
"Maaf, Pak. Kami tidak bisa memberikan pinjaman apapun pada Bapak Amar. Pak Amar 'kan tahu sendiri. Kami butuh jaminan, sedangkan Bapak Amar tidak memiliki jaminan untuk bisa mengambil pinjaman," papar pria sebaya dengan Amar, menjelaskan dengan ekspresi wajah sungkan.
Bagaimana pun sebenarnya Amar merupakan nasabah tetap di banknya, akan tetapi saat ini berbeda. Amar bukan lagi seorang CEO, yang memegang jabatan di perusahaan. Perusahaan yang dikelola oleh Amar katanya diambil alih oleh anak dari pernikahan pertama Amar, benar-benar heboh bukan main.
Pasalnya tak hanya tentang Amar yang didepak dari perusahaan yang ia kelola selama bertahun-tahun, akan tetapi juga tentang rumor tak sedap. Perihal lelaki di depannya ini menyelewengkan hak perusahaan, yang harusnya saat bercerai terpecah dua. Amar akan langsung meninggalkan jabatan kala putri pertamanya cukup umur dan dikategorikan mampu untuk mengelola, bagian Amar tak seberapa di perusahaan itu. Lantaran kemarahan istri pertama yang sempat digadang-gadangkan gila, kini kembali waras. Mengambil kembali haknya tanpa sisa, pada akhir Amar bukan siapa-siapa.
"Apakah tidak ada bantuan apapun, yang bisa Pak Riki berikan? Saya butuh sekali uang saat ini. Apalagi istri saya berada di rumah sakit saat ini," sahur Amar memelas.
Riki menghela napas, dan berkata, "Maaf sekali, Pak. Prosedur bank tidak bisa diubah-ubah, tetapi... mengingat hubungan yang sudah lama terjalin. Saya akan merekomendasikan tempat pinjaman yang lain, tetapi bunganya berkali lipat yang harus Bapak Amar bayar."
Kepala Amar langsung mengeleng cepat. "Gak masalah sama sekali, Pak! Yang penting saya mendapatkan pinjaman. Tidak ada tempat satu pun untuk saya mengadu saat ini, karena itu... saya berharap mendapatkan uang untuk pengobatan saat ini."
Riki mengangguk, ia bangkit dari posisi duduknya. Melangkah mendekat meja kerja, tangannya bergerak menarik laci meja. Mengeluarkan kartu nama, menutup laci secara perlahan. Riki melangkah mendekati sofa, duduk di tempat semula.
"Nah, ini, Pak! Semoga Bapak Amar bisa mendapatkan uang dari sini." Riki menyodorkan kartu nama yang ia ambil.
Amar dengan cepat meraihnya. "Terima kasih, Pak Riki." Amar tampak berkaca-kaca.
Diusia tak lagi muda, apalagi ia kehilangan semuanya. Amar tidak tahu harus bagaimana, istrinya sakit keras. Belum lagi anak bungsu Amar yang membutuhkan biaya kontrol rutin, sedangkan Ronal si sulung memutuskan untuk keluar dari kampus. Ronal mencari pekerjaan, untuk membiayai uang kontrakan mereka ke depannya.
Riki menghela napas kasar, ngeri juga kehidupan Amar Santoso. Lelaki itu adalah pria kaya, kehidupannya tertata rapi. Menikahi seorang putri tunggal pengusaha, meskipun Riki tahu. Sulit untuk lelaki menahan hawa nafsu, berselingkuh dengan yang katanya kekasih pertamanya. Riki pikir tidak sampai nikah, nyatanya Amar menikahi wanita itu. Mendepak Anggun yang kehilangan kewarasannya, bak air susu dibalas air tuba.
__ADS_1
Melihat kedua sisi bahu Amar yang lemah, membuat Riki mendesah kasar. Andaikan Amar berbuat baik pada istri pertamanya, mencintai Anggun dengan tulus. Rasanya karma seberat ini tak perlu ia pikul.
PUK!
"Pak! Kok melamun," ucap bawahanan Riki menepuk pundak sang manager lantaran melamun menatap kepergian Amar. Hingga tak tahu ia memanggil dan masuk ke dalam ruangan sang manager.
Riki menipiskan bibirnya. "Aku hanya sedang berpikir saja, roda kehidupan yang berputar dan karma yang mengetuk pintu orang-orang. Sebagai penonton rasanya aneh saja, dia diberikan kehidupan yang mewah. Istri yang cantik, anak yang cantik serta pintar. Malah memilih perempuan lain, yang mau jadi simpanan. Hah, kalau aku 'lah yang jadi dia. Aku akan sangat bersyukur sekali, sayangnya dia lupa diri. Jikalau bukan karena Ayah mertuanya, dia sudah dari lama jadi gembel."
Karyawan lelaki itu terkekeh kecil. "Ya, namanya juga manusia, Pak. Dikasih berlian maunya batu kali," sahutnya.
Riki mengangguk kecil. "Ya, beruntunglah aku orangnya setia. Satu singa betina saja sudah bikin mumet, apalagi nambah singa lainnya," kelakar Riki yang diangguki oleh karyawan.
...***...
"Honey!" teriakan nyaring dari suara bariton mengalihkan perhatian orang-orang yang berada di lobi perusahaan.
Senyum lebar, sekretaris Dinar melirik ke arah sang CEO dengan sorot mata mata mengamati. Ekspresi wajah Dinar, garis bibir Dinar tampak ditarik tinggi menatap sang calon suami yang antusias.
Di arah pintu masuk terlihat sekretaris Mark, tampak berantakan. Sumpah! Sekretaris Mark ingin sekali menghantam kepala sang CEO, lantaran seenak jidatnya mengganti jadwal pertemuan.
"Sepertinya, Pak Mark kembali membuat ulah, Bos!" bisik Rebecca di belakang tubuh Dinar sebelum terkikik kecil.
__ADS_1
Baru saja 3 mingguan Rebecca berkerja memandu CEO baru mereka, ia hapal dengan tingkah calon suami sang big bosnya. Lelaki casanova, mantan player. Rebecca pernah mendengar perihal bagaimana Mark Louis memimpin perusahaan, pria itu dingin, menakutkan, dan juga menyebalkan. Setidaknya itulah orang-orang yang sudah bertemu dengan Mark, lucunya malah berbeda saat pertama kali Rebecca bertemu.
Mark setiap saat bergelayut pada tangan sang bos, ke sana dan kemari. Ada saja alasan Mark hanya untuk bisa menyambangi Dinar di kantor, seperti saat ini salah satunya.
"Bunga yang cantik untuk calon Ibu anakku." Mark mengulurkan buket bunga.
Dinar menerimanya, kepala wanita cantik itu tampak sedikit menengadah. "Kali ini apalagi?" tanya Dinar memasang ekspresi wajah garang.
"Ehey, jangan pasang ekspresi wajah begitu dong, Sayang. Aku ke sini mau ngajak kamu makan siang, sekaligus kita ke studio foto. Aku udah nemuin tempat yang pas banget, serta beberapa gaun yang sudah pernah kamu pilih untuk berfoto." Mark mengandeng tangan Dinar.
Beberapa pasang mata tampak mencuri pandang ke arah kedua CEO yang tampak begitu serasi saat disandingkan, Dinar merupakan bos yang easy going di mata karyawan. Namun, berwibawa serta elegan disaat bersamaan. Cara kerja Dinar pun dinilai bagus, untuk seorang pemula yang menduduki kursi CEO. Terlepas dari apa yang terjadi di keluarga Dinar, yang mendadak mendepak ayahnya sendiri dari kursi. Berita yang beredar tentang perlakuan buruk mantan CEO—ayah Dinar cukup membuat mereka terbagi menjadi dua kubu. Bagian pro dan kontra, melihat kinerja Dinar setidaknya orang yang tak suka tak bisa berkutik.
"Nah, para Nona sekretaris. Silakan ngopi bareng, berdua. Aku akan bersama istriku dulu." Mark mengeluarkan kartu black card menyerahkan ke arah sekretarisnya.
Mark menggenggam tangan Dinar mengayun-ayunkan seperti anak kecil, Dinar hanya pasrah saja digandeng ke arah pintu ke luar. Mendapati kehadiran Dinar, Damar yang sudah 3 jam menunggu di teras lobi perusahaan langsung bangkit dari posisi duduknya. Dahinya berkerut, melihat sang mantan istri tersenyum lebar kala pintu mobil dibuka lalu ditutup perlahan. Pria itu tampak setengah berlarian mengitari mobil, masuk ke dalam mobil mahal itu.
Manik mata Damar meredup seketika, melihat bagaimana kehidupan Dinar dan kehidupan dirinya yang begitu jauh. Penampilan Damar tampak tak terurus, rambutnya yang kusut, bulu-bulu halus yang tumbuh disepanjang dagu. Ia menjadi seorang pengangguran, keluarganya berantakan. Karirnya tenggelam, dan ia menyesali semuanya. Andaikan Damar tidak gelap mata, andaikan Damar bisa membuka mata lebar-lebar bagaimana Dinar mencintainya.
Damar tertawa sumbang. "Harusnya aku tidak seperti ini, maafkan aku, Dinar. Aku benar-benar lelaki paling bodoh dan paling hina. Melepaskan semua amarahku padamu, padahal yang sangat kurang itu adalah aku. Aku yang mandul dan tak tahu diri," gumam Damar nyaris berbisik.
Bersambung...
__ADS_1
Tumben sadar bang🫣🫣😆😆