
Amira mengerutkan dahi, ia menyipitkan kedua matanya. Memperhatikan siapa yang baru saja keluar dari ruangan poli kandungan, itu mantan kakak iparnya, bukan? Tepukan di bahu kanan menyentak Amira. Ia menoleh ke samping, mendapati sang suami melirik Amira dengan guratan ekspresi keheranan.
"Kenapa berhenti? Kamu sedang memperhatikan, apa?" Jaka membawa atensinya ke arah depan, mencari tahu apanya yang membuat sang istri mendadak berhenti dan melamun.
Amira membuka mulutnya, lalu kembali terkatub. Ah, mungkin saja Amira salah lihat, tidak mungkin yang dilihat adalah Dinar—mantan kakak iparnya. Apalagi berada di poli kandungan, kakak iparnya sampai akhir pun masih tidak memiliki keturunan. Itu menjadi salah satu senjata oleh sang kakak meninggalkan Dinar, serta membuat Amira bersedih. Ia mendadak berpikir bagaimana jika posisi Dinar adalah dirinya, apakah Damar sang kakak akan tega mendengar suamiku berkata kalau dirinya mandul. Untuk menjadi alasan agar ia bisa meninggalkan Dinar, perceraian Dinar dan Damar cukup memukul Amira. Membuat wanita ini gamang, hingga resah dan gelisah setelah menikah 4 bulan berlalu.
Kepala Amira mengeleng. "Gak, kayaknya tadi aku salah lihat, Jak! Aku pikir kenalanku. Eh, setelah aku lihat dengan saksama beda orang," sahut Amira berdusta.
Jaka mengangguk paham, dan berkata, "Kalau begitu ayo duduk di bangku. Kita berdua harus segera mengantri sebelum namamu dipanggil."
Amira mengangguk perlahan, keduanya kembali melanjutkan langkah kakinya. Kali ini Amira berharap jika telat datang bulan adalah tanda-tanda jikalau dirnya hamil, Amira takut jika tidak bisa memiliki keturunan. Bisa saja Jaka—suaminya ini akan terpikat wanita lain, hingga membuat ia harus berpisah. Amira tidak ingin dan tak sudi berpisah dengan lelaki yang sangat ia cintai ini, bagi Amira sendiri Jaka merupakan dunianya.
***
"Dinar!" seruan cukup keras mengentikan langkah kaki Dinar secara mendadak.
Suara decitan telapak sepatu pantofel hitam mengkilap dengan lantai marmer terdengar jelas, pemuda dengan jas putih kebesaran itu tampak tersenyum lebar mendekat ke arah Dinar. Jackson selalu mengulas senyum lebar untuk Dinar, seakan-akan ia melihat orang yang sangat ia rindukan.
"Oh, Jackson," panggil Dinar kala pemuda itu berdiri di depan Dinar dengan senyum yang tak kunjung luntur.
"Kenapa datang ke sini gak kasih kabar? Tahu begitu aku akan turun lebih awal untuk bertemu denganmu," kata Jackson antusias. "Apakah kamu sudah makan siang? Kalau belum apakah kamu mau makan bareng, aku? Kebetulan aku baru saja selesai dengan jadwalku hari ini," lanjut Jackson, ekspresinya tampak penuh harap.
Dinar menipiskan bibirnya, tangannya terangkat. Manik mata teduh Dinar melirik ke arah arloji yang melekat di pergelangan tangan kirinya, sepertinya tidak akan ada masalah. Toh, dokter yang menangani sang ibu sudah pasti akan makan siang juga. Dinar sudah sempat berkonsultasi perihal membawa ibunya untuk berobat ke luar negeri, dan sang dokter mengatakan untuk memperhatikan beberapa hari ini. Apakah ibunya tetap tenang, untuk bisa di bawa ke tempat asing.
__ADS_1
Kepala Dinar mengangguk sekilas. "Ya, boleh. Kebetulan aku masih menunggu Dokter Wulan selesai jam makan siangnya," balas Dinar menyetujui ajakan Jackson untuk makan bersama.
Jackson menggaruk leher belakangnya, salah tingkah ditatap oleh wanita cantik di depannya ini. Ia terkekeh kecil, tanpa sebab.
"Mau makan di kafetaria atau restoran baru dekat sini?" tawar Jackson pada Dinar.
Lebih jauh lebih baik, bukan? Dengan begitu Jackson bisa lebih lama berbincang-bincang dengan Dinar. Sulit untuk menahan Dinar di sisinya, apalagi wanita satu ini seorang pekerja. Begitu pula dengan Jackson, ia tidak memiliki jadwal yang tetap.
"Kafetaria di lantai bawah sana, biar gak begitu menyulitkan untuk nanti ke gedung sebelah. Itu pun kalau kamu gak keberatan, siapa tahu mau coba makanan di restoran baru yang tadi kamu bilang," jawab Dinar, tersenyum sopan.
Jackson sontak saja mengeleng cepat. "Eh, gak kok. Aku gak keberatan mau makan di mana pun, asalkan sama kamu," ujar tanpa harus merasa sungkan.
Dinar sudah tidak lagi ada yang punya, wanita ini jelas-jelas sudah bercerai dengan dosen brengsek itu. Jackson cukup sakit hati mendengar wanita secantik dan sehebat Dinar diselingkuhi, apalagi mendengar pengorbanan Dinar. Membuat darah lelaki berprofesi sebagai dokter ini, merasa ikut panas.
***
Selena selaku sekretaris Mark Louis membesarkan kedua matanya, melihat deretan rujak di atas meja. Dari berbagai tempat, dang sang bos yang harus meeting 10 menit lagi tampak sibuk mencicipi berbagai rasa rujak. Kadang kepalanya mengeleng, dan mengangguk setelah mengunyah rujak. Mendapatkan buah yang asam dan saus kacang yang enak membuat ia merasa senang, kepala Mark mengangguk. Dan mengeleng kala merasakan rujak yang tak sesuai dengan seleranya.
Apakah perusahaan yang CEO satu ini kelola akan membuat bisnis baru, bisnis rujak misalkan. Kepala Selena mengeleng kecil, ini bukan saatnya berpikir ke sana. Ia harus mengingatkan sang bos, agar tidak terlena dengan makanan di atas meja. Melupakan meeting penting yang akan mereka hadirkan, Selena berdehem beberapa kali.
"Maaf, Pak Presdir!" seru Selena membuka pembicaraan. "Sepuluh menit lagi Pak Presdir harus bersiap-siap untuk menghadiri meeting penting," lanjutnya menjelaskan.
Pergerakan tangan Mark berhenti mendadak, ia mendongak menatap ke arah sang sekertaris. Yang sudah bekerja bersama Mark selama 3 tahun ini, dan perempuan paling sering Mark buat susah. Karena ulah CEO casanova, satu ini.
__ADS_1
"Gak mood, cancel saja meeting kali ini," titah Mark, membuat Selena mengerang kesal.
"Aduh, Pak Presdir. Mereka sudah ada di ruang tunggu, bagaimana kita bisa membatalkan meeting kal—oh, iya, Pak! Saya akan segera mengatur ulang jadwal meeting kali ini. Kalau begitu silakan lanjutkan acara icip-icipnya." Selena mengangguk dan tersenyum paksa, sorot mata tajam Mark seakan ingin menumbalkan manusia.
Selena mundur beberapa langkah ke belakang, Mark kembali sibuk dengan makanannya. Selena mungkin tidak tahu kalau Mark kesulitan dalam mengonsumsi makanan, mood swing, serta begah di pagi hari. Mark merasa kesulitan, beruntung ia tinggal di samping apartemen Dinar. Melihat wajah cantik Dinar membuat mood yang terjun bebas kembali naik tinggi, menggoda wanita itu menjadi obat mujarab untuk Mark.
KLIK!
Pintu kaca terbuka, dan tertutup kembali. Suara derap langkah kaki menggema, Mark masa bodoh dengan orang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Mark! Masa rapat kali ini kok ditunda sih?" Arlo berkacak pinggang berdiri di seberang meja.
"Aku gak mood, Arlo," jawab Mark sekenanya.
"Astaga! Kamu itu Bos, Mark! Perusahaanku butuh membahas masalah projects penting sama kamu. Ini apa-apaan coba? Hanya karena bad mood, kamu membatalkan meeting?" Arlo tak habis pikir. "Oi! Dengar gak, sih? Apalagi yang kamu makan itu, huh! Satu ruangan aromanya menjadi gak sedap," sambung Arlo kesal.
Untung sahabat, kalau tidak sudah Mark buang dari lantai puncak ke bawah. Mendengar cerocos dari Arlo, yang dinilai sangat tak penting.
"S3, dong! Suka, suka, saya," sahut Mark, ekspresi wajahnya pun terlihat Arlo makin dibuat kesal.
Ada apa dengan sang sahabat? Kenapa mendadak aneh begini. Biasanya tidak seperti ini, kalau sudah saatnya berkerja. Maka Mark akan dalam mode on, seriusnya. Kali ini malah berbeda, orang yang tidak pernah mengecap rujak mendadak jadi penggila makanan asam, pedas, manis itu.
Bersambung...
__ADS_1