
Jari telunjuk tangan Dinar terlihat mengetuk-ngetuk permukaan meja kerja, ruangan meja kerja yang sempat dihuni oleh Damar. Sudah kosong melompong, tidak ada satu pun barang Damar yang tercicil. Yang ada di ruangan berukuran sedang itu hanyalah foto bingkai pernikahan yang masih tergantung apik di dinding, Dinar memejamkan kedua kelopak matanya secara perlahan. Sebelum mengembuskan dengan kasar, Dinar benar-benar dibuat bad mood oleh masalahnya saat ini. Bahkan Dinar terpaksa untuk tidak masuk kerja hari ini, lantaran tidak akan bisa untuk berkonsentrasi.
TING! TONG!
Bel pintu mengalun mengisi kekosongan nada, Dinar menoleh ke arah pintu ruangan kerja yang terbuka lebar. Dinar mau tak mau bangkit dari posisi duduknya, sebelum melangkahkan ke luar. Bel berganti dengan ketukan disertai oleh salam, Dinar mendesah berat. Sebelum melangkah mendekati pintu masuk, tangan Dinar memutar pelan kunci pintu sebelum menarik pintu ke arah dalam.
"Dinar!" seru wanita paruh baya itu dengan ekspresi penuh syukur.
Kalau boleh jujur Dinar sendiri tidak tahu harus berekspresi seperti apa untuk ibu mertuanya ini, mengingat Dinar dan Damar masih belum ada status cerai secara hukum. Wanita itu datang dengan Amira, adik bungsu Damar.
"Ayo, masuk dulu Ma! Amira," balas Dinar dengan nada lirih.
Sebelum menggeser tubuhnya, memberikan jalan masuk untuk keduanya. Keduanya melangkah masuk ke dalam ruangan tamu, Amira dan Sri dipersilahkan oleh Dinar untuk duduk di sofa. Dinar membiarkan pintu depan terbuka lebar, sebelum melangkah mendekati keduanya.
"Mama dan Amira mau minum apa?" tanya Dinar dengan nada sopan.
Meskipun yang salah adalah Damar bukan berarti Dinar akan menyamaratakan, Damar dengan keluarganya. Dinar bukan wanita picik, yang akan mendaftar hitamkan keluarga Damar. Hanya karena kesalahan satu orang, sebelum menjadi menantu sekaligus kakak ipar di keluarga Wijayanto. Dinar sudah kenal terlebih dahulu dengan Amira, karena lewat Amira lah Dinar dan Damar bertemu.
"Tidak, tidak! Kami tidak usah dibutakan minum," sahut Sri dengan nada sungkan.
Amira meraih pergelangan tangan Dinar, membawa wanita itu duduk di sofa. Duduk di samping sang ibu, Dinar hanya menurut saja.
"Kami sekeluarga malu sama Dinar," ucap Sri dengan nada lemah. "Sebenarnya malu sekali datang ke sini, karena kesalahan Damar. Bahkan Mama sendiri takut kamu tidak mau bertemu dengan kami lagi, kami sekeluarga tidak pernah mendukung hubungan Damar dan gadis murahan itu, Dinar. Kamu jangan sampai salah paham, Mama tahu kamu. Kenal baik sama kamu, menantu paling baik yang Mama punya. Tidak satu pun yang bisa menggantikan posisi kamu, Mama berharap kamu jangan bertindak gegabah dulu, Nak. Jangan mau kalah sama pelakor itu, Mama dan yang lain akan berada di depanmu untuk membela kamu. Karena dari itu, Mama mohon pertimbangan lagi ya, buat cerai sama Damar."
__ADS_1
Dinar dapat mendengar nada suara Sri bergetar, bahkan mata tua Sri terlihat berair. Amira mengusap pelan punggung belakang sang ibu, mereka bukan berasal dari keluarga kaya raya. Tapi Dinar bersedia membantu keluarga Damar, tidak ada keluhan sama sekali. Namun, setelah apa yang dilakukan wanita ini, bagaimana bisa Damar mendua begitu mudahnya. Sri tak habis pikir, di mana hati nurani sang putra tercinta.
"Benar, Mbak. Mbak percaya 'kan sama kami sekeluarga? Kami akan membuat Mas Damar putus sama gadis itu. Gadis itu bukan gadis baik-baik, karena itu. Mbak Dinar, jangan mau bercerai dengan Mas Damar," timpal Amira dengan nada memelas.
Dinar masih tidak berbicara, wanita itu masih diam. Dinar menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan, Dinar menipiskan bibir merah merekah itu. "Gadis itu hamil, sebagai seorang wanita. Aku merasa harga diriku sudah terlalu dinjak-injak oleh Damar, Ma! Ada beberapa kesalahan yang tidak boleh dimaafkan oleh wanita. Pertama perselingkuhan, karena perselingkuhan seperti sebuah candu. Sulit untuk dirubah, kedua kekerasan dalam rumah tangga. Kebiasaan memukul akan terus berulang. Tidak akan pernah bisa dimaafkan."
Sri sontak merasa ketakutan, lalu melirik ke arah Amira. Meminta sang putri untuk berbicara, sayangnya Amira cukup waras untuk bisa menjawab. Seandainya Amira di posisi Dinar, apakah Amira bisa menerimanya? Tentu saja tidak bisa. Melihat Amira yang diam, Sri kembali membawa pandangan matanya ke arah Dinar. Tangan tua itu langsung mengenggam tangan Dinar dengan ekspresi memelas, Sri tidak mau kehilangan menantu sebaik Dinar.
"Nak Dinar! Mama paham betul. Akan tetapi Mama yakin, kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin," sahut Sri ngeyel.
Dinar tidak memotong perkataan Sri, ia hanya mengusap pelan punggung telapak tangan Sri. "Ma! Karena aku berpikir dengan kepala dingin, makanya aku setuju bercerai. Kalau tidak, bisa saja aku menghantam kepala Mas Damar dengan tongkat baseball. Saking sakitnya pengkhianat dan penghinaan itu, andaikan Mama tahu. Karena aku berpikir dengan waras aku lepaskan Mas Damar dengan berlapang dada, Mama harusnya bersyukur. Karena putra Mama masih hidup, gilanya seorang istri yang terluka itu sangat menakutkan, Ma."
Lidah Sri langsung kelu, kesalahan itu berasal dari sang putra. Meminta pengampunan pada Dinar seratus kali pun tidak akan cukup, Amira mengembuskan napas kasar.
Sri tidak ikut menimpali, Dinar mengangguk dengan senyum kecil. Meskipun hatinya pedih, karena masih waras lah membuat Dinar tidak menikam Damar dan gadis itu. Masa depan Dinar masih begitu panjang, Dinar tidak akan mengotori tangannya dengan darah.
***
"Apa? Jadi Mas dan Mbak Dinar akan segera bercerai?" tanya Anjani dengan nada ceria.
Gadis itu bahkan langsung loncat ke atas pangkuan Damar, dosen muda itu mengangguk cepat. "Jangan loncat-loncat dong, kasihan janinnya. Anak kita bisa terluka."
Anjani baru terkekeh keras, dan mengusap pelan perut datarnya. Bukan merasa bersalah karena telah merebut suami orang, Anjani malah semakin bahagia. Karena bisa memiliki Damar sepenuhnya, tidak perlu lagi main kucing-kucingan di belakang Dinar. Tidak perlu lagi main ke hotel, jika ingin bermesraan dengan Damar. Gadis remaja ini tidak peduli dengan apapun, bahkan karma sekali pun.
__ADS_1
"Maaf, Mas! Aku terlalu senang sampai lupa dengan anak kita," sahut Anjani dengan senyum lebar.
Damar terkekeh serak, meskipun kini Damar harus mengontrak rumah baru karena sudah diusir oleh Dinar. Sekarang apa yang perlu Damar khawatirkan? Toh, sekarang Damar punya segalanya. Punya pekerjaan yang bisa bagus, Damar bisa membeli rumah setelah menikah dengan Anjani. Menikah dengan gadis seimut Anjani lalu memiliki keluarga bahagia, meskipun ditentang oleh semua anggota keluarga, Damar. Damar tidak akan peduli, karena saat anak Damar dan Anjani lahir sudah pasti kedua orang tuanya akan luluh. Dan merestui pernikahan mereka, yang Damar utamakan saat ini adalah Anjani. Bak kacang lupa kulit, Damar lupa dari uang dan dukungan siapa Damar bisa menjadi seorang dosen.
"Aku tak sabar anak ini lahir dan memangilku, dengan panggilan Papa. Ah, senang sekali," ucap Damar. Sebelum telapak tangannya mengusap perut Anjani.
***
Dinar menatap pantulan wajah yang terlihat kusam, Dinar bahkan lupa kapan terakhir kalinya Dinar merawat kulitnya. Bahkan rambutnya tidak bisa dirawat dengan baik, kantong mata yang terlihat semakin menghitam.
"Mau dipotong sampai mana, Mbak?" tanya wanita bermata sipit itu.
Dinar menatap pantulan wajahnya di cermin, sebelum turun ke arah wajahnya. "Tolong potong hingga bahu. Lalu warna dengan warna drak brown."
Kepala wanita itu mengangguk, sebelum tangannya memperlihatkan layar ponsel pintarnya ke arah Dinar. Memperlihatkan berbagai gaya potong rambut, Dinar menunjuk satu gaya rambut yang disukai.
"Tolong, yang ini, Mbak!" seru Dinar setelah menunjuk gambar model rambut yang diginkan.
"Baik, Nona," balasnya.
Lihatlah Dinar, demi membahagiakan sang suami. Dinar tidak pernah merogoh kocek untuk kebahagiaan dirinya sendiri, apa-apa Dinar selalu berpikir keuangan rumah tangga. Sekarang tidak lagi, Dinar akan merubah penampilan. Bukan untuk membuat Damar menyesal meninggalkan dirinya. Namun, untuk memperlihatkan pada dirinya sendiri, kalau dia adalah wanita yang begitu mempesona dan berharga. Wanita yang memiliki harga jauh lebih tinggi dari gadis itu.
"Ah, bodohnya aku. Aku lupa, membahagiakan diriku sendiri. Hanya karena ingin dicintai oleh pria bodoh dan brengsek seperti, Damar." Dinar bergumam kecil.
__ADS_1
Bersambung....