
Qian mengumpat keras lalu memukul perut Andros. Andros tidak siap langsung termundur lima langkah.
"Pedang itu sebuah pedang kayu, mana bisa menebas leherku kau tidak bisa memaksaku menyerah dengan kayu biasa seperti itu." Qian tersenyum kesal.
"Nampaknya kamu belum menyerah, baiklah. Aku tidak akan menahan diri!"
Andros membuat kuda kuda dan siap menyerang, kali ini ia mengalirkan tenaga dalam ke pedangnya.
Qian maju dan melesatkan sebuah pukulan ke arah Andros. Sebelum pukulan itu mengenai Andros, Qian langsung terlempar beberapa meter kebelakang. Serangannya tidak dapat dilihat oleh mata biasa.
"Jurus Seratus pedang - teknik ke-5, Tusukan Fatal"
Qian langsung meronta, dia memegang dadanya yang kesakitan dan ia merasa terbakar seperti ada api di dalam dadanya.
Petugas medis datang dan menyembuhkannya, Qian langsung tak sadarkan diri.
"Pemenangnya adalah Andros!" Host meneriakkan nama Andros dengan keras.
Membuat seluruh stadium heboh, mereka yang bertaruh untuk Qian tidak habis pikir bahkan beberapa diantaranya menangis, sementara mereka yang bertaruh pada Andros meloncat loncat di stadium dan saling berpelukan. Ternyata Mereka membawa uang delapan kali lipat dari uang awal mereka.
Andros diarahkan untuk berdiri di depan bangunan para juri, ketiga bangsawan terlihat antusias untuk merekrut Andros di kesatuan masing masing, sementara tuan putri berpikir sejenak, tetapi Perwakilan Sekte Lembah Alam yang ikut menjadi juri tidak bergeming. Ia menatap Andros dingin.
"Anak muda, kemampuanmu sangat hebat. Kekuatanmu akan di hargai Pasukan Logan Knight" pria paruh baya bertubuh tambun itu mengangkat kedua tangan.
"Jangan dengarkan dia anak muda, kau akan lebih di hormati di satuan Tarot Knight. Lagipula saudara Jom bukankah tubuhmu itu membuat mu sangat tidak cocok menjadi pimpinan salah satu dari tiga pilar Kesatria di Geateria Kingdom ini?" pria sepuh menunjuk buntalan lemak di perut Bangsawan Jom.
Mereka mulai saling adu mulut.
"Saudara Andros, aku tertarik dengan gaya bertarung serta sihirmu, Seorang Sword Magician sangat pantas dengan kami bergabunglah bersama Royal Knight!. Kita lindungi kerajaan ini sampai titik darah penghabisan" pemuda dengan Rapier panjang mengajak Andros.
Andros hendak membuka mulutnya tapi di dahului oleh perwakilan Lembah Alam.
"Andros!!, Aku yakin kau menutupi sesuatu, benar kan?" Perwakilan itu berdiri dan menatap tajam Andros.
Andros tidak menjawab melainkan menunduk. Ia merasa tetua itu menyadari sesuatu.
"Jika kamu tidak mau membicarakannya tidak apa apa tapi, biarkan aku yang bicara."
Semua penonton diam memperhatikan.
"Anak muda ini telah berbohong!" Pria itu mengatakannya dengan lantang.
"Anak ini berbohong soal sihirnya yang tanpa elemen. Karena sejak awal dia tidak menggunakan sihir!" Orang orang mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Beberapa dari kalian mungkin belum mendengar berita ini, tapi. Apa kalian pernah mendengar Berita tentang Anak Terkutuk dari Desa Danau Biru ini?"
Pria itu dengan suara lantangnya membius penonton. Sementara Andros merasa seperti di sambar petir.
"Anak yang dikutuk karena ia adalah satu satunya orang di dunia ini yang tidak memiliki Sihir. Dia lah orangnya!. Si pembohong ini adalah anak terkutuk itu!"
"Aku sejak awal sudah curiga karena setiap dia melakukan sesuatu, tidak ada tanda-tanda kekuatan sihir di sekitarnya."
Ketiga bangsawan langsung bungkam dan tidak berniat menawarkan Andros untuk bergabung di satuan mereka, karena kemungkinan nama mereka akan tercoreng jika merekrut Andros.
Para penonton mulai menyoraki Andros sebagai pembohong, seolah kemampuannya dalam pertarungan tertutupi oleh kebesaran namanya sebagai anak terkutuk. Di dalam podium Bocah gendut Zang tersenyum simpul dengan perban dan spalak di tangan dan kakinya.
Walau kesabaran Andros tinggi, tapi dia merasa sangat malu, ia khawatir nama ayahnya akan tercoreng karena ini jadi ia meninggalkan arena dengan kepala tertunduk.
Tuan Putri sejak tadi diam menatap Andros yang perlahan menghilang dari stadium.
---
Sesampainya di depan pintu rumahnya ia terhenyak sebentar. Ia menarik nafas lalu mengeluarkannya perlahan dan tersenyum.
Ia membuka pintu dan melihat Gadis yang ia temukan sudah bersih dan Andria yang sedang menyuapinya.
Melihat Andros gadis itu segera berdiri lalu memberi hormat. Andros menyuruhnya duduk dan kembali makan. Ia pergi menemui ibunya di dapur.
"Bagaimana tadi?"
"Baik" jawab Andros sambil menanggalkan pakaian pelindungnya.
"Kamu berhasil menjadi salah satu Knight?"
"Em... tidak."
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada" Andros hendak keluar namun di tahan ibunya.
Ia menarik Andros lalu memegang kedua bahu anaknya. Ia tersenyum lembut.
Andros tidak kuat lagi dan menangis di hadapan ibunya, ia menangis namun tanpa suara dan tanpa isakan.
Ibu memeluk Andros dan mengelus punggung anaknya.
"Kenapa?, Mereka itu kenapa Bu?. Anak terkutuk apanya?. Siapa yang di kutuk?, Kenapa aku di kutuk?. Kenapa dunia ini begitu tidak adil?"
__ADS_1
"Kamu bukan anak yang dikutuk, Andros. Kamu adalah Anugerah. Anugerah bagi ibu, bagi ayah, bagi Andria. Dan bagi gadis yang kamu selamatkan itu. Kamu salah satu anugerah bagi keluarga ini." Ibu ikut terisak
Malam itu hanya angin dingin yang ikut menemani ibu dan anak itu bersedih.
Setelah itu mereka berdua keluar dapur dan melihat Andria tengah memikirkan sesuatu sementara gadis berambut perak di sampingnya duduk tanpa ekspresi. Ia melihat ibu dan Andros lalu memberi hormat.
"Ada apa Andria?" Tanya Andros.
"Aku sedang memikirkan nama yang bagus untuk Margaret" Andria kembali memijat keningnya.
"Margaret?, Siapa itu?" Tanya Andros.
"Margaret itu nama gadis ini." Andria menunjuk gadis berambut perak.
"Kalau namanya margaret, kenapa di ganti?"
"Karena jelek, aku dari tadi bertanya siapa namanya tapi dia diam saja seperti patung gorgoyle di gerbang desa. Jadi kunamai ia margaret."
Andros jongkok menatap mata gadis itu, gadis itu hanya menatap Andros tanpa ekspresi.
"Cyana" gumam Andros.
"Apa?" Andria mengerutkan dahi.
"Karena matanya berwarna biru Cyan, jadi namanya Cyana." Lalu Andros masuk ke kamar dan mengambil kotak hitam yang ia dapat di puing puing kapal.
Ia mengeluarkan sebuah kalung dengan mata kalung berbentuk bunga dari batu mulia yang warnanya biru. Tepatnya itu sebuah liontin.
"Mulai sekarang namamu adalah Cyana. Matamu warnanya sama seperti mata kalung ini, kupikir akan cocok untukmu"
Ia mengalungkannya ke leher gadis itu, dan tersenyum lembut. Andros tidak tahu apa yang ada dipikiran gadis itu tapi wajahnya datar, dingin dan tidak berekspresi.
"Kau terlihat manis, Cyana"
Andros tersenyum hangat dan mengelus kepala Cyana sementara Andria menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, sementara ibu menepuk jidatnya dengan tawa kecil.
"Aih, masih umur lima belas tapi kamu sudah bisa seromantis ayahmu, dasar anak nakal" ibu menutup mulutnya dan tertawa kecil.
Andros mengerutkan dahi tidak paham maksud ibunya, sementara Cyana hanya tertunduk melihat liontin itu. Apa yang ia pikirkan hanya ia yang paham.
---
**Dukung Terus Battle Cry dan Share ke teman-teman kalian agar Author semakin Semangat Menulis.
__ADS_1
Akhir kata saya ucapkan selamat weekend**!!