Bahagia Setelah Cerai

Bahagia Setelah Cerai
BAB 39. TERBONGKAR


__ADS_3

Amira mendesah berat beberapa kali, Jaka melongok ke arah belakang. Sang istri tampak mengerutkan dahinya beberapa kali, sebelum mendesah berat.


"Ada apa, Ra? Kok menghela napas terus dari tadi?" tanya Jaka, pria yang memiliki profesi yang sama dengan Amira mengambil tempat duduk tepat di samping Amira.


"Ingat gak, Jak? Saat kita berdua ke Poli Kandungan?" tanya balik Amira, tampak serius.


"Iya, emangnya kenapa, Ra?"


"Di hari itu aku melihat Mbak Dinar, mantan istrinya Mas Damar. Saat itu emang gak yakin, tetapi dengar Bude ngomong sama Mama. Mbak Dinar katanya hamil, apa berati itu keponakannya, aku?" papar Amira, antusias.


Jika memang di dalam kandungan Dinar adalah anak Damar, otomatis Dinar dan Damar memiliki peluang untuk kembali rujuk. Anjani bisa saja disingkirkan dari kehidupan keluarganya, perempuan itu hanyalah benalu untuk keluarga Amira. Dikit-dikit uang, uang, dan uang lagi. Tidak ada satu pun yang akan dibicarakan selain uang dengan sang kakak, Anjani bukan perempuan yang pas untuk sang kakak.


Jaka merenung untuk beberapa saat, Dinar hamil anak Damar? Itu sesuatu yang sangat tidak mungkin bagi Dinar. Mengapa? Setahu Jaka sendiri, mereka sudah pernah menikah selama 5 tahun tetapi Dinar tak kunjung hamil. Begitu pula dengan Anjani, mantan muridnya itu tampaknya frustrasi tak kunjung isi. Hingga berhasil kala berhubungan dengan Jaka, Jaka sangat yakin kakak iparnya itu mandul.


"Jaka! Loh, kok malah diam." Amara menepuk kecil paha sang suami cukup keras.


Jaka tersentak, ditariknya kedua sisi bibirnya ke atas. "Ah, kayaknya gak mungkin deh kalau hamil anaknya Mas Damar."


"Loh? Kok gak mungkin. Mereka itu sepasang suami-isteri di masa lalu, sebelum bercerai. Bisa jadi pernah berhubungan badan, lalu cerai. Kayak di drama-drama," tukas Amira, keukeh dengan pemikirannya.


'Ya, kalau masmu itu subur. Wong Mas Damar bermasalah dengan sama kesuburannya.'


"Jaka! Kok malah melihat aku kayak gitu, sih? Apa yang aku omongin gak salah, loh."


Jaka mengangguk perlahan. "Iya, gak ada yang salah, kok. Kita anggap aja itu anaknya Mas Damar, kamu sama keluargamu mau apa? Mbak Dinar gak akan mau balik sama Mas Damar. Apalagi sekarang ada Anjani 'kan? Sudah pasti Mbak Dinar akan memilih tetap seperti saat ini," jawab Jaka, memberikan pendapatnya akan keputusan Dinar, jikalau pun anak itu adalah anak dari sang kakak ipar.

__ADS_1


"Cih! Gak usah ngomong nama itu lagi, lah, Jak! Aku itu suka gedek kalau dengar nama itu orang. Dari awal aja mengajar di sekolah kita, aku dah ngerasa gak enak sama itu perempuan gantel. Andaikan dia gak menghancurkan rumah tangga Mas Damar dan Mbak Dinar, Mas Damar gak akan ditendang dari universitas tempatnya mengajar," sahut Amira kesal. "Kalau anak di dalam kandungan Mbak Dinar adalah anak Mas Damar, kami bisa membujuk Mas Damar dan Mbak Dinar buat rujuk. Untuk  si Anjani itu bisa dibuang jauh-jauh dari perempuan gatel dan matre satu itu!"


"Lalu bagaimana sama anak yang ada di kandungan Anjani, bagaimana pun itu keponakan kamu, juga loh," kata Jaka, mengingatkan Amira.


Enak saja perempuan ini ingin mendepak anaknya, Jaka ingin anaknya mendapatkan kehidupan yang bahagia. Jaka mungkin pria yang main gila dengan mantan muridnya sendiri, tetapi ia masih memiliki feeling dan tanggung jawab sebagai seorang ayah yang kuat.


"Iya, juga ya," gumam Amira lirih.


"Ah, gimana gini aja. Kita besarkan anak itu sebagai anak angkat kita, toh anak itu adalah keponakanmu juga. Walaupun kamu gak suka sama ibunya, anggap aja sebagai pancingan agar kamu secepatnya hamil. Maka masalah akan selesai, Mas Damar akan kembali bersama dengan Mbak Dinar, Anjani bisa pergi dari kehidupan Mas Damar. Kita pun bisa memiliki anak serta membesarkan keponakanmu," usul Jaka cukup cerdik.


"Tapi Anjani gak akan mau anak itu kita yang asuh, Jaka. Kamu gak paham aja bagaimana dia, saat dimintai bantu-bantu kerjaan ringan aja sama Mama. Beeeh, dah kayak dimintai ngerjain semua pekerjaan rumah ini," adu Amira kesal.


Jaka terkekeh kecil, dan menjawab, "Ya, namanya juga masih belum dewasa, Amira. Dia itu harusnya baru saja duduk di bangku universitas semester pertama, malah udah hamil. Nanti biar aku yang bujuk, yang penting sekarang kamu dan keluargamu mau aja."


Lama sekali Amira berpikir, ia mengangguk patah-patah. Senyum di bibir Jaka langsung lebar.


Mark tampak santai melihat Dinar ngamuk-ngamuk, bagaimana tidak? Wanita hamil satu ini dibawa ke sebuah rumah besar. Dengan begitu banyaknya bodyguard berjaga di bawah sana, embusan napasnya memburu.


"Jangan marah-marah dong, Honey! Nanti anak kita kenapa-napa," ucap Mark, tersenyum polos tanpa dosa.


Dinar mengatup perlahan kelopak matanya, sebelum kembali terbuka. Ia membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Mark. Dasar pria sinting! Bagaimana bisa Mark menculik Dinar dan mengurungnya di mansion mewah yang entah di mana letaknya saat ini.


Mansion besar itu dicabut semua telepon rumah, tidak ada satu pun yang bisa membuat Dinar terhubung dengan tempat luar sana. Ponselnya entah disembunyikan di mana oleh Mark.


"Aku mau pulang, sekarang juga!" teriak Dinar melengking, setelah menghancurkan semua isi kamar yang ia tempati.

__ADS_1


Sebelah alis mata tebal Mark ditarik tinggi ke atas, ia tersenyum lembut pada Dinar.


"Kamu sudah pulang, Sayang. Mulai sekarang dan seterusnya ini adalah rumahmu, rumah kita. Semua hal ada di sini, kamu gak perlu khawatir," jawab Mark tenang.


"Kamu sudah gila, Mark. Anak ini ini bukan anakmu, jangan ngasal begitu. Anak ini adalah anak dari mantan suamiku," tukas Dinar menggebu-gebu.


Alis mata Mark mengerut. "Sampai kapan kamu harus berbohong padaku, Dinar? Mau kamu membersihkan TKP saat itu. Ada satu hal yang lupa kamu hilangkan, sebagai barang bukti."


Tubuh Dinar mengigil, sorot mata yang tadinya tampak ramah dan cerah. Kini berubah perlahan menjadi tajam dan tegas, guratan ekspresi wajahnya pun terlihat berbeda.


"Aku mencintaimu, itu sebuah kebenaran. Anak itu adalah anakku pun itulah faktanya, jangan mencoba berbohong padaku, Dinar. Anak mantan suamimu, huh? Aku bukan pria bodoh Dinar. Dan tidak mungkin untuk seorang pembisnis seperti aku, tidak menyiapkan barang bukti sebelum membawamu ke sini, Dinar. Semuanya terjadi karena ketidak jujuranmu, serta tindakan nekatmu. Kamu pikir aku ini gak bisa berpikir, sampai tidak tahu kamu ingin kabur dari negara ini. Membawa anakku," lanjut Mark, pemuda itu perlahan bangkit dari posisi duduknya.


Melangkah ke arah lagi di samping ranjang. Mengeluarkan berkas-berkas, ditegakkan kembali tubuhnya yang menunduk. Melangkah ke arah Dinar, mawas diri.


"Ja—jangan mendekat!" jerit Dinar, tergagap.


Bibirnya bergetar ketakutan, melihat reaksi Dinar, Mark hanya mampu mendesah kasar. Langkah kakinya berhenti, ia meletakkan berkas-berkas yang ia beli dengan harga yang tak main-main di atas meja yang tampak miring. Mark mundur ke arah belakang, ia duduk kembali ke sofa di kaki ranjang yang sudah berantakan oleh ulah Dinar.


"Buka, dan baca. Apapun keputusanmu, kamu tidak akan pernah bisa merubah keputusanku untuk menjadikan kamu sebagai istri serta Ibu dari anakku," gumam Mark tegas.


Tangan Dinar terulur takut-takut, ia mengeluarkan isi amplop. Beberapa berkas kepergiannya, serta negara yang akan ia tuju. Lalu lembar lain menyatakan tentang kesehatan tubuh secara menyeluruh. Mata Dinar terbelalak, bibirnya terbuka lebar.


"Gangguan ******, dan jumlah yang sangat rendah. Itulah mengapa 5 tahun menikah kalian tidak pernah memiliki anak, Dinar. Bagaimana? Masih mau mengakui dia anak mantan suamimu. Dan jika kamu masih ingin mengelak, ada CCTV di ruangan itu. Ah, aku lupa bilang ya. Kamarku sebenarnya ada CCTV mengarah ke pintu masuk kamar, bukan aku yang pasang.  Itu ulah Kakak perempuanku yang usil," tutur Mark, memukul telak Dinar.


Saking syoknya, Dinar tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia membeku, game over!

__ADS_1


Bersambung...


Ayooo, loh, Dinar🤣🤣🤣 Om Mark accu uga mau dong diulik🫣🫣🫣🫣


__ADS_2