Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 8. LAYANI, AKU!


__ADS_3

Gadis berseragam putih abu-abu itu terlihat menunggu kedatangan Dinar, wajahnya sudah diolesi make up. Anjani pernah melihat Dinar beberapa kali dari kejauhan, penampilan wanita itu terlihat begitu biasa saja. Wajahnya pun terlihat kusam, dengan baju seadanya. Sangat jarang Anjani melihat pakaian mewah dipakai oleh Dinar. Padahal wanita satu itu adalah istri seorang dosen, tapi penampilan malah seperti istri pemulung saja. Sudah pantas Damar berpaling pada Anjani, secara Anjani lebih muda dan lebih cantik dari pada Dinar.


TUK! TUK! TUK!


Telapak sepatu high heels terdengar mengetuk lantai kafe. Tungkai kaki jenjang itu terlihat berhenti tepat di meja yang dihuni oleh Anjani, remaja SMA itu terlihat menengadah saat merasa seorang wanita berhenti tepat di samping mejanya. Untuk beberapa detik Anjani terkejut melihat perubahan total dari istri sah Damar, meskipun keduanya sudah pisah rumah. Dinar dan Damar masih belum cerai secara hukum, satu bulan berlalu. Namun yang dilihat oleh Anjani sekarang dan Dinar yang beberapa waktu yang lalu jauh berbeda.


Lekuk tubuh Dinar terlihat bak gitar spanyol, dengan baju yang menonjolkan keindahan. Dress biru pastel selutut, di padu padankan dengan high heels berwana hitam, tas limited edition. Rambut coklat kelam sebahu, dengan make up natural. Kemana larinya lemak di tubuh Dinar? Lemak perut dan wajah kusam tak terawat. Wanita satuΒ  ini 180 derajat berubah total, seakan Dinar yang dulu dan Dinar seakan terlihat beda orang.


"Kau yang bernama Anjani, bukan?" tanya Dinar dengan intonasi nada datar.


Ekspresi Dinar tampak begitu dingin, meskipun demikian. Wanita itu terlihat begitu cantik, untuk perlu Anjani ketahui. Dinar Aprilia Santoso adalah primadona pada masanya, tumbuh langsing body goals. Semua berubah karena Dinar menikah dengan Damar, ada banyak hal yang harus Dinar korbankan untuk Damar. Dinar pikir memberikan semua waktunya, dan uang untuk Damar. Akan membuat Damar bersyukur memiliki Dinar sebagai seorang istri, sayangnya. Dinar lupa, jikalau pengorbanan tidak akan pernah melahirkan rasa syukur. Jika orang itu tidak pernah tahu seberapa kerasnya Dinar berusaha namun, sekarang itu semua tidak penting lagi.


Dinar duduk tepat di depan kursi Anjani, dimana sang remaja gatal tak tahu diri itu berada. Dari atas sampai bawah, Dinar terlihat begitu memukau. Jangankan pria gagah, seorang brondong pun bisa Dinar gaet. Melihat penampilannya yang begitu cantik, Anjani berdehem untuk beberapa kali. Bermaksud untuk mempermalukan Dinar, siapa yang menyangka. Saat ini, saat Anjani dan Dinar disandingkan, para lelaki sudah pasti akan lebih menggoda melirik ke arah Dinar. Kulit putih bersih, tubuh langsing, kelopak mata ganda, dan bibir merah merekah terlihat begitu alami. Namun, bagaimana dengan Anjani? Perempuan remaja itu malah seperti gadis yang baru puber. Make up yang terlihat lebih menor, beruntung ditolong oleh seragam sekolah yang masih melekat di badan. Kalau tidak, mungkin orang-orang akan menduga kalau Anjani adalah kakak Dinar.


"Apa yang ingin kamu katakan? Bukankah karena menginginkan sesuatu kamu menemuiku di sini?" tanya Dinar dengan nada tenang.


Dinar melipat kedua tangan di bawah dada, Dinar bak model yang sedang bergaya untuk photoshop. Anjani membeku, dengan ekspresi kesal.


"Kapan perceraian Mbak Dinar dan Mas Damar, dilakukan? Aku hanya ingin memastikan itu. Karena perutku akan terlihat membesar, anak ini butuh ayahnya," sahut Anjani dengan sengaja.

__ADS_1


Telapak tangan gadis remaja itu mengusap pelan perut datarnya, sedangkan Dinar? Wanita itu menipiskan bibirnya. Hari ini Dinar melihat dengan jelas wajah gadis remaja yang sudah menghancurkan rumah tangganya, jika Dinar mau. Dinar bisa saja mengadukan perbuatan keduanya, sebagai perzinahan. Entah apa alasan Dinar tidak melakukan itu, hati Dinar berdenyut pedih melihat Anjani. Melihat gadis remaja ini menaburkan asam di atas luka Dinar yang menggangga, akan tetapi lihatlah seberapa hebatnya Dinar. Masih bisa tetap tenang dengan menarik kedua sisi bibirnya ke atas, meskipun hati Dinar terluka.


"Kenapa harus bertanya padaku? Tanyakan pada Mas Damar. Aku tidak pernah mengurusi perihal perceraian, dan untuk kehamilanmu. Selamat, sepertinya ibumu adalah wanita hebat. Bisa mendukung putrinya untuk menjadi pelacur, dan menghancurkan pernikahan wanita lain, loh!" seru Dinar membalas pertanyaan Anjani.


Kedua pupil mata Anjani langsung melebar, ekspresi gadis remaja di depannya ini terlalu tergambar dengan jelas.


"Kenapa? Tidak terima? Benar bukan. Orang tuamu sungguh sangat hebat, memiliki putri yang bisa menghancurkan rumah tangan orang lain. Ey! Jangan terlalu emosi, kau mungkin belum paham. Tekanan emosi yang tinggi bisa membantumu keguguran dengan mudah, loh," lanjut Dinar dengan begitu santainya.


"MBAK!" teriak Anjani dengan nada melengking.


Membuat pengunjung kafe terkejut, bahkan alunan musik kafe kalah oleh suara Anjani yang melengking. Dinar terkekeh pelan, orang-orang menjadi mefokuskan pandangan matanya ke arah orang-orang.


"Ey! Jangan berteriak. Kalau kau berani berulah denganku, aku pastikan besok pagi satu sekolah gempar dengan kehamilanmu. Ingat kau masih kelas tiga, dan minggu ini ujian akhir. Bagaimana jika namamu menjadi gosip terhangat di media sosial teman-temanmu. Dengan judul 'Anjani gadis remaja berzina dengan Dosen Universitas ternama. Tengah hamil, siapkah Dosen itu?' Wah! Bukankah akan menyenangkan? Foto cantikmu akan tersebar. Seketika kau jadi selebriti di sekolah, ayo! Lagi. Berteriak. Mau lihat bagaimana seorang isteri sah menghancurkan pelakor cilik sepertimu. Kau bangga, bukan? Atas perbuatan hinamu. Kau sampai lupa diri, kau dan pria itu lolos karena kemurahan hatiku. Kau mau pun dia bukanlah tandinganku, coba saja usik aku," ucap Dinar dengan nada begitu dingin. "Sekali lagi kau menghubungi aku. Aku pastikan namamu dikenal oleh semua tetanggamu. Sebagai seorang pelakor, sanksi sosial itu menakutkan."


Kedua kaki jenjangnya melangkah meninggalkan pekarangan kafe, dada Dinar sakit. Namun, wajahnya semakin dingin, melangkah dengan membawa amarah yang menggebu-gebu.


...***...


...BRAK!...

__ADS_1


Dinar yang duduk ruangan tamu terlonjak kaget saat pintu luar terbuka dengan kasar, kedua matanya membesar melihat Damar yang datang dengan wajah merah padam. Damar masih memegang kunci cadangan rumah mereka, suara televisi yang besar membuat Dinar tidak tahu jika ada yang membuka kunci pintu. Langkah kaki Damar terburu-buru, sebelum langkah kaki lebar Damar terhenti. Saat matanya melirik Dinar, sosok wanita yang selalu memakai daster saat di rumah. Terlihat jauh berbeda, hotpants dan baju crop top memperlihatkan perut datar Dinar. Jangan lupakan rambut yang digerai, sebahu.


"Apa lagi? Hah! Tidak kau, tidak si gadis murah itu. Gak punya sopan santun. Apakah karena kau akan menikah gadis remaja itu. Kau jadi kehilangan otakmu itu? Rumah ini bukan lagi rumahmu. Ada baiknya mengetuk pintu rumah orang, bukanya masuk seenaknya begitu," ucap Dinar sebelum bangkit dari posisi duduknya.


Benar-benar cantik, Damar membeku untuk beberapa saat. Sosok Dinar yang dulu Damar temui sebelum menikah kembali terlihat, Damar mendekati Dinar. Ekspresi aneh, Dinar memberikan tatapan awas pada Damar.


"Kau, berpakaian seperti itu ingin menggodaku, bukan," tuding Damar membuat Dinar berdecak kesal.


"Menggoda kau, jangan gila."


"Lalu kenapa kau memakai pakai seperti itu, huh?" Damar menunjuk ke arah baju Dinar.


Dinar menunduk, ah, Dinar lupa. Dinar mendorong dada bidang Damar, sebelum melangkah pergi menuju kamar. Siapa yang menyangka pria ini akan datang ke rumah.


BRUK!


Pergerakan Damar yang sebegitu cepatnya menubruk tubuh Dinar membuat Dinar terjatuh di sofa panjang di depan televisi.


"Layani aku! Bukankah ini tujuanmu merubah diri," ucap Damar dengan nada berat.

__ADS_1


Bersambung...


Damar minta dilempari batu berjamaah deh..😏😏😏


__ADS_2