
Suara denting piano menemani para pengunjung restoran bintang lima makan dengan khidmat, senyum yang diukir kala uluran tangan dijabat.
"Anggun," ucap wanita berambut pendek itu pada pihak keluarga Mark.
Wulandari tersenyum lembut. "Wulandari," balasnya tak kalah lembutnya.
Keduanya saling melepaskan jabatan tangan, duduk di kursi masing-masing. Malam ini Anggun ingin berbicara dengan calon mertua dari pihak ibu saja, sebelum bertemu secara kekeluargaan. Wah, ini sungguh berbeda. Pasalnya Anggun yang ditemui oleh Wulandari beberapa minggu yang lalu terlihat begitu pendiam, dengan sorot mata yang redup. Menatap hampa ke luar jendela, cukup mengejutkan mendengar penjelasan Mark.
Sampai ia menemui Anggun secara langsung seperti ini, 180 derajat berbanding terbalik. Wulandari dapat melihat sosok seorang wanita yang seperti namanya—anggun, dan tenang. Bak lady kebanyakan, mungkin dikarenakan berasal dari kalangan atas.
"Maaf meminta Bu Wulandari bertemu secara mendadak seperti ini," tutur Anggun sopan, ia mengulas senyum tipis.
Wulandari mengeleng sekilas. "Tak masalah, aku senang bisa melihat Bu Anggun sehat seperti sekarang ini. Dan aku paham dari mana datangnya kepribadian serta wajah cantik Dinar, ternyata diwariskan dari Bu Anggun."
Anggun terkekeh renyah. "Dan aku pun juga tahu, ternyata manisnya kata-kata Mark diwariskan dari siapa. Jika bukan dari Bu Wulandari, serta sikapnya yang tampak sopan."
Kini Wulandari yang terkekeh, mendengarnya. Jika perihal kata-kata manis mungkin itu benar dari Wulandari, mengingat sang suami itu kaku bak kanebo. Namun, untuk kata sopan, itu beda sekali. Mark bukan anak muda yang sopan, dia terlalu blak-blakan, apakah Anggun tak tahu bahwasanya Mark itu pria gila. Seperti ayahnya, dahi Anggun tampak mengerut.
"Oh, maafkan aku, Bu! Terlalu lucu, mendengarnya. Mark bukan orang yang sopan, tetapi jika Bu Anggun menemukan satu hal itu dari putraku. Itu tandanya, ia menyayangi Bu Anggun, seperti Dinar menyayangi Bu Anggun. Yeah... meskipun aku ini Ibu kandungnya, tidak etis rasanya memuji Mark berlebihan. Dia itu otoriter, keras kepala, dan orangnya terlalu ngotot kalau ingin sesuatu. Aku harus ngomong secara terang-terangan, karena Mark akan menjadi menantu Bu Anggun. Setidaknya Bu Anggun harus tahu baik-buruknya Mark," tutur Wulandari setelah berhenti terkekeh.
Anggun mengangguk sekilas, ya, dia paham ini. Buktinya lelaki itu bisa berbicara selama 3 jam padanya, walaupun tidak mendapatkan tanggapan apapun dari Anggun. Dia pemuda yang lucu, dengan segala kelebihan hingga kekurangan yang dia punya. Lebih baik memilih kepribadian transparan dibandingkan diam-diam menghanyutkan, seperti mantan menantu Anggun contohnya.
"Tak masalah, Bu Wulandari. Bagiku, jika lelaki itu mampu setia, membahagiakan Dinar, dan mencintai putriku dengan begitu besar. Itu sudah sangat cukup, karena sulit menemukan lelaki yang tepat," sahut Anggun lembut.
__ADS_1
Ah, Wulandari merasa lega mendengarnya. Ia mengangguk paham, beberapa pelayan tampak bergerak menghidangkan makanan dan minuman yang sudah dipesan oleh Mark, lelaki itu telah memesan restoran hingga makanan serta minuman yang akan dihubungkan untuk keduanya. Hingga keduanya tak perlu tergganggu untuk memilih makanan serta menunggu terlalu lama, makanan serta minuman telah terhidang di atas meja. Asap mengepul, aroma makan mengiurkan menari-nari di udara.
"Ah, iya. Sebenarnya pertemuan hari ini, aku secara pribadi memiliki permintaan dan kesepakatan dengan Bu Wulandari," ucap Anggun melirik kembali wajah wanita di depannya itu.
"Silakan katakan saja, Bu. Aku akan mendengarkan permintaan dan kesepakatan yang Bu Anggun sampaikan," sahut Wulandari.
...***...
Hawa perperanggan mengudara, embusan napas Damar memburu, seluruh isi rumah Anjani tampak porak-poranda. Beruntung kedua orang tua Anjani serta adik-adik tidak berada di tempat, mereka berlibur ke kampung halaman. Wah, Damar benar-benar tidak menyangka dengan Anjani. Bagaimana perempuan ingusan satu ini begitu picik, ingin membalik nama dokumen sertifikat rumahnya. Menjadi atas namanya, bahkan Dinar saja yang membuat rumah untuk kedua orang tua Damar. Tidak ingin membuat sertifikat atas namanya, malah membuat atas nama Damar.
Anjani mendelik. "Semuanya karena salah, Mas!" teriak Anjani kesal. "Andaikan Mas Damar jelas mau menikah denganku. Apakah Mas Damar pikir aku akan melakukan ini? Gak, Mas. Aku gak akan melakukan ini, karena aku melihat Mas Damar mulai berubah. Aku melakukan ini semua," lanjut Anjani mencari pembenaran atas tindakan piciknya.
Anjani harus mendapatkan lebih banyak lagi harta Damar, setelah apa yang ia korbankan. Bayangkan saja, Anjani harus mengorbankan masa remajanya untuk menjadi seorang ibu. Walaupun ini semua adalah kesalahan serta keserakahan Anjani, yang jelas. Anjani tak mau rugi sendiri, ia harus mengeruk semuanya tanpa sisa.
Anjani naik pitam, ia berkacak pinggang menatap Damar dengan wajah merah padam. "Mas Damar! Denger ya, baik-baik. Di dunia ini gak ada wanita yang mau terima pria apa adanya, Mas. Apalagi pria yang sudah beristri, gak ada, Mas. Cinta? Hah, cinta itu cuma untuk perempuan yang siap hidup sengsara. Aku bukan perempuan bodoh yang mau makan angin, Mas. Aku gak akan mau sama Mas kalau bukan karena Mas punya uang, walaupun Mas Damar itu ganteng. Apa gunanya itu kegantengan kalau gak bisa bikin perut kenyang, rumah mewah, dan hidup senang, Mas. Gak ada gunanya, Mas."
Speechless.
Damar terbelalak mendengarnya, jadi selama ini hanya uangnya saja yang diinginkan oleh Anjani. Lantas kenapa baru sekarang? Setelah Damar cerai dengan Dinar. Setelah Damar kehilangan semuanya yang ia punya, mulai dari istri yang sempurna, dan ekonomi yang stabil. Nyatanya Damar keliru, wanita baik-baik tidak akan mau menghancurkan rumah tangga wanita lain. Tidak ada wanita baik-baik yang mau mencuri milik perempuan lainnya.
"Ya, kalau begitu. Kamu, wanita sialan. Gak akan pernah aku nikahin, sampai mati gak akan pernah aku nikahi. Anak itu setelah lahir, aku akan membawanya," kata Damar, dengan muka merah padam.
Tawa Anjani melambung, membuat perut besarnya ikut bergerak. Dahi Damar mengerut, mendengar tawa keras Anjani, bahkan wanita itu terbatuk-batuk, rasanya kantung kemihnya terasa sesak.
__ADS_1
"Astaga, Mas Damar," gumam Anjani dengan ekspresi dan intonasi nada mencemooh. "Anak ini bukan anak Mas Damar, mau aku beritahu satu rahasia gila? Mas Damar itu mandul. Lelaki gak bisa punya anak, anak ini aku dapatkan dari benih lelaki lain. Mas Damar gak curiga? 5 tahun menikah sama Mbak Dinar. Tapi, gak kunjung punya anak. Anehnya setelah Mbak Dinar cerai sama Mas Damar dia mengandung anak dari lelaki lain. Tandanya apa? Tandanya, Mas Damar sendiri yang mandul," sambung Anjani menampar Damar dengan fakta mencengangkan.
Biar hancur sekalian, Anjani sakit hati. Dengan kata-kata Amira tempo hari, kala Anjani membawa Aji melihat-lihat rumah mertua yang atas nama Damar. Caci maki serta keinginan Amira untuk merebut anak yang ada di dalam kandungannya, Anjani ingin menginjak-injak mereka semua. Senyum iblis terbit di bibir Anjani, melihat bibir Damar bergetar hebat.
"G—gak mungkin," gumamnya gamang.
"Apa yang gak, mungkin. Sekarang pergilah ke rumah sakit, periksa sendiri. Mas Damar akan melihat sendiri, fakta sebenarnya. Jadi, jangan cuma bisa merendahkan aku. Bilang juga sama adiknya, Mas. Kalau masnya yang paling ia banggakan itu pria m-a-n-d-u-l," timpal Anjani dengan senyuman penuh kemenangan.
...***...
"Nah, gimana?" tanya Mark pada Dinar, kala mereka melihat-lihat perabotan bayi.
Mark terlalu antusias, meskipun anak di dalam kandungan Dinar belum berusia 7 bulan. Mark ingin segera mendesain kamar, membeli perabotan bayi untuk anak pertama mereka. Dinar melirik ke arah Mark, dengan dahi berkerut.
"Anak ini belum kelihatan jenis kelaminnya, loh. Jadi belum bisa mau pilihan perabotan, desain kamar, apalagi perintilan lainnya," balas Dinar, menjelaskan.
Meskipun sebenarnya Dinar ingin juga membeli semua yang tampak lucu di matanya, Dinar harus menahan diri, kata orang dulu pamali beli barang bayi sebelum usia kandungan lebih dari 7 bulanan. Makanya, Dinar harus menahan diri untuk cek-out barang-barang bayi yang dinilai lucu.
Ekspresi Mark tampak langsung lesu, ia meletakkan kembali sarung tangan bayi ke tempatnya. Manik matanya melirik ke arah Dinar yang bergerak ke arah depan, ah, sepertinya Mark tahu akan beli apa. Langkah kaki lebarnya menyusul Dinar, menggenggam tangan Dinar. Menautkan jari jemari mereka, Dinar tersentak. Kepalanya menengadah, Mark tersenyum lebar.
"Kita beli dress Ibu hamil saja, sama beberapa beberapa gaun untuk photoshop. Kamu sama aku, ambil beberapa tema. Nanti anak kita lahir kita lakukan photoshop keluarga," paparnya, antusias.
Dinar menipiskan bibirnya, Mark kembali bersuara. Kini ia tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa syarat, dan secara ugal-ugalan oleh Mark Louis. Nyatanya dicintai oleh lelaki yang tepat jauh lebih membahagiakan, memiliki lelaki yang tak tepat untuk dicintai. Manisnya diperjuangkan kini ia rasakan.
__ADS_1
Bersambung....