Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 34. TRAUMA


__ADS_3

"Diam," titah Dinar, terdengar datar.


Mark mengatup bibirnya yang sedikit terbuka, wanita di sampingnya ini benar-benar galak. Awalnya Mark pikir Dinar merupakan perempuan kalem, seperti seorang Lady kaya kebanyakan. Hanya embusan napas mengalun, deru angin laut membelai wajah Dinar.


Bibir Mark manyun, ia yang membawa Dinar ke tempat sebagus ini. Lucunya, Mark yang dicueki hanya untuk wanita satu ini menikmati suasana sore. Sorot mata teduh Dinar tampak menatap lama sekali luasnya lautan, kedua tangannya di dekap di bawah dada.


"Kamu mau gak aku nikahi? Atau gak jadi Ibu dari anakku. Tapi kalau kamu gak mau, kamu boleh jadi menantu dari mamaku. Kalau gak mau juga, kamu boleh pilih jadi pendamping hidupku," kata Mark, memborbardir Dinar dengan pilihan yang ia berikan.


Atensi Dinar di bawa ke samping, kepalanya terlihat bergerak kecil menghadap ke arah Mark. Berdecak kecil, dengan pilihan berbeda anehnya tujuannya tetap sama.


"Aku gak mau, apapun pilihannya. Tetap aja jadi istrimu, ogah," tolak Dinar mentah-mentah.


Mark mengulas senyum, akhirnya wanita yang ia culik dengan paksa ini mau juga berbicara dan mendengarkan suaranya. Mark mengulum senyum konyol, memang rencananya tetap sama.


"Kenapa?" tanya Mark, guratan ekspresi wajahnya tampak tak mengerti. "Coba kamu bilang, bagian mana yang membuat kamu gak suka sama aku? Lihat! Secara fisik aku sempurna tanpa cacat. Dengan wajah yang keren begini, secara finansial aku jauh dari kata gak mampu. Keluargaku berasal dari kalangan konglomerat, ya, bisa dibilang. Dari bibit, bebet, dan bobot, i'am perfect." Mark menepuk kecil dada bidangnya, terlihat begitu bangga.


Dinar melangkah mundur, mengalihkan posisinya. Yang tadinya menghadap ke arah indahnya hamparan lautan lepas, sekarang ke arah Mark. Perfect, mungkin benar nyatanya bisa disematkan pada seorang Mark Loius. Sayangnya itu semua tidak akan berpengaruh pada perempuan yang jatuh terlalu dalam pada trauma, pernikahan orang tua yang gagal. Disusul oleh pernikahannya yang ikut berantakan, kalau boleh jujur Dinar tidak percaya diri pada hubungan baru.


"Tapi kamu seperti playboy cap kadal gurun," sahut Dinar setelah diam cukup lama, senyuman lebar di bibir Mark langsung patah.

__ADS_1


Player.


Mark memang merupakan seorang player, ia memiliki semuanya. Bagi Mark perempuan mana yang tidak akan mengejar-ngejar dirinya, dengan visual yang mumpuni. Harta yang bisa membahagiakan para kaum Hawa, tidak ada yang bisa berpaling dari dirinya.


Namun, Mark sendiri bukan tanpa alasan menjadi seperti ini. Ada kisah pahit yang membuat Mark bertingkah menjadi lelaki brengsek, melihat Mark yang membeku. Dinar acuh, perempuan itu melangkahkan kedua kaki telanjangnya menyusuri bibir pantai, meninggalkan Mark yang masih bergelut dalam pikirannya.


Ternyata tidak buruk juga menikmati indahnya pantai di sore hari, di saat suasana hatinya tengah dilanda kegelisahan yang tak berujung. Hampir saja Dinar terpekik keras kala pergelangan tangannya ditarik, tubuhnya menubruk dada bidang Mark. Samar-samar ia mendengar kerasnya degup jantung Mark, bersautan dengan suara riak ombak.


Embusan napas hangat Mark menerpa puncak kepala Dinar, aroma tubuh Mark menyatu dengan aroma pantai.


"Jika perempuan itu adalah kamu, aku rela melepas semuanya. Aku rela menjadi orang bodoh, jika itu adalah kamu, Dinar." Mark bersuara cukup keras untuk dapat di dengar dengan jelas oleh indera pendengaran Dinar.


Kepala Dinar menengadah, manik mata tajam Mark tampak melembut. Dikala netra mereka bersirobok, Mark menarik kedua sisi bibirnya tinggi ke atas.


Dahi Dinar berlipat, rela disakiti? Perlahan Dinar mendorong Mark menjauh dari dirinya. Mark mundur dua langkah ke belakang, merelakan pelukannya terlepas.


Dinar menghela napas berat. "Aku hanya akan mengatakan sekali saja padamu, Mark. Dan aku harap kamu mendengarkan ini dengan saksama. Aku tidak akan pernah jatuh cinta pada lelaki manapun. Aku tidak lagi menginginkan hubungan apapun, bagiku. Hatiku, bahagiaku, dan diriku. Lebih berharga hanya untuk terluka lagi, aku gak mau lagi percaya pada lelaki mana pun. Aku gak akan lagi membunuh logikaku, aku gak siap terluka oleh yang namanya hubungan!" Dinar menjelaskan apa yang ia rasakan pada Mark.


"Aku gak minta untuk kamu membunuh logikamu, atau meminta kamu mendahului aku di atas kepentinganmu. Aku gak masalah kalau pun aku yang harus bodoh dalam hubungan kita," tukas Mark, mendapatkan gelak tawa hambar dari Dinar.

__ADS_1


Tawa hambar Dinar berhenti, ia mengeleng pelan. "Kalau kamu ingin bermain rumah-rumahan, silakan cari perempuan lain Mark. Aku sudah selesai dengan hal seperti itu." Dinar berucap tegas, ia tidak ingin memberikan siapa pun kesempatan untuk masuk lebih jauh di dalam kehidupannya.


Bahkan ayah dari janinnya sendiri sekalipun, Dinar membalikkan tubuhnya. Melangkah lebar meninggalkan Mark, pemuda itu tampak mengusap kasar surai hitam legam miliknya.


...***...


Dasar sahabat kunyuk, bagaimana bisa dia tertawa mendengar curhatan hati Mark yang tengah serius. Arlo sudah tahu hal seperti ini akan terjadi pada Mark—sahabatnya, Mark Louis yang mengembar-gemborkan, bahwasanya dirinya tak akan pernah setia pada satu wanita. Lantaran bunga tak hanya setangkai, nyatanya Mark yang terkena virus cinta yang sesungguhnya. Langsung dilanda galau gegana, dirundung rasa yang tak bisa dibendung.


"Wah! Sahabat durhaka," cibir Mark kesal.


Arlo mengangkat kedua tangannya pertanda ia menyerah, meskipun sisa kekehan renyah masih terdengar. Mark memasang tatapan tajam pada Arlo, tawa Arlo mereda.


"Salahmu sendiri, Mark. Siapa suruh kamu malah berlagak begitu, gonta-ganti. Nah, gimana? Mampuskan, kena virus cinta. Sok-sok ngomong gak akan jadi kayak masmu, sekarang nyahok 'kan!" Arlo mencemooh Mark.


Mark mendesah kasar, meraih wiski menyesapnya perlahan. Meletakkan dengan kasar gelas milikinya di atas meja bar, siapa yang berpikir akan seperti ini.


"Lagipula masalah Mas Vinsen terjadi karena dia jatuh cinta pada perempuan yang salah, bukan karena cinta itu sendiri yang salah. Dan kamu malah belagak mau jadi player," lanjut Arlo, mencemooh Mark.


Mark melongok ke arah Arlo, dengan sorot mata aneh. "Kamu gak akan bisa ngomong begini kalau kamu tahu bagaimana rasanya di posisiku, Arlo. Melihat kakakmu sendiri mati konyol hanya karena mencintai wanita itu, dan berakhir pulang dengan peti mati."

__ADS_1


Arlo menutup rapat bibirnya, masa kelam itu terjadi saat mereka berada di SMP. Bayangkan bagaimana sakitnya keluarga besar Louise saat itu, si sulung pulang tak bernyawa. Karena wanita, membuat trauma untuk Mark. Ia begitu ketus pada wanita yang mengejarnya, bermain-main dengan wanita mana pun. Untuk melampiaskan kemarahannya pada wanita, membuat ibunya harus pusing dengan ulah si bungsu.


Bersambung....


__ADS_2