
"Silakan, Pak!" seru sang perawat kala pintu dibuka lebar, untuk lelaki berpakaian necis satu itu.
Sepatu pantofel mengkilap mengetuk lantai kamar temaram, mentari tak lagi bertahta di singgasana. Lampu ruangan mulai dinyalakan, manik mata Amar dapat melihat dengan jelas sosok wanita dengan rambut menjuntai duduk membelakanginya.
"Anggun," panggil Amar lirih. "Tidaklah waktu yang berlalu membuatmu memaafkan aku?" tanya Amar pada Anggun.
Wanita itu melongok ke arah belakang, lama sekali sorot matanya menatap Amar. Dulu sekali, Anggun terpesona dengan wajah gagah Amar. Lelaki yang dingin yang dicintai oleh banyak perempuan, Amar merupakan idola. Anggun adalah perempuan pemalu, yang diam-diam memperhatikan Amar dari kejauhan.
"Tidak bisakah kita mengecualikan Dinar dari kemarahanmu ini, Anggun?" tanya Amar pelan.
Anggun menatap lama sekali ke arah Amar, kisah pilu menggerus hati Anggun. Cintanya diinjak, dirinya direndahkan. Anggun terima semuanya, asalkan Amar tetap di sisinya. Menjadi suami sekaligus ayah dari putrinya, pada kenyataannya seseorang yang tidak pernah menaruh hati padanya. Tetap akan pergi, tidak peduli seberapa keras Anggun berusaha.
"Sudah berapa lama, aku seperti ini. Namun, rasanya tetap saja aku membencimu, Amar," sahut Anggun ia turun perlahan dari atas ranjang pesakitan.
"Apakah kamu tidak kasihan dengan Dinar? Dia menyayangimu. Memerangi aku, dengan terang-terangan," tutur Amar, tak percaya pada keras kepalanya, Anggun.
Anggun tertawa keras menggelegar, air matanya berderai. Amar diam, memperhatikan mantan istrinya dengan sorot mata tak percaya. Tangan Anggun mengusap kasar air mata yang jatuh, tangannya terangkat menunjuk ke arah Amar dengan guratan wajah marah.
"Itu sangat kurang, Amar. Dibanding sakitnya aku, karena kamu. Bagaimana rasanya dibenci oleh putrimu sendiri? Bagaimana rasanya dicemooh oleh putrimu? Ah, menyakitkan bukan?" Anggun memasang ekspresi sangar. Tangannya turun mengelus dadanya yang terasa nyeri.
Amar menghela napas kasar, sungguh wanita satu ini gila. Ia rela mendekam di rumah sakit jiwa bertahun-tahun hanya untuk membuat Dinar membenci Amar, harusnya Amar mengatakan pada Dinar bahwasanya Anggun tidak benar-benar kehilangan kewarasanya. Harusnya Amar bisa mengatakan pada Dinar, bahwasanya Anggun hanya ingin menyiksa semua orang. Demi dendam kesumat yang mendarah daging, Anggun tahu. Bagi Amar sendiri, Dinar adalah sosok putri pertama yang menyentuh hati Amar.
Amar memang tidak mencintai Anggun, ia menyentuh anggun untuk mendapatkan pengakuan dari keluarganya. Memanfaatkan rasa cinta Anggun terhadap dirinya, saat Anggun hamil. Amar sekali pun tidak pernah memenuhi apa yang Anggun inginkan, bagi Amar. Anak itu hanyalah anak Anggun, lantas mengapa disaat tangisan keras mengalun, kala Dinar lahir. Merubah dunia Amar, sorot mata bening menatap Amar dengan polos. Kecantikan dan kelucuan Dinar merubah Amar, mencintai putrinya. Buah hati yang awalnya tidak ia anggap, entah sejak kapan Amar menaruh dunianya pada Dinar.
__ADS_1
Dinar yang membuat Amar bertahan bertahun-tahun, bersandiwara menjadi sosok suami yang sempurna. Namun, cinta pada wanita lain, tidak bisa Amar bendung. ******* terjadi saat ayahnya mengembuskan napas terakhir, Anggun ketakutan. Ia berusaha mengusir sang kekasih hati, menjauhkan ia dari Amar. Puncak dari malapetaka terjadi, Amar murka. Ia menceraikan Anggun tanpa kompromi lagi, meskipun Anggun mengemis-ngemis di kakinya.
"Cukup, sampai di sini, Anggun. Temuai putrimu, katakan yang sejujurnya. Lepaskan dirimu dari belenggu masa lalu, sejak awal pun kamu tahu. Aku menikahimu karena hak waris, kamu menyetujuinya karena menginginkan aku. Tidakkah memuakan hidup di kamar kosong, lalu mengonsumsi obat penenang. Andaikan saat itu kamu melepaskan semuanya, mencari lelaki lain yang tulus padamu. Maka baik Dinar maupun dirimu tidak akan perlu tercabik-cabik seperti ini," kata Amar, terdengar berat.
Anggun mencabik. "Apa bedanya aku dengan kamu, Amar? Sekeras apapun dan setulus apapun aku padamu. Nyatanya tetap perempuan itu yang membuatmu rela berlari ribuan kilometer tanpa alas kaki, hanya untuk dia. Sama halnya aku, sejauh apapun aku mencari sosok lain. Hatiku tidak bisa, aku mencintaimu dan aku pun teramat membencimu. Aku juga membenci, Dinar. Aku benci anak itu karena dia adalah anakmu, anak dari lelaki yang menghancurkan hatiku. Melihatmu begitu menyayangi Dinar, aku tidak punya cara lain untuk menghukummu. Selain melalui Dinar," tutur Anggun menggebu-gebu. "Bukankah sampai detik ini kamu bahagia hidup dengan wanita sialan itu? Sakit hatimu hanya karena dibenci Dinar. Maka, sampai tutup usia, aku akan membuat Dinar merasakan perasaan sakit yang sama seperti yang aku rasakan. Aku akan terus berpura-pura gila meskipun harus ikut menghancurkan hatiku. Dinar akan semakin membencimu, dan wanita itu. Kalau aku mati mengenaskan, bukan?" lanjut Anggun tegas.
"Apakah aku perlu berlutut, agar kamu mau menghentikan kegilaan ini?"
"Mau kamu berlutut atau memotong kedua kakimu, satu pun dari itu tak akan pernah bisa menyembuhkan luka hatiku. Menumbuhkan figur Ibu dalam diriku yang mati karenamu. Aku, akan tidak akan meminta Dinar memaafkan aku karena bersandiwara sekeras ini dan menghancurkan hatinya. Bahkan jika aku harus melompat di kobaran api, aku tak akan pernah ragu. Hanya untuk menghancurkan hatimu, Amar," balas Anggun, tegas.
Anggun ingin mencabik-cabik hati Amar, sampai tidak berbentuk lagi. Namun, ia sendiri tak ingin Amar mati begitu saja. Cinta dan benci terlampau overdosis, membuat hati Anggun membeku.
...***...
Manik mata Dinar melirik ke arah gelas susu ibu hamil yang diberikan oleh Mark, lelaki satu ini selalu menyiapkan susu tepat waktu untuk Dinar minum. Selalu pulang lebih awal, untuk merecoki ketenangan Dinar. Saat manik mata tajam Dinar layangkan ke arah Mark, ayah dari sang janin akan duduk diam. Memperhatikan Dinar dengan saksama tengah mendesain gaun pengantin dengan sorot mata serius, wajah Dinar tampak semakin cantik disaat wanita itu serius bekerja.
Dinar meraihnya mau tak mau, menyesap perlahan hingga tandas. Mark tersenyum lebar, kata ibunya. Mark harus bersikap sebagaimana suami siaga, dan memanjakan Dinar. Wanita adalah makhluk yang penuh dengan kelembutan, luluh mendapatkan perhatian serta perjuangan yang besar. Mereka mahluk yang mudah tersentuh, meskipun begitu. Mereka bisa saja menjadi makhluk paling mematikan disaat terluka terlalu dalam.
"Siang ini akan ada beberapa pakaian khusus untuk Ibu hamil yang datang untuk kamu coba, dan beberapa sepatu yang nyaman dipakai," papar Mark, tangannya bergerak cekatan meraih gelas kosong di tangan Dinar, satu lagi bergerak meraih tisu di samping nakas.
Lembut sekali Mark menyeka bekas susu coklat yang tertinggal di kedua sudut bibir Dinar, ibu hamil itu membeku mendapatkan perlakuan selembut dan sehangat ini. Aroma parfum manis menyeruak masuk ke paru-paru Dinar, Mark menganti parfum yang ia gunakan. Lelaki dengan pakaian rapi itu terkekeh kecil, kala melirik ekspresi wajah Dinar.
"Sarapannya sudah disiapkan, air mandi pun sudah selesai disediakan. Makan yang banyak, apapun yang kamu mau katakan aja sama pada Bik Sumi. Pasti akan dibuatkan, kalau ada sesuatu yang kamu ingin beli di luar sana. Langsung saja hubungi aku, ponselku selalu aktif 24 jam untuk calon Ibu dari anakku," ujar Mark, serius.
__ADS_1
Mark mengulum bibir bawahnya, melangkah menuju pintu ke luar. Dinar masih memperhatikan punggung belakang Mark, munafik kalau Dinar bilang bahwasanya dirnya tidak tersentuh dengan perlahan Mark. Hatinya bergetar hebat, ia kembali mengingat masa lalunya. Damar tak pernah memperlakukan Dinar semanis itu, hanya Dinar yang memperlakukan Damar dengan manis.
"Hah, nyatanya cukup sulit untuk menghadapi orang seperti ini," gumam Dinar lirih.
Kedua tungkai kaki jenjang Dinar turun perlahan, denting ponsel di atas nakas mengalihkan sorot mata Dinar. Ah, Mark lupa dengan ponselnya, ponsel Dinar diberikan saat ia bersama Mark. Akan kembali disita saat Mark pergi berkerja, tangan Dinar dengan cepat meraihnya.
📨Dokter Jackson
(Dinar, aku dengar tadi malam ayahmu datang mengunjungi Bu Anggun. Dan pagi ini Bu Anggun masuk ruangan UGD. Hubungi aku kalau kamu sudah baca pesan ini, ya!)
"Mama!" seru Dinar keras, ia berlarian ke arah pintu ke luar.
Dinar harus mencari Mark, ia harus menemui ibunya. Dinar panik sekali, ia berteriak memanggilnya Mark.
Bersambung...
Masa lalu yang pelik membuat cinta dan dendam membunuh figur seorang ibu menghilang dari diri Anggun.
Visual muda dan tua ortu Dinar, 🤣🤣🤣 kalau dibikin prequel kisah cinta orang tuanya Dinar. Terlalu berat untuk diurai, sakit ngenesnya.🤣 Entah itu cinta atau obsesi semata, masa lalu Anggun terlalu tersakiti membuat ia jauh dari kata layak menjadi seorang ibu. Ibarat kata, Anggun adalah seorang wanita yang belum selesai dengan cintanya sebagai seorang wanita,🙃
__ADS_1