Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 22. CEMBURU?


__ADS_3

"Lepaskan, aku!" seru Dinar terdengar jengah.


Ia menoleh ke arah kanan dan kiri, lantaran dirinya berada di tengah-tengah. Pergelangan tangan Dinar digenggam dengan sangat erat oleh dua pria yang dinilai mengacaukan hari Dinar. Yang satu adalah pria gila, entah kenapa begitu terobsesi untuk menganggu Dinar. Dan yang satu lagi adalah mantan tunangan, yang harusnya tak lagi mengejarnya.


"Gak, mau. Dia yang harus melepaskan tanganmu, karena aku adalah lelakimu," tukas Mark tak ada rasa malu.


Roy mendengus kesal mendengar Mark berbicara, mencoba mengklaim wanita cantik yang tengah mereka perebutkan.


"Jangan terlalu banyak bermimpi, Anda jelas tak memiliki hubungan apa-apa dengan Dinar. Harusnya Anda yang melepaskan tangan Dinar," imbuh Roy protes.


Senyum miring diulas, pria gagah ini mampu membius banyak wanita kala semua nakal diperlihatkan. Ia menatap ke arah Dinar, perempuan itu malah memutar malas kedua bola matanya. Dengan ekspresi wajah sinis, kerutan di dahi Mark mendadak terlihat.


Hei! Seorang Mark Louis sedang menampilkan salah satu dari seribu pesonanya, kenapa wanita ini malah terlihat kesal. Dinar menyentak kasar kedua tangan, Mark dan Roy terkejut.


"Wah! Kalian berdua, sebaiknya pergi dari sini. Karena ini sudah sangat menganggu waktu istirahatku. Tolong! Aku ini lelah. Butuh istirahat, bikin bete saja," pinta Dinar kesal.


Tubuh Dinar berbalik, kedua pemuda itu sontak ingin meraih tangan Dinar. Ibu hamil ini cukup cepat tanggap, ayolah! Dinar sedang tidak memiliki mood bagus saat ini. Kehamilan membuat mood Dinar naik turun, diperparah oleh pria tampan itu.


"Eeets! Don't touch me!" Dinar memberikan pelototan kala membalikkan tubuhnya.


Marka dan Roy untuk kesekian kalinya terkejut, nada dan ekspresi wajah garang Dinar sebenarnya tidak membuat kedua takut. Mereka malah merasa sebaliknya, gemas


Siapa pun tolong katakan pada wanita satu ini. Jikalau Mark dan Roy malah ingin sekali mengarungi ibu hamil ini, untuk dibawa ke rumah mereka. Dan kunci di dalam kamar, saking gemasnya pada Dinar.


"Hah, baiklah. Selamat istirahat Dinar, aku akan kembali menemuimu," balas Roy mengalah.

__ADS_1


Mark tak mau kalah, ia tersenyum lima jari. "Selamat istirahat Honey! Mimpi indah, tolong mimpikan masa depan kita," imbuh Mark sebelum mengedipkan sebelah matanya untuk Dinar.


Dinar bergidik jijik pada keduanya, hilang Damar terbitlah Roy dan Mark. Dinar ingin mencak-mencak karena kesal, ia mengeleng kecil. Sebelum membalikkan tubuhnya, melangkah lebar mendekati pintu apartemen. Memasukan kode apartemen dengan gerakan jari jemari cepat, sebelum ngacir.


Senyuman lebar yang dikembangkan oleh Roy dan Mark sontak patah, kala keduanya saling menatap. Duanya sama-sama membuang muka, lantaran kesal pada satu sama lain.


***


Langkah kaki Damar diikuti oleh perempuan manis itu, Damar mendesah berat. Apakah ia harus melakukan semua ini? Keluarga macam apa yang sebenarnya Damar punya. Adiknya malah ikut merengek untuk dibayar hutang pernikahan, Damar mungkin adalah seorang kakak dan sekaligus seorang anak.


Akan tetapi tidak semua hal, yang harus Damar lakukan untuk keluarganya. Dari beberapa arah penuh tekanan, baik dari keluarga maupun dari Anjani. Damar berhenti di meja kerjanya, menarik laci meja. Mengeluarkan beberapa lembar uang. Ia meletakkan di atas meja, sebelum menggeser ke depan.


"Ini, ambilah," titah Damar.


Kedua mata Amira melolot melirik nominal uang yang diberikan oleh sang kakak, ayolah. Hanya satu juta? Ingin sekali Amira tertawa keras melihatnya, kenapa sang kakak menjadi mendadak pelit.


"Hah! Ini benar cuma segitu aku bisa menolongmu," balas Damar lelah.


"Uang segini itu tidak cukup, Mas. Mas masa gak paham sih, sama keperluan kami. Oke, Mas menolak untuk membantu melunasi hutang pernikahanku. Tapi, ini biaya keluarga kita Mas. Uang untuk Mama dan Papa, masa cuma segitu," protes Amira menggebu-gebu. "Padahal buat bikin rumah calon mertua gak ada masalah tuh, ah. Iya, kayaknya uang Mas habis buat mertua dan perempuan murahan itu. Makanya, bisanya cuma segini kasih duit," lanjut Amira.


Kedua sisi dahi Damar langsung berdenyut sakit, Damar memejamkan kedua kelopak matanya. Sebelum kembali dibuka, menatap kesal ke arah adik satu-satunya.


"Amira, suruh Papa kerja. Jangan cuma duduk di rumah. Papa belum tua-tua amat untuk kerja, lagi pula kau pun sudah punya suami. Minta bantuan uang sama suamimu, jangan aku terus," keluh Damar.


Amira berdecak kesal, dan berkata, "Baru aja segini, Mas udah kayak dirampok satu rumah. Lagian menghidupkan kedua orang tua itu kewajiban anak lelaki Mas, bukan anak perempuan kayak aku. Dan selama ini, Mbak Dinar yang selalu mengatur keuangan. Memberikan uang bulanan, emang ya, beda istri beda kebijakan."

__ADS_1


"Dinar lagi! Dinar lagi, kenapa harus kalian bandingkan aku dengan Dinar terus. Kami sudah tidak lagi bersama, apa baik Dinar. Sampai kalian semua menyudutkan aku," ucap Damar berang dengan intonasi nada delapan oktaf.


Wajah Damar itu langsung merah padam, sampai menjalar dikedua sisi daun telinga Damar. Amira terkejut mendengar suara keras Damar, sorot mata tajam Damar layangkan. Bohong kalau Amira tidak terkejut dengan nada suara sang kakak yang tinggi, Amira menghela napas kasar. Mengatur degup jantungnya, Damar mungkin selama ini jarang marah atau memukul Amira.


Hanya saja melihat bagaimana ekspresi wajah Damar hari ini, Amira mendadak takut. Perempuan ini khawatir akan dipukul oleh sang kakak.


"Karena cuma Mbak Dinar, yang memperhatikan keluarga kita. Saat sanak-saudara kita mencemooh dan enggan meminjam uang. Hanya Mbak Dinar yang bersedia menahan lapar, hanya agar kami makan. Kata Mbak Dinar, dia seperti itu demi mendukung bakti suaminya pada keluarga kita. Dan kami sepertinya sudah kelewatan batas," gumam Amira jujur.


Amira tahu dan menyadari seberapa besar Dinar menahan beban, hanya untuk tetap menjaga bagian dari keluarga mereka. Kepala Amira menunduk, Amira paham kalau tidak akan ada lagi wanita yang sehebat mantan kakak iparnya.


***


Dinar tersenyum lebar, kala ia menyentuh perutnya. Serta satu lagi mengusap perlahan USG, Dinar tidak mampu berkata-kata. Karena janinnya sehat, dan semakin berkembang.


"Dinar," panggil suara bariton mengalun.


Dinar menoleh ke belakang, mendapati kehadiran dokter muda. Jackson terlihat begitu bersinar dengan kemeja hitam, mendekati Dinar. Wanita itu dengan cepat menyembunyikan gambar USG di tasnya, tersenyum pada Jackson.


"Oh, hai," sapa Dinar.


"Wah! Mimpi apa aku semalam? Sampai ketemu bidadari secantik ini,


Tawa Dinar melambung, senyum lebar Jackson tampak jelas. Beberapa tenaga medis sampai staf rumah sakit, melirik ke arah mereka berdua. Melihat dokter muda yang tersenyum dengan lebar, menatap wanita di depannya dengan ekspresi penuh cinta.


Langkah kaki besar pria itu berhenti mendadak, dengan perempuan remaja di sampingnya yang ikut berhenti. Dinar menepuk kecil bahu Jackson, dada pria itu terbakar cemburu. Rasanya hatinya sakit sekali melihat perempuan itu tertawa sebegitu bebasnya tanpa beban, dengan pria lain.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2