
"Aduh! Aduh! Sakit, Ma!" teriakan keras dari Mark yang dipukuli sang ibu.
Tawa keras dari kakak perempuan Mark melambung, beruntung tuan besar Louis belum ada di rumah. Kalau tidak mungkin akan ikut serta mengeroyok si bungsu dengan beringas, Mark memilih kabur.
"Hajar, Ma!" teriak Windi, menyemangati sang ibu.
"Jangan kasih ampun, Ma! Masa iya, ngehamilin anak orang dia!" Elsa ikut menimpali, Mark mendengus.
"Mbak! Aku gak akan sayang sama anak-anak Mbak, semua. Kalian jahat!" Mark menunjuk ke arah kedua kakaknya sudah berkeluarga.
Kebetulan keduanya ada di rumah kediaman utama, keponakan Mark hanya terkekeh kecil melihat lucunya sang paman mendapatkan pukulan keras dari sang nenek. Mereka semua menikmati pertengkaran Mark dan Wulandari.
"Ke sini cepat! Kalau Mama yang ke sana, bukan tangan Mama yang memukulimu. Alat pel lantai yang Mama pakai untuk memukulmu!" Wulandari menunjuk ke arah tangkai sapu pel yang tergeletak tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.
Mark memelas, si gila tetap akan tunduk pada si pengusaha rumah. Wulandari berkacak pinggang, napasnya memburu. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja si bungsu datang ke rumah. Mengatakan agar dirinya melamar perempuan lain, katanya hamil cucunya. Mereka semua tahu dengan kegilaan Mark, dinasehati seperti apapun si bontot sama sekali tidak mau mendengarkan.
"Kok Mama tega sama aku, sih? Kalau putra Mama yang ganteng ini kenapa-napa. Cucu Mama jadi gak punya Papa loh, masa Mama sebagai Oma tega melihat cucu Mama menangis di kuburanku," ucap Mark memelas.
"Yang pentingkan anakmu masih punya Aunty yang cantik dan baik kayak kita orang, Mark. Gak punya Papa gila kayak kamu, itu sudah sebuah keberuntungan loh, Mark," celetuk Elsa, kakak nomor dua Mark.
Sorot mata Mark langsung menajam ke arah Elsa, tega sekali kakaknya ini. Mark masih mau menghamili Dinar lagi, mau punya anak 12. Lumayan untuk membuat team sepak bola, Mark mendengus kecil.
__ADS_1
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik loh, Ma!" Mark memilih meladeni sang ibunda. Ia mengulas senyum polos tanpa dosa pada Wulandari, terkekeh kecil. "Aku merupakan lelaki bertanggung jawab, Mama. Buktinya aku akan menikahi dia, oh iya. Mama harus tahu, aku sekarang sedang tersiksa. Karena aku yang ngidam Mama, susah makan, pagi hari suka mual. Jadi, Mama harusnya memanjakan aku, bukan memukul aku seperti ini," lanjut Mark membujuk sang ibunda.
Wulandari mendesah lelah, kedua kelopak matanya terkatup rapat. Jika si sulung malah dipermainkan seorang wanita, hingga mati karena cinta. Maka si bungsu malah mempermainkan wanita, meskipun Mark sering menggembar-gemborkan tidak akan menikahi wanita. Ia akan berpetualang ranjang sampai mati, si bungsu benci pada kaumnya. Hanya karena kematian kakak paling ia sayangi, cukup mengejutkan karena Mark berkata ingin menikahi wanita. Kedua kelopak mata Wulandari kembali terbuka, menatap ke arah Mark di seberang sana.
"Kamu pergi dahulu dari sini, Mama butuh waktu untuk berpikir," pungkas Wulandari, mengembuskan napas kasar.
Mark memberikan hormat pada sang ibunda, sebelum mencibir kepada kedua kakak perempuannya. Oh, sungguh, kakak-adik itu tidak pernah lepas dari pertengkaran kecil. Masih saja terlihat kekanak-kanakan, meskipun sudah sangat dewasa.
...***...
Dinar mengulas senyum lebar kala undangan pernikahan serta paper bag diulurkan pada dirinya maupun Eva, keduanya tentu saja ikut bahagia dengan keputusan Putri untuk segera menuntaskan masa singelnya. Kemungkinan besar Putri akan keluar dari tempat kerja, meninggalkan Eva yang akan sendirian di sana.
"Yaaa, aku sendirian dong yang sekarang kerja sama Lily," desah Eva, dengan ekspresi sedih.
"Maaf banget, Va! Aku doain semoga kamu nyusul aku secepatnya. Nanti tangkap bunga yang aku lemparkan, ya," gumam Putri terdengar lembut.
Eva mengangguk perlahan, dan berkata, "Doain, ya, biar secepatnya bisa ikut nyusul."
Putri mengangguk, ia tampak ceria sekali mendekati hari pernikahan. Sudah sangat lama ia menanti untuk mendapatkan pasangan hidup, keduanya beralih pada Dinar. Merasa ditatap, Dinar membawa atensinya ke arah Putri dan Eva secara bergantian.
"Kenapa?" tanya Dinar.
__ADS_1
"Kapan kamu akan pergi ke luar negeri?" tanya Putri pelan.
"Eh, iya. Katanya kamu mau ke luar negeri, sudah sampai mana persiapannya. Maaf banget kita jadi lupa tanyain," celetuk Eva, melirik Dinar dengan ekspresi penasaran.
Dinar mendesah frustrasi, bagaimana caranya ia akan meninggalkan ibunya seorang diri di sini. Meskipun sang ibu berasa di RSJ, Dinar tidak akan tenang di luar negeri.
"Kenapa? Apa ada masalah, Din?'" Putri bertanya hati-hati mendapati guratan ekspresi lelah dari Dinar.
"Gak tahu, Put! Sebenarnya untuk aku sendiri gak ada masalah. Bahan-bahan sudah lengkap, cuma untuk Mama gak bisa. Akan sulit memboyong Mama ke luar negeri, beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi bahasa yang berbeda, Dokter menyarankan untuk Mama tetap berada di Indonesia. Lebih baik untuk kesehatan dan ketenangan Mama, kalian sendiri 'kan tahu aku gak akan bisa berangkat. Kalau Mama gak ikut," papar Dinar menjelaskan situasi dan kondisi yang kini tengah menyulitkan dirinya.
"Kalau begitu kamu pergi aja, Dinar. Di sini 'kan ada aku dan Putri. Kami berdua yang akan berganti-gantian untuk menjenguk Tante Anggun, kita bisa melakukan video call, agar kamu lebih tenang saat di sana. Kalau pergi ke luar negeri adalah solusi terbaik untuk ketenangan dan kesehatan mentalmu. Aku maupun Putri kayaknya gak berkeberatan melakukan, itu," usul Eva, tanpak serius.
"Gak mungkin, Va! Kalian punya kehidupan sendiri. Sebenarnya Papa mendatangiku, ngomong kalau Papa akan merawat Mama. Selama aku di luar negeri, cuma kalian berdua tahu bagaimana aku membencinya," tukas Dinar, membuat Eva dan Putri saling adu lirikan mata.
Putri mengulurkan tangannya, menyentuh telapak tangan kanan Dinar dengan lembut. "Sesekali gak ada masalahnya untuk kamu egois, Dinar. Ku pikir Om Amar harus menembus kesalahannya pada Tante Anggun, siapa tahu dengan kehadiran kembali Om Amar bisa mengobati luka Tante."
"Benar apa yang dikatakan oleh Putri, Dinar! Om Amar yang menorehkan luka. Dia pula yang harusnya mengobati luka Tante Anggun. Kamu pun harus bisa mengobati lukamu, semuanya emang sudah terjadi. Kamu gak bisa melakukan apapun, selain menyerahkan semuanya pada Om Amar. Siapa tahu, dengan begitu. Om Amar akan ikut sadar, seberapa besar dia melukai Tante Anggun." Eva ikut mengangguk.
Amar harus dibelit rasa bersalah, setiap manusia dianugerahi rasa cinta. Namun, bukan berarti bisa membenarkan perselingkuhan, Amar harusnya paham itu. Jika sedari awal tidak mencintai Anggun, harusnya tidak menikahinya. Berakhir menghancurkan dua hati, rasanya terlalu kejam untuk wanita yang dinikahi hanya untuk menerima pengakuan orang tua. Lalu diselingkuhi dengan wanita lain, setelah berhasil mendapatkan perusahaan keluarga.
Dinar hanya mampu menghela napas berat, telapak tangan kirinya mengusap perlahan perutnya. Dinar kuat demi ibu dan anaknya, serta Dinar percaya. Ada rencana indah dari Tuhan untuk semua kesabaran Dinar, dan ketulusannya.
__ADS_1
Bersambung...
Maaf banget kakak-kakak gak bisa update lebih dari 1 Bab, karena aku juga harus mengupdate 3 cerita lainnya di tempat lain, paling cuma bisa mencoba untuk update gak bolong. kalau berharap lebih dari 1 bab masih berat.🙏🏻