ada mahluk halus di sekitar sini?" Dinar berpura-pura tidak melihat Mark, apalagi mendengar sapaan Mark.
Setidaknya jika pria playboy cap kadal gurun ini diabaikan, maka mudah-mudahan Mark merasa kesal. Dan tidak lagi peduli dengan Dinar, itu harapan Dinar. Sayangnya Mark malah terkekeh renyah, mendengar perkataan Dinar.
"Apakah boleh aku membantu membuat tubuhmu, kembali terasa panas, Honey! Aku berani jamin akan memberikan suhu panas yang pas, kalau kamu tidak puas. Barang bisa dikembalikan dan uang garansi pun akan dicairkan," sahutnya berkelakar.
"Oh, tidak. Aku harus menutup cepat pintu balkon, agar tidak ada mahluk tak kasat mata menyelinap masuk!" Dinar tampak heboh, ia mundur ke belakang dengan cepat.
Suara pintu dihempaskan cukup keras dan dikunci dapat didengar dengan jelas oleh Mark, kepala Mark menggeleng-geleng kecil memperlihatkan apa yang dilakukan oleh Dinar. Janda cantik satu itu adalah buruan Mark, sulit untuk ditaklukkan. Namun, pasti akan ia dapatkan, sekali Mark bertekat. Tidak akan ada yang bisa membuat Mark mundur, untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Dinar Aprilia Santoso, kamu lihat saja. Aku akan membuatmu menjerit di bawah kuasaku, Sayang. Sekeras apapun kamu menolak pesonaku, sekeras itu juga aku akan berjuang untuk mendapatkanmu," gumam Mark yakin, kepalanya mengangguk-angguk kecil.
Mark bersiul ceria, menegakkan kembali posisi tubuh atletisnya. Mengayunkan kedua tungkai kakinya, bersiul-siul kecil. Sedangkan di apartemen samping, Dinar tampak berkomat-kamit lantaran kesal.
"Cih! Ada apa dengan dia, aku memang bersyukur karena anak ini aku dapatkan darinya. Namun, melihat dia sampai pindah ke sini cukup mengerikan. Sepertinya aku harus bergegas menyiapkan dokumen pindah ke luar negeri," monolog Dinar.
Sekarang rasanya tidak akan aman lagi jika ia berada di apartemen, Mark merecoki Dinar pagi, siang, dan malam. Ada saja tingkahnya hanya agar bisa melihat wajah Dinar, sebelum Dinar membuka pintu apartemen. Maka Mark tidak akan pernah mau beranjak dari pintu masuk apartemen, menggedor-gedor keras pintu.
__ADS_1
Dinar melangkah menuju kunci motor, ia harus ke rumah sakit. Cek kandungan, serta mengunjungi sang ibunda. Dinar harus konsultasi untuk perjalanan jauh kali ini, entah untuk dirinya sendiri. Maupun untuk sang ibu, bagaimana caranya agar ia bisa membawa ibunya tenang ke luar negeri. Sampai di sana, keadaan ia dan ibunya bisa baik-baik saja.
Pintu apartemen dibuka perlahan, samar-samar Dinar mendengar suara orang berbicara.
"Nah, ya, pasti itu. Oke, sekarang tinggal dikuatkan aja. Biar cctv-nya gak bergeser ke arah lain," tutur pria berjas hitam pada dua orang yang berada di atas tangga memasangkan cctv.
Kepala Dinar sontak saja menengadah, dahinya berlipat. Kenapa ada pemasangan cctv di depan apartemennya, Dinar mengayunkan kaki jenjangnya ke arah pria yang mengawasi kegiatan pemasaran, ia berdiri di samping sang pria.
"Mohon maaf, Pak! Ini, kok ada pemasangan cctv, ya?" tanya Dinar dengan dahi berlipat.
Pamungkas melongok ke samping, ia terkejut mendapati Dinar yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ha? Tapi arahnya kayak ke arah depan pintu apartemen saya, loh, Pak," protes Dinar, tangannya bergerak menunjuk ke arah cctv dan pintunya.
Pamungkas terkekeh dibuat-buat, jantungnya berdebar keras. Ah, sialan! Ini semua karena bos otoriternya itu. Mau memantau keberadaan Dinar, apakah wanita di sampingnya ini sudah pulang atau belum.
"O—oh, anu, Non! Cuma kena dikit aja itu, karena diambil dari arah sini, biar jelas." Pamungkas memberikan alasan yang kurang pas, dalam hati ia memaki.
Mulut Dinar terbuka, suara ponsel di saku jumpsuit membuat Dinar mengurungkan jawaban protesnya. Tangan Dinar merogoh saku, mengeluarkan benda persegi panjang. Nama rumah sakit tempat ibunya dirawat, membuat Dinar mau tak mau menjauh dari kegaduhan. Dinar melangkah menuju lift, dengan jari jemari tangan menggeser ikon panggilan ke samping. Menempelkan smartphone ke daun telinganya, Pamungkas sontak saja menghela napas panjang. Mengusap-usap dadanya, setidaknya kali ini ia selamat.
...***...
__ADS_1
Uap kopi panas mengepul di udara, mengisi paru-paru keduanya dengan aroma harum. Dinar duduk bersandar di kursi, ia bertemu dengan pria ini tak disengaja. Berakhir duduk bersama, katanya ia ingin berbincang-bincang sebentar dengan Dinar. Daripada Dinar harus dikejar-kejar tak jelas, ia harus siap menghadapi apa yang diinginkan oleh sang mantan suami.
"Bisakah kamu berhenti menatapku seperti itu? Rasanya kurang nyaman mendapatkan tatapan seperti itu," tegur Dinar, tanpa harus membawa pandangan matanya ke arah Damar.
Damar menghela napas berat, ia menyesal meninggalkan wanita ini. Ia menyesal mencampakkan Dinar, perempuan ini nyatanya lebih segalanya ketimbang perempuan mana pun. Lampu terang benderang nyatanya lebih ia butuhkan daripada lampu yang berkelap-kelip menyilaukan.
"Tidak bisakah kita kembali lagi bersama, Dinar. Aku bahkan tidak bisa hidup tanpa dirimu di sisiku, sumpah! Aku merindukan semua hal tentangmu. Aku merindukan panggil hangatmu, aku akui semuanya adalah kesalahanku. Aku tahu, akan tetapi aku ingin menebus semuanya untukmu," tutur Damar terdengar menggebu-gebu.
Dinar mengangkat pandangan matanya ke arah Damar, kenapa baru sekarang? Disaat Dinar sudah memutuskan untuk tak lagi mencintai pria manapun.
"Bagiku, hubungan yang telah kandas tidak akan pernah ku rajut ulang. Kita bersama di masa lalu merupakan jodoh singkat, untuk saling memahami. Bahwasanya sekeras apapun kita menyenangkan pasangan, jika mereka tidak menghargainya. Usaha kita tidak lebih dan kurang, hanyalah sampah di mata mereka," sahut Dinar dengan intonasi nada tegas. "Karena itu, aku tidak akan melakukan hal yang sama, aku akan fokus mencintai diriku sendiri. Dibanding mencintai lawan jenis," lanjut Dinar tegas.
Damar membeku, mantan istrinya ini bersungguh-sungguh. Tidak ada keraguan di dalam kedua mata Dinar, perselingkuhan yang ia lakukan benar-benar berakibat fatal. Hanya karena wanita di depannya ini tampak layu, ia mencari bunga lain untuk memenuhi hasratnya.
"Sekali pun tak ada kesempatan untukku, Dinar?" Damar bertanya lirih.
"Ya, sudah tidak ada. Aku bukan perempuan yang pendendam, akan tetapi juga bukan perempuan berhati besar. Selagi aku melepaskanmu dengan cara yang paling baik, maka enyahlah dari kehidupanku," balas Dinar, dingin.
Ia bangkit dari posisi duduk, tangan Dinar merogoh sakunya. Mengeluarkan dua lembar uang, diletakkan di atas meja kafe. Kedua tungkai kakinya diayunkan, melangkah meninggalkan Damar.
Bersambung...
__ADS_1