Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 27. AKAN AKU NIKAHI, DIA


__ADS_3

Lily terkekeh kecil mendengar Dinar menggerutu kesal, Lily akui bahwasanya ibu dari Roy Sadewa benar-benar di luar nalar. Ibu-ibu sosialita yang mementingkan status dan pangkat lebih dari apapun, toh bagi Lily sendiri Linda bukanlah sosok mertua yang ingin ia hadapi.


"Nah, kau aja langsung kesal sama itu Nenek sihir, Dinar. Apalagi aku," kata Lily, mendengus kecil. "Dia adalah salah satu dari sekian banyak mertua laknat, kalau sampai aku nikah sama putranya. Beeeh, tiada hari tanpa perang dunia. Yang ada aku langsung mati karena tekanan darah tinggi, aku gak mau nikah. Sumpah! Aku gak mau nikah," lanjut Lily nyaris berteriak keras.


Kini giliran Dinar yang tertawa renyah melihat ekspresi frustrasi dari Lily, perempuan terlalu banyak dituntut untuk ini dan itu. Banyak hal yang tidak boleh dilakukan, nikah terlalu cepat akan dikatai perempuan gatal. Nikah terlalu lama dilabeli  terlalu pemilih, kalau tidak nikah-nikah ya, tanda tak laku.


Setelah menikah pun perempuan tetap akan dibelit oleh banyaknya rentetan pertanyaan serta tuntutan. Jika belum memperoleh keturunan maka akan langsung dilabeli perempuan mandul. Suami yang selingkuh, tanda istrinya yang tidak bisa jaga suami. Ada begitu banyak perkataan yang dinilai terlalu menyudutkan wanita, anehnya ada yang berkata 'wanita selalu benar'.


"Jangan tertawa." Lily menatap kesal ke arah Dinar.


Tawa Dinar perlahan-lahan mereda, ia mendesah kasar. Dinar dibuat mendadak pening dengan apa yang terjadi, Dinar pikir selesai dari hubungan pernikahan yang tidak membahagiakan itu, akan sedikit membuat ia tenang. Nyatanya malah sebaliknya, Dinar sibuk digempur oleh pria gila. Tidak mantan suami, tidak pula dengan mantan tunangan tak jadi, belum lagi si playboy cap kadal gurun.


"Lily," panggil Dinar pelan, Lily melongok ke samping.


"Ada apa?" tanya Lily, ekspresi Dinar tampak begitu serius.


"Aku mau resign dari sini," balas Dinar lirih, mata Lily sontak saja terbelalak. "Aku sudah puluhan kali berpikir tentang ini, dari tadi malam sampai pagi ini. Rasanya aku butuh suasana baru, dan tempat baru."


Lily membalikkan posisi duduknya menghadap ke arah Dinar, manik matanya terlihat menelisik ekspresi wajah Dinar.


"Apa ada masalah lain, Din? Apa si bajingan Damar itu kembali menganggumu? Atau apa ada hal yang membuatmu gak nyaman. Jangan-jangan karena si Roy, kau mau out dari sini, huh?" Lily membabi-buta bertanya pada Dinar.


Pasalnya hanya dua hal itu yang kini membuat Dinar merasa risih, mantan tunangan yang kembali mengejar-ngejar Dinar. Kala tahu Dinar sudah berpisah dengan Damar, opsi kedua adalah mantan suami Dinar. Yang tidak ingin melepaskan Dinar, walaupun mereka berdua sudah bercerai.


"Keduanya benar, baik itu Roy maupun Damar. Keduanya begitu menganggu, dan ada satu lagi yang sulit untuk aku omongin saat ini padamu, Lily," jawab Dinar jujur.

__ADS_1


Lily tampak kecewa, wanita manis satu ini menyukai Dinar. Cara kerja Dinar yang cepat, desain gaun yang indah. Mengingat betapa berbakatnya Dinar, apalagi Dinar dan dirinya lumayan dekat. Meskipun tidak sedekat Eva dan Putri, Lily tidak akan bisa mencari partner kerja sehebat Dinar, jikalau wanita ini benar-benar ingin mengundurkan diri.


"Coba pikir-pikir dahu aja, Dinar. Kalau tidak, begini saja. Kau ambil cuti beberapa bulan saja, nanti saat suasananya sudah mulai tenang. Nah, kau balik lagi kerja di sini. Mau itu 3 bulan atau 6 bulan sekalipun, aku akan menunggumu balik bekerja di sini lagi. Yang terpenting kau jangan keluar dari sini," tutur Lily terdengar penuh harap.


Dinar menipiskan bibirnya, perut Dinar lambat-laun akan terlihat. Tidak mungkin untuk bersembunyi terus menerus, apalagi orang-orang tahu ia bercerai dengan Damar. Bisa saja lelaki sialan itu bersikeras untuk rujuk dengan Dinar, dengan dalih anak yang Dinar kandung. Mau Dinar jujur sekali pun, Damar tidak akan berkeberatan untuk menjadi ayah dari anak yang Dinar kandung. Masih melekat dengan jelas di benak Dinar, Damar berkata tidak berkeberatan membesarkan anak dari lelaki lain. Dan Dinar pun harus membesarkan anak dari


Anjani—selingkuhan Damar. Agar mereka impas, Dinar jelas saja menolak mentah-mentah.


"Maaf, Lily. Aku berencana ke luar negeri, bawa Mama untuk terapi kejiwaan di sana. Salah satu Dokter kenalanku pun merekomendasikan rumah sakit yang bagus di luar negeri, karena itu aku harus mengundurkan diri dari sini," papar Dinar menjelaskan situasinya, meskipun tidak secara menyeluruh.


"Mau 1 tahun di luar negeri, Din?" tanya Lily terdengar sedih.


"Untuk beberapa tahun aku tidak tahu, Lily. Yang jelas, sampai aku merasa sudah baik-baik saja. Aku akan kembali ke sini," sahut Dinar, ia menarik kedua sisi bibirnya ke atas.


Lily mendesah berat. "Ya, kalau keputusanmu udah bulat. Aku cuma bisa mendukung keputusanmu, Dinar."


Ujung buku jemari tangan Mark  tampak mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja, walaupun seorang Mark Louis adalah pria gila. Setidaknya ia memiliki kelebihan dalam bekerja, saat Mark duduk di kursi kuasa. Maka ia akan meninggalkan semua keanehan yang biasa melekat pada dirinya,  sorot matanya akan mulai menajam. Kata-kata yang keluar mulai mematikan, tidak ada ampun untuk karyawan yang ia pikir tidak kompeten. Meskipun demikian, bukan berarti Mark akan sewenang-wenang pada karyawan yang bekerja di bawah kepemimpinannya. Apalagi untuk yang berbakat, selalu mendapatkan jabatan dan gaji yang tinggi.


"Itu aneh," gumam Mark, setelah diam untuk beberapa saat. Dahinya kembali berlipat, ada apa dengan dirinya. "Ku rasa aku terus bermimpi basah, dengan wanita yang sama."


TOK! TOK!


Dua ketukan di pintu mengalihkan fokus Mark, ia menegakkan posisi tubuhnya yang sempat bersandar di kursi.


"Masuk!" Mark berseru lantang.

__ADS_1


Pintu kaca terbuka, pria berusia 39 tahun masuk ke dalam ruangan CEO. Berhenti tepat di depan meja, menghadap langsung ke arah Mark.


"Bagaimana?" tanya Mark, tampak tak sabar.


Pamungkas mengeluarkan berkas-berkas yang ia dapatkan, selama 2 mingguan ini ia mencari informasi tentang wanita. Cukup aneh, mengingat sang atasan tidak begitu tertarik pada wanita manapun. Hanya para perempuan yang mengejar-ngejar keturunan generasi ke-5 Louis, membuat sang atasan tidak ambil pusing. Dengan perempuan yang datang dan pergi, mengemis-ngemis cinta. Atau kedudukan pada Mark Louis, menurut Mark sendiri. Tidak suka dengan barang bekas, suka barang berkelas. Jika ia sudah bosan dengan perempuan tengah memanjakan dirinya, maka ia akan membuangnya tanpa harus banyak gaya.


Mark mengeluarkan berkas-berkas yang diberikan. Biodata singkat dari Dinar Aprilia Santoso, wanita yang menghantui mimpi Mark.


"Hanya ini yang bisa didapatkan?" tanya Mark, tanpa harus mengangkat pandangan matanya.


"Nona Dinar tidak memiliki nilai minus selain menjadi seorang janda tanpa anak, apalagi selama perjalanan hidupnya. Terlihat biasa saja, tidak ada masalah apapun. Nona Dinar seorang desainer berbakat, meskipun harus menjadi bawahan dari rivalnya setelah lulus dari universitas. Sempat pula ditawari untuk beasiswa ke luar negeri di beberapa universitas ternama, sayangnya Nona Dinar menolak. Sebab ia beralasan tidak bisa pisah dengan suaminya," papar Pamungkas, menjabarkan dengan singkat, padat, dan jelas.


Mark berdecak kecil. "Berselingkuh, huh," cemoohan Mark, melihat riwayat perceraian Dinar. Penyebab utama keretakan dan perceraian. "Benar-benar wanita yang malang, bagaimana bisa dia memiliki seorang suami yang suka selingkuh," lanjut Mark.


Pamungkas hanya mampu mengulas senyum kecil, agaknya sang atasan lupa dengan dirinya sendiri pemain ulung. Mudah bosan dengan wanita, malah mencemooh lelaki yang satu aliran dengan dirinya.


Bukan berarti Pamungkas akan berterus terang, menyamakan sekte mantan suami Dinar dengan Mark. Mengingat ia masih ingin bekerja di bawah kepemimpinan sang casanova


satu ini.


"Atur jadwal agar aku bisa bertemu dengan Ayah Dinar, aku ingin menikahinya," titah Mark, dengan santai.


Mata Pamungkas langsung terbelalak, rasanya bola mata lelaki berkulit sawon matang itu akan jatuh menggelinding di lantai kantor. Apakah ini tanda-tanda dunia mau kiamat?


Bersambung...

__ADS_1


😁😁Sejenis namun beda rasa, siapa lagi kalau bukan Mark dan Damar 🤣


__ADS_2