Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 40. SYARAT


__ADS_3

Jika memang Damar-mantan suaminya memiliki ****** yang tak sempurna dengan jumlah yang kurang, ini alasan yang sangat tepat mengapa dirinya tidak kunjung hamil. Lima tahun mereka berdua jalani kehidupan berumah tangga, yang selalu dituntut untuk sempurna hanyalah Dinar. Pertanyaan demi pertanyaan menyinggung perasaan Dinar, mulai dari kapan hamil, kenapa belum hamil, apakah tidak memiliki niat untuk punya anak, sampai bisik-bisik lirih jikalau kemungkinan besar Dinar adalah wanita mandul. Paling membuat Dinar terhina adalah disaat Anjani-selingkuhan Damar dinyatakan hamil, hingga Damar bisa merendahkan Dinar.


Nyatanya kesalahan tidak berasal dari Dinar, lantas jika memang Damar tidak subur. Lantas anak siapa yang ada di dalam rahim Anjani? Dinar dibuat bertanya-tanya.


"Ugh... itu bukan lagi urusanmu, Dinar. Jangan membuat diri sendiri pusing oleh hal-hal remeh seperti itu, anggap saja itu karma dari pengkhianat dan kata-kata yang mencemooh dari Damar. Sekarang dia kena batunya," gumam Dinar lirih, tangan Dinar bergerak cepat memijit kecil kedua sisi bahunya.


TOK! TOK!


"Non Dinar! Apakah saya boleh masuk?"


Dinar melongok ke arah pintu kamar yang tertutup, ia hanya mampu menghela napas kasar.


"Ya, silakan masuk!" seru Dinar cukup keras.


Derit pintu terbuka dapat ditangkap dengan jelas oleh indera pendengaran Dinar, wanita paruh baya itu masuk dengan dua orang maid. Kalau boleh jujur, Dinar merasa ia kembali hidup di dunia yang pernah ia tinggalkan. Kehidupan glamor nan full service, di mana saat itu ia masih hidup berbahagia dengan kedua orang tuanya. Kehidupan yang saat itu begitu indah, tanpa Dinar ketahui. Bahwasanya sang ayah tidak pernah mencintai ibunya, di mana sandiwara pernikahan. Serta bermain rumah-rumahan antara sang ayah dan ibunya, semuanya kacau saat ayah dari papanya meninggal dunia.


Saat itulah isi hati Amar tidak lagi terbendung, tidak lagi main kucing-kucingan. Ia memperlihatkan taringnya, belang yang sebenarnya. Amar menikahi Anggun karena hak waris, Anggun kidung cinta pada sang suami. Berakhir mengemis di kaki Amar untuk jangan ditinggalkan, permainan rumah-rumahan itu hancur menjadi debu seketika.


"Non!" tepukan lembut di atas bahu Dinar menyadarkan wanita cantik satu ini jikalau ia terlalu jauh melamun.


"Oh? Ah, iya. Ada apa, Bik?" tanya Dinar yang tampak linglung.


Sumi mengulas senyum lembut pada wanita yang dicintai oleh tuan mudanya, sampai diculik ke mansion yang sudah lama kosong. Menyeret Sumi untuk ikut mengurusi keperluan Dinar, wanita ayu dan sopan satu ini.

__ADS_1


"Bak mandinya dengan air hangatnya sudah selesai, Non Dinar bisa mandi sekarang. Makan malamnya apakah harus di hidangkan sekarang atau sebentar lagi?" Sumi menjelaskan bahwasanya tugasnya sudah selesai, dan bertanya perihal makan malam untuk ibu hamil satu ini.


Dinar menghela napas berat, Dinar terbiasa bergerak sendiri. Tanpa harus dilayani seperti ini lagi, rasanya sedikit asing untuk Dinar lakoni. Hanya duduk dan dilayani oleh orang-orang di dalam mansion, ia hanya bisa nonton televisi atau membaca di perpustakaan dikala kebosanan melanda.


"Tolong hidangkan setelah aku selesai mandi saja, Bik," jawab Dinar, sebelum bangkit dari posisi duduknya.


Sumi mengangguk paham, dan berkata lagi, "Tiga jam lagi akan ada Dokter keluarga Louis yang datang memeriksa keadaan Non Dinar dan janin yang ada di kandungan Non Dinar. Tuan muda meminta Bibik buat ngasih tahu sama, Non."


Dinar mengangguk sekilas, mau bagaimana lagi. Mark bukan lawan yang mudah untuk Dinar bantah, apalagi Mark memiliki barang bukti kuat. Jika anak di rahimnya adalah keturunan keluarga Loius, Dinar hanya bisa pasrah saat ini. Kemungkinan besar akan kembali berbicara dengan Mark perihal keberadaannya saat ini, Dinar tidak suka dikurung seperti ini. Sudah seperti burung di dalam sangkar emas.


...***...


"Mbak Elsa jangan, menatap Dinar kayak gitu. Membuat Dinar risih ditatap seperti itu, Mbak!" Mark memberikan sang kakak peringatan.


Elsa melirik kembali ke arah Mark, dan berdecak kecil. "Jangan mau sama dia, Dinar. Dia memanglah adikku tetapi tabiat dia itu gak banget buat diajak nikah, kamu tenang saja aku mendukungmu. Dia itu bukan tipe suami ideal," ujar Elsa membuat Mark sontak melotot marah.


"Nah, seperti yang terlihat janinnya sehat. Well, dia cukup kasihan punya Ayah kayak kamu, Mark," cemooh Elsa membuat Mark semakin kesal saja.


"Ya, ya, ya, terserah Mbak Elsa saja mau ngomong apa. Yang penting aku adalah ayahnya, itu sudah lebih dari cukup," sahut Mark meraih tangan Dinar.


Elsa berdecak kesal, ia meraih foto 4D yang dicetak. Orang kaya memang berbeda, Elsa merapikan peralatan yang ia bawa, dengan kode tangan dua orang asisten Elsa ikut berbenah. Satu lagi terlihat memindahkan alat USG menuju pintu luar, Mark tidak tahu sang kakak bisa memasang ekspresi serius, selain ekspresi jahil.


"So, kapan kalian akan menikah?" Elsa melirik ke arah Dinar dan Mark secara berganti-gantian.

__ADS_1


"Secepatnya," sahut Mark lebih dahulu. "Kata Mama dan Papa, mungkin setelah anakku lahir. Baju pengantin akan membuat Dinar kesulitan," lanjut Mark, antusias. Tak peduli Dinar setuju atau tidak, ia akan tetap menikahi Dinar.


Dinar mengerutkan alis mata, duduk perlahan dari posisi terlentang. Elsa terkekeh kecil, ia bahkan rela turun tangan untuk mengecek kondisi Dinar, ibunya sempat mengomeli Mark. Mark menjelaskan situasi dan kondisi, mau bagaimana lagi. Baik ibu maupun sang ayah menyerah semua keputusan pada Mark, keduanya agaknya trauma dengan kematian si sulung.


Hingga melepaskan apapun yang diinginkan oleh si bungsu, asalkan si bungsu bahagia. Anak lelaki mereka hanya Mark seorang, tidak ada yang lain. Dua anak perempuan sudah berumah tangga dan bekerja, Mark sama saja seperti sang ayah, keras kepala.


"Oh itu, kamu bayar teamku yang turun. Bayar cast jangan ditransfer, sana bayar!" usir Elsa, mendorong bahu Mark untuk turun dari atas ranjang.


Mark medumel kecil, ia tetap melangkah meninggalkan ruangan kamar yang Dinar tinggali. Kini hanya dua orang perempuan berbeda usia di dalam sana, Elsa yang tampak jahil kala bersama si bontot tanpak begitu dewasa. Ia tersenyum lembut pada Dinar, sedikit-banyak Elsa tahu permasalahan Dinar dan Mark. Lantaran sang ibunda menceritakan apa yang terjadi, entah itu pada Elsa maupun Windi.


"Pasti sulit ya, menghadapi Mark. Dia emang begitu orangnya, keras kepala dan terkesan otoriter. Tetapi meskipun begitu, Mark adalah anak, adik, dan lelaki yang baik. Dia begitu menyayangi Kakak pertama kami, begitu pula sebaliknya. Namun, melihat Mas yang paling ia sayangi sekarat karena wanita. Dia mengambil keputusan gila, walaupun begitu. Mark bukan lelaki yang suka selingkuh sana sini, semua hubungan yang dijalani tidak ada status keterikatan. Kedua orang tua kami pun pusing dibuatnya, saat Mark bilang ingin menikah wanita dengan wajah serius. Mama dan Papa bahagia," tutur Elsa menjelaskan apa yang ia dan keluarganya rasakan pada Dinar.


Dinar hanya diam mendengarkan, menipiskan bibirinya. Secara tak langsung Elsa mengatakan kalau Mark serius terhadap Dinar.


"Kami semuanya dengar bagaimana kehidupan Dinar, pasti sulit untuk mempercayai Mark. Namum, Dinar tidak perlu takut. Mark tidak akan begitu, tidak hanya aku yang menjamin. Tapi semua anggota keluarga kami berani menjaminnya," lanjut Elsa.


Tangan Elsa menggenggam perlahan tangan Dinar, menepuk-nepuk kecil punggung tangan Dinar.


"Aku... selain seorang janda, aku juga memiliki seorang Ibu yang sedang sakit. Aku ingin merawat ibuku secara langsung, selama ini aku tidak bisa membawa ibuku tinggal bersamaku. Karena mantan suamiku tidak pernah setuju, jika Mark, Mbak Elsa, dan keluarga lainnya setuju membawa masuk ibuku tinggal di rumah yang sama denganku. Aku juga akan setuju menerima Mark," tutur Dinar meragu.


Damar sangat tidak suka kalau Dinar membawa Anggun keluar dari RSJ, setiap membicarakan itu. Damar akan langsung kesal, bagi Damar sendiri. Ibu mertuanya itu harusnya tetap di sana, ia tidak ingin tinggal serumah dengan orang gila. Jangankan untuk tahu siapa Damar, Dinar saja anak kandungnya Anggun, tidak diingat sama sekali. Apalagi kalau sakitnya kambuh, Anggun berteriak tak jelas. Dan meraung keras, Damar merasa itu menganggu.


Elsa mengulum senyum. "Itu terlampau mudah untuk dikabulkan, Dinar. Harusnya kamu minta hak saham saja, biar Mark langsung modar, hihi...." Elsa malah cekikikan.

__ADS_1


Dinar terlalu sederhana menurut pengamatan Elsa, Mark sudah pasti akan menyanggupi hal semudah itu. Apa yang salah, orang yang gila pun akan baik-baik saja ketika mereka diperlakukan seperti layaknya manusia biasa dan diberikan cinta.


Bersambung...


__ADS_2