
Disebuah kerajaan kaya hiduplah seorang anak laki-laki bernama Zoro yang memiliki sebuah keluarga yang sangat bahagia. Ayahnya yang pekerja keras selalu pulang tepat waktu dan selalu membawa uang yang sangat banyak untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Ayah Zoro bekerja disebuah klinik kesehatan yang mempunyai gaji sangat besar. Hal ini membuat ayah Zoro menjadi pekerja keras dan membuatnya ingin terus bekerja agar bisa memenuhi kebutuhan istri juga anaknya. Sementara Ibu Zoro hanyalah seorang ibu rumah tangga yang ramah dan hanya bisa berada di rumah seharian. Namun, walau selalu berada di rumah Ibu Zoro masih mendapatkan uang karena dagangan yang ia jual. Tak tanggung-tanggung, semua orang yang Ibu Zoro kenal selalu berlangganan dagangan yang dijualnya.
Kehidupan sehari-hari Zoro sangatlah menyenangkan, akan tetapi kesenangan itu tak bertahan cukup lama. 2 tahun setelahnya, Zoro mendapati sebuah kabar berita tentang ayahnya. Seekor burung merpati datang membawakan sebuah koran dan sebuah surat untuk Zoro. "Tuk...Tuk...Tuk..." suara ketika pintu di sore hari tepat berada di rumah Zoro. Mendengar ketukan pintu tersebut, Zoro segera membuka pintu rumahnya dan mendapati bahwa ada seekor burung merpati mengantarkan koran dan surat untuknya. Mengetahui hal tersebut, ia pun segera mengeluarkan uang dari sakunya dan membayar merpati tersebut. Seketika burung merpati itu segera pergi meninggalkan Zoro bersama koran juga suratnya.
"Hari ini ada berita apa ya?" ujar Zoro tersenyum ingin mengetahui berita hari ini, walaupun perasaannya sedang tidak enak seperti khawatir akan sesuatu.
Segera, Zoro langsung membuka koran yang ada didepannya itu terlebih dahulu. Setelah membuka koran tersebut, ia terkejut karena melihat sebuah mayat yang mirip ayahnya sedang mengalami kecelakaan. "A-A-Apa?!" ucap Zoro terbatah-batah. Mengetahui hal itu, Zoro segera memastikan kembali bahwa gambar yang berada di koran tersebut bukanlah ayahnya. Tak lama kemudian, Zoro seketika mengeluarkan air matanya secara deras. Ternyata memanglah benar bahwa ayahnya telah mengalami kecelakaan dan tewas ditempat. Zoro menangis sekencang-kencangnya, hingga membuat tetangga-tetangga yang ada merasa khawatir dan panik. Mereka pun berbondong-bondong keluar dari rumah mereka, tiba-tiba mereka melihat Zoro sedang menangis setelah membaca koran yang diantar oleh burung merpati. Sontak, warga tak ingin mengganggu kesedihan Zoro dan mereka hanya bisa melihat saja.
"Hahhh...Sepertinya Zoro sudah membaca kabar berita hari ini. Sebaiknya kita janan ganggu dia." ujar salah seorang pria paruh baya yang menjadi penjaga kota itu. Mereka pun masuk kembali ke dalam rumah mereka dan tidak mengganggu tangis kesedihan Zoro. Sementara sang Ibu yang mendengar bahwa anaknya sedang menangis, segera berlari menghampiri anaknya di luar. Tak butuh waktu lama, Ibu Zoro telah sampai disamping Zoro. Ia segera menanyakan apa yang terjadi kepada anaknya. "Zoro, apa yang terjadi?" tanya Ibu Zoro dengan lemah lembut.
__ADS_1
Zoro yang ditanyai hal tersebut tak mampu menjawab. Air matanya terus mengguyur pipi merahnya setelah mendengar pertanyaan Ibunya itu. Spontan Zoro yang tak mau menjawab itupun harus segera menjawab pertanyaan Ibunya. Namun ia tak mampu berkata-kata dan hanya bisa menggunakan bahasa isyarat saja. Ia pun menunjuk ke arah koran tersebut. Sang Ibu yang melihat anaknya menunjuk kepada sebuah koran berita, langsung mengambil koran tersebut dan membacanya. Seketika, Ibu Zoro terkejut hingga tak mampu berkata apapun. Secara tiba-tiba air mata pun menetes dari mata Ibu Zoro. "Tuing" air mata tersebut jatuh ke lantai rumahnya. Sentak, air mata turun dengan derasnya seolah-olah seperti hujan. Ibu Zoro tak mampu menahan tangis hatinya sampai-sampai ia tak sanggup berdiri. "Brukk.." Ibu Zoro terjatuh setelah mengetahui kabar bahwa suaminya meninggal karena kecelakaan. Tangisan Ibu Zoro pun keluar, sementara Zoro juga ikut menangis karena hal tersebut.
Tangisan mereka berdua pun membuat tetangga mereka juga ikut menangis. Bertahun-tahun lamanya, mereka sudah mengerti akan ayah Zoro. Akan tetapi saat ini mereka sudah tidak dapat bertemu lagi dengan ayah Zoro yang terkenal baik itu.
Malamnya, mayat ayah Zoro datang kerumah mereka. Ketukan pintu terdenar dari luar rumah Zoro. Zoro bersama ibunya segera keluar setelah mendengar ketukan pintu dari luar rumahnya. Secara cekatan, orang yang mengantarkan mayat ayah Zoro itu pun membuka peti jenazah ayah Zoro dan membawanya masuk ke dalam rumah Zoro. Ada 4 orang yang mengantarkan mayat ayah Zoro, dan mereka semua adalah laki-laki.
...****************...
Esok harinya, pemakaman ayah Zoro pun diadakan. Ayah Zoro dimakamkan disebuah tempat pemakaman umum. Semua warga yang mengetahui bahwa ayah Zoro telah meninggal dunia, segera berziarah ke makam sang ayah. Disana, mereka juga ikut menangis setelah kematian ayah Zoro. Tentu saja mereka menangis karena hati nurani mereka, dan mereka hanya ikut berduka cita setelah kematian ayah Zoro.
__ADS_1
Entah sudah berapa air mata yang menetes akibat kematian ayah Zoro. Mereka semua tak mampu menahan tangisan mereka akan kematian ayah Zoro. Yap, tangisan duka terus mengiringi pemakaman tersebut baik itu dari dimulainya pemakaman, sampai berakhirnya pemakaman tersebut. "Yah...Mau bagaimana lagi? Beliau sudah tiada." ucap Ibu Zoro yang selalu ditanyai oleh orang-orang. Ia hanya mampu menjawab beberapa patah kata itu saja, dan tidak lebih. Sementara Zoro hanya terdiam mematung. Ia tak sanggup menangis untuk kali ini, sepertinya air mata Zoro mengering dan jika ia menangis lagi maka ia akan mengeluarkan darah dari matanya.
"Ayah, semoga ayah tenang disana. Aku dan Ibu pasti akan mendoakan ayah sampai ayah bisa masuk surga." ujar Zoro sembari mencoba tersenyum menghadap makam ayahnya. Terlihat orang-orang sudah keluar dari pemakaman. Sedikit demi sedikit mereka keluar satu persatu dari tempat pemakaman umum itu. Tak lama kemudian, Ibu Zoro dan anaknya hanya berdua saja. Mereka berdua hanya terdiam di dekat makam ayah Zoro, kejadian kelam itu membuat Ibu Zoro mencoba untuk bangkit. "Aku tak boleh menangis terus seperti ini. Jika seperti ini terus, nanti suami ku bakal marah." ujarnya didalam hati. Spontan, Ibu Zoro menarik tangan anaknya dan membawanya pulang. "Hm.." Ibu Zoro tersenyum sembari melihat kearah anaknya. Zoro yang melihat ibunya sudah tersenyum kembali, langsung membalas senyuman ibunya dengan sebuah senyuman juga. Keduanya pun tersenyum layakna tak terjadi apa-apa, namun kejadian itu masih membekas dihati mereka.
Bagaimanakah kelanjutannya?
Saksikan episode selanjutnya!
Note: Stay tune buat next episode. Terima kasih semuanya.
__ADS_1