Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 21. MILIKKU!


__ADS_3

Detik yang terbuang percuma, Dinar yang tertegun untuk beberapa saat. Perempuan itu melebarkan retina matanya kala kecupan kecil di daun telinga Dinar terima dari Mark, dengan cepat telapak tangan Dinar mendorong dada bidang Mark. Membuat tubuh Dinar dan Mark berpisah karena ulahnya sendiri, Mark malah mengulas senyum nakal pada sang perempuan.


Dinar Aprilia Santoso, membuat seorang Mark Louis sangat penasaran. Perempuan yang sudah mengacaukan hari-hari Mark yang seharusnya berjalan dengan mudah. Sayangnya otak Mark terlalu berisik dengan hal-hal yang penuh tanda tanya akan diri Dinar, perempuan di depannya ini membuat Mark harus mengaku kalah. Entah trik apa yang dilakukan oleh Dinar pada Mark, pria yang membanggakan dirinya pemain ulung, malah yang bertekuk lutut pada Dinar. Perempuan dengan pandangan mata datar itu, seolah tidak ada ketertarikan di kedua mata Dinar untuk seorang Mark Louis.


"Aku sudah membelikan baju yang sama dan ganti rugi untuk Anda Tuan," ucap Dinar dengan nada datar. "Lalu apalagi yang menjadi permasalahan hingga Tuan Mark kembali harus menemuiku? Aku merasa tak ada yang harus kita bicarakan lagi."


"Wow! Wow! Wow! Jangan sedingin itu Nona cantik. Bukankah kemarin sudah aku katakan, jangan terlalu formal padaku. Panggil aku senyaman dirimu saja, mungkin bisa dimulai dengan panggilan 'Sayang' sebelum ki—"


"Jangan mengada-ada, Tuan! Aku tidak menginginkan hubungan apapun," potong Dinar dengan cepat.


Berbeda dengan Dinar yang mulai merasa muak dengan Mark, mungkin benar jika Mark adalah pria nakal idaman para wanita. Senyum miring yang menggairahkan, menarik perhatian wanita mana pun terhadap Mark. Terkecuali untuk Dinar, wanita hamil ini sama sekali tak memiliki ketertarikan pada pria di depannya ini. Dinar mengembuskan napas kasar, melihat ekspresi acuh dari Mark. Yang seakan masa bodoh dengan penolakan dari Dinar, bagi Mark kembali bisa bertemu dengan Dinar adalah hal yang sangat menyenangkan.


Ekspresi wajah datar itu bukan malah membuat Mark merasa kesal, pemuda gagah ini malah merasa tertantang untuk bisa menaklukkan hati Dinar. Semakin garang perempuan cantik ini, maka semakin menarik di mata Mark. Beginilah wanita yang membuat Mark bergairah, pemuda ini akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan hati Dinar. Tidak peduli bagaimana serta apa yang harus Mark korbankan untuk mendapatkan Dinar. Di mata Mark apapun itu, terasa setara bagi Mark. Selagi wanita yang dikejar adalah Dinar Aprillia Santoso, Mark akan melakukan semuanya.


Dinar merubah tatapan mata datarnya menjadi tajam, ingin membuat pria gagah ini menjadi takut. Malah sebaliknya, Mark semakin gemas saja pada ibu hamil satu ini.


"Malah cengar-cengir, gak ada otak memang," dumel Dinar dengan nada kesal.


Kedua tangan Mark terangkat tinggi ke atas, namun senyum nakal di ulas oleh bibir merah merekah itu. Menyerah atau mungkin berpura-pura menyerah pada Dinar, Dinar mengerucutkan bibirnya. Saking kesalnya dengan Mark tapi, pemuda itu malah terkekeh bahagia. Dinar membalikkan tubuhnya membelakangi Mark, masih dengan ekspresi tak suka.


"Ih, rasanya ingin aku kecup sampai kehabisan napas," gumam Mark dengan intonasi nada rendah.


Sontak saja Dinar menoleh ke belakang karena mendengar gumaman nyeleneh dari Mark, kedua manik mata bulat itu melotot ke arah Mark. Mark yang tadinya menurunkan kedua tangannya kini kembali menaikkan kedua tangannya ke atas, pertanda menyerah pada Dinar.


"Cih," decak Dinar kesal sebelum membelakangi Mark kembali.


Mark semakin tersenyum lebar, kedua tangan Mark diturunkan perlahan. Mark tidak boleh terlalu agresif mendekati Dinar, agar perempuan cantik di depannya ini tidak semakin menjaga jarak di antara mereka berdua. Mark melirik jari jemari lentik tangan Dinar, mencari cincin yang kemungkinan besar masih melingkar di jari manis sang perempuan. Sayangnya selama kedua manik mata Mark yang terlihat mengamati jari jemari Dinar, tak ditemui benda bundar yang melingkari jari manis sang wanita.


"Jangan menatapku seperti itu, kalau tidak mau matamu aku congkel keluar," ancam Dinar mengejutkan Mark.


Ternyata wanita cantik ini sadar tengah di perhatikan dengan saksama dari belakang oleh Mark, keduanya saling adu tatap melalui pantulan pintu lift yang masih tertutup. Dinar dengan pandangan tajam sedangkan Mark dengan pandangan penuh cinta untuk Dinar, perempuan itu terlihat risih dipandang oleh pria di belakangnya.


"Gemas, deh!" seru Mark membuat Dinar mengerutkan dahinya kesal.


Suara bas terkekeh rendah, mengalun dengan sangat jelas. Padahal baru tadi perasaan Dinar sangat marah, terbakar karena ibu tirinya. Entah kemana perginya rasa amarah karena ibu tirinya tadi, Dinar merasa rasa marah berubah menjadi kesal karena Mark.


"Apakah kamu sudah cerai?" tanya Mark blakblakan pada Dinar.


"Bukan urusanmu," sahut Dinar dengan intonasi nada datar.


"Kalau melihat dari tidak adanya cincin nikah, berarti sudah cerai. Dan kalau sudah cerai, aku pasti ada kesempatan untuk aku bisa maju, kan?" tanya Mark dengan semangat empat lima.


Kedua bola mata Dinar berotasi malas, mendengar analisa Mark akan status Dinar saat ini. Dinar sontak menyatu kedua jari jemarinya, menyembunyikan tangannya dari pandangan Mark. Mark mengulas senyum kecil untuk Dinar, meskipun paham Dinar tidak lagi menatapnya.


"Butuh tempat pelampiasan tidak?" tanya Mark dengan nada aneh. "Kalau butuh, kamu bisa mendatangi diriku. Kamu pasti tidak lupa di mana alamatku, bahkan nomor teleponku. Kapan pun kamu butuh tempat untuk bersandar aku akan menjadi tempat bersandar untuk dirimu," lanjut Mark membuat Dinar menghembuskan napas kasar.


Sebelum perempuan cantik itu membalikkan tubuhnya ke arah Mark, dengan tatapan mata berubah tegas. Bukan lagi pandangan mata tajam yang tadinya sempat Dinar perlihatkan pada Mark, membuat Mark mendadak kaku saat kedua manik mata mereka berbenturan.


"Jangan menyentuh sesuatu yang sudah rapuh! Karena selembut apapun Anda memberikan sentuhan. Benda itu akan mundah untuk hancur," papar Dinar dengan nada serius. "Aku paham Anda mungkin penasaran kepadaku. Karena aku terlihat berbeda dari perempuan yang Anda temui, karena semua perempuan yang mendekati Anda adalah perempuan yang mengagumi diri Anda. Tapi, tidak begitu dengan aku. Aku bukan perempuan yang menginginkan tempat pelampiasan atau apalah namanya itu, aku bukan manusia yang menginginkan hal serendah itu. Kalau Anda memiliki banyak waktu dan ingin bermain-main, ada baiknya cari orang lain. Bukan diriku."


Bibir Mark terbuka lebar, belum sempat Mark memberikan jawab denting suara lift berhenti dan terbuka. Dinar membalikkan tubuhnya, membelakangi Mark. Sebelum melangkah pergi meninggalkan Mark yang mematung di dalam lift sendirian. Pemuda itu bisa saja syok dengan jawaban yang Dinar berikan, langkah kaki Dinar terlihat semakin pasti. Melangkah menuju pintar keluar di lobi hotel mahal itu, Dinar tidak suka ada yang bermain-main dengan dirinya.


***


Damar kembali mengerang kasar, tidak keluarganya tidak pula Anjani. Kenapa keduanya mulai menyusahkan Damar? Kalau kemarin sang ibu yang merengek meminta Damar untuk melunasi hutang resepsi pernikahan sang adik. Maka sekarang malah Anjani yang datang meminta uang pada Damar, tidak masalah kalau perempuan hamil ini meminta uang untuk melunasi pengambil ijazah SMA Anjani mungkin Damar tidak masalah. Tapi, ini malah minta uang untuk membangun rumah pondok reyot kedua orang tua Anjani.


"Aku tidak ada uang segitu, Anjani," bantah Damar dengan nada kesal.


Anjani merenggut, mendengar bantahan Damar. Bagaimana Damar tidak punya uang? Anjani tidak percaya, sang kekasih adalah seorang dosen di universitas ternama di Indonesia. Tentu saja Anjani membayangkan seberapa banyak uang yang Damar miliki, apalagi kemarin adik kandung Damar menggelar resepsi pernikahan besar-besaran. Lalu tiba-tiba Damar bilang tidak ada uang? Hanya dua puluh juta saja tidak ada.

__ADS_1


"Masa gak ada sih, Mas?" tanya Anjani. "Kemarin-kemarin rasanya Mas Damar tidak pernah mempermasalahkan uang pasti masih sama Mbak Dinar. Tapi, kok sama aku malah begini."


"Saat itu aku dan Dinar sama-sama bekerja, gaji Dinar yang lebih besar dari pada gajiku. Semua kebutuhan rumah tangga Dinar yang penuhi, bahkan hutang orang tuaku juga Dinar yang bayar. Sedangkan sekarang aku sudah cerai dengan Dinar, mana ada aku uang sebanyak itu Anjani," sahut Damar menjelaskan.


Anjani untuk beberapa saat tercekat, selama ini saat mereka berhubungan. Damar terus menerus memenuhi kebutuhan Anjani, dari kebutuhan perawatan diri. Sampai memberikan uang belanja untuk kebutuhan keluarga Anjani, lalu saat ini semuanya mulai berubah. Dulu Damar berjanji mau membelikan rumah baru untuk kedua orang tua Anjani, lalu membatu sekolah adik-adik Anjani. Lalu sekarang apa? Kenapa Damar malah seakan ingin lepas tangan.


Fakta baru yang ditemui oleh Anjani membuat perempuan belia ini merasa syok, selama ini Damar memakai uang mantan istrinya. Untuk memenuhi kebutuhan Anjani, bahkan menyenangkan keluarga besar Anjani.


"Bukannya gaji Mas Damar itu gede?" tanya Anjani dengan nada lantang.


"Iya, gede. Kalau cuma untuk menghidupi dirimu dan aku. Bukan untuk menghidupi keluargamu juga, mana sanggup aku, Anjani," balas Damar dengan ekspresi meminta pengertian.


"Tapi, aku tadi sudah bilang kalau Mas Damar pasti masih uang. Mereka pasti merasa sedih Mas, apalagi tukang bangunan sudah dipanggil sama Ibu," ucap Anjani dengan nada gusar.


Bayangkan saja ibu dan ayah Anjani sudah memanggil tukang bangunan, serta memesan barang-barang yang dibutuhkan. Separuh barang bangunan yang dibutuhkan sudah ada di depan rumah, baru dibayar separuh oleh orang tua Anjani. Dari pada Damar membelikan rumah untuk kedua orang tua Anjani, mereka berinisiatif untuk merehab rumah kecil itu. Agar lebih menghemat pengeluaran biaya, malah yang terjadi tidak sesuai.


"Masih bisa dibatalkan, kok, Anjani. Jangan medesakku seperti ini. Aku saat ini pusing sekali, kenapa kalian semua seperti ini kepadaku? Aku ini bukan bank berjalan. Yang dengan mudah mengeluarkan uang untuk kalian semua," marah Damar.


Pemuda itu bersuara lantang, sembari bangkit dari posisi duduknya di sofa. Anjani terperanjat mendengar suara keras dari Damar, membuat kedua mata Anjani berkaca-kaca. Nangis! Kenapa wanita suka sekali mengeluarkan air mata. Damar mendadak muak dengan wanita hamil di depannya ini, Damar berdiri dengan berkacak pinggang. Kesal sekali Damar dengan semua orang, tidak ada satu pun yang beres setelah Damar bertengkar dengan Dinar.


Mulai dari keuangan yang mulai menipis, keluarganya yang terus menerus menyusahkan Damar, malah diperparah oleh Anjani. Niat awalnya ingin mengirim Anjani ke luar kota, malau gagal. Pada akhirnya Damar tetap saja bercerai dengan Dinar, pada saat hatinya mulai berubah arah. Damar sadari saat ini, Dinar adalah perempuan yang tepat untuk Damar.


Selama ini Damar dan Dinar berumah tangga, mereka tidak pernah ribut soal uang. Dinar adalah istri yang mandiri, pandai dalam mengelola keuangan. Meskipun kadang Damar tak lagi menyerahkan uang nafkah kepada Dinar, tidak pernah Damar temui kulkas di dalam rumah kosong. Selalu ada buah-buahan yang tersedia, dan masakan sederhana namun enak terhidang di atas meja.


Sebanyak apapun Damar mengulurkan uang ke arah Dinar, perempuan itu tidak pernah mengeluh sedikit pun. Dinar akan membatu keuangan mereka, tanpa keluhan. Bahkan saat ini baru Damar sadari keluarganya juga ikut menyusahkan Dinar, ibunya yang selalu minta uang pada Dinar. Anehnya sekali pun Damar tidak pernah mendengar aduan dari bibir Dinar yang meminta Damar menegur keluarganya, yang selalu minta uang.


"Ah, sialan!" seru Damar memaki kesal.


Sebelum kedua telapak tangan besar Damar mengusap kasar wajah gagahnya, mendengar tangisan Anjani semakin keras saja. Damar menghela napas kasar, melirik ke arah Anjani.


"Pulanglah," usir Damar dengan nada pelan. "Besok akan aku usahakan uangnya, sekarang pulanglah dahulu. Kepalaku terasa akan pecah kalau terus mendengar suara tangismu itu. Dan kau harus ingat kau saat ini sedang hamil Anjani. Aku tidak ingin anakku di dalam perutmu kenapa-napa," lanjut Damar bersuara.


"Baiklah, aku paham Mas Damar tidak lagi merasa berhasrat padaku. Karena aku tidak lagi terlihat cantik di mata Mas Damar, yang Mas Damar pikirkan hanya anak di dalam kandunganku ini. Bukan aku," ucap Anjani mendapat tatapan kesal dari Damar. "Mas Damar tenang saja anak Mas akan baik-baik saja. Kalau itu yang Mas khawatirkan, aku mungkin bukan perempuan yang sehebat Mbak Dinar. Sampai Mas Damar mulai menganggap rendah aku."


Dahi Damar langsung berlipat dalam mendengarkan perkataan Anjani yang aneh, apa yang sebenarnya Anjani pikirkan? Perkataan Anjani mulai terdengar aneh di telinga Damar. Perempuan itu meraih tas kecil di sofa, sebelum melangkah keluar tanpa pamit. Merajuk, itulah yang terjadi pada Anjani. Anjani melewati tubuh Damar begitu saja tanpa sepatah kata pun, Damar semakin pening saja melihatnya.


"Hah! Inilah yang terjadi kalau aku malah berhubungan dengan perempuan yang masih labil. Dikit-dikit merajuk," sesal Damar menyalahkan dirinya sendiri. "Dinar! Aku berharap kau akan kembali mau menerimaku. Sekarang aku sadari tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di hidupku."


***


Dinar merasakan bagaimana pandangan mata Lily yang melirik ke arahnya, sang atasan kembali memanggil Dinar masuk dan duduk di sofa. Keduanya duduk saling berhadap-hadapan, dengan dua cangkir teh hangat di atas meja. Lily mengembuskan napas kasar, sebelum merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kau sudah dapat kabar apa yang terjadi padaku dan Roy, bukan?" tanya Lily dengan nada gusar.


Dinar menganggukkan kepalanya, tabloid baru saja dikirim tadi masuk ke dalam butik menjelaskan segalanya. Namun, Dinar tak ambil pusing dengan apa yang sedang diberitakan di dalam tabloid. Semuanya sudah berlalu bagi Dinar, hubungan dengan Roy pun sama. Dinar tidak pernah menaruh hati pada Roy, meskipun status mereka saat itu adalah tunangan.


"Aku rasa tidak ada sangkut pautnya dengan aku, Lily," jawab Dinar terdengar informal.


Lantaran Lily yang terlebih dahulu membicarakan masalah pribadi, bukan tentang pekerjaan. Lily berdecak sebal melihat ekspresi biasa Dinar, dan nada suara yang sama sekali tidak terdengar masalah.


"Kau dan dia, kalian pernah bersama. Meskipun harus kandas karena keluarga mereka membatalkan pertunangan sepihak, malah membuat Roy harus ke luar negeri," ucap Lily pelan. "Aku tidak ingin memiliki hubungan seperti ini, aku ingin hidup dengan bebas tanpa ikatan pernikahan. Tapi, keluargaku mengira kalau aku ini pencinta sesama jenis. Bukankah itu gila? Aku ini masih normal. Hanya saja keadaan yang rasa tak percaya pada sebuah hubungan pernikahan membuat aku seperti ini. Hanya ingin terus fokus pada karir dan bersenang-senang, kalau boleh jujur. Aku berharap kau membantuku aku untuk menggagalkan pernikahan aku dengan Roy," lanjut Lily berterus terang pada Dinar.


******* letih mengalun dari bibir Dinar, apa yang membuat Lily bisa seperti ini Dinar sangat paham. Meskipun begitu Lily tidak bisa selamanya membantah keinginan keluarganya, apalagi keluarga Roy bukakan lah keluarga biasa saja. Mereka dari keluarga terpandang, wajar saja keluarga Lily menginginkan juga pernikahan ini terlaksanakan.


"Kenapa kau tidak mencoba saja? Dia cukup baik untuk dijadikan seorang suami," balas Dinar dengan nada serius.


"Jangan gila, deh, Dinar," sembur Lily kesal. "Aku sungguh tidak ingin menikah dengan pria manapun. Terutama pernikahan bisnis yang seperti ini, aku sangat tidak suka."


"Pantas saja mereka berpikir kau tidak waras, Lilu."

__ADS_1


"Hei! Kau juga kenapa ikut-ikutan mengatai aku tak waras?"


"Semua wanita menginginkan pernikahan, walaupun terkadang jika dipikir itu sangat menyeramkan. Tidak ingin menikah atau belum siap menikah itu dua perkara yang jauh berada, kawan!"


"Aku termasuk pada orang-orang yang tidak ingin menikah, bukan tidak siap menikah."


"Tidak semua lelaki seperti ayahmu dan papaku, Lily."


"Kau sendiri bagaimana? Kau masih mau atau masih memiliki keinginan untuk menikah, ha?" tanya Lily menggebu-gebu.


Kedua sisi bahu Dinar terangkat tinggi, saat ini Dinar tidak memiliki keinginan menikah. Dinar ingin membesarkan sang janin dengan baik, dan memberikan kehidupan yang bahagia untuk anaknya. Terlepas dari sebuah keluarga yang utuh, Dinar akan menjadi singel mother untuk sang anak. Toh, mereka berdua saja sudah menjadi sumber kebahagiaan satu sama lain.


"Aku tidak berniat untuk menikah lagi, Lily," jawab Dinar terdengar sangat tegas di telinga Lili.


"See! Kau sendiri saja tidak ingin menikah lagi. Lalu kenapa kau sebegitu teganya memojokkan aku, untuk segera menikah dengan Roy. Pria bodoh yang tidak bisa melawan keinginan orang tuanya, tidaklah kau melihat bagaimana cara dia menatap dirimu. Dia masih memiliki hati padamu, akan tetapi tidak bisa menentang kedua orang tuanya. Bisa saja saat ibunya bilang untuk menceraikan aku, maka dia akan menceraikan aku," ucap Lily menggebu-gebu.


Dinar terkekeh renyah, mendapatkan pandangan tak mengerti dari Lily.


"Hei! Kenapa kau tertawa?" Lily bertanya dengan ekspresi kesal.


Dinar mengangkat kedua tangannya ke atas pertanda menyerah, ia mengulum senyum di bibirnya. Ikut menyandarkan tubuhnya di sofa empuk di ruangan Lily, berasal dari keluarga kaya raya. Dan memiliki story yang sama dengan Lily, setidaknya Dinar paham dengan perasaan trauma Lily. Perempuan di depannya ini hanya belum menemukan pria yang menawarkan rasa yakin pada Lily, membuat Lily bersedia membuka hati untuk sebuah hubungan pernikahan.


"Kau tidak mau punya anak?" tanya Dinar terdengar tiba-tiba di telinga Lily.


Bahkan ekspresi terkejut yang tergambar begitu jelas di wajah Lily, bukan, kah Dinar sangat tidak suka kala berbicara perihal keturunan. Sangat aneh di pendengaran Lily, karena Dinar terlebih dahulu membuka pertanyaan tentang keturunan.


"I—iya, tentu saja aku mau. Hei! Ada banyak cara di dunia ini untuk bisa memiliki garis keturunan. Di luar negeri kita bisa membeli sel ****** dengan sangat mudah. Lalu kenapa harus menikah untuk bisa punya anak? Kau bahkan bisa memilih pria seperti apa Ayah untuk janin yang kau kandung. Aku tidak ingin pusing-pusing, Dinar. Ada cara yang mudah kenapa harus menempuh kehidupan yang melelahkan," sahut Lily tergagap di awal kata.


Dinar mengulum senyum di bibirnya, setrauma itu Lily pada pernikahan. Dinar mengangguk paham, sebelum telapak tangan Dinar mengusap perutnya yang masih datar. Sembari melihat ke arah Lily yang ternyata memperhatikan wajah Dinar dengan saksama, tak lupa wanita itu melirik kegiatan tangan Dinar yang mengusap perut datar.


"Hei! Baru saja ada pemikiran yang aneh melintas di otakku, Din!" seru Lili dengan nada aneh. "Kenapa aku tiba-tiba berpikir kalau kau sedang hamil?"


Dinar untuk beberapa saat terkejut, sebelum mengulas senyum lebar untuk Lily. Kepala Dinar mengangguk kecil, dan menatap tepat di kedua iris mata Lili yang mulai membesar.


"Pemikiran anehmu itu benar, aku tengah hamil empat mingguan, Lily. Dan kau adalah orang kedua yang tahu dengan kalau aku sedang berbadan dua," ujar Dinar sebelum Dinar harus menggatub cepat kedua daun telinganya.


Lantaran Lily malau meloncat turun dari atas sofa, terpekik keras sebelum berlari mendekati Dinar dengan heboh.


***


Pintu apartemen tertutup kembali, kala tubuh Dinar malah di tarik kebelakang oleh sosok bertubuh atletis itu. Membuat Dinar terkejut mendapati keberadaan pria yang dua hari lalu ditemui, malah mencekal pergelangan tangannya.


"Dua puluh menit saja!" seru Roy dengan ekspresi memelas pada Dinar.


Cekalan di pergelangan tangan Dinar mengerat, Dinar menghembuskan napas kasar. Sebelum membawa atensinya ke arah tangan Roy yang mencekal pergelangan tangan Dinar.


"Lepaskan dahulu tanganku, kita bicara tanpa harus kau mencekal tanganku seperti ini," titah Dinar pada Roy.


Roy menatap Dinar dengan pandangan takut, seakan kalau pergelangan tangan Dinar dilepaskan maka Dinar akan kabur dari Roy begitu saja.


"Kau sudah tahu tempat kerjaku dan tahu tempat tinggalku, karena itu lepaskan. Waktu dua puluh menit yang kau tawarkan terus berjalan," lanjut Dinar meminta Roy melepaskan tangannya.


Roy mengangguk perlahan, lepas dari cekalan Roy. Dinar harus dikejutkan dengan tarikan dari belakang, hingga tubuhnya menabrak dada bidang pria di belakang tubuh Dinar. Astaga! Apalagi ini?


"Pria brengsek mana yang berani menyentuh perempuanku," maki pria dengan lantang menatap tajam ke arah Roy.


Roy menatap pria di belakang Dinar dengan ekspresi penuh permusuhan, sedangkan Dinar malah berdecak kesal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2