
"Apa yang sedang Bapak lakukan?" Jaka mengerutkan dahinya melihat bayi diletakkan di atas sofa rumah kontrakan.
Pada akhirnya Jaka dan Amira memilih mengalah, mau bagaimana lagi. Rumah orang tua Amira atas nama Damar, kakak iparnya tidak punya apa-apa. Jatuh miskin, gelar yang ia punya pun tidak tahu harus dibawa ke mana. Hal hasil Amira bersepakat dengan Jaka untuk kontrak rumah tak jauh dari sekolah SMA tempat mereka berdua mengajar, Adi tiba-tiba saja datang bertamu selepas magrib bersama dengan Lasmi.
Amira yang berdiri di samping sang suami melirik ke arah orang tua Anjani dan bayi mungil yang diletakkan di atas sofa. Kenapa tiba-tiba diserahkan pada mereka? Amira tidak merasa memiliki kewajiban untuk mengurus anak itu, apalagi anak itu bukan keponakannya sendiri.
"Bayi itu kalian berdua yang urus, keluarga kami gak punya duit untuk mengurus bayi. Anjani akan bekerja jadi TKI ke luar negeri," sahut Adi dengan wajah datar. Manik matanya melirik ke arah Amira dan Jaka secara bergantian.
"Lah, kenapa kami yang harus urus anak itu? Itu darah daging keluar Bapak sama Ibu, loh. Mau anak kalian berdua jadi TKI kek, atau apalah itu namanya. Gak ada urusannya sama kami, Pak. Bapak sama Ibu gak tahu malu banget, ya. Punya putri seorang pelakor, eh, malah nyerahin anak itu untuk kami rawat. Ngaca dong, Pak! Tahu malu dikit lah," cerocos Amira kesal. "Mana bukan anak Mas Damar, aku gak punya niat merawat anak gak jelas siapa bapaknya itu. Lebih baik Bapak bawa dia untuk menemui Ayah kandungnya. Walaupun dulu aku berniat merawat anak itu, karena aku pikir anak itu keponakanku. Sekarang 'kan jelas bukan keponakannya aku," sambung Amira menggebu-gebu.
Kenapa rasanya Jaka tak enak hati, ya, Adi mendengus kesal. Lasmi melirik ke arah Jaka yang tampak mencuri pandangan ke arah sang cucu, mereka tidak memperlihatkan jelas muka sang bayi yang dibedong. Lantaran cacat yang ia derita, takut-takut Jaka menolak.
"Anak itu memang bukan anak Damar tapi dia adalah anak suamimu. Kalau kamu gak percaya, sana tes DNA sendiri. Dia harus dirawat sama ayahnya 'kan. Nah, silakan rawat anak itu. Kami permisi, ayo, Bu! Kita harus pulang." Edi menjelaskan dengan singkat, padat, dan jelas. Ia menarik tangan Lasmi untuk ke luar dari rumah kontrakan minimalis itu.
Amira tertegun, ia melongok ke samping. "Jak! Tadi dia bilang apa?" tanya Amira merasa pendengarnya bermasalah.
Masa anak itu adalah anak suaminya, itu sangat tidak mungkin. Jaka masih diam memperhatikan bayinya yang miring ke kanan, sampai guncangan kecil dari Amira menyentak kesadaran Jaka.
"Ha? Apa?" tanya Jaka, melirik ke arah Amira.
"Dia bilang anak itu adalah anak kamu, itu fitnah 'kan?" Amira merasa seluruh aliran darahnya membeku. Lantaran sang suami mendadak mengatup rapat bibirnya.
...***...
Helaian rambut sebahu yang dibiarkan bebas menari-nari kala ditiup angin, mentari mulai terbenam perlahan di ujung sana. Kedua kelopak matanya terpejam perlahan, derap langkah kaki mendekat menyapa indera dengar Anggun. Wanita paruh baya itu sontak saja membuka kedua kelopak matanya, jaket berbahan wol disematkan di atas kedua sisi bahunya. Anggun menengadah mendapati kehadiran Benny di belakang tubuhnya, bergerak mengambil tempat untuk berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Bukankah aku terlihat begitu bodoh, Ben?" tanya Anggun masih melirik ke arah Benny, pria itu tampak tersenyum segaris.
Kepala Benny mengangguk perlahan, dan berkata, "Ya, untuk beberapa saat."
Anggun terkekeh sumbang mendengar jawaban jujur Benny, masih sama.
"Setidaknya kamu tidak sebodoh aku," lanjut Benny, sorot matanya melirik jauh ke depan sana.
"Aku menyesali masa lalu yang telah aku lewati," tutur Anggun gamang. "Puluhan tahun aku habiskan untuk mengejar dan mencintai orang yang salah. Dan berakhir menyedihkan," sambung Anggun lirih.
Benny melirik ke arah Anggun, menatap intens wajah cantik wanita paruh baya yang masih saja tampak sama di mata Benny. Anggun merupakan perempuan yang baik, di masa lalu. Benny menghela napas berat, ia ingin memulai kehidupan bersama Anggun. Cinta yang tumbuh tak pernah berkurang apalagi memudar, Benny mencintai Anggun dengan segenap jiwa dan raganya. Meskipun ayahnya sering kali menasehati Benny untuk tahu posisi mereka, ingat sekali Benny bagaimana marahnya sang ayah lantaran Benny menyimpan foto Anggun diam-diam di dalam laci meja belajarnya.
Ia bersikeras memindah sekolah Benny ke kampung halaman, Benny harus berlutut di hadapan sang ayah. Berjanji untuk melupakan perasaannya pada sang nona muda, ayahnya tak ingin sang putra terluka karena perasaan cinta yang tak bisa digapai. Semua fasilitas diberikan oleh majikan mereka, apa kata ayah Anggun jikalau tahu. Anak seorang supir, yang ia biayai uang sekolahnya menaruh hati putri cantik yang tak sederajat dengan mereka, Benny harus menyembunyikan perasaannya sampai akhir.
"Apa yang terjadi di masa lalu, tidak satu pun yang bisa kita ubah Anggun. Sudah saatnya kamu hidup untuk dirimu sendiri," balas Benny lembut. Benny merubah posisinya berdiri, kini menghadap ke arah Anggun.
"Sekarang apa yang kamu ingin lakukan? Perusahaan sudah diambil alih oleh Dinar. Beberapa bulan lagi ia pun akan melahirkan, sebelum menikah dengan Mark. Dinar terlihat benar-benar bahagia. Bukan lagi berpura-pura bahagia, seperti dulu."
Benny ingat jelas bagaimana Dinar hidup, berjuang dari segala arah. Ia berjuang untuk ibunya, berjuang keras untuk masa depannya. Tidak menyia-nyiakan waktu yang ia miliki, setelah Dinar rasa cukup. Ia mulai mencari sosok lelaki yang ia cintai untuk membangun sebuah rumah hangat, meskipun pada kenyataannya semuanya tak semulus apa yang Dinar pikirkan. Ia harus jatuh-bangun menjalin rumah tangga, dan berakhir kandas karena orang ketiga.
Dinar harus berdiri tegak kembali, meski seluruh tubuhnya dipenuhi oleh luka. Meskipun ada 1001 alasan untuk Dinar menyerah, cukup satu alasan untuk dirinya bertahan dan berjuang hidup. Demi orang yang ia cintai sekaligus orang-orang yang mencintai dirinya.
Anggun terkejut, kala tangannya disentuh lembut. Benny menggenggam tangan Anggun, sorot matanya terlihat serius. Jangan katakan kalau Benny tak grogi, sumpah! Baginya menyentuh wanita di depannya ini merupakan hal yang sulit untuk ia lakukan. Karena takut sentuhan dari tangan kasarnya, membuat Anggun terluka.
"Jika kamu tidak tahu mau melakukan apa, mau'kah kamu hidup bersamaku. Kita bisa bersama-sama sampai tutup usia, aku mencintaimu, Anggun. Sungguh sangat mencintai kamu, walaupun perasaanmu tak sama denganku. Tolong izinkan aku mencurahkan semuanya untukmu, mewujudkan impian hidupku. Impian untuk membuatmu terus tersenyum dan bahagia," lanjut Benny meminta Anggun untuk hidup bersama dengan dirinya.
__ADS_1
Apakah terdengar aneh? Benny tidak tahu berkata manis. Pria ini menghabiskan setiap harinya memikirkan Anggun, tak pernah menjalin kasih dengan perempuan mana pun. Ia setia menjaga Anggun dari kejauhan, melindungi Anggun. Berakhir melepaskan Angun, sebab sang wanita menyatakan dengan jelas. Ia ingin menikah dengan Amar, karena Amar merupakan lelaki yang dinginkan menjadi pelengkap hidup Anggun. Ia tak bisa bertindak romantis, terkesan kaku. Benny tipikal pria yang langsung bertindak, dibandingkan berkata-kata manis.
"Ya," jawab Anggun lirih.
"Ha?"
Anggun mengangguk kecil, ia ingin mencobanya. Sebagaimana yang putrinya katakan, Benny mencintainya sangat tulus. Anggun ingin merasakan bagaimana rasanya dicintai, ia ingin menemukan kebahagiaannya sendiri. Walaupun terlampau jauh terlambat untuk sampai di tahap ini.
Kedua mata Benny berkaca-kaca, Anggun terkekeh kecil membuat helaian rambut pendeknya begoyang. Anggun memeluk Benny, terlihat menepuk-nepuk kecil punggung lebar Benny. Kenapa Benny semelow ini, dari kejauhan Dinar tersenyum lembut menatap keduanya.
"Bagaimana? Sekarang kamu sudah gak khawatir lagi, kan, Sayang?" bisikan dari daun telinga Dinar mengalun jelas.
"Ku harap Mama dan Om Ben bisa berbahagia. Pada akhirnya, melihat mereka bersama membuatku merasa lega," balas Dinar tersenyum kecil.
Tangan Mark merangkul pinggang Dinar, mengusap perlahan perut besar sang kekasih hati.
"Nah, kalau begitu sekarang kita bisa membebaskan Mama Anggun, dan hidup berdua."
Dinar melepaskan belitan tangan Mark, menoleh ke samping. "Aku akan tinggal dengan mereka berdua, sampai anak ini lahir."
"Eh!" Mark terkejut. "Gak bisa begitu, dong. Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Dinar. Aku gak bisa, gak boleh." Mark mengejar langkah kaki Dinar yang berusaha menghindar dari si mesum.
Oke, Dinar makin hapal tingkah modus Mark. Pria ini mungkin awalnya merangkul tubuhnya, mengusap perutnya. Sebelum minta dicium, pipinya. Dinar malas hari ini memanjakan Mark, Dinar agaknya suka melihat wajah cemberut dan ekspresi memelas Mark.
"Honey! Jangan gitu, kita bicara dari hati ke hati dulu, oke. Hei!" Mark memelas, dengan bibir yang mengerucut lucu.
__ADS_1
Bersambung...