Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 47. KETULUSAN


__ADS_3

Berantakan sudah semuanya, secepat Damar memanjat hingga ke puncak. Secepat itu pula ia terjun bebas, terperosok dalam penderitaan. Kenyataan pahit harus ia telan mentah-mentah, pada kenyataannya Damar sendiri yang keliru. Dia yang telah berkhianat, menginjak-injak hati mantan istrinya dengan sadis terlepas dari perjuangan Dinar hingga rumah tangga mereka di masa lalu berada di puncak kejayaan. Tidak banyak lelaki yang paham, beda istri beda rezeki. Dan beda kualitas diri, apalagi perempuan yang telah dipilih jauh dari kata berkelas.


TOK! TOK!


"Damar! Ini Mama, kamu ada di rumah 'kan?" Sri memanggil putranya yang sudah 7 hari tiada kabar.


Suara keras dan gedoran nyaring dari luar, membuat Damar tersentak dari lamunan panjang. Aroma alkohol menyeruak di udara, pintu rumah kontrakan minimalis itu tak lagi dibuka. Kertas berlambangkan rumah sakit tergelak tak berbentuk di atas lantai, Damar tersenyum mencemooh.


"Dia mungkin gak di rumah, Ma," tutur Amira, bersuara.


"Coba telepon, masmu," titah Sri pada si bungsu.


Amira mengangguk kecil, jari jemari bergerak di atas layar ponsel. Sebelum smartphone ditempelkan di daun telinga sebelah kanan, dering ringtone benda pipih yang ikut tergelak di atas layar mengudara. Sri dan Amira yang berdiri di teras rumah kontrakan Damar saling adu lirikan mata, sebelum kembali dibawa ke arah daun pintu yang tertutup rapat.


"Mas ada di rumah, mungkin tidur kali Ma," ucap Amira, suara panggilan terputus.


Samar-samar mereka mendengar suara derap langkah kaki, dan suara kunci dibuka. Pintu ditarik perlahan ke arah dalam, wajah Damar yang tampak semerawut terlihat jelas di ruas pintu yang sedikit terbuka.


"Astaga! Damar," gumam Sri terkejut melihat penampilan serta aroma tubuh yang menusuk indera penciuman wanita paruh baya tersebut.


"Kenapa ke sini pagi-pagi, Ma," jawab Damar serak.


"Mas ini udah jam 1 siang, pagi dari mana. Itu matahari udah ada di atas sana, Mas kenapa udah kayak orang keluar dari hutan aja. Kusut begitu, Mas minum alkohol? Ugh... bau banget." Amira dengan cepat menjepit lubang hidungnya.


Damar tidak ada tenaga, lelaki itu menghela napas kasar. Sri mendorong pintu rumah agar terbuka semakin lebar lagi, untuk kesekian kalinya ibu—putri itu mendumel mencium aroma tak sedap dan bentuk keadaan rumah kontrakan Damar yang sangat berantakan.


...***...

__ADS_1


Bibir Lidia terbuka lebar, mendapati kehadiran wanita berambut sebahu di sofa ruangan tamu rumahnya. Wanita yang memilih untuk bersandiwara dengan berpura-pura gila, kini duduk di sofa menatap ke arah Lidia. Sorot matanya terlihat begitu angkuh, tidak ada senyum. Satu hal yang masih sama di mata Lidia, kecantikan yang tak lekang oleh waktu. Dan keangkuhan khas putri konglomerat, yang memiliki segalanya.


"Anggun," gumam Lidia tak percaya.


Anggun tersenyum sinis. "Duduklah, aku tidak akan berlama-lama di rumah ini." Anggun menyahut cepat dan cepat.


Lidia mengayunkan langkah kakinya mendekati sofa, duduk berhadap-hadapan dengan mantan istri dari sang suami tercinta. Berbeda dengan Lidia, wanita satu ini terlihat semakin kurus dan tampak kelelahan.


Tangan Anggun meletakkan amplop besar di atas meja ruang tamu, lalu melipat kedua tangannya di bawah dada.


"Bukalah, itu hadiah pertama dariku. Meskipun terlambat untuk aku menyadarinya, harusnya sedari awal aku lakukan ini. Untuk kalian berdua," ucap Anggun, memberikan kode untuk Lidia meraih amplop besar itu.


GLEK!


Susah payah Lidia meneguk air liur di kerongkongannya, perasaan Lidia sangat tidak enak. Tangan kanan Lidia terulur meraih amplop besar, perlahan membukanya. Menarik berkas yang disusun rapi, dibaliknya setiap lembaran. Dahi Lidia berlipat, bagaimana bisa? Pupil mata Lidia melebar, ia melirik ke arah Anggun.


"Tentu saja mengambil alih semua yang sedari awal menjadi hak milikku. Rumah ini, perusahaan yang sekarang di kelola oleh Amar, serta property yang memang diberikan oleh Papa mertuaku untuk putriku. Hanya untuk Dinar," sahut Anggun tenang.


"Aku tahu, Dinar adalah pemilik semuanya. Aku maupun Mas Amar, akan memberikan ini untuk Dinar. Bukan untuk kamu," tukas Lidia berang.


Kepala Anggun mengangguk sekilas, dan tersenyum tipis. "Sepertinya ada yang keliru untuk kamu pahami, Lidia. Harta milik Amar, huh? Tidak semuanya milik Amar. Saat itu, perusahaan keluarga Amar diambang kebangkrutan. Coba tebak siapa yang mengulurkan tangan untuk membuat mereka kembali bangkit? Ya, perusahaan keluargaku. Papaku yang berjuang keras, hingga Amar menyetujui perjodohan. Kamu benar, kalau dia terpaksa untuk menikahiku. Papaku sama sekali tidak berbuat licik untuk sampai di tahap ini, tetapi Amar lah yang berbuat licik. Menghilang jejak pertolongan papaku, dan kamu dengan banganya mengatakan kalau posisiku saat itu adalah milikmu, huh," cemooh Anggun.


Lidia lah orang yang merebut semua hak milik Anggun, kenaifan dan cinta. Terlanjur merenggut kewarasan Anggun, di otak Anggun hanya ada Amar dan Amar. Ia cinta, sungguh cinta membuat dirinya begitu lemah dan bodoh. Sekarang tidak lagi, Anggun melepaskan semuanya. Menyambut kedatangan si kecil—cucu yang akan lahir. Serta kebahagiaan putri satu-satunya, Anggun akan berjuang untuk menebus kebodohannya di masa lalu.


"Katakan pada Amar, aku datang. Dan meminta semua hakku, tampak terkecuali. Ah, rumah ini kalau kamu suka. Silakan beli dengan uang, oh, iya. Maaf aku lupa, kamu 'kan kere. Hanya dengan bermodalkan ekspresi wajah memelas merasa menjadi korban, hanya itu bakatmu dari dulu. Kalau bukan dari Amar, kamu bukan siapa-siapa, kelas kita sedari awal berbeda. Aku saja yang bodoh, harus menyadarkan lalat jika bunga lebih harum daripada keranjang sampah," sambung Anggun, sebelum ia bangkit dari posisi duduknya.


...***...

__ADS_1


Aroma harumnya kopi, manisnya susu coklat menguar di udara menyatu dengan aroma renyah rempah-rempah sate bakar dan jagung bakar. Sesekali terlihat keduanya memperhatikan Mark. Lelaki itu tampak antusias dengan jagung bakar, katanya malam ini. Mark yang akan melayani kedua ratu, beberapa keluarga Mark tampak bekerja membuat ayam bakar. Di belakang mansion mewah milik Mark begitu heboh, belum lagi keponakan Mark yang tampak berlarian ke sana kemari dengan kembang api kawat yang menyala.


Anggun melirik ke samping, di mana Dinar tampak mengabadikan momen langka di smartphone di tangannya. Keluarga Mark meminta keduanya untuk lebih bersantai, sampai semua makanan siap disajikan di atas meja yang memanjang. Merasa ditatap sebegitu intensnya, Dinar melirik ke samping. Ia tersenyum pada ibunda tercinta, Anggun membalas senyuman sang putri.


"Mama lapar?" tanya Dinar pada Anggun, tampak Anggun mengeleng sekilas.


Dinar mematikan rekaman yang telah ia ambil, meletakkan benda persegi panjang di atas meja. Ia beringsut ke arah sang ibu, menjatuhkan kepalanya di bahu Anggun.


"Aku ingin seperti ini terus, Ma," ujar Dinar lirih. "Melihat Mama beraktivitas seperti dahulu, dikelilingi oleh orang-orang yang sangat baik. Serta... seseorang yang mencintaiku dengan tulus," lanjut Dinar, tak lupa ia mengulas senyum lebar.


"Ya, Mama senang melihat putri Mama satu-satunya bisa bahagia.  Kali ini, tampaknya Tuhan memberikan Dinar kebahagiaan yang pernah diambil. Dan dikembalikan berkali-kali lipat," sahut Anggun pelan.


Dinar mengangguk, dia tidak menyatakan perasaannya pada Mark. Dinar ingin melihat bagaimana sabarnya Mark menghadapi dirinya, Dinar ia merasakan bagaimana rasanya dicintai lebih keras lagi. Meskipun demikian, bukan berati Dinar tidak menghargai bagaimana kerasnya usaha Mark untuk menunjukkan jikalau Mark mencintai dirinya.


Anggun mengusap perlahan punggung telapak tangan Dinar, seribu kali maaf pun. Tidak akan bisa menebus rasa bersalah Anggun pada Dinar, yang tak pernah letih merawat Anggun.


"Mengapa Dinar tidak meninggalkan Mama saat itu? Dibanding hidup dengan Mama yang gila. Mengapa tak hidup dengan papamu yang bergelimang harta?" tanya Anggun cukup penasaran, bagaimana bisa anaknya menahan segala rasa sakit dan penghinaan lantaran punya ibu gila.


"Mama ingat gak sama Om Ben?" tanya balik Dinar, sebelum menjelaskan alasan mengapa ia memilih bersama Anggun dibandingkan harus bersama Amar.


Kepala Anggun mengangguk. "Iya, ingat. Dia adalah sahabat dekat Mama," jawab Anggun, ah ia ingat dengan Benny.


"Om Ben, dia mencintai Mama," ujar Dinar membuat kedua mata perempuan paruh baya itu terbelalak. "Sayangnya Om Ben hanya dianggap sahabat sama Mama, Om Ben gak pernah meninggalkan Mama. Meskipun Mama gak pernah melihat ke arah Om Ben, beliau yang membantuku. Om Ben bilang, kehidupan Mama gak semulus yang orang lain lihat. Mama anak yang tidak tahu bagaimana rasa dicintai oleh kedua orang tua, lantaran ibunya Mama sudah gak ada saat usia Mama 8 tahun. Dan Eyang yang sibuk bekerja dan hanya memenuhi Mama dengan materi saja, Om Ben tulus sama Mama. Om Ben membuatku terus bertahan di sisi Mama. Terkadang aku berpikir, alangkah indahnya jika Om Ben adalah ayahku," tutur Dinar menjelaskan.


Anggun sungguh tak tahu, atau memang tidak begitu menghiraukan. Di mata Anggun hanya ada Amar, meskipun di mata Amar hanya ada Lidia.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2