Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 12. AKU TIDAK MANDUL


__ADS_3

Dinar menghela napas kasar menatap pria bermata elang di depannya ini, apalagi sebenarnya yang dinginkan oleh Damar. Bukankah semua yang Damar inginkan telah diberikan oleh Dinar.


Kembali? Hah! Dinar tidak tahu di mana letaknya urat malu Damar. Dinar tidak sudi untuk kembali bersama Damar, lagi. Sama sekali tidak mau, sebesar apapun perasan Dinar untuk Damar. Sekali pengkhianatan terjalin, maka sampai kapan pun Dinar lebih baik membunuh hatinya. Dari pada harus harus kembali pada Damar, dengan perasan penuh luka.


"Kau sepertinya mulai pikun, Damar. Kau mau aku kembali? Padamu?" tanya Dinar dengan nada tak percaya.


Damar mengangguk, dan berkata, "Iya, kita mulai semua dari awal. Aku ingin kau bersama denganku kembali."


Wah! Semudah itu seorang lelaki memungut apa yang sudah di buang? Tidak ada rasa bersalah, lalu tiba-tiba ingin kembali bersama. Dinar menipiskan bibirnya, tersenyum getir. Lalu bagaimana dengan perempuan itu? Setelah menyentuh perempuan lain. Damar mau kembali bersama dengan Dinar? Alunan musik kafe mengisi kekosongan nada. Namun, tidak dengan kekosongan hati Dinar.


"Lalu perempuan hamil itu? Kau mau tetap melanjutkan hubungan dengannya? Lalu melanjutkan hubungan denganku? Begitu maksudmu?" tanya Dinar dengan nada sinis.


Damar mengeleng, dahi Dinar berlipat dengan gelengan Damar. Apa sebenarnya yang dinginkan oleh Damar, Dinar sudah memberikan kebebasan pada Damar. Tanpa menuntut satu hal pun dari Damar, bukan karena kemurahan hati Dinar. Tapi lantaran Dinar tidak ingin memperburuk hidupnya, apa yang pergi biarkan pergi. Tanpa mencegahnya, bagi Dinar mengemis-ngemis pada pria bukanlah dirinya.


"Aku tidak akan berhubungan dengan dia. Aku hanya akan mengambil anak itu, mengangkat anak itu menjadi anak kita. Lalu memberikan ganti rugi pada dia," jawab Damar membuat mulut Dinar terbuka lebar tanpa suara.


Dinar terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut Damar. Tidak tahu harus menjawab apa pada Damar, pria ini ada otak bukan? Kenapa Dinar jadi mendadak migran.


"Damar, gila? Perempuan mana di dunia ini yang mau membesar anak dari perempuan yang telah berselingkuh? Apakah kau tahu, Damar. Setiap kali aku melihat wajahmu, aku mengingatnya. Aku.... benci mengingat kenangan buruk itu."


Damar menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan, Damar tidak bisa kehilangan semua yang sudah dia dapatkan. Kehilangan Anjani di dalam kehidupannya bukanlah masalah. Bukankah pria biasa begitu? Hanya terpukau dengan gemerlap lampu jalan. Karena lampu jalanan hanya dinikmati untuk barang sesaat, tidak untuk di bawa pulang.

__ADS_1


"Maaf," seru Damar dengan intonasi nada rendah.


Dinar membuang pandangan matanya ke arah jalanan, dimana kafe disekat dengan kaca transparan. Mengarah ke arah jalanan, Dinar merasa hatinya bergetar hebat. Ada kenangan indah bersama Damar, pria ini membuat Dinar merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Bagaimana rasanya mempercayai seorang pria, mengatasi trauma yang Dinar punya. Bahkan saat melihat bagaimana kejamnya cinta pertamanya, yang dipanggil ayah. Dinar putus asa, memutuskan untuk tidak menikah seumur hidup. Bahkan tidak ingin jatuh cinta pada lelaki manapun.


Namun, saat adik Damar memperkenalkan Damar, hatinya bergetar hebat. Dunia yang terasa biasa mulai berwarna. Pagi Dinar mulai terasa begitu indah, hanya dengan memikirkan senyum Damar. Dinar yang bersemangat untuk bisa menjadi terbaik di mata Damar, hingga pernikahan mereka. Hanya Dinar yang jatuh cinta pada Damar setiap harinya, tapi sang suami? Apakah sang suami berusaha? Dinar letih.


Kini Dinar sadari kenapa ibunya bisa sakit separah itu, karena memberikan semua hatinya pada sang ayah. Saat semua hati diberikan cinta dikhianati, tubuh akan langsung jatuh sakit. Dinar menghela napas untuk beberapa saat, Damar melirik Dinar dengan pandangan penuh harap.


Tangan Damar bergerak menyentuh tangan Dinar di atas meja, menggenggamnya perlahan.


Dinar tak bergeming, masih menatap ke arah jalanan. Damar masih setia menatap Dinar, apakah itu tatapan penyesalan? Tidak ada yang tahu bagaimana hati manusia. Dinar menarik perlahan tangannya dari genggaman tangan Damar, membawa pandangan matanya ke arah Damar.


Jika tadi Dinar yang dibuat syok dengan perkataan Damar, kali ini terbalik. Damar lah yang dibuat syok oleh Dinar. Wah! Ini benar-benar gila. Damar mengerutkan dahinya, mungkin ini terdengar gila. Tapi ini adalah satu-satunya jalan kalau Dinar mau memaafkannya, karena meskipun Dinar tidur dengan pria lain. Perempuan ini tidak akan pernah hamil, karena yang Damar tahu Dinar mandul. Mereka sudah menikah sekian lama, tapi tidak ada anak. Apa namanya kalau bukan mandul, Dinar mengepal kuat tangannya.


Menarik napas dalam-dalam dan menghembusnya perlahan. "Apakah kau tidak bercanda?"


"Ya, tentu saja aku tidak bercanda sama sekali. Kalau kau bisa menerima keadaan yang sama, maka. Aku akan kembali padamu, perceraian kita tidak jadi." Dinar menjawab dengan mantap tanpa keraguan.


Ayolah! Pria mana yang sedia melihat istrinya berselingkuh. Hamil anak dari perempuan lain, lalu membesarkan anak mereka bersama-sama. Dinar ingin memberitahu pada Damar, seandainya itu adalah Dinar. Apakah Damar sanggup? Ingin Damar dasar diri.


"Baiklah, ayo kita lakukan itu. Aku akan memberikan kamu kebebasan. Satu bulan, kau boleh berselingkuh lalu hamil. Saat anak itu lahir kita besarkan bersama, dengan anakku. Seperti yang kau mau," sahut Damar.

__ADS_1


Bak petir di siang bolong, Dinar kembali harus dibuat terkejut. Ia terkekeh getir, apakah sebuah pengkhianatan adalah hal yang biasa. Ataukah pria ini yang tidak mencintai Dinar? Dan tidak pula mencintai Anjani? Lalu bagi Damar wanita itu apa? Sampai tidak ada harganya.


"Kau setuju? Semudah itu?" tanya Dinar tak habis pikir. "Aku akan tidur dengan pria lain. Punya anak dari pria lain. Lalu kau setuju? Wah! Kegilaan apa ini? Katakan padaku. Kalau sebenarnya kau tidak pernah mencintai siapa pun. Hingga kau biasa saja melihat aku seperti itu."


"Ada banyak hal seperti itu di dunia ini, Dinar. Dan pada akhirnya kau tidak akan bisa hamil," balas Damar membuat Dinar terhampar.


Dada Dinar panas, ia bangkit dari posisi duduknya. Brengsek sekali pria ini, bagaimana bisa Damar selalu mengatakan hal yang sama setiap saat. Dinar tidak bisa hamil? Siapa yang bilang Dinar tidak bisa hamil.


"Bajingan, kau!" maki Dinar dengan intonasi rendah.


Dinar bermaksud meninggalkan Damar, suara Damar menghentikan langkah kakinya.


"Kau tahu? Papamu meminta aku untuk tidak bercerai denganmu. Karena tahu kau tidak akan pernah hamil, tidak ada lelaki di dunia ini yang mau hidup tanpa anak. Apalagi darah dagingnya sendiri, karena papamu pasti tahu kelemahan putrinya. Hingga dia mendatangiku. Hanya untuk tidak menceraikanmu," ujar Damar dengan lantang.


Dinar merasa kedua matanya panas, bibirnya bergetar hebat. Perselingkuhan Damar mungkin tidak memukul Dinar sekeras kata mandul, Dinar bukan perempuan mandul. Tidak begitu, mendengar kata mandul. Membuat Dinar benar-benar ketakutan, kedua tangan Dinar terkepal hebat.


"Kau akan menyesal menudingku seperti ini. Kau akan melihat kalau aku hamil, dan aku tidak butuh kau. Akan aku buktikan, aku tidak mandul, brengsek!" maki Dinar sebelum melanjutkan langkah kakinya.


Disela langkah kakinya, Dinar menghapuskan air mata yang mengalir dengan kasar. Dinar sakit hati, dan terluka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2