Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 16. LAJANG UNTUK MALAM INI


__ADS_3

Bunyi pintu apartemen ditutup dengan kasar, sang pemuda gagah itu terlihat terburu-buru masuk ke dalam apartemen mewah itu. Menarik tangan sang wanita cantik yang membuat seorang casanova seperti Mark malah begitu terburu-buru nafsu karena digoda oleh Dinar, gelak tawa Dinar mengalun. Kala tubuhnya diseret tergesa-gesa mendekati sofa, sebelum tubuh Dinar jatuh di atas permukaan Sofa.


Kedua tangan Dinar langsung dikalungkan ke leher Mark, dengan pandangan mata sayu. Perempuan cantik ini mabuk berat, kehilangan kewarasannya dan ini membuat Mark semakin senang.


"Eetts! Jangan main cium dulu." Dinar dengan cepat memblokir pergerakan bibir Mark dengan jari telunjuknya.


Jari jemari tangan kanan Dinar menyentuh bibir merah seksi milik Mark. Dengan senyum menyeringai, Mark malah memberikan kecupan bibir pada jari jemari telunjuk tangan Dinar. Sebelum menyingkirkan tangan Dinar dari bibirnya, Dinar terkekeh geli melihat tingkah pria gagah di atasnya ini.


"Apa yang harus aku lakukan, agar bisa mengecup bibirmu? Dan bertarung dengan lidahmu?" tanya Mark dengan nada serak memberat.


Dinar dapat mencium aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuh Mark, yang pasti bukanlah parfum murahan yang bisa orang pakai. Pemuda ini sudah pasti bukan sembarang orang, Dinar menarik kedua sudut bibirnya tinggi. Senyum konyol yang terlihat tercetak di sana, Dinar kembali mengalungkan tangannya yang ke leher Mark.


"Apakah Tuan Mark sudah memiliki seorang istri?" tanya Dinar dengan nada serak.


Kerutan di dahi Mark langsung terlihat, istri? Rasanya pertanyaan aneh yang Mark dengar. Mark tak pernah berpikir ke arah sana, bagi Mark kebebasan dalam hidup adalah menjauh dari kubangan neraka itu. Di mana pergerakan dibatas sepenuhnya dan hanya harus hidup dengan seorang wanita sampai tutup usia. Tidak! Mark Louis tak suka hidup seperti itu, bagi Mark kehidupan yang seperti itu tidak menyenangkan. Mark ingin hidup dengan bebas tanpa harus terbelenggu ikatan pernikahan.


"Apakah kau melihat ada cincin yang melingkar di jari jemariku ini, Hem?" Mark mengangkat tangan kanannya.


"Tidak," sahut Dinar dengan pandangan menatap ke arah jari jemari panjang milik Mark. "Meskipun begitu, bukan berarti pria seperti Tuan Mark tidak memiliki kekasih."


Mark terkekeh dengan intonasi nada rendah, dan berkata, "Aku tak memiliki minat pada hubungan seperti itu Dinar, cantik. Bagiku pernikahan itu adalah belenggu dan begitu pula dengan kekasih. Karena itu lah aku tidak ingin keduanya, selagi aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan dan apa yang aku butuhkan."


Dinar tersenyum konyol mendengarnya, meskipun Dinar tidak lagi berpikir dengan benar. Setidaknya wanita ini masih tertanam di alam bawah sadarnya, jikalau dirinya tak boleh memiliki hubungan dengan pria yang sudah menikah atau memiliki kekasih. Karena Dinar tak ingin menjadi seorang yang menghancurkan kehidupan perempuan lain, Dinar sangat mengerti rasanya dihancurkan oleh perempuan lainnya.


"Lalu kamu bagaimana?" tanya balik Mark pada Dinar.

__ADS_1


Dinar menatap intens wajah gagah Mark, membuat dada pria itu bergemuruh. Kala pandangan mata berbenturan, menyelam sebegitu dalamnya. Terlihat ada luka di dalam kedua manik mata jernih milik Dinar, perempuan di bawah tindihan Mark, apa yang membuat Dinar menyimpan rasa sakit seperti itu.


"Aku? Aku seorang janda, Tuan. Dalam hitungan beberapa bulan lagi. Mungkin palu belum diketuk, namun secara agama, aku dan dia bukan lagi suami-istri," jawab Dinar dengan nada getir. "Apakah Tuan kehilangan minat padaku?" tanya Dinar dengan blakblakan.


Untuk beberapa saat Mark membeku, sebelum sebelah bibirnya terangkat tinggi setelahnya. "Mari malam ini kita anggap kalau, perempuan secantikmu adalah perempuan lajang."


Mark merendahkan tubuhnya, sebelum bibir merah Dinar disentuh. Kedua mata Dinar langsung tertutup perlahan, kala ia merasakan bagaimana pagutan bibir Mark menyentuh bibirnya. Mengulum bilah bibir bawah Dinar, Dinar membuka mulutnya kala lidah Mark menelusup masuk. Erangan tertahan terdengar samar, pergulatan bibir Mark yang begitu ahli membuat Dinar kewalahan.


Lelehan saliva turun di sisi pipi Dinar, embusan napas Dinar memburu. Kala bibir Dinar dilepas, kecupan bibir Mark turun ke perpotongan leher jenjang Dinar. Kedua tangan yang awalnya dikalungkan oleh Dinar di leher Mark, kini berpindah ke arah kedua sisi baju kemeja sang pria.


Meremas kasar kemeja Mark, kala sesaapan panjang di leher Dinar membuat bibir merah merekah itu terbuka. Decakan terdengar semakin memanas, kala tangan Dinar bergerak membuka kancing baju Mark satu persatu, Mark membenamkan wajahnya di ceruk wajah Dinar.


***


"Kok, diundur? Apakah kamu dan Pak Dosen bertengkar, Anjani?" tanya sang ibu dengan banyaknya pertanyaan. "Kamu tahu, kan bagaimana kondisi keluarga kita? Ibu dan Bapak tidak bisa menyekolahkan kamu. Apalagi ada adik-adikmu yang membutuhkan banyak biaya untuk makan dan sekolah, Anjani. Kalau ada hal yang terjadi di antara kamu dan Pak Dosen. Mengalah saja Anjani, keluarga kita butuh dia."


"Apa yang dikatakan oleh ibumu itu benar, Anjani. Bukannya Bapak dan Ibu tidak paham dengan dunia pacaran yang ada pasang surutnya. Tetapi yang kami takutkan kalau Pak Dosen jenuh padamu," timpal sang ayah membuat wajah Anjani semakin pucat saja.


Apakah benar kalau sang kekasih mulai jenuh pada dirinya? Apakah karena apa yang sudah Anjani berikan pada Damar. Anjani memberikan tubuhnya pada Damar, dengan janji akan segera dinikahi oleh Damar. Dan Damar akan menceraikan istrinya, tapi yang terjadi saat ini malah sebaliknya. Damar malah bersikeras untuk mempertahankan hubungan dengan istrinya, padahal kondisi Anjani saat ini berbadan dua.


Kepala Anjani langsung mengeleng cepat, dan berkata, "Tidak mungkin, Pak! Bu! Mas Damar sampai kapan pun tak akan bisa melepaskan aku. Selama ada... pokoknya. Mas Damar akan terus mencintai aku, dan kami tidak pernah bertengkar sama sekali tak pernah. Jadi Bapak dan Ibu, jangan khawatir."


Embusan napas lega serentak terdengar dari suami-istri itu, sebelum mereka berdua mendekati diri mereka ke arah Anjani. Kepala Lasmi menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa rumah gubuk itu sepi. Tidak ada adik-adik Anjani, dan tidak pula ada tetangga yang lewat.


"Anjani! Pikat dia dengan cara lain," ucap Lasmi dengan nada pelan. "Bawa dia di atas ranjangmu, kalau bisa kamu harus hamil anaknya Pak Dosen. Sampai dia tidak bisa melepaskan kamu dan akan segera menikah dengan dirimu."

__ADS_1


"Ya, apa yang diusulkan oleh ibumu benar, Nak. Dengan begitu dia tidak akan bisa lepas dari tanggung jawab. Baik sebagai kekasih mau pun Ayah dari anak kalian," sahut Edi menyetujui saran sesat dari sang istri.


Demi bisa hidup nyaman dan enak, mereka berdua tak segan menghasut anak mereka untuk melakukan hal yang tak senonoh di usia belia. Anjani tercekat, di dalam rahim Anjani ada anak Damar. Tapi pria itu malah tak bertanggung jawab, malah meminta Anjani untuk pergi dari Jakarta. Mencari tempat di luar kota, agar bisa melahirkan anak mereka berdua. Alih-alih menikahi Anjani, dada Anjani terasa sakit.


"A—aku, tahu. Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa, Pak! Bu!" seru Anjani dengan nada lirih.


Dengan tangan mengusap perlahan perut datarnya, berharap Anjani bisa memaksa Damar untuk menikah dengan dirinya. Apapun yang terjadi, Anjani harus membuat Damar batal membuangnya dan sang janin keluar kota.


***


"Eeuggh," lenguh Dinar dengan intonasi nada rendah.


Kala sebelum disusul oleh kedua kelopak mata Dinar terbuka perlahan, kembali kelopak mata Dinar tertutup perlahan. Kala pencahayaan yang menyerbu retina mata Dinar, membuat sang empunya mengerang kesal karena sinar mentari.


"Berat," keluh Dinar saat merasa ada belitan di pinggangnya. "Ck! Kepalaku pusing."


Dinar membuka kedua matanya dengan perlahan-lahan, sebelum retina mata Dinar menyesuaikan pencahayaan yang masuk.  Kenapa kamar yang Dinar tempati bernuansa abu-abu dipadupadankan dengan warna putih, rasanya kamar yang beberapa minggu terakhir tidak seperti ini. Usapan di perut datar Dinar membuat kedua mata Dinar yang tadinya menyipit, kini terbuka semakin lebar.


Dengan cepat Dinar membalikkan tubuhnya, wajah bantal Mark dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun di samping tubuhnya membuat Dinar syok.


KYA!


Suara teriakan melambung dari bibir Dinar, membuat Mark mau tak mau melambung bangkit dari alam bawah sadar.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2