
Langkah kaki keduanya berhenti di lobi apartemen, senyum lembut diulas oleh sang dokter untuk wanita yang berdiri di sampingnya. Kalau boleh jujur, Jackson merasa bahagia sekali lantaran mendapatkan telepon oleh Dinar. Walaupun wanita cantik ini menghubungi Jackson untuk memeriksa keadaan lelaki lain, Jackson mencoba untuk terlihat profesional kala memeriksa keadaan Mark.
"Terima kasih, Jackson. Dan maaf banget, menghubungi kamu secara mendadak kayak gini. Sampai harus repot-repot datang ke sini," ujar Dinar, ekspresinya tampak begitu sungkan.
Kepala Jackson langsung mengeleng kecil, dan menjawab, "Santai aja, Dinar. Aku malah senang banget dihubungi sama kamu, lagipula aku sendiri yang bilang 'kan padamu, jika ada apa-apa kamu bisa menghubungi kapan pun itu. Aku sama sekali gak berkeberatan, untuk datang padamu."
Dinar mengangguk sekilas, meskipun ia sungkan untuk merepotkan Jackson. Dinar tidak punya cara lain, hanya ini cara satu-satunya untuk menyelamatkan dirinya serta anak di dalam rahimnya.
"Oh, ya, apakah lelaki tadi adalah kekasihmu?" tanya Jackson, wajahnya tampak harap-harap cemas.
Jackson berharap jika lelaki itu bukanlah kekasih baru Dinar, Jackson tengah mendekati Dinar secara perlahan. Meskipun ia meragukan jikalau lelaki yang hampir satu jam Jackson rawat adalah kekasih baru Dinar, mengingat Dinar baru beberapa bulan berstatus sah menjadi seorang janda tanpa anak. Menurut Jackson sendiri, perempuan tidak akan mudah hilang dari trauma. Kegagalan dalam berumah tangga, apalagi kasus Dinar cukup berat.
Mantan suaminya berselingkuh dengan perempuan jauh lebih muda daripada Dinar, malah hamil anak dari mantan suami Dinar sendiri. Sebab itulah mengapa Jackson harus berhati-hati dan perlahan namun pasti untuk mendekati Dinar. Wanita di samping ini dibalut luka, Jackson tidak tahu seberapa besar luka yang Dinar alami.
"Dia bukan siapa-siapa, hanya tetangga yang sedikit merepotkan," jawab Dinar, tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Jackson yang terlihat tersenyum konyol.
"Ah, begitu ternyata," gumam Jackson pelan.
Derap langkah kaki dari arah lobi mendekati keduanya, berdiri di depan Jackson dan Dinar.
"Dinar," panggilnya menarik perhatian keduanya.
Dinar terkejut mendapati kehadiran ayahnya, sedangkan Jackson terlihat memperhatikan Dinar dan pria paruh baya di depan Dinar secara bergantian. Agaknya terasa familiar di mata sang dokter, kapan dan di mana Jackson pernah melihat kehadiran lelaki paruh baya satu ini.
"Siapa dia, Dinar?" tanya Amar mengerutkan pangkal hidungnya. Mendapati pria asing di samping sang putri.
__ADS_1
Dinar mendesah berat, apalagi yang dinginkan oleh ayahnya ini. Orang yang paling tidak ingin Dinar temui baik itu secara kebetulan atau tidak adalah lelaki ini, lelaki yang menghancurkan cinta pertama Dinar.
"Dia temanku, Pa," jawab Dinar cepat, Dinar membawa sorot matanya ke arah Jackson.
"Sekali lagi makasih, ya, Jackson. Maaf gak bisa mengantarkan kamu sampai ke parkiran mobil, untuk uang pemeriksaan akan aku transfer," tutur Dinar, mendapatkan gelengan cepat dari Jackson.
"Eh, gak usah, Dinar. Lagipula ini 'kan di antara kita berdua, gak apa-apa," tolak Jackson cepat. Ia mengulas senyum sopan pada Amar. "Kalau begitu aku pamit dulu, Dinar! Om!" lanjut Jackson, tidak tahu harus bagaimana apalagi hawa di antara ayah dan anak itu terasa mencekam.
Jackson melangkah meninggalkan Dinar dan Amar menuju pintu ke luar, sekarang baru Jackson ingat. Amar adalah lelaki yang beberapa kali mengunjungi gedung sebelah, menanyai bagaimana perkembangan ibu Dinar. Jackson dengar sekilas, pria itu adalah penyebab kenapa ibu Dinar kehilangan kewarasannya. Malang sekali kehidupan Dinar, memiliki keluarga yang berantakan oleh orang ketiga. Lalu kehidupan rumahtangganya pun dihancurkan oleh orang ketiga, Jackson berhenti sejenak kala ke luar dari pintu lobi. Diliriknya ke arah dalam, tampak jelas ekspresi wajah Dinar yang kesal.
...***...
Tiket pesawat serta beberapa berkas penting diulurkan pada Dinar, Amar merindukan putrinya. Meskipun Dinar mati-matian menolak kehadiran Amar, atau membenci dirinya. Amar tidak masalah dengan itu semua, kesalahan memang terletak dari Amar. Ia lah yang telah menghancurkan kebahagiaan Dinar, akan tetapi Amar pun tidak bisa hidup tanpa wanita yang ia cintai. Ia berusaha keras untuk hidup bersama dengan Anggun—mantan istrinya itu, wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya.
Amar menipiskan bibirnya. "Kamu ingin ke luar negeri 'kan? Papa sudah carikan tempat yang bagus. Negara yang ramah untuk perempuan, serta kamu bisa melepaskan semua lukamu di sana. Rumah ini dekat dari rumah sakit, dan beberapa fasilitas hiburan. Untuk mamamu, Papa yang akan jaga di sini. Semuanya karena Papa, jadi Papa akan menebusnya. Entah itu padamu atau pada ibumu," kata Amar tegas.
"Menebusnya," ulang Dinar membeo. "Kesalahan Papa sampai mati pun, gak akan bisa ditebus, Papa! Harus berapa ratus kali aku ngomong sama Papa?"
Amar mendesah berat. "Ini sudah puluhan tahun, Dinar. Kenapa sulit sekali untuk kamu memberikan maaf pada, Papa?"
Dinar menutup rapat kedua kelopak matanya, gejolak amarah di dadanya yang sempat padam kini terasa berkobar kembali. Kelopak mata Dinar terbuka, manik mata indahnya tampak penuh luka.
"Papa mau tahu kenapa aku sampai detik ini belum memaafkan, Papa?" tanya Dinar belik, Amar mengangguk. "Karena Papa dan wanita itu bahagia, Pa! Karena kalian bahagia, aku benci melihat kalian bahagia. Aku benci melihat wanita itu bahagia, aku benci melihat kalian baik-baik saja setelah menghancurkan kehidupanku dan Mama. Andaikan kalian menderita, mungkin aku akan sedikit melunak. Nyatanya tawa kalian berdua begitu keras, Pa! Lebih keras daripada tangisanku."
Dinar menjawab menggebu-gebu, sebagai seorang anak. Dinar merasa tersakiti terlalu dalam. Ditambah ia pun mendapat rasa sakit yang sama seperti ibunya, rasanya luka Dinar yang belum mengering itu kembali dikeruk semakin dalam.
__ADS_1
Amar termenung mendengar amarah Dinar, kepalanya tertunduk dalam. Nyatanya kata maaf tidak akan mampu mengobati luka Dinar, anaknya menginginkan kehancuran untuk keluarga Amar.
...***...
Erangan samar mengalun di bibir Dinar, tubuh langsing Dinar menggeliat di atas ranjang. Sebelah matanya terbuka kecil, kapan Dinar terlelap? Ia telah tergolek di atas ranjangnya. Eh, tunggu, ranjangnya? Tubuh Dinar langsung mengelepar tertunduk cepat. Sorot mata yang begitu intens menatap ke arah dirinya, Dinar baru saja sadari ada eksistensi lain di dalam kamarnya.
"Sudah bangun, Honey?"
Intonasi nada serak membuat Dinar secara spontans beringsut mundur ke belakang, hingga punggung belakangnya menubruk dasbor ranjang. Mark tampak duduk dengan tegap, kepalanya menengadah menatap ke arah Dinar yang terbelalak.
"Ka—kamu kenapa bisa ada di sini?" Dinar tergagap, menunjuk ke arah Mark.
Mark terkekeh kecil, dan menjawab, "Ya, bisa dong, Sayang. Aku tahu pin apartemenmu, seperti kamu yang tahu pin apartemenku. Kita 'kan sepasang kekasih, tentu harus tahu kode pin pintu apartemen masing-masing."
Dinar tahu pin apartemen Mark, ya, karena lelaki ini yang memberitahu. Berbeda dengan Mark, ia sama sekali tidak pernah memberitahu pada lelaki satu ini kode apartemennya. Kenapa lelaki ini mendadak seperti seorang psikopat yang tengah terobsesi di mata, Dinar.
"Kamu memang gak memberitahu kode pin apartemenmu padaku, Dinar. Tetapi aku orangnya cukup ceras, aku mengingat kode yang memasukan saat membuka pintu apartemen, apalagi kodenya cukup simpel," lanjut Mark yang tahu apa yang kini dipikirkan oleh Dinar.
"Keluar! Dasar pria gila," usir Dinar, sebelum ia beringsut menuju bibir ranjang sisi kanan.
Mark bangkit perlahan dari posisi duduknya di lantai, dan berkata, "Aku akan pergi, Dinar. Sebaiknya kamu istirahat saja, kamu terlihat tertekan dengan kehadiran ayahmu. Apakah kamu mau aku melenyapkan dia?"
Wah! Benar-benar seorang psikopat, pria ini berkata begitu dengan ekspresi wajah polos. Seakan kata-kata yang baru saja ia lontarkan, adalah kata-kata biasa.
Bersambung....
__ADS_1