Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 19. SELAMAT TINGGAL


__ADS_3

Tidak ada yang pembicaraan di antara mereka berdua, langkah kaki Damar terlihat memelan. Menyamakan langkah kakinya dengan Dinar, karena paksaan kedua orang tua Damar. Keduanya melangkah bersisian, bukan lantaran Dinar akan menerima kembali pria bermata tajam di sampingnya ini. Ada yang berkata perempuan akan berteman dengan seorang pria kala hatinya tak lagi ada rasa, sedangkan pria akan menawarkan pertemanan kala ia masih memiliki perasan pada si perempuan. Itu lah yang terjadi saat ini, di mana Dinar sama sekali tak lagi memiliki perasan untuk Damar. Dinar mencoba berdamai dengan luka yang ditorehkan oleh Damar, mencoba memberikan kata maaf itu untuk Damar.


Semuanya bukan lantaran kebaikan hati Dinar, perempuan cantik berambut sebahu itu hanya ingin melepaskan semua beban di kedua sisi bahunya. Dendam, kemarahan, dan kebencian tak akan ada habisnya. Memperburuk masa depan Dinar yang begitu cerah di depan sana, ternyata setelah Dinar merenungkan kembali. Perceraian tak semengerikan yang orang-orang katakan, apalagi karena bisa saja sebenarnya Dinar telah membentengi dirinya dengan tidak terlalu menjatuhkan hati sejatuh-jatuhnya pada Damar.


Langkah kaki Dinar mendadak berhenti, membuat sang dosen gagah itu ikut menghentikan langkah kakinya. Ia melirik ke arah Dinar, di mana perempuan cantik itu menatap lurus ke depan.


"Sampai sini saja, Damar," ucap Dinar dengan intonasi nada rendah.


Damar tidak menyahut, pria ini lebih memilih mengamati ekspresi wajah Dinar yang terlihat cukup santai. Dari terakhir kali Damar bertemu dengan Dinar, perempuan satu ini masih memancarkan pandangan mata berapi-api. Kemarahan yang menggebu-gebu, hingga saat pandangan mata mereka bertemu. Dinar akan berdecak kesal, pandangan angkuh yang tidak Damar sukai.


"Kenapa harus berhenti di sini? Aku bisa mengantarkan kau sampaikan ke depan pintu apartemen," tukas Damar dengan nada pelan.


Dinar membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Damar, kepalanya menengadah menatap ke arah Damar dengan pandangan intens. Sebelum mengamati Damar, pria ini yang menemani dirinya untuk beberapa tahun belakang. Ada suka dan duka yang mereka lewati bersama, meskipun pada akhirnya kisah mereka harus usai sampai di sini.


Dinar mengulurkan tangannya, membuat sebelah asli mata tebal milik Damar terangkat tinggi. Dengan pandangan mata mengamati senyum yang terukir indah di bibir tipis Dinar, dengan kode mata Dinar meminta untuk Damar menerima uluran tangannya. Sebelah alis mata yang tadinya ditarik tinggi diturunkan perlahan, tangan Damar menerima uluran telapak tangan Dinar. Garis bibir Dinar terlihat semakin tertarik tinggi, di kedua manik mata Dinar terlihat begitu cerah.


"Besok adalah sidang terakhir  kau tidak menghadirinya, status kita tidak akan pernah berubah. Kau maupun aku, tidak akan lagi menjadi pasangan suami-istri. Terlepas dari kekurangan maupun kelebihanku selama mendampingimu, aku minta maaf. Aku pikir kita hanya bertemu dan menyatu untuk saling mendapatkan pelajaran dalam kehidupan, terima kasih telah pernah menjadi bagian dalam kehidupanku. Aku pula maafkan semua kesalahanmu, aku harap kita bisa berpisah dengan cara yang baik. Aku doa, kan kebahagiaanmu dan Anjani."

__ADS_1


Damar melebarkan kedua matanya, tangannya sontak menahan telapak tangan Dinar yang berada di tangan Damar. Siapa yang menyangka jika proses hukum yang sempat ia coba hentikan malah tetap berlangsung, anehnya apa yang membuat prosesnya tetap berlanjut? Damar menolak perceraian.


"Aku rasa kita gak akan bercerai Dinar, kau dan aku akan tetap bersama. Sampai kapan pun kau adalah istriku," bantah Damar dengan nada memaksa.


"Anjani menyerahkan bukti perselingkuhan kalian di saat yang tepat. Itu menjadi penyebab kenapa proses perceraian tetap berlanjut, apakah pengacaramu tak berbicara apa-apa? Ah, bisa saja pengacaramu di suap oleh Anjani. Gadis remaja itu lebih membutuhkan dirimu, dan aku menyerahkan kau pada perempuan yang lebih membutuhkan," ucap Dinar menangapi ketidak sukaan Damar.


Untuk beberapa saat Damar merasa dunia berhenti berputar, Dinar menyentak kasar tangan Damar. Mundur beberapa langkah ke belakang, memperhatikan guratan wajah Damar yang terlihat kacau.


"Apakah kau tahu Damar, ada yang bilang. Saat kau ikhlas dan bersabar karena telah disakiti. Orang itu akan mendapatkan karma yang sangat besar karena keikhlasan dari orang tersebut," gumam Dinar dengan intonasi nada lembut sebelum terkekeh renyah. "Tidak, aku hanya bercanda. Bagaimana pun, kau akan tetap bahagia. Menikah dengan perempuan yang kau cintai, memiliki anak dalam hitungan bulan, dan menjadi seorang Ayah. Bukankah hidupmu sebegitu beruntungnya?"


Damar membuka bibirnya namun tak ada kata yang keluar dari dalam mulutnya, Damar mungkin lebih suka dengan perdebatan. Atau melihat Dinar menatapnya dengan tatapan kemarahan, lantaran itu menunjukan kalau Dinar memiliki hati pada Damar. Ternyata Dinar sadari jikalau reaksi tenang seorang perempuan yang disakiti, dan senyuman lembut yang di umbar lebih mengerikan bagi seorang pria.


Dulu Damar merasa sangat senang kala ia bisa menjauh dari Dinar, apalagi bisa menceraikan Dinar. Namun saat semua itu dikabulkan oleh Tuhan, kenapa Damar malah mendadak kacau?


"Apa aku menyesalinya?" tanya Damar dengan intonasi nada lirih.


Seakan sedang berbisik pada angin malam, kepedihan yang menelusup kesanubari. Menghunuskan belati pada dada Damar, rasa sakit yang Damar sendiri tak sadari. Kepala Damar tertunduk lemah, ke mana semua kesombongan yang Damar puja? Kemana larinya pikiran Damar bahwasanya kalau dirinya akan bahagia saat Dinar menjauh dari dirinya? Ternyata perpisahan tak semanis yang ia duga.

__ADS_1


TIK! TIK!


Punggung tangan Damar menyentuh tetesan yang terus jatuh, Damar tak menyangka kalau dirinya menangis. Bulir bening yang jatuh dipikir rintik hujan adalah air matanya.


***


Wajah cantik Dinar terlihat bersemu, merapikan penampilannya. Kala kedua tungkai sepatu high heels berada di depan pintu ruangan sang ibu, tangan Dinar mendorong kecil pintu ruangan. Bunyi decitan pintu yang terbuka tak mengalihkan pandangan mata wanita yang duduk di atas ranjang pesakitan itu, pandangan matanya masih terlihat menatap keluar jendela.


Suara kaki mengetuk lantai terdengar memantul, pintu yang hanya ditutup sedikit. Dinar melangkah mendekati ranjang, duduk di pinggir ranjang. Jari jemari lentik Dinar membenahi rambut panjang sang ibu, menariknya ke belakang daun telinga.


"Ma! Aku datang lagi. Mama apa kabar? Tidak ada masalah bukan, di sini?" tanya Dinar dengan nada lembut pada sang ibu.


Meskipun tahu Anggun tak akan menjawab pertanyaan dari Dinar, ia tidak mempermasalahkan hal ini. Dinar tetap tersenyum cerah, tangan Dinar menyentuh telapak tangan Anggun. Sebelum menggenggam tangan sang ibu dengan lembut, menggenggam tangan dingin Anggun.


"Meskipun hari ini adalah hari aku sah menjadi seorang janda, anehnya aku tak merasa sakit hati," curhat Dinar dengan nada lembut.


Anggun masih tidak bersaksi banyak, kedua mata Anggun masih terlihat kosong tanpa adanya tanda kehidupan. Dinar mengulum bibirnya yang mulai mengering, sebelum sedetik kemudian Dinar tersenyum lebar. Menarik tangan sang ibu, menyentuh perutnya.

__ADS_1


"Ma! Aku hamil 2 minggu. Ini aneh, aku dihina mandul. Malah hamil dua bulan, aku tidak tahu bahwa aku hamil. Aku bahkan sempat mengonsumsi alkohol, beruntung sekali janin dalam perutku baik-baik saja." Dinar berbicara dengan nada bahagia.


Bersambung...


__ADS_2