Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 48. CINTA DAN LUKA


__ADS_3

"Jangan berlari, jalannya gak semuanya datar," tutur Mark, tangannya bergerak memasangkan jaket kebesaran pada tubuh Dinar.


Bibir Dinar mencabik, ia sudah sering ke sini. Ia suka di sini, selain udara yang sejuk puncak Bogor merupakan tempat healing terbaik bagi Dinar.


"Ya, ya, ya, berapa kali sih. Rasanya dari tadi mengomel terus," sahut Dinar menggerutu akan peringatan Mark.


Mark menarik kedua sisi bibirnya ke atas, ia suka memperlakukan wanita di depannya ini seperti anak kecil. Menjaganya untuk tetap aman dan bahagia, ibu jari Mark bergerak memukul ringan puncak hidung Dinar dengan gerakan mengetuk.


"Ini peringatan dari Ibu mertua, katanya kalau aku harus senantiasa menjagamu. Karena kamu kalau sudah ditempat yang paling kamu sukai. Akan seperti anak kecil, padahal sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu," balas Mark, mendapatkan dengusan dari Dinar.


"Dinar!" seruan keras dari arah hamparan kebun teh mengalihkan perhatian keduanya.


Dinar dan Mark secara serentak menoleh ke arah asal suara, tangan yang melambai disertai senyum lepas membuat Dinar langsung memberikan reaksi yang sama.


"Om Ben! Tunggu aku ke sana!" teriak Dinar tak kalah kerasnya.


Mark mendesah berat melihat kelakuan Dinar, calon ibu satu ini malah mengabaikan peringatan Mark. Kedua kakinya langsung bergerak mendekati Benny, Mark dengan cepat menahan pergerakan tangan Dinar. Membuat langkah kaki sang wanita berhenti mendadak, ia melirik ke arah belakang dengan dahi berlipat.


"Apalagi, sih?" tanya Dinar tak paham.


"Kita jalan ke sana bersama, jalan Dinar. Bukan berlarian," sahut Mark, mengingatkan.


Ah, Dinar lupa. Ia mengangguk paham, jari jemari panjang Mark menelusup masuk mengisi ruas jeri jemari Dinar yang kosong. Keduanya melangkah mendekat ke arah Benny, pria paruh baya itu tersenyum memperhatikan keduanya. Benny mendengar kabar tentang perceraian Dinar, pria ini pun sempat mengirimkan pesan serta menghubungi Dinar. Ia percaya pada Dinar, anak perempuan yang selalu saja tampak kecil di mata Benny itu memiliki sisi lain. Keteguhan hati, serta semangat juang yang selalu membuat Benny takjub.


"Om!" seru Dinar kembali terdengar kala jarak semakin dikikis.


Dinar melepaskan genggaman tangan Mark, membuat sang pria mengerang cemburu. Dinar langsung memeluk Benny tanpa rasa sungkan, meskipun terpisahkan oleh perut Dinar yang terlihat semakin membesar. Benny terkesiap, bukan karena pelukan yang dinilai tiba-tiba akan tetapi karena pemisah yang ada di antara mereka berdua. Pelukan dilepas perlahan oleh Benny, manik matanya jatuh pada perut besar Dinar.


"Dinar... kamu hamil?" Benny bertanya dengan ekspresi lucu di mata Dinar.


Wanita itu terkekeh renyah, kepalanya mengangguk antusias. Beberapa bulan yang lalu ia mendengar kabar cerai Dinar, wanita di depannya ini sama sekali tidak mengatakan kalau dirinya tengah berbadan dua. Terakhir Dinar memberikan kabar kalau ia akan segera terbang ke luar negeri, hanya sampai di sana saja. Dan beberapa bulan kemudian, mereka bertemu lagi hari ini dengan keadaan perubahan tubuh Dinar.

__ADS_1


"Ya, Om. Aku hamil, anak lelaki di sampingku ini, ceritanya lumayan panjang. Nanti akan aku ceritakan semuanya sama Om," tutur Dinar, melirik ke arah Mark yang berdiri di sampingnya.


Benny pun ikut melirik ke arah Mark, pemuda gagah dengan senyuman cerah. Aura berwibawa yang membuat Benny mengingat sosok lain, di masa lalu. Ah, ayah Anggun, yang saat itu adalah majikan dari ayahnya Benny.


Benny bukan berasal dari kalang setara dengan Anggun, wanita itu merupakan sosok yang sulit untuk diraih. Tumbuh besar bersama, menjadi sosok sahabat yang diam-diam ia cintai. Bahkan disaat Anggun mencintai pria lain, Benny setia dalam rasanya. Ia akan memberikan semuanya untuk kekasih hati, perempuan yang tak mungkin bisa Benny gapai. Mencintai Anggun serta menjaga anaknya. Tak peduli siapa ayah dari anak Anggun, yang pasti bagi Benny sendiri. Anak Anggun adalah anak Benny juga, hancurnya hati Benny kala perempuan itu hancur di depan matanya. Namun, Benny tak punya apa-apa yang bisa ia berikan pada Anggun. Hanya punya ketulusan dan membatu di tengah kesulitan.


"Om!" Dinar menyentuh telapak tangan Benny.


Atensi mata Benny langsung bergerak ke arah Dinar, dan berkata, "Ah, maaf. Kamu bilang apa tadi?"


"Kita ke rumahnya Om sekarang atau ke pondok dulu, duduk-duduk ngobrol?" tanya Dinar lembut.


Benny mengulas senyum tipis. "Langsung ke rumah saja, sebentar lagi mau malam. Ada baiknya Ibu hamil tinggal di rumah, ayo, Nak Mark ikut, Om."


Dinar merangkul Benny, meninggalkan Mark yang mengerang cemburu. Dinar mengatakan kalau Benny merupakan lelaki yang mencintai ibunya, lelaki yang melajang hingga usia tak lagi muda. Pria itu setia dengan satu wanita, lantaran berpikir. Sewaktu-waktu Anggun kembali waras, ia ingin menawarkan menjadi tempat sekaligus teman hidup untuk Anggun. Tak masalah meskipun Anggun sampai akhir hayat pun tak pernah melihat perasaan Benny, bagi Benny menjaga dan membahagiakan Anggun adalah tujuan hidupnya.


"Sebenarnya ada berapa pria yang harus aku kalahkan dalam kehidupan Dinar," gumam Mark mengerang lemah.


Guratan wajah lelaki paruh baya itu tampak kusut, kedua telapak tangannya bergerak mengusap kasar wajahnya. Derap langkah kaki mengalun di lorong rumah sakit, hingga keduanya berhenti tepat di depan kursi tunggu yang tersedia di lorong.


"Pa!" panggil suara berat, menyapa gendang pendengar Amar.


Kepala Amar menengadah, ia mendapati kedua putranya berdiri dengan wajah cemas. Amar bangkit dari posisi duduknya, ia menatap lambat wajah putra bungsunya yang sudah lemah sedari kecil.


"Kenapa kamu datang ke sini Geral?" tanya Amar, kala atensinya jatuh pada Geral.


Geral mendesah lelah. "Bagaimana aku gak ke sini Papa, mendengar Mama masuk rumah sakit. Aku gak apa-apa Papa, aku baik-baik saja. Papa gak usah khawatir, sekarang bagaimana kondisi Mama?"


Ronal tahu betul jikalau sang ayah kurang menyukai kehadiran dirinya, lantaran Ronal jauh sekali dari kata bisa membanggakan. Beda sekali dengan Dinar, kakak seayah Ronal.


"Kondisi Mama baik-baik saja, hanya terlalu stress saja. Kamu gak usah khawatir," jawab Amar berdusta. Amar menoleh ke arah Ronal, putra pertamanya. "Ronal? Bawa Geral kembali pulang, dia gak boleh lama-lama di luar. Apalagi sampai kelelahan, fisikanya gak sama kayak kamu," lanjut Amar datar.

__ADS_1


"Di rumah berisik, Pa," sahut Ronal berat. "Rumah yang kita tempati dilihat-lihat oleh pihak agen jual-beli rumah, katanya mau menentukan harga jual," papar Ronal.


Amar sontak saja mengatup kedua kelopak matanya, ia sudah dengar dari Lidia. Bahwasanya Anggun datang dengan membawa surat-surat, serta meminta mereka berdua mengosongkan rumah. Itu ternyata bukanlah gertakan sambal, bahkan di perusahaan sekarang makin dibuat pening. Lantaran para pemegang saham meminta Amar mundur dari jabatan, usut punya usut. Semuanya pun digerakkan oleh sosok yang berkuasa, jauh di atas Amar.


Anggun benar-benar sudah gila, bagaimana bisa ia setega itu dengan keluarga Amar. Lidia tidak dalam kondisi sehat, wanita itu 1 tahun belakangan mengidap penyakit kanker rahim. Amar tidak tahu harus bagaimana saat ini, lantaran semuanya benar adanya milik Anggun. Amar tahu ayah Anggun lah yang telah memberikan aset serta menyuntikan modal. Apalagi saat Amar dan Anggun memiliki Dinar, ekonominya mendadak naik ke puncak. Mertunya begitu sayang dengan Dinar, sampai menutup usia.


"Sekarang kita mau tinggal di mana, Pa?" tanya Geral lirih. "Lalu biaya pengobatan Mama, kita harus cari ke mana?"


Amar mendesah frustrasi, kelopak matanya dibuka perlahan. "Kamu tenang saja, Geral. Semuanya serahkan sama Papa, biar Papa yang memikirkan caranya."


Amar mengusap lembut pundak si bontot, Ronal mendesah kasar. Keluarganya bukan keluarga bahagia, meskipun terlihat sempurna dari luar. Ibunya tak sehat setelah melahirkan Geral, ayahnya selalu menuntut Ronal untuk sempurna. Katanya untuk mengelola perusahaan, yang pada kenyataannya Ronal tahu itu milik anak dari mantan istri sang ayah.


Munafik kalau Ronal katakan ia tak malu, Ronal lahir dari hubungan terlarang. Ibunya seorang wanita simpanan, sebelum menjadi istri sah. Kakak perempuannya itu begitu bersinar, wajahnya cantik, pintar, dan mudah bergaul. Sesekali Ronal memperhatikan Dinar dari kejauhan, beberapa kali mendapatkan penghargaan. Berbanding terbalik dengan Ronal, terkadang Ronal berpikir andaikan ia tak dilahirkan.


Ronal berada di bawah bayang-bayang Dinar, semuanya selalu tentang Dinar. Ayahnya selalu berceloteh begini dan begitu tentang Dinar, putri paling ia sayangi tapi sayangnya sosok ayah yang paling dibenci oleh Dinar.


"Cepat pulanglah. Ronal! Pastikan Geral minum obat dan istirahat dengan baik," titah Amar tegas.


Kepala Ronal mengangguk. "Ya, Pa," balas Ronal.


Geral melirik sang kakak dengan mata sayu, ia kasihan dengan Ronal. Tidak pernah mendapatkan cinta dan pujian dari ayah mereka, ditambah karena Geral penyakitan. Membuat beban Ronal semakin berat, untuk dipikul.


Bersambung...



..."Bagiku, tujuan hidupku hanya satu. Melihatmu bahagia, dan selalu bahagia. Meskipun bukan aku lelaki yang bisa membuatmu tersenyum, tak apa. Aku cukup sadar diri,...


...aku bukan siapa-siapa untukmu."...


...~Benny Ardiansyah~...

__ADS_1



__ADS_2