
Andros mengepalkan tangannya lalu berbicara lantang.
"Saya rasa, pemikiran Senior Arias itu sangat salah.!!" Seru Andros
Ron menaikkan alisnya. Lalu bertanya alasannya.
"Saya mengerti jika di antara manusia itu ada banyak penghalang. Dan memiliki jarak, namun saya yakin bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya aliran hitam maupun putih. Yang ada hanya manusia baik dan buruk, bahkan diantara manusia baik pasti memiliki keburukan dan diantara manusia buruk memiliki kebaikan
Menghabisi setiap nyawa tanpa pertimbangan adalah sebuah kesalahan. dendam, kesedihan, amarah dan perasaan merupakan sifat alami manusia itulah yang membuat kami disebut manusia, tapi saya yakin suatu hari manusia akan mengesampingkan dendam mereka dan saling mengerti. Ketika itu terjadi maka perdamaian yang sesungguhnya akan datang." Andros berkata dengan lantang dan membuat kedua makhluk itu terdiam.
Ron tersenyum tipis sementara Weiss ikut tersenyum. Ron mulai tertarik dengan anak ini, sikap Andros mengingatkannya kepada seseorang yang sudah lama ia lupakan.
"Baiklah, aku akan langsung membimbingmu Beserta Weiss, buktikan perkataanmu tadi bukanlah sekedar omong kosong!!" Ron tersenyum menunjukkan deretan gigi tajamnya.
Andros langsung berlutut, di bimbing oleh hewan dalam legenda tidak pernah terpikir olehnya.
---
"Langit sudah hampir malam tapi Andros belum juga kembali" Vena sedikit khawatir. Ia sudah menunggu Andros sejak tadi namun pemuda itu belum menunjukkan Batang hidungnya.
Lalu dari dalam hutan dia melihat sesosok yang tengah menggendong sebuah bayi rusa di dekapannya.
"Halo, ada orang di sana?" Vena mencoba menajamkan pandangannya.
Sosok itu menunjukkan wujud kepada Vena, seorang wanita muda dengan rambut putih dengan gaun panjang serta menggendong bayi rusa di sebuah kain.
"Kamu pasti Vena" ucap wanita itu. Vena menjadi bersiaga.
__ADS_1
"Jangan seperti itu. Aku hanya di suruh menyampaikan informasi bahwa pemuda yang bersamamu itu tidak akan pulang dalam beberapa bulan."
"Andros?!, Apa yang terjadi dengannya?" Jantung Vena berdetak sangat cepat karena khawatir.
"Suamiku membawanya ke suatu tempat untuk berlatih, Boleh aku masuk?" Tanya wanita itu dengan sopan.
Vena menggaruk kepalanya, lalu mengizinkan wanita itu membawa bayi rusa itu masuk Dan mengambilkan kursi.
Lalu Wanita muda itu menceritakan jika ia adalah istri dari kijang putih yang menjadi guru Andros dan memberi tahu jika Andros sekarang berada bersama suaminya sekarang. Vena mengangguk pelan sesekali mendengar cerita dari wanita itu.
"Kamu saudara pemuda itu? Tapi, wajah kalian tidak mirip" Tanya wanita itu.
"Dia hanya..... teman... seperjalanan" Vena menjawab dengan kikuk lalu wanita itu menyipitkan matanya ke arah Vena sambil tersenyum usil.
"Heeeh, benarkah?"
"U-um" Vena teringat kembali janji Andros untuk terus menjaganya, wajahnya memanas mengingat hal itu. Wanita itu tertawa lepas.
---
Sesi latihan Andros dibagi menjadi tiga bagian, sepuluh jam bersama weiss dan sepuluh jam bersama Ron. Dan empat jam untuk dirinya beristirahat, mendengar hal itu Andros menelan ludahnya.
Weiss akan mengajarkan Andros mengenai berbagai teknik dan ilmu bela diri serta mengajarkan Andros tentang keahlian lainnya sementara Ron akan membimbing Andros dalam mendalami ilmu kitab bintang naga.
Sekarang genap satu tahun Andros berada di dimensi ini dan Andros telah mengubah dua belas persen ototnya menjadi otot merah serta berhasil mencapai tulang harimau merah Tahap menengah. Ron menyadari bakat anak ini dalam ilmu silat, dan juga dia sudah menyadari penyebab anak ini tidak dapat menggunakan sihir seperti manusia lain di luar dimensi.
Ron menggunakan sihir untuk membuat sebuah Medan kedap suara disekeliling Andros ketika pemuda itu mencoba mengubah lebih banyak ototnya menjadi otot merah.
__ADS_1
"Kau telah menyadarinya?" Ron berbicara pada Weiss.
"Ya, aku menyadari keberadaan makhluk itu" Weiss menatap Andros yang berkeringat dingin.
Ron menyadari jika sesuatu yang bersemayam di tubuh andros merupakan salah satu makhluk tertua yang masih hidup di seluruh daratan. Awalnya juga Ron bukanlah berasal dari Benua Tengah, dia dipaksa kesini oleh sebuah Medan sihir yang kuat di masa lalu.
Ron juga menyadari jika makhluk itu tengah tertidur dan kehilangan hampir seluruh kekuatannya, maka dari itu dia tidak gegabah dengan mencoba berbicara pada makhluk itu. Karena meski hampir kehilangan seluruh kekuatannya makhluk itu masih mengeluarkan aura mencekam yang hanya ia yang dapat merasakannya.
Setelah selama sepuluh jam pengubahan otot Andros langsung tertidur, ia memanfaatkan empat jam istirahatnya dengan baik jika tidak ingin mati kelelahan. Namun berkat kualitas tulang serta beberapa persen dari ototnya telah berubah Andros merasakan perbedaannya, selain tubuhnya yang semakin kuat staminanya juga bertambah pesat karena itu merasa terlalu lelah di bandingkan hari pertama.
Setelah tidur Weiss dengan wujud manusianya menunggunya di sebuah lapangan besar, Ron terlihat menutup matanya sambil terlihat berbaring. Weiss mengambil sebuah ranting kayu lalu menyuruh Andros mengeluarkan 'Bloody Sky Spirit Sword'.
Andros berkonsentrasi lalu dari pergelangan tangannya memuncratkan darah segar, namun seluruh cairan itu melayang di udara lalu membentuk sebuah pedang yang berwarna merah darah di genggaman Andros.
"Kau masih belum bisa mengeluarkan pedang itu dengan cepat?, Jika seperti itu maka musuhmu masih sempat mengeluarkan sihir jika kau selambat itu"
"Baiklah guru, akan aku coba lagi" pedang itu hancur menjadi butiran darah lalu masuk ke tubuh andros melalui luka di pergelangan tangan kanannya, dengan cepat luka itu kembali menutup. Lalu Andros mengeluarkan pedang itu lagi, percobaan awal masihlah lambat namun setiap kali ia mencoba Andros merasa lebih mahir mengendalikan gumpalan darah itu.
Kini pedang itu Andros genggam dengan mantap, lalu memasang kuda kuda bertarung. Weiss juga melakukan hal yang sama namun menggunakan ranting sebagai senjatanya.
"Guru, bukankah pedang milikku termasuk pusaka tingkat tinggi?. Memakai ranting kecil seperti itu bukankah guru sedang bercanda." Andros mengerutkan dahinya, ia khawatir jika permainan pedangnya dapat melukai gurunya.
"Heh, dasar murid tidak tahu diri. Ranting kecil ini sudah lebih dari cukup untuk menundukkan mu, sepertinya memakai pusaka seperti itu membuatmu sedikit besar kepala" Weiss tersenyum dan maju dengan cepat. Andros yang terkejut langsung balik menyerang.
Dentingan antara pedang itu terdengar di udara, Andros menggunakan teknik Seratus Pedang di setiap serangannya sedangkan Weiss memainkan pedangnya dengan sangat cepat.
Lalu di tengah adu jurus itu Andros terlempar karena satu pukulan ranting kecil itu di tubuhnya.
__ADS_1
"Akh... Ranting itu bahkan lebih keras dari Baja!!" Andros memegangi perutnya, padahal ia sudah melindungi tubuhnya menggunakan tenaga dalam namun ia masih bisa merasakan sakitnya.
"Dengan tubuh kaku seperti itu, kau memiliki banyak celah di setiap seranganmu." Weiss menutup mulutnya sambil tertawa kecil.