
Senyum segaris terlihat setelah dua orang pelanggan keluar dari butik yang ia kelola. Tepukan di bahu kanan Dinar, membuat wanita itu menoleh ke samping. Perempuan berambut sebahu itu tersenyum ke arah Dinar.
"Aku perhatikan setiap selesai pelanggan kita pulang, kamu pasti terlihat senang banget. Sudah lama aku ingin bertanya alasan wajahmu terlihat bahagia," ucapnya dengan nada penasaran.
"Aku suka sekali dengan melihat orang-orang yang ingin menikah," jawab Dinar pelan. "Daripada melihat wajah suram saat pasangan keluar dari gedung pengadilan," lanjut Dinar melirih.
Kepala Putri mengangguk kecil, Putri mengerti apa maksud perkataan Dinar. Sahabatnya satu ini, berasal dari keluarga yang gagal dalam mahligai rumah tangga. Ayah Dinar selingkuh dengan adik sepupu ibunya sendiri, membuat ibu Dinar depresi, hingga memutuskan meninggalkan Dinar dengan sepucuk surat. Perpisahan tanpa janji manis, dan pelukan. Usapan di bahu Dinar terasa.
"Aku tidak apa-apa, kok," ucap Dinar tahu jika Putri mengkhawatirkan dirinya.
Putri menurunkan telapak tangannya dari bahu Dinar, Menarik sang sahabat duduk di belakang kursi di depan ruangan tunggu.
"Oh, iya. Kamu udah bilang ke Mas Damar kalau mau ambil program kehamilan?"
"Astaga! Aku lupa bilang. Beberapa hari ini Mas Damar sering banyak kegiatan di luar," keluh Dinar dengan nada kecewa.
"Kamu datangin Universitas tempat Mas Damar mengajar aja. Sekalian luangkan waktu biar bisa bicara banyak, ini udah lima tahun loh, kalian nikah. Orang-orang bakal berpikir kalau kamunya mandul karena masih gak ada anak di antara kalian. Gak tahu aja, Mas Damar yang belum mau ada anak di antara kalian," nasihat Putri sedikit terdengar lancang.
Inilah dia, yang bicara apa adanya dengan orang yang ia sayangi, Putri memang lebih suka blak-blakkan.
"Jujur aja kadang-kadang itu. Ada banyak ibu-ibu yang ngomongin kamu dan Mas Damar dari belakang. Begitu juga dengan teman-teman kita yang lain, yang nikah setelah kamu. Mereka bahkan udah punya dua anak. Jadi, aku harap kamu secepatnya ngomong soal momongan sama Mas Damar," lanjutnya.
"Hah!" Dinar menghela napas kasar. "Aku gak tahu kenapa Mas Damar selalu menghindar jika aku bicara ke arah sana. Dia suka marah kalau aku bicarakan tentang anak padanya," keluh Dinar pelan.
Suaminya memang sensitif perihal anak. Dinar juga heran, kenapa Damar meminta mereka untuk menunda mendapatkan momongan. Tahun pertama Dinar mencoba mengerti, Dinar berpikir jika Damar ingin waktu yang banyak untuk mereka bersama. Menghabiskan banyak waktu tanpa harus kerepotan, tahun ke dua ia berpikir Damar ingin mereka memiliki persiapan untuk menjadi orang tua yang baik nantinya. Tahun ke tiga, Dinar mulai merasa janggal dengan ketidakinginan Damar memiliki anak di antara mereka.
"Coba bawa bicara dari hati ke hati deh, Nar! Siapa tahu di tahun ini Mas Damar mau. Dia usianya udah tiga puluh tahun dan kamu udah dua puluh delapan tahun. Mau nunggu berapa tahun lagi buat, siap?" nasihat Putri kembali.
"Ya, aku mikirnya juga ke sana," sahut Dinar pelan.
"Siapa tahu, dengan adanya anak di antara kalian. Rumah tangga kalian terasa lebih indah lagi," ujar Putri.
"Ya, aku berharap juga begitu. Rasanya saat pulang kerja rumah yang sekecil itu aja kerasa kosong, karena tidak ada suara anak-anak," keluh Dinar.
Putri menepuk paha Dinar, dan tersenyum. Memberikan Dinar semangat, setidaknya hanya ini yang bisa Putri lakukan untuk membantu Dinar.
...***...
Suara bariton terdengar mengisi seluruh penjuru ruangan kelas. Manik mata tajam itu bergerak menyapu setiap kursi. Mouse bergerak, membawa kursor pada ulasan di papan. Mahasiswa dan mahasiswi terlihat tengah serius mengikuti kelas dosen yang terkenal cukup killer di kampus mereka.
Otak jeniusnya sudah membuat banyak orang berdecak kagum padanya, disempurnakan oleh visual yang mumpuni. Tubuh atletis di balik kemeja hitam, membalut dada bidang sang dosen. Warna yang senada dengan manik mata hitam legam tajam bak mata elang, yang terlihat begitu sexy. Senyum miring yang memberikan kesan maskulin. Bibir merah merekah tanpa pewarna bibir. Hidung lancip serta deep voice yang membuat banyak wanita bergetar grogi berdekatan dengannya.
Sayangnya, Damar si dosen killer sudah membatasi pergerakan banyak gadis. Dengan cincin putih melingkar di jari manisnya. Ingin menjadi simpanan sang dosen pun terasa berat. Mengingat pak dosen tampan ini begitu sulit di dekati, pandangan mata tajam itu membuat nyali para perempuan cantik menciut.
"Sekian dulu pertemuan kita kali ini," seru Damar menggelar di dalam ruangan.
Para pria menjerit senang, berbeda dengan para wanita yang terlihat kecewa dan melenguh tak rela dengan kelas fisika yang telah usai. Damar mengemasi barang bawaannya. Ketika ingin melangkah keluar, ponselnya bergetar. Telapak tangan besar itu bergegas mengeluarkan ponselnya.
📩082189XXXX
Malam ini jadi keluarkan, Mas? Aku rindu. Aku tunggu di rumah, ya! 😍
__ADS_1
Damar tersenyum lebar, membuat jeritan tertahan dari kaum Hawa terdengar samar. Damar memilih abai dengan jeritan yang menggema, jari jemari panjang itu bergerak di atas layar. Hanya untuk membalas pesan yang diterima, dari sang pujaan hati.
📨Ya, aku akan ke sana. Jangan lupa dandan yang cantik sayang.
Begitulah balasan pesan yang ia kirimkan pada sang pujaan hati, sebelum menghapus pesan yang telah terkirim. Ponsel kembali di masukkan ke dalam kantong celana. Damar Melangkah keluar dari dalam kelas.
"Yang kirim pesan pasti istrinya, Pak Dosen!"
"Gila. Udah tampan setia lagi. Jadi pingin punya suami kayak Pak Damar."
"Benar banget. Siapapun istrinya pak Damar dia beruntung banget!"
Bisik-bisik lirih mengalun, tidak ada yang tahu jika pria yang mereka eluh-eluhkan berbanding terbalik dengan apa yang mereka semua pikirkan.
...***...
Suasana kafe tampak begitu ramai, aroma makanan menyeruak di banyak tempat. Musik slow mengalun menemani para pengunjung yang datang, wajah tampan itu tampak dingin. Sedangkan wanita berpipi chubby itu tersenyum bahagia. Dulu, saat ia dan pria di depannya ini berkencan pertama kalinya. Ada banyak hal manis ia dan sang suami lakukan, duduk di kafe yang sama. Tertawa dengan banyak topik. Meski Damar terlihat cuek dan dingin. Tapi, padanya Damar begitu hangat. Membuat ia terjerat dan yakin pada pria ini, yakin menghabiskan sisi hidupnya dengan Damar.
"Dinar," panggil Damar menggoyangkan telapak tangan Dinar yang berada di atas meja.
Dinar tersentak. Ia mengulas senyum malu karena ketahuan melamun, Damar menarik kembali tangannya. Bersandar di punggung kursi dengan sorot mata menatap lambat ke arah wajah Dinar.
"Y-ya, maaf, Mas. Tadi ngomong apa?" tanya Dinar dengan nada pelan.
"Kita ke sini mau ngapain?" tanya Damar dengan deep voice seksi.
Dahi Dinar berlipat dalam, Memang kalau suami-istri keluar makan di kafe mau melakukan apa selain makan dan berbincang ringan, Damar terlihat terpaksa berada di kafe bersama dengannya. Dinar tidak mengerti dengan apa yang Damar katakan saat ini, lantaran sulit sekali menembak pikiran Damar.
"Hanya makan?" Damar kembali melemparkan pertanyaan dengan sebelah alis mata tebalnya di angkat tinggi.
"Ya." Jawab Dinar mengangguk pelan.
Damar menghela napas frustrasi. Sungguh! Damar ingin memaki karena pesan yang Dinar kirimkan padanya. Mengatakan jika ingin bertemu karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan. Lalu ini apa? Hanya ingin makan saja? Ia bahkan membatalkan rencana pertemuannya dengan Anjani. Jika Damar tau tidak ada hal yang penting yang ingin istrinya bicarakan ia tidak akan mau datang.
"Untuk makan bisa di rumah. Kenapa harus keluar, buang-buang uang saja," dengus Damar.
Dinar membeku untuk sesaat, manik mata yang tadinya terlihat hidup dan ceria seketika meredup.
"Maaf, Mas," balas Dinar pelan.
"Lain kali, kalau gak ada yang penting yang mau diomongin jangan kirim pesan yang seolah-olah ada hal penting yang ingin di bicarakan."
"Tapi, aku-"
"Sudahlah. Aku masih ada urusan yang belum beres. Kamu makan sendiri saja dan kamu bawa motorkan?" potong Damar cepat melemparkan pertanyaan pada sang istri.
Bibir Dinar terbuka namun terkatup kembali, kepalanya mengangguk lemah. Menjawab pertanyaan Damar lontarkan, kecewa. Sudah pasti, Dinar tidak mendengar dengan kelakuan Damar.
"Ya, sudah. Aku pergi dulu," ujar Damar sebelum berdiri. Pria itu merogoh saku celananya. Mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah meletakkan di atas meja.
Sebelum melangkah meninggalkan Dinar dalam kekecewaan terdalam, bibirnya di gigit pelan. Ia tak tahu kenapa hari demi hari Damar terasa semakin dingin. Semakin sedikit waktu yang mereka habiskan bersama. Dadanya terasa bergemuruh, rasa sakit terasa mengigit diri. Kepalanya menunduk dalam, air mata luruh. Dimana letak kesalahannya, hingga Damar memperlakukannya dengan sangat dingin.
__ADS_1
Yang Dinar minta hanya sedikit waktu Damar, membawa kembali cahaya kehangatan ke dalam rumah tangga mereka. Mengembalikan kasih sayang dan cinta Damar yang dulu padanya. Di mana tahun-tahun awal pernikahan mereka, tak salah apa yang orang-orang katakan. Rumah tangga tak semewah dan seindah resepsi pernikahan.
...***...
"Maafkan, Mas! Hem, ayolah Sayang!" Damar membujuk gadis cantik yang dipeluk dari belakang.
Gadis cantik itu merenggut kesal karena Damar terlambat dua jam dari jam yang ia janjikan. Anjani memberontak kala Damar melayangkan kecupan di pipi kanannya.
"Berhenti! Anjani lagi bete sama Mas!" Cegah Anjani menahan bibir merah itu melayangkan kecupan basah di pipinya.
Damar tak ingin tinggal diam, ia terus berusaha membuat gadis remaja ini tak lagi merajuk padanya. Memeluk dan mengecup pipi Anjani meskipun gadis cantik ini memberontak. Hingga tawa keras mengalun kala jari panjang menggelitik pinggang ramping Anjani.
"He-hentikan!" Anjani berteriak di sela perlawanan karena gelitikkan Damar.
"Maafkan dulu. Baru Mas hentikan," jawab Damar di sela kegiatannya.
"Oke! Oke, berhenti. Aku maafkan," sahut Anjani menyerah.
Damar tersenyum lebar, ia menarik tubuh Anjani duduk di sofa di ruangan tamu rumah besar. Kedua orang tua gadis ini sibuk, membuat gadis remaja ini sering sendiri. Mereka sering menghabiskan waktu berdua di rumah tanpa ada yang menganggu.
Anjani melingkarkan tangannya di leher Damar. Meletakan kepalanya di dada bidang Damar. Pria yang dua tahun belakangan ini memberikan kebahagiaan. Meskipun hubungan mereka terlarang, Anjani tak pernah mempersoalkannya. Yang terpenting mereka saling mencintai.
"Aku sayang sama Mas," ucap Anjani pelan.
Damar melingkarkan kedua tangannya di pinggang Anjani.
"Mas juga," jawab Damar sebelum keduanya tersenyum lebar.
Keduanya di mabuk asmara, Sedangkan di rumah sederhana. ada wanita yang menunggu di ruangan tamu, beberapa kali melirik jam yang tergantung di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sang suami masih belum pulang. Bahkan pesan WhatsApp-nya di abaikan, panggilannya pun tidak dijawab.
"Kenapa masih belum pulang juga?" tanya Dinar lirih.
Dinar berdiri dari posisi duduknya, melangkah masuk kedalam kamar. Meraih gardigan rajut. Guna menghangatkan tubuhnya, menghindari udara dingin merusak tubuh. Ia melangkah keluar dari rumah. Dinar memutuskan untuk menunggu Damar di teras rumahnya.
"Eh! Kok masih di luar, Din?" seruan di samping pagar rumahnya terdengar.
Dinar menoleh ke arah asal suara, mengulas senyum ramah untuk tetangga rumahnya. "Lagi nungguin Mas Damar, Mbak," jawab Dinar jujur.
"Oh! Masih belum pulang toh," balas Via.
Kepala Dinar mengangguk kecil. "Ya, Mbak."
"Sebaiknya tunggu di dalam biar kamunya gak sakit, kena angin malam," nasehat Via lembut.
"Gak apa-apa kok, Mbak. Aku udah pakek ini, jadi gak akan kenapa-napa. Lagian kalau nunggu di dalam sumpek." Dinar membalas menunjukkan baju luaran yang ia pakai.
"Ya, udah kalau begitu. Aku masuk dulu, ya," pamit Via.
"Ya, Mbak."
Via masuk kedalam rumah. Meninggal kan Dinar sendiri dengan mata menatap jalanan di depan rumahnya. Berharap Damar secepatnya akan pulang. Namun waktu yang terbuang, sang suami tak kunjung datang. Menyisakan Dinar dalam kesendirian, meskipun orang-orang sudah terlelap. Dinar masih menunggu, kehadiran sang suami tercinta.
__ADS_1
...Bersambung.......