
"Mas," panggil Anjani kala keduanya masih berdiri menghadap ke arah Dinar.
Wanita dewasa itu semakin bersinar saja, dan yang mendekati Dinar sangat tampan. Melihat dari jas putih kebesaran yang diselipkan di lengan sang pria, sudah mampu menjelaskan siapa pria itu. Dokter muda, yang menatap sang mantan istri dengan sorot mata mendamba. Hati Damar terbakar, melihat interaksi keduanya.
"Mas! Dengar gak sih," lanjut Anjani sebelum tangannya menggoyangkan lengan sang calon suami.
Damar sontak menoleh ke arah Anjani, remaja itu mendadak cemberut. Merasa diabaikan oleh Damar, yang malah sibuk memperhatikan Dinar di depan sana.
"Apa?" tanya Damar semakin membuat mood Anjani buruk.
"Kenapa kita harus berhenti di sini sih? Kita harus cepat ke poli kandungan. Kalau tidak kita akan terlambat," sahut Anjani kesal.
Damar berdehem kecil, ia mendadak lupa kalau mereka pagi ini memiliki jadwal untuk mengecek kandungan Anjani. Dengan baju dress kebesaran, perut Anjani terlihat samar. Tidak seperti perut Dinar, yang masih belum terlihat. Bobot tubuh Anjani pun terlihat naik pesat, kehamilan pertama Anjani membuat tubuhnya membesar.
Berbeda dengan Dinar, wanita yang sekarang tengah mengeleng disertai senyum geli itu. Terlihat masih langsing, hingga tak terlalu terlihat.
"Jam berapa sekarang?" Damar bertanya dengan tangan diangkat melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit, sedangkan Anjani kontrol ulang kandungan di jam sebelas pas. Masih ada beberapa menit tersisa, sayangnya Anjani malah menyeret Damar. Tidak hanya hati Damar saja yang terbakar di pagi hari ini, perempuan satu ini pun cemburu. Sorot pandangan mata Damar ke arah wajah cantik Dinar, terlihat berbeda. Ekspresi wajah yang kesal saat wanitanya bersama pria lain, sedangkan status Damar dan Dinar bukan lagi suami-istri.
Ada Anjani sekarang yang akan mengganti posisi Dinar di sisi Damar, apapun yang terjadi. Anjani akan menjadi istri Damar, meskipun harus menyeret Damar sampai ke pelaminan. Dengan cara apapun itu, anak yang ada di kandungan Anjani harus lahir dengan Damar disisinya.
"Ayo, Mas! Cepatan, nanti kita terlambat." Anjani berucap dengan tangan yang masih sibuk menarik-narik tangan Damar.
Mau tak mau Damar melangkah mengikuti langkah kaki Anjani, melewati Dinar dan Jackson. Setiap langkah kaki yang Damar ambil, pria itu tak pernah melepaskan pandangan matanya ke arah wajah Dinar.
__ADS_1
Dinar dapat merasakan kehadiran Damar dan Anjani, ia sempat melirik dari ekor matanya. Dinar akui kalau dirinya terkejut mendekati kehadiran Damar dan Anjani di rumah sakit yang sama, beruntung sekali ia tidak papasan dengan kedua di poli kandungan.
Bisa gawat, Dinar akan mendapatkan teror dari Damar. Menikah bertahun-tahun dengan Damar, banyak sedikitnya Dinar mengerti bagaimana tingkah Damar.
"Dia bukannya suamimu—ah, maksudnya mantan suamimu. Kenapa dia berada di sini sama perempuan la—eh." Jackson dengan cepat mengatup bibirnya yang tanpa ia sadari lancang bertanya pada Dinar.
Dinar mengulum senyumnya, cepat atau lambat orang-orang akan mengetahui kalau ia dan Damar bercerai. Karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangganya, Dinar mendesah kecil.
"Ya, Dokter tak salah lihat. Itu memang mantan suamiku, dan perempuan yang tadi Dokter lihat adalah calon istri barunya," jawab Dinar santai.
Kelewatan santai bagi Jackson, pemuda ini tak bodoh untuk membaca situasi. Dan apa yang membuat wanita cantik di depannya ini dan pria yang baru saja melewati mereka, berselingkuh dari Dinar. Lekuk tubuh wanita yang menggandeng mantan suami Dinar, terlihat seperti perempuan yang sedang hamil. Dari pinggul yang terlihat melebar, dan dada yang terlihat mengencang. Dua hal yang dokter umum ini pelajaran, dari perubahan ibu hamil.
Jackson melirik Dinar dengan sorot mata kasihan, Dinar berdecak kesal.
"Hei! Kenapa Dokter Jackson malah menatap aku seperti itu. Jangan melihat aku seperti orang yang butuh dikasihani. Dalam berumah tangga ada banyak hal yang terjadi ya, termasuk hal seperti itu," lanjut Dinar terdengar santai dan ceria.
Dinar terkekeh hambar, perempuan ini hanya tak ingin bernasib sama seperti sang ibu. Dinar mencintai Damar, tentu saja. Tahun yang mereka habisi tak main-main, berbagi banyak hal. Berapa banyak pengorbanan Dinar untuk keluarga Damar, yang tidak perlu Dinar jelaskan pada siapa pun.
"Bisa dibilang, aku sudah cukup banyak mengeyam asam, garam, manis, dan pahit kehidupan. Tidak begitu gamang dengan apa yang menimpa, hal seperti ini cukup menamparku. Bukan untuk menjadi perempuan lemah, malah sebaliknya. Aku harus bangkit dan melawan rasa sakit. Lantaran, tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa membuat kita bahagia. Kecuali diri kita sendiri, yang bergerak," cetus Dinar dengan nada tegas.
Jackson untuk kesekian kalinya terkesima dengan berapa hebatnya wanita ini, memiliki prinsip hidup yang tak tergoyahkan.
"Dinar," panggil Jackson pelan. Membuat Dinar melirik ke arah dokter muda ini dengan dahi kerut.
"Ya?"
__ADS_1
"Apakah kamu tahu?"
"Tahu, apa?"
"Kamu itu seperti batu karang di tepian lautan. Tak, peduli seperti apa ombak menggulung dan menghantammu. Kamu tetap berdiri tegak," puji Jackson. "Dan di mataku, kamu terlihat seperti bunga di tepi jurang. Cantik serta memukau namun, tak sembarangan orang yang mampu memetikmu. Hanya orang yang telah berjuang keras untuk bisa mendapatkanmu."
Kedua kelopak mata Dinar berkedip cepat mendengar pujian Jackson padanya, pria ini tidak sedang menggoda dirinya. Namun, sedang mengutarakan kekagumannya. Dinar hanya membalas dengan senyuman.
***
Susu coklat diminum hingga tandas, sebelum diletakkan di atas wastafel. Dinar melangkah menuju ruangan tamu, denting bel apartemen mengalihkan pandangan matanya. Yang tadinya bermaksud untuk langsung menuju ke arah sofa, kini malah harus melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk.
Dinar mengintip di sela lubang pintu, malas sekali Dinar harus meladeni orang-orang yang membuat Dinar emosi. Ia butuh ketenangan malam ini, Dinar menarik kedua sisi bibirnya ke atas. Sebelum menekan engsel pintu, ia menarik pintu ke dalam.
"Hai," sapa Lilydengan ekspresi ceria.
"Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?" tanya Dinar mengabaikan sapaan Lily.
Bosnya itu sontak cemberut, ada paper bag berukuran sedang di tangannya. "Kau lupa, kalau ada kedua sahabatmu yang bisa aku tanyai. Apakah aku tidak boleh masuk?"
Dinar terkekeh kecil, ia memberikan ruang pada Lily. Perempuan itu masuk ke dalam apartemen, pintu ditutup perlahan. Lili tanpa diminta duduk, wanita karir itu langsung merebahkan tubuhnya di sofa dengan paper bag diletakkan di atas sofa.
Dinar menyusul Lily, duduk di sofa. Lily menghela napas berat.
"Dinar! Apakah kau masih tak ingin membantuku? Aku mendengar curhatan Roy. Dia bilang masih sangat mencintai padamu," ucap Lily terdengar pelan.
__ADS_1
"Aku tak berniat menikah dengan pria manapun, Lily. Kau saja yang coba bicara dengan Roy. Bilang, untuk mencoba kencan. Kalau tidak cocok ya, tinggalkan saja," tukas Dinar.
Bersambung...