Bangkit Dari Kematian Berdarah

Bangkit Dari Kematian Berdarah
Kematian Tragis


__ADS_3

Kekuatan Vino melesat menjadi lebih kuat seperti sedang meledak-ledak. Demon Lord yang melihat itupun ketakutan hingga mengeluarkan keringat dingin diikuti dengan bulu kuduknya yang berdiri. "Apa-apaan manusia ini? Kekuatannya sudah terlalu gila!" ujar Demon Lord di dalam hatinya.


Note: Bahasa Iblis, saya ubah menjadi bahasa Indonesia saja ya, karena bahasa Iblis terlalu susah ditulis.


"Wush..." angin berhembus kencang seperti angin ****** beliung karena kekuatan Vino yang lepas kendali untuk kedua kalinya. Tanah disekitar Vino mulai terangkat, pohon-pohon tiba-tiba roboh, angin berputar mengelilingi Vino dan Vino sebagai titik inti dari angin tersebut. Semua hal itu adalah akibat dari kekuaan Vino itu. Pada awalnya Vino hanya mencoba mengeluarkan kekuatan setengah iblisnya namun kekuatan tersebut tidak bisa Vino kendalikan dan akhirnya lepas kendali.


Setelah kekuatan yang Vino siapkan sudah terkumpul cukup banyak, ia pun berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah Demon Lord. Tak butuh waktu lama, Vino dapat berada didepan Demon Lord hanya dalam beberapa detik walaupun jarak diantara mereka sangat jauh sekali. Demon Lord yang melihat Vino tiba-tiba berada didepannya itu pun terkejut sekaligus panik, "Sial! Dia cepat sekali!" ucap Demon Lord dalam batinnya. Demon Lord sama sekali tak menyangka bahwa kekuatan Vino sangatlah besar, sekonyong-konyong Demon Lord secara cekatan langsung memunculkan sebuah penahan untuk menahan serangan dari Vino. "Tuang..." tak disangka penahan yang Demon Lord buat tidak bekerja dan kekuatan pukulan dari Vino tembus melewati penahan Demon Lord hingga membuat penahan tersebut hancur seketika.


"Buaakkkhhh..." Demon Lord terpental jauh hingga beberapa kilo meter jauhnya, hingga Demon Lord mengeluarkan suara seperti sedang tersiksa. Hal tersebut tentu saja terjadi karena Vino memukul bagian perut Demon Lord hingga Demon Lord mengeluarkan banyak sekali darah, bahkan darah Demon Lord dapat digunakan untuk donor darah bagi beberapa orang (5 atau lebih). Melihat hal itu, Vino tersenyum senang karena Demon Lord yang kesakitan dan juga mengeluarkan darah yang sangat banyak. "Hehehehe..." Vino tertawa dengan logat mengerikannya. Sementara itu Demon Lord sedang menahan lukanya agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi.


"Aku harus menahan lukaku, jika tidak aku akan mati!" ujar Demon Lord sembari mengerutkan keningnya. Setelah itu, Demon Lord pun menahan lukanya agar tak menyebabkan dirinya mengalami kematian. Disaat pertarungan yang sengit namun sedikit berat sebelah itu, nampak dari kejauhan Arisa sedang terbang menuju ke arah Benua Seyuuji ini. Tak berselang lama Arisa telah sampai di benua tersebut dan ia pun terkejut melihat Miyuki yang berada di benua itu. "Hah? Kenapa ada wanita sialan itu? Apa yang dia lakukan disini?" ujar Arisa merasakan perasaan tidak enak. Seketika Arisa langsung menghampiri Miyuki yang panik itu, "Hei!" Arisa menyapa dengan muka datar sembari menepuk bahu Miyuki. Sontak Miyuki yang merasakan hal tersebut langsung berteriak "Aaahhh..." Miyuki terkejut dengan seorang wanita yang tiba-tiba saja berada di belakangnya. Beruntungnya Demon Lord dan Vino tak mendengar teriakan Miyuki karena kepanikan dan kebisingan pertarungan mereka itu.

__ADS_1


"Hei, aku hanya menepuk bahumu saja. Mengapa kau begitu terkejut?" tanya Arisa heran dengan keterkejutan Miyuki akan dirinya.


Sentak Miyuki pun menjawab pertanyaan Arisa, "Jika kau tiba-tiba menepuk bahuku, aku tentu saja kaget. Dan juga, aku sedang khawatir." jelas Miyuki akan pertanyaan Arisa.


Mendengar hal itu, Arisa mendengus dingin "Heh...Memangnya kau panik karena apa? Apa kau phobia?" kata Arisa menyindir Miyuki. Spontan Miyuki menjawab perkataan Arisa dengan sinisnya, namun Miyuki mencoba menahan emosi dalam perkataannya itu. "Tentu saja aku panik karena pertarungan mereka berdua. Dan aku juga tak memiliki phobia pada benda ataupun makhluk tertentu." jelas Miyuki sembari terus menahan emosi. Mendengar perkataan Miyuki, Arisa pun mengarahkan kepalanya menuju ke arah pertarungan di bawah mereka.


Seketika Arisa pun terkejut hingga mulutnya melongo dan tidak bisa ditutup. "Hooohhh? Apa itu?! Itu Tuan? Mengapa Tuan bertarung?" ujar Arisa sembari menoleh ke Miyuki. Miyuki pun mengatakan semua yang ia ketahui secara detail dan sedetail-detailnya. Beberapa waktu telah berlalu, Arisa terkejut dengan apa yang Miyuki jelaskan kepadanya. "Apa itu benar?" tanya Arisa tak percaya dengan penjelasan Miyuki.


...****************...


Di Planet Zieyang terdapat dua ras yang sedang bersama untuk pulang ke tanah kelahiran mereka. Mereka menuju ke negeri mereka masing-masing tempat yaitu tempat mereka dilahirkan. Diana pergi ke negeri Timur yang bernama Negeri Xieua. Sementara itu, Tiana pergi negeri Selatan bernama negeri Wangshia.

__ADS_1


Negeri Xieua adalah negeri yang dipimpin oleh seorang raja berwibawa nan tampan, namun ketampanannya sudah turun karena umurnya sudah tua akan tetapi ia masih bisa disebut tampan karena tak memiliki kerutan maupun bintik-bintik di wajahnya. Sang Raja sangatlah dermawan dan baik hati, ia rela menyumbangkan 50% uangnya dari total penghasilan yang ia dapatkan setelah menjadi raja. Akan tetapi, kita tak tahu apa yang raja itu pikirkan di dalam hatinya. Dibalik kebaikannya itu, mungkin saja terdapat sebuah kejahatan yang sangat mengerikan.


Disisi lain, negeri Wangshia memiliki seorang pemimpin yang tertutup dan jarang berkomunikasi dengan rakyatnya. Para rakyat dari negeri tersebut merasa jengkel dengan pemimpin mereka, "Mengapa orang seperti itu bisa menjadi pemimpin?" begitulah pikir semua orang tentang sikap raja dari negeri Wangshia itu. Mereka merasa kesal akan perilaku atau sifat dari sang raja. Jika kita lihat, kepribadiannya seperti seorang wibu.


Bagaimanakah kelanjutannya?


Saksikan episode selanjutnya!


●●●●●●●●●●


Note: Mohon maaf kalau sedikit ya teman-teman, hal ini dikarenakan ada permasalahan tertentu. Mohon maaf teman-teman. Stay tune buat next episode. Terima kasih semuanya.

__ADS_1


__ADS_2