
Garis bibir Dinar terus meninggi, seakan perempuan cantik itu sulit untuk menahan kedua sudut bibirnya untuk tidak ditarik tinggi ke atas. Putri melirik heran ke arah Dinar, tidak biasanya sang sahabat terlihat sebahagia ini. Beberapa kali Putri dapati Dinar tersenyum sebegitu cerahnya, Dinar yang merasa mendapat tatapan intens dari Putri langsung saja membawa iris matanya jatuh pada wajah ayu sang sahabat.
"Kenapa?" tanya Dinar bergumam pelan pada Putri.
Putri tersenyum simpul. "Aku merasa akan ada hujan kelopak bunga mawar di luar sana, karena kamu yang terus tersenyum secerah itu. Bahkan mentari di luar sana akan merasa malu, lantaran kalah cerah dari senyuman wanita secantik kamu."
Dinar terkekeh rendah, mendengar seberapa puitisnya Putri di pagi hari ini. Dinar masih belum mengabarkan kepada siapa pun, bahwasanya ada mahkluk lain yang ikut hidup di dalam dirinya. Dinar hanya membagikan kabar bahagia ini terlebih dahulu dengan sang ibu tercinta, hanya ia dan sang ibu yang tahu.
Dinar membingkai kedua sisi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tersenyum cerah pada Putri untuk kesekian kalinya. Dapat Dinar lihat bagaimana ekspresi wajah Putri, semakin penasaran dengan apa yang membuat Dinar terus tersenyum.
"Nanti," sahut Dinar dengan nada lembut. "Aku akan mengatakan padamu dan Eva. Saat ini aku hanya ingin menyimpan kabar bahagia ini sendiri."
Dari manik mata Dinar, perempuan itu dapat melihat bagaimana ekspresi pura-pura merenggut di wajah Putri. Dinar paham kalau Putri sama sekali tidak benar-benar kesal, karena tidak mendapatkan kejujuran dari bibir Dinar. Putri mengangguk kecil, meskipun terlihat jelas ekspresi rasa penasaran yang tidak dapat Putri sembunyikan dari Dinar.
"Lalu bagaimana perasaanmu saat ini? Setelah perceraianmu dengan, Damar?" tanya Putri dengan nada hati-hati melirik wajah sang sahabat.
Dinar menipiskan bibirnya, kedua tangan saling bertautan. Pandangan mata Dinar terlihat lurus menatap ke arah pintu masuk butik, di mana keduanya duduk di meja resepsionis. Meskipun Dinar diberikan ruangan khusus untuk bagian desainer, Dinar sering kali duduk di meja resepsionis. Menemani kedua sahabatnya, berganti-gantian. Apa yang harus Dinar katakan pada Putri, akan perasan yang dimilik oleh Dinar.
Walaupun Dinar harus mengeyam status yang sama seperti yang dialami sang ibu, munafik jikalau Dinar berkata bahwa dirinya tidak merasa sedih. Dinar memberikan semua hal pada Damar, sebelum pria itu menginjak-injak dirinya. Tidak mudah harus mendengarkan ketukan palu, memisahkan status mereka berdua. Rumah tangga yang dibangun dengan pengorbanan Dinar harus runtuh, bak istana pasir disapu riak ombak. Impian Dinar sebagai seorang wanita itu simpel sekali, hanya ingin hidup dengan satu orang pria sampai semua helai rambutnya memutih. Mendengarkan suara tawa kecil dari anak-anak di rumah yang sederhana, Dinar bermaksud untuk memberikan rumah terhangat untuk anak-anaknya. Tapi, pada akhirnya kehancuran yang harus Dinar ecap.
Sentuhan ringan di punggung telapak tangan Dinar, menyentak Dinar. Dinar menoleh ke samping, di mana Putri memberikan tatapan khawatir dan bersalah. Lantaran mungkin saja pertanyaan yang Putri lontarkan terlalu berat untuk dijawab oleh Dinar, Dinar mengulum senyum untuk menenangkan keresahan hati Putri.
"Kalau rasanya berat untuk dijawab, tidak usah dijawab. Aku tidak bermaksud bertanya untuk membebani kamu, Dinar," lanjut Putri dengan intonasi nada lembut.
Dinar menghela napas, dengan menggeleng kecil. "Tidak perlu khawatir Putri. Aku baik-baik saja kok, apa yang perlu dikhawatirkan? Semua badai sudah berlalu. Takdirku dengan Damar sudah berhenti sampai detik ini, menyesal pun tak akan menjadi solusi terbaik dan obat mujarab untuk menangkan hatiku. Saat ini keinginanku sangat sederhana, hidup dengan baik. Untuk diriku sendiri, dan untuk dia."
"Dia," ulang Putri dengan ekspresi tak mengerti.
Terlihat kerutan di dahi putih Putri mengerut dalam, Dinar terkekeh kecil. "Ya, pokonya. Yang perlu aku tegaskan padamu adalah diriku baik-baik saja. Ternyata setelah bercerai aku baru sadar, bercerai tak semenakutkan yang aku bayangkan."
Putri mengembus napas lega, tersenyum kecil untuk Dinar. "Pokoknya, apapun yang terjadi. Jangan pernah diam-diam menahan semuanya sendiri. Di sini kau punya aku, punya Eva, dan juga ada, Lily. Kau tidak sendirian, kau mengerti bukan apa yang aku maksud?"
"Iya, calon Bu CEO," balas Dinar menggoda Putri.
Kedua sisi pipi Putri sontak merona mendengar godaan Dinar padanya, sedangkan Dinar malah terkekeh renyah.
TLING!
Denting lonceng kecil yang tersangkut di pintu kaca transparan itu terbuka, bunyi sepatu pantofel mengkilat itu mengetuk lantai butik. Menarik perhatian dua wanita yang terlibat obrolan serius itu, menghadap ke arah pintu. Putri terlebih dahulu bangkit dari posisi duduknya, sedangkan Dinar membesarkan kedua retina matanya. Jantung Dinar berdebar keras, lantaran melihat sosok bertubuh kekar yang melangkah kian pasti mengikis jarak di antara mereka berdua.
Aroma parfum pinus mahal menyeruak memenuhi penjuru ruangan, Putri terpesona dengan sosok tampan yang kini berdiri di depan meja resepsionis. Sebagai pembatas di antara dua wanita dan satu pria, yang saling berhadapan. Dengan cepat Putri menepuk kecil pundak Dinar, menyandarkan Dinar akan kemungkinan calon pembeli.
Dinar mau tak mau ikut bangkit, meninggalkan kursi singel yang sempat menjadi tempat ternyaman untuk ia duduki. Manik mata hitam bening melirik ke arah wajah cantik yang familiar untuk dirinya, sebelum kedua pupil matanya membesar. Kala puing-puing memori akan gambaran gadis remaja cantik yang dulu sempat ia kenal, lama menghilang kini berada tepat di depan matanya.
"Maaf, Bapak. Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya Putri menyumbang nada suara yang sempat senyap untuk beberapa saat.
Manik mata hitam bening milik Roy bergerak berpindah ke visual lain di dalam ruangan, sang penanya yang sempat Roy abaikan.
"Hem! Saya ke sini ingin bertemu dengan pemilik butik ini," jawab Roy berdehem sebelum bersuara.
"Ah, Bu Lily?" tanya Putri memastikan terlebih dahulu. "Maaf sebelumnya, apakah Bapak sudah memiliki janji dengan Bu Lily? Dan atas nama siapa?" lanjut Putri.
"Atas nama Roy," balas Roy dengan intonasi pelan. Namun lirikan mata yang berpindah ke arah Dinar yang ternyata juga menatap ke arah Roy. "Roy Sadewa, Direktur Mall yang ingin Bu Lily isi salah satu stand di sana bulan nanti."
Putri mengangguk paham, butik tempat ia bekerja akan mengisi event bulan depan. Pemilik butik sudah memberikan informasi pada mereka, akan tetapi Putri tak menyangka kalau direktur mall malah mendatangi butik secara langsung.
"Ah, ya, kalau begitu saya akan menunjukkan Bapak Roy untuk duduk menunggu. Mengingat Bu Lily masih belum sampai di sini," ujar Putri sebelum melirik ke arah Roy dan beralih pada Dinar.
__ADS_1
"Tidak usah, aku ingin Bu Dinar yang mengantarku ke ruangan tunggu, apakah Bu Dinar tidak berkeberatan?" tanya Roy dengan nada sopan.
Dinar mengembuskan napas kasar, sebelum ia menoleh ke arah samping. Ia dapati Putri malah mengangguk menyetujui, Roy mengulas senyum kecil di bibir merah tipis milik sang pria.
"Tolong antarkan, dia ke ruangan tunggu," bisik Putri dengan nada rendah meminta tolong pada sang sahabat.
Dinar mau tak mau harus menyetujui apa yang diminta oleh Putri, sebelum mengangguk kecil. Lalu menarik kedua susut bibirnya, ke atas.
"Kalau begitu silahkan ikuti, saya," titah Dinar dengan berbicara formal.
Pemuda dengan alis mata tebal tersusun rapi itu sontak mengangguk, Dinar melangkah terlebih dahulu meninggalkan meja resepsionis. Diikuti oleh Roy dari belakang, langkah kaki Roy terlihat bergerak begitu cepat mengejar langkah kaki Dinar. Yang terkesan terburu-buru memberikan jarak yang cukup besar untuk mereka berdua, langkah lebar Roy mampu menyusul langkah kaki Dinar.
HAP!
Telapak tangan besar Roy dengan cepat menangkap pergelangan tangan Dinar, langkah kaki Dinar harus mendadak berhenti. Karena ulah Roy yang mencekal serta menahan langkah kaki jenjang Dinar. Menyentak tubuh langsing itu untuk saling berhadapan, pandangan manik mata hitam bening itu menatap Dinar dengan pandangan penuh kerinduan. Yang dibalas dengan pandangan dingin oleh Dinar, sebelum pandangan mata sang pria berubah menjadi tatapan kecewa.
"Tolong! Lepaskan tanganku, Pak Roy yang terhormat," pinta Dinar dengan intonasi nada penuh penekanan.
Ekspresi wajah yang cenderung terlihat datar, kepalanya sedikit menengadah. Menatap ke arah Roy yang menarik napas kasar, dan mengembuskan napas perlahan. Kepala Roy sontak mengeleng lemah, genggaman tangan Roy terasa semakin menguat.
"Bagaimana caranya aku melepaskan kamu? Setelah kamu pergi entah kemana, Dinar. Aku nyaris gila mencari keberadaan dirimu," keluh Roy dengan nada serius.
"Mencari diriku?" ulang Dinar bertanya. Sebelum mengulas senyum konyol pada Roy. "Hei! Kita tidak memiliki ikatan apapun Roy! Bagian mana yang kau anggap kita memiliki ikatan?"
Roy untuk sejenak memejamkan kedua kelopak matanya, sebelum kembali membuka kedua kelompok matanya. Bahkan Dinar tak lagi memangil namanya dengan hangat, Dinar benar-benar jauh berubah. Semua mungkin salah keluarganya, yang memutuskan pertunangan yang terjadi. Lantaran Dinar yang memilih untuk keluar dari kartu keluarga, kala gadis ini berada di bangku SMA.
"Aku tidak pernah bermaksud meninggalkan dirimu," ucap Roy dengan nada lirih.
"Keluargamu hanya ingin status yang bisa didapatkan dari pria tukang selingkuh itu, sampai mereka menjauhkan kamu dan aku, bukan? Alasan apalagi yang kamu ingin dari diriku? Mencari diriku? Aku rasa ini terlalu menggelikan, untuk aku dengar," ucap Dinar dengan nada kesal.
Roy akui bahwasannya keluarganya hanya ingin Dinar sebagai pijakan, untuk membawa nama keluarganya naik ke puncak lebih tinggi. Pertunangan terjalin diusia mereka yang masih belia, kala keutuhan keluarga Dinar terjaga. Namun, saat keluarga Dinar mulai hancur oleh orang ketiga, saat itu mereka masih tidak ada masalah. Lantaran Dinar masih menjadi bagian dari keluarga Santoso, akan tetapi saat Dinar tak lagi menjadi bagian dari keluarga Santoso. Keluarga Roy memutus hubungan bertunangan yang sudah terjalin dari mereka kecil, dan memaksa Roy untuk sekolah ke luar negeri. Baru satu tahun terakhir Roy kembali, bukan lantaran Roy tak tahu di mana keberadaan Dinar. Hingga Roy tidak mendatangi Dinar, semua terjadi lantaran status Dinar yang sudah memiliki seorang suami.
"Stop! Aku rasa kamu mulai melewati batas. Kamu ke sini benar-benar bermaksud untuk membicarakan tentang pekerjaan dengan Lily. Atau kamu ke sini hanya ingin membicarakan tentang hubungan yang tak akan pernah terjalin. Aku pun tidak memiliki minat atau nafsu memiliki hubungan apapun dengan lelaki mana pun, silahkan kembali pada tujuan awalmu." Dinar memotong cepat jawaban yang akan Roy utarakan padanya.
Menyetak kasar tangan Roy yang mencekal pergelangan tangannya, melangkah mundur tiga langkah ke belakang. Ada apa dengan takdir Dinar, setelah bercerai dengan Damar. Kenapa harus Tuhan pertemukan dirinya dengan pria dari masa lalunya, Dinar tak ingin hubungan dengan pria mana pun. Yang Dinar inginkan adalah hidup dengan tenang, keluarga Roy bukanlah keluarga biasa. Yang akan siap menyulitkan kehidupan Dinar, Dinar tak ingin itu terjadi.
Bibir tipis itu terbuka, sayangnya tidak ada satu pun suara yang keluar dari bibir yang terbuka.
"Roy!"
Seruan keras di lorong bangunan besar itu, membuat Roy membalikkan tubuhnya ke belakang. Mereka berdua dapati kehadiran Lily, yang melangkah mendekati Dinar dan Roy dengan langkah terburu-buru. Lili adalah orang kedua yang tahu hubungan apa yang sempat terjalin dengan keduanya.
***
Damar melirik beberapa kwitansi di atas meja yang baru saja diulurkan oleh sang ibu, pandangan mata Damar menatap secarik kertas dengan beberapa nominal uang. Sebelum kedua manik mata tajam itu melirik ke arah sang ibu yang duduk berhadap-hadapan dengan Damar, jangan tanyakan apapun pada Damar saat ini. Bahkan Damar sendiri tidak mengerti uang apa yang jumlahnya bisa sampai tiga digit, itu bukan jumlah kecil yang Damar lihat.
"Apa ini, Ma?" tanya Damar dengan intonasi nada tak mengerti.
"Itu kwitansi acara pernikahan Amira kemarin, Damar. Mulai dari catering makanan, sewa tenda, uang yang harus dibayar untuk tukang rias Amira kemarin, dan baju seragam keluarga," jelas Sri membuat Damar mendadak migran.
"Ma! Bukankah harusnya ini ditanggung oleh pihak mempelai pria? Kenapa harus Damar yang bayar semua ini?" tanya Damar dengan ekspresi wajah tak mengerti.
Total uang yang dikeluarkan tak main-main, seratus lima belas juta. Gaji Damar saja sebulan tak sampai tiga puluh juta, lalu Damar harus membayar uang pernikahan sang adik? Apakah ini tidak salah? Kedua tangan Damar sontak memijit-mijit kecil kedua sisi dahinya yang berdenyut.
Sri berdecak kecil, sebelum menatap serius ke arah Damar. "Jaka cuma bisa bayar separuh aja, isi kamar, kan Jaka yang isi. Jaka tidak bisa bayar uang sebanyak itu, separuh sudah ditanggung oleh Jaka. Makanya yang ini kamu yang harus bayar."
Damar langsung merasa dunia berputar hebat, masalah Damar dengan Dinar saja membuat kepalanya pusing. Sekarang status Damar sah menjadi seorang duda, belum lagi uang yang harus Damar keluarkan untuk Anjani. Perempuan itu hamil anak Damar, sekarang malah disodori hutang besar yang harus Damar bayar.
__ADS_1
"Mama! Aku tidak paham dengan apa yang sedang Mama katakan. Yang ingin acara besar untuk pernikahan Amira adalah Mama dan Papa, lalu kenapa Damar yang harus membayarnya? Damar hanya bisa memberikan uang lima puluh juta saja. Lebih dari itu Damar tidak punya uang," jelas Damar pada Sri.
Sontak saja ekspresi Sri langsung masam, putranya adalah seorang dosen dari universitas ternama di Indonesia. Sudah pasti bayaran gaji Damar perjam itu mahal, lalu kenapa Damar malah pelit sekali untuk mengeluarkan kocek, membayar hutang pernikahan untuk Amira. Apakah karena putranya memiliki perempuan lain? Tidak seperti saat bersama Dinar.
"Kamu jauh berubah, ya, Damar," keluh Sri. "Tidak kayak Dinar, apakah kamu tahu. Dinar selama menjadi menantu Mama, tidak pernah sekali pun mengeluh saat Mama todong dengan kwitansi hutang piutang. Dinar akan mengangguk dan membantu membayar dengan patuh, karena dia sayang Mama dan keluarga kita. Tapi, kamu malah utamain gadis murahan itu, bukan? Karena gadis ****** itu. Kamu malah menolak membayar hutang."
Oh Tuhan! Damar benar-benar dibuat terkejut oleh sang ibu. Bagaimana bisa ibunya malah meminta Damar untuk membayar semua hutang, dan apakah Dinar dahulu saat menjadi istrinya membayar semua hutang yang dibuat oleh keluarga Damar. Baik yang lama mau pun yang baru? Damar benar-benar dibuat terkejut.
Damar langsung bangkit dari posisi duduknya, membuat kepala Sri ikut menengadah.
"Mama, aku bukanlah bank berjalan untuk keluarga kita. Kalau tidak bisa membuat acara yang besar, bisa dibuat sesederhana mungkin. Aku tidak dilahirkan untuk membayarkan semua hutang keluarga, Ma!" seru Damar menolak mentah-mentah.
Sebelum Sri kembali buka suara, Damar lebih dahulu meninggalkan rumah keluarganya. Gila saja, Damar bekerja keras bukan untuk dijadikan sapi perah keluarga. Terdengar jelas panggilan sang ibu, Damar abaikan.
***
"Tidak! Tidak usah, aku tidak minum," tolak Dinar kala gelas berisikan minuman manis ke arahnya. "Sebaiknya, Anda langsung saja ke inti pembicaraan yang ingin Anda katakan padaku. Jangan bertele-tele, aku tak punya banyak waktu. Aku lelah pulang dari tempat kerja harus datang ke sini."
Gerah sebenarnya Dinar harus terus dipanggil seperti ini oleh orang-orang yang Dinar hindari, pandangan mata Dinar tampak begitu dingin melirik ke arah wanita berpenampilan modis di depannya ini. Restoran mewah di puncak hotel bintang lima, menampilkan pemandangan malam yang begitu indah. Sayangnya keindahan itu tidak mampu mematikan api amarah yang menyala, rasa muak yang kini mendesak dadanya.
"Maaf," ujarnya dengan nada lembut, selembut tetapan hangat yang dilayangkan pada Dinar. Malau dibalas dengan pandangan mata muak oleh Dinar. "Sekali lagi, Bunda minta maaf pada Dinar. Karena meminta Dinar ke sini pulang kerja, harusnya Bunda mengerti kalau Dinar pasti capek. Kita bisa bertemu di apartemen milik Dinar. Bunda—"
"Jangan bertele-tele, dan jangan pernah berharap menginjak apartemenku. Satu tempat dengan Anda membuat semua udara yang aku hirup terkontaminasi." Dinar memotong pembicaraan Lidia dengan cepat.
Ekspresi dingin dan merendahkan yang Dinar layangkan setiap kali mereka bertemu baik secara tak sengaja, mau pun sengaja. Membuat hati Lidia bak ditikam beda tajam, Lidia terluka mendengar nada ketus dan pandangan tajam. Namun, meskipun begitu Lidia memilih memasang muka tebal untuk bertemu dengan Dinar. Kedua jari jemari lentik milik Lidia saling bertautan, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembusngkan dengan perlahan pula.
"Jadi, begini. Perusahaan kita, harus segera dipimpin oleh kamu. Karena kamu adalah putri pertama dari Mas Amar, kami ingin kamu yang mengisi tempat itu," ucap Lidia dengan nada lirih.
Senyum sinis diulas oleh Dinar, ada apa dengan wanita paruh baya ini? Jelas-jelas perempuan ini menikah dengan sang ayah lantaran harta keluarga Santoso. Ada dua putra yang dilahirkan dari rahim Lidia, kenapa wanita ini malah memberikan kursi CEO pada Dinar? Yang jelas bukan darah daging Lidia. Apalagi rencana licik yang ingin Lidia lakukan?
Kedua tangan Dinar berlipat di bawah dada, punggung belakang yang berdasar senyaman mungkin di kursi. Menatap curiga ke arah Lidia, sedangkan sang wanita hanya menarik kedua sisi bibirnya ke atas.
"Kenapa harus aku? Aku tidak memiliki keinginan menjadi ahli waris keluarga Santoso. Anda tak perlu khawatir, Nyonya Santoso. Silahkan, biarkan anak lelaki Anda untuk duduk di sana. Bukankah Anda naik ke atas ranjang pria rendahan itu untuk uang," remeh Dinar.
Lidia mengeleng cepat, dan membantah, "Bukan, kamu salah paham Dinar. Bunda menikah dengan papamu karena kami saling mencintai. Jauh sebelum Bu Anggun hadir di antara kami berdua. Kami—"
"Oh, iya, kalian membanggakan perasaan saling cinta. Hei! Jangan terus menerus menyatakan kau sebagai ibuku. Kau hanya perempuan murahan yang naik ke ranjang pria itu. Merenggut kebahagiaan kami, mau kalian saling cinta atau apalah namanya itu. Tidak pantas kau menjadi orang ketiga atas lelaki yang sudah menikah dan memiliki anak. Sebelumnya mungkin kau adalah kekasihnya. Tapi, setelah dia menikah. Kau harusnya tahu, kau bukan lagi kekasih. Melainkan selingkuhan! Sebanga itukah seorang wanita selingkuhan? Wah! Benar-benar memuakan!"
Dinar bangkit dari posisi duduknya, sebelum meninggalkan Lidia dengan amarah bergelora, sedangkan di bangku Lidia duduk dengan wajah menunduk.
"Aku menyesal, karena menjadi luka untuk dirimu," gumam Lidia dengan nada lirih.
Sedangkan Dinar melangkah terburu-buru meninggal restoran mewah itu, dadanya terasa begitu sesak. Hormon kehamilan membuat Dinar menjadi mudah meledak-ledak, kedua matanya berkaca-kaca. Dinar mengusap kasar air mata yang jatuh di pipinya, Dinar benci dengan wanita itu. Sampai ke tulang rusuknya, rasa benci itu tak akan pernah padam. Dinar benar-benar ingin mencabik-cabik wanita itu, namun saat ia melihat wanita itu tengah hamil. Dinar remaja mundur, memilih untuk menerima keadaan.
"Sialan," maki Dinar keras.
TING!
Bunyi pintu lift terbuka, Dinar yang melangkah menunduk. Masuk ke dalam lift, baru tiga langkah kaki Dinar masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup perlahan, ujung sepatu pantofel mahal mengecup ujung sepatu flat shoes milik Dinar. Membuat kepala yang sempat menunduk langsung terangkat tinggi, melirik pemilik sepatu pantofel.
Manik mata basah milik Dinar seketika melebar, melihat siapa gerangan pemilik sepatu. Manik mata coklat sepekat madu, bersitatap dengan manik mata bening basah milik Dinar. Pupil mata Dinar melebar mendapati pria yang beberapa hari yang lalu di dapatin berada di depannya, senyum menyeringai langsung tercetak di bibir Mark Louis.
"Hai! Honey!" seru Mark menyapa Dinar yang membeku.
Aroma parfum permen karet soft menyeruak memasuki paru-paru Dinar, seakan suara bas itu menyapa rungu Dinar dengan lebih lembut. Telapak tangan besar Mark, dengan kurang ajarnya menyentuh punggung belakang Dinar. Mendorong kecil tubuh perempuan cantik itu menubruk dada bidang Mark, hingga sang perempuan kehilangan keseimbangan. Masuk ke dalam pelukan Mark, senyum miring kembali tercetak.
Kala sebelah tangan Mark melingkari pinggang ramping Dinar, tubuh Mark sedikit membungkuk. Dengan bibir merah seksi milik sang pria playboy itu menyentuh daun telinga Dinar, mengantarkan gelayar aneh pada Dinar.
__ADS_1
"Ke mana pun kau pergi, aku akan selalu bisa menemukan dirimu, Sayang," bisik Mark sensual.
Bersambung....