
Pergelangan tangan Dinar ditarik paksa oleh Damar membuat Dinar mendelik kedua matanya, sedangkan si pemilik tangan tak ambil pusing. Kenapa satu harian ini orang-orang mulai menguji kesabaran Dinar, perempuan cantik ini tidak memiliki rasa sabar yang jauh lebih besar lagi. Tidak sang ayah tidak pula untuk pria yang masih menyandang status sebagai suami dari Dinar, mereka masih belum bercerai secara hukum.
"Kenapa kau memblokir nomorku!" seru Damar dengan intonasi nada kesal.
Kedua bola mata Dinar langsung berputar malas, mau diblokir atau tidak memangnya apa yang salah? Dinar tidak merasa ada yang salah dipikirkan Dinar. Hubungan mereka berdua akan segera usai, lalu apakah ada hal yang harus mereka bicarakan? Apalagi tidak ada anak di antara Dinar dan Damar.
"Mau aku blokir atau tidak, apa masalahmu?" tanya Dinar dengan intonasi nada berang. "Aku tidak ingin lagi melihat mukamu, itu. Aku muak melihat wajahmu," lanjut Dinar.
Tangan Dinar dengan cepat menyetak kasar tangan Damar, membuat pemuda itu mengerang kecil. Kenapa Dinar menjadi semakin keras kepala? Padahal Damar sudah berjuang sebegitu kerasnya. Oh, ayolah! Damar mulai lupa. Yang mana di namakan perjuangan? Apakah selingkuh adalah sebuah perjuangan? Lucu sekali.
"Kita harus rujuk kembali," balas Damar dengan nada penuh rasa kepercayaan diri yang tinggi.
Bibir tipis merah merekah milik Dinar langsung terkanga, saking syok mendengar apa yang dikatakan oleh Damar. "Rujuk? Apakah sebegitu mudahnya? Kau pikir aku ini perempuan gampangan? Hei! Jangan lupa. Aku ini perempuan yang berdiri dengan kedua kakiku sendiri. Bukan perempuan yang mengemis uang padamu, Damar. Mungkin kalau Anjani, dia akan menangis haru karena kau mau bersamanya. Aku tidak begitu! Bagiku, pria yang sudah berselingkuh. Tidak ada ada kesempatan kedua, apalagi ketiga."
Damar mengembuskan napas kasar, menatap Dinar dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Keras kepala, masih saja sama. Jujur saja inilah yang tidak disukai oleh Damar pada Dinar, lantaran Dinar begitu keras kepala. Tidak ada ruang untuk Damar menjadi sosok yang bisa memimpin, perempuan ini bisa melakukan semua hal sendiri.
Mulai cari uang sendiri, bisa mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Tidak ada yang membuat Damar merasa dibutuhkan, Damar merasakan kalau dirinya hanyalah sosok yang harus melengkapi Dinar saja. Bukan sosok yang Dinar butuhkan dengan teramat sangat, itu lah yang membuat Damar menggembar-gemborkan kalau harga diri Damar sebagai seorang lelaki itu terluka.
"Lalu kau pikir akan ada lelaki yang mau menikahimu, Dinar?" tanya Damar dengan intonasi meremehkan. "Kau itu, merasa paling di atas lelaki, hanya karena mau bisa melakukan semua hal. Kau pikir apakah lelaki yang hidup denganmu akan tahan dengan keras kepalamu itu? Tidak ada Dinar! Apalagi kalau mereka tahu jikalau kau adalah perempuan yang terlalu sibuk bekerja dan bekerja. Sampai lupa kewajiban sebagai seorang istri," lanjut Damar mengusik perasan Dinar.
Pandangan mata Dinar yang awalnya terlihat muak, kini malah terlihat berapi-api. Senyum sinis tercetak jelas di bibir Dinar, siapa yang membuat Dinar menjadi harus bekerja keras dua kali lipat? Kalau bukan Damar. Lalu dengan seenaknya Damar menuding Dinar, perempuan cantik ini bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga mereka. Hutang keluarga Damar yang harus turut andil Dinar tanggung, sampai lupa kalau Damar yang harusnya memikul beban keluarga. Bukan Dinar! Tapi sebagai seorang istri, Dinar membatu Damar tanpa pamrih.
Kepala Dinar mengangguk pelan, sebelum mengembuskan napas kasar. "Iya, kau benar. Aku sibuk bekerja, sampai aku masuk rumah sakit. Aku harus membantu kehidupan keluargamu. Yang aku anggap sebagai keluargaku, membatu biaya kuliahmu untuk menjadi seorang Dosen. Sampai aku melupakan impianku, serta aku harus lembur disaat orang-orang tidur dengan nyenyak. Lucunya kau, merasa aku begini untuk diriku? Wah! Tak punya otak."
Damar tercekat mendengar penuturan Dinar, tidak satu pun yang salah. Dinar melakukan semua hal untuk Damar dan keluarganya, tapi Damar malah bak kacang lupa kulit.
"A—aku, tidak pernah minta, tuh. Semuanya kau lakukan sendirian, Dinar. Kau yang berinisiatif membayar hutang keluargaku dan membayar uang kuliahku. Kau pikir aku tak tahu kau begitu karena, apa? Karena kau takut aku meninggalkanmu. Tidak ada pria di dunia ini yang mau menikahi anak dari perempuan yang terkena ganggu kejiwaan. Hanya aku dan keluargaku yang menerima perempuan yang memiliki Ibu yang tak waras," balas Damar tergagap di awal kata.
Kedua tangan Dinar terkepal kuat, kedua sisi gerahamnya bergemeretak.
PLAK!
Tangan kanan Dinar langsung melayang, membuat Damar terkejut. Pipi kiri Damar langsung terasa berdenyut pedih, Damar membawa pandangan matanya ke arah Dinar. Dinar malah menatap Damar dengan pandangan garang, kedua matanya bahkan terlihat memerah.
__ADS_1
"Bernai kau katakan itu sekali lagi. Ku pastikan, wanita selingkuhanmu itu keguguran. Agar bisa gila juga seperti ibuku. Jangan main-main denganku, Damar. Aku tidak sudi mendengar kritikan tentang ibuku keluar dari bibir kotormu itu," balas Dinar dengan nada penuh penekan.
Setalah berkata demi kian Dinar langsung membalikkan tubuhnya, melangkah pergi meninggalkan Damar di area parkiran mobil. Amarah di dalam dada Dinar berkobar, tidak satu pun yang boleh mengusik ibunya. Tak satu pun, termasuk Damar sekali pun.
"Brengsek," maki Damar dengan nada geram.
Dengan pandangan mata menatap tajam ke arah punggung Dinar yang semakin menjauh dari dirinya, Damar tidak akan tinggal diam. Damar akan pastikan Dinar akan kembali padanya, dan bertekuk lutut di hadapan Damar.
"Kau tunggu saja Dinar, kau akan kembali padaku. Mengemis-ngemis untuk menjadi istriku kembali, lihat saja nanti. Secepat akan aku pasti itu," gumam Damar dengan intonasi nada berat.
Sebelum dosen muda satu itu berdecak kesal, menyentuh pipi kirinya yang terdapat cap lima jari karena ulah Dinar.
***
Makan malam berjalan dengan lancar, Dinar terlihat tidak seceria biasanya. Membuat Lily menyenggol siku, Dinar.

Perempuan cantik itu melirik ke samping, Lily menatap Dinar dengan sorot mata khawatir. Dinar menarik sudut bibirnya ke atas, makan malam alumni SMA yang harus Dinar hadiri. Meskipun perasan Dinar terlihat tidak baik-baik saja.
"Hah! Maafkan aku," balas Dinar tanpa harus menjawab banyak.
"Aku sempat merasa pangling loh, saat melihat Dinar. Makin cantik aja," ujar Sella kala pandangan mata Sella jatuh pada Dinar.
Orang-orang di meja restoran mahal itu langsung melirik ke arah Dinar, membuat Dinar mau tak mau harus mengeluarkan ekspresi baik-baik saja.
"Ah, masa, sih? Aku tidak merasa begitu. Daripada aku, kau jauh terlihat lebih cantik dari pada terakhir kita bertemu," sahut Dinar cepat.
Sella terkekeh kecil, dan berkata, "Apakah mungkin saja karena kamu sudah isi? Katanya terkadang Ibu hamil itu bisa memancarkan pesona yang berbeda, loh."
Lily membesarkan kedua matanya, sebelum was-was menatap ke arah Dinar. Perempuan cantik yang bekerja di bawah kepemimpinan Lily satu ini, cukup sensitif pada topik yang baru saja meluncur dari mulut Sella. Dinar mengulum bibir bawahnya, getir. Kala Dinar dihadapkan dengan perkataan basa-basi, yang sama sekali tidak menghibur bagi Dinar. Hamil? Gamang sekali Dinar mendengarnya. Namun, tak mungkin pula bagi Dinar memperlihatkan ekspresi kesal Dinar pada pertanyaan yang Sella lemparkan pada dirinya, meskipun hati Dinar merasa sakit. Dinar harus tersenyum, menyembunyikan rasa sakit itu.
"Maybe," balas Dinar dengan disertai ekspresi bergurau.
__ADS_1
"Hidup Dinar begitu sempurna, punya tubuh ideal, wajah cantik, punya suami ganteng, dan Dosen pulak lagi," celetuk salah satu dari wanita yang duduk di bangku.
"Benar sekali, apalagi pasti sebentar lagi Dinar akan punya anak. Yang mana lagi yang membuat Dinar gusar. Kalau aku jadi Dinar, pasti sangat bahagia." Juliana langsung berkomentar.
Sontak saja ruangan meja makan riuh, Lily melirik kembali wajah Dinar. Wanita cantik itu tidak banyak bereaksi, hanya sesekali menarik paksa bibirnya ke atas.
***
Suara musik memekakkan telinga tidak menganggu wanita cantik satu ini, gemerlap lampu yang menyilaukan menjadi cirikas tersendiri dari dunia malam. Dinar kembali menyesap minuman beralkohol di tangannya, mengabaikan beberapa lirikkan mata nakal dari pada pria. Dan beberapa kali pada pria mendekati Dinar yang duduk sendirian di kursi bar, sayangnya Dinar sama sekali tidak tertarik. Mungkin ini kali pertama Dinar mencoba masuk ke klub malam, menyesap red wine yang begitu memabukkan.
Senyum miring dari pria berpakaian rapi, dengan tubuh yang dibalut barang-barang branded di tubuh sang pria bermanik mata almond. Terlihat mendekati Dinar, ia duduk di samping Dinar. Perempuan cantik itu tampak sudah mulai mabuk, terlihat dari kedua sisi pipi yang merona serta kedua pandangan mata yang terlihat sayu.
"Berikan aku segelas minuman seperti biasa, Aldo!" seru sang pria dengan intonasi keras.
Mengingat kerasnya musik DJ yang bergema, membuat orang-orang di dalam sana harus berbicara dengan intonasi keras. Dinar membawa sorot matanya ke arah pria di sampingnya, tampan. Satu kata yang ada di otak, Dinar. Bagaimana kalau Dinar mencoba menggoda pria itu? Oke, sekarang Dinar mulai kehilangan kewarasannya.
"Kenapa?" tanya pria gagah itu dengan nada keras saat menoleh ke arah Dinar. "Kau tertarik tidur denganku?"
Dinar terkekeh keras, dan berkata, "Apakah kau bisa memuaskan aku? Hingga kau menawarkan dirimu padaku, Tuan?"
Dinar menggoda pria satu ini, senyum miring tercetak jelas di bibir sang pria. Perempuan cantik ini salah orang, sampai menantang dirinya.
TUK!
Segelas sloki berisikan minuman beralkohol sedang, terhidang di atas meja.
"Ini Tuan Mark," ucap Aldo sang bartender.
Aldo hapal betul siapa Mark Louis seorang pria yang Casanova, yang menjadi incaran banyak wanita. Pria player yang membuat perempuan menggila karena seperti Mark Louis, pria yang sangat menjadi idaman perempuan. Perempuan mana pun siap membuka kedua paha mereka semua hanya untuk Mark Louis, sang pria Casanova.
"Kau salah orang Nona cantik, aku bahkan mampu membuat kau berteriak minta ampun. Karena kehebatanku," balas Mark dengan nada nakal.
Dinar tersenyum lebar, dan berkata, "Kalau begitu, tunjukan padaku malam ini. Apakah kau benar sehebat itu. Atau hanya omong kosong belaka."
__ADS_1
Mark menyesap hingga tandas minuman digelasnya, mengulurkan telapak tangannya ke arah Dinar. Biasanya Mark tak begitu tertarik pada wanita yang menggodanya, hanya beberapa yang mampu naik di atas ranjang Mark. Tapi kali ini Mark ingin mencoba yang baru, perempuan cantik di sampingnya ini. Terasa begitu menantang.
Bersambung...