
Vena, Andros dan Paman Ozo melanjutkan perjalanan menuju desa atau kota terdekat agar dapat menyewa kereta kuda untuk mempercepat perjalanan mereka..
"Ugh.. Lapar..." Vena terdengar mengeluh sambil memegangi perutnya.
"Apakah sebaiknya kita istirahat sebentar Paman?" Tanya andros
Paman Ozo menyetujuinya dan mereka pun berteduh di bawah sebuah pohon rindang yang memiliki sebuah sungai dangkal di dekatnya.
Vena langsung berlari ke arah sungai dan langsung meminum airnya sementara Andros dan Paman Ozo hanya tersenyum tipis melihat Hazel yang lebih kuat menahan lapar dan haus dari Vena.
Hazel hanya mendekati segumpal semak semak dan melihat bunga bunga kecil yang tumbuh di pucuknya.
"Hei, Andros. Bagaimana jika kita pergi berburu. Sepertinya di hutan itu memiliki beberapa hewan kecil yang dapat di makan" Vena menunjuk Sebuah Hutan di seberang sungai.
"Ide yang bagus" Andros berdiri lalu Paman Ozo juga menawarkan diri untuk berburu namun di tolak secara halus oleh Andros. Jadi selama menunggu Paman Ozo akan mengajarkan beberapa hal dasar bagi seorang Magician kepada Hazel.
Paman Ozo meminjamkannya pisau kecil yang tersarung di lengannya kepada Andros. Walau belum pulih sepenuhnya Andros sudah dapat bergerak dengan bebas hanya saja ia belum boleh mengalirkan tenaga dalam ke tubuhnya karena baru saja pulih.
Andros dan Vena langsung menyusuri hutan itu. Selama mereka berjalan tidak ada tanda tanda hewan liar maupun Magic Beast, jadi mereka memutuskan untuk masuk lebih dalam.
Dan ketika sampai cukup dalam mereka menemukan seekor ayam hutan biasa. Vena langsung berbinar matanya, jika saja di sini tidak ada Andros ia pasti akan meneteskan air liurnya.
Vena langsung mengejar ayam itu tanpa basa basi, Vena dapat dengan mudah mengimbangi kecepatan ayam itu namun bukan hal yang mudah untuk menangkapnya.
Ketika Vena sudah menangkap ayam itu dengan mudahnya terlepas dari genggamannya. Vena terus melakukan itu sedangkan Andros hanya memperhatikannya dari jauh sambil tertawa kecil.
"Ah, aku muak denganmu!" Vena melemparkan jarum miliknya dan menancap di tubuh ayam itu.
Ayam itu tergeletak di tanah terkulai lemas lalu sesuatu keluar dari mulutnya, cairan aneh berwarna merah dan berbau busuk.
__ADS_1
"Ups, aku meracuninya" Vena menepuk dahinya.
Mereka kehilangan santapan mereka, Andros menyarankan Vena agar memperhatikan saja karena semua senjata tersembunyi milik Vena memiliki racun.
Mereka mulai berjalan kembali mencari hewan lainnya. Andros berjalan santai sambil memperhatikan sekelilingnya sementara Vena sedang larut dalam pikirannya sendiri sambil sesekali melirik Andros.
Ia mulai bertanya tanya alasannya untuk berlatih sebagai Magician selama ini, awalnya ia mengetahui jika ia memiliki bakat dalam sihir racun dan ayahnya dengan susah payah mencarikannya Grimoire untuk ia pelajari karena Grimoire untuk elemen selain lima elemen dasar susah untuk di dapatkan.
Lalu memaksanya untuk mempelajari Sihir Racun. Awalnya ia hanya belajar dengan setengah hati, tapi sejak kematian ibunya sesuatu berubah di dalam dirinya.
Ia menjadi dingin dan sadis, awalnya ia suka melakukan eksperimen kepada hewan-hewan kecil namun semakin lama ia mulai melakukan percobaan terhadap manusia.
Ia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi dan berandai jika ia terlahir sebagai seorang anak petani biasa di sebuah desa kecil lalu hidup tanpa pertarungan dan pembunuhan. Ia pikir kehidupan yang seperti itu tidak lah buruk, Dari hati kecilnya ia sangat berharap itu terjadi.
Sementara Andros juga larut dalam pikirannya, ia sudah beberapa kali hampir kehilangan nyawa. Ia mempertimbangkan kembali Untuk menjadi pengawal sang Putri. Untuk itu ia harus lebih rajin berlatih meningkatkan tenaga dalam dan menguasai seluruh teknik dari Kitab Seratus Pedang.
Ia tidak menyesal karena tidak bisa menggunakan sihir seperti Andria tapi tidak bisa menggunakan sihir bukanlah alasan untuk menjadi lemah baginya.
Lalu mereka mendengar suara hewan. Andros dan Vena mengendap endap di semak dan melihat asal suara itu, mata mereka melebar melihat Seekor Magic Beast yang begitu indah.
Sebuah kijang dengan bulu seputih salju dan tanduk melepaskan sinar redup seperti malam berbintang. Kijang itu terlihat perkasa dengan mata yang berwarna hitam yang menatap tajam.
Andros terkagum kagum dengan keindahan Magic Beast itu sementara Vena langsung tersadar dan mengejar kijang itu karena lapar.
Andros hendak menghentikan Vena namun tidak cukup cepat, Vena langsung keluar semak dan baru tersadar jika ia tidak memiliki senjata yang tidak di lumuri racun. Andros langsung menepuk jidatnya, dan kijang itu terkejut dan langsung berlari.
Vena yang frustasi tidak ingin kehilangan mangsanya dan mengejar kijang itu. Andros juga tidak ingin melepaskan mangsanya karena hutan ini sangat susah untuk menemukan binatang lain.
Andros menggunakan ilmu meringankan tubuh miliknya dan mengejar kijang itu, mereka terus mengejar dan semakin lama mereka semakin kehilangan jejak kijang itu.
__ADS_1
"Pergi kemana dia?" Tanya Vena dengan Nafas tersengal
"Aku juga tidak tahu, kijang itu sangat cepat." Andros mengelap keringat, tubuhnya sedikit bugar setelah berlari seperti ini.
"Andros, Lihat ada sebuah gua!" Vena menunjuk sebuah gua yang terletak tidak jauh dari mereka.
Mereka berdua melangkahkan kaki ke mulut gua itu, mereka coba menerawang ke dalam namun tidak bisa melihat ujung dari gua ini. Bahkan Andros sudah menajamkan penglihatannya menggunakan tenaga dalam.
"Apakah sebaiknya kita memeriksa kedalam, bisa jadi Magic Beast tadi bersembunyi di sana?" Tanya Vena
"Sepertinya agak berbahaya, kita tidak tahu ada makhluk seperti apa di dalam sana." Andros mencoba berpikir realistis.
"Tapi, sayang sekali jika kita tidak menangkap hewan itu. Kita sudah berada di hutan ini Berjam jam dan hanya menemukan dua hewan."
Andros mengelus dagunya lalu memberi tahu jika Vena atau dirinya merasakan bahaya mereka akan langsung keluar dari gua itu dan Vena mengangguk setuju.
Mereka berdua menyusuri gua itu dengan sebuah obor sederhana dari kayu yang di buat Andros.
Andros menggenggam erat tangan Vena sedangkan tangan satunya memegang obor, agar jika ia merasa dalam bahaya bisa langsung menarik Vena keluar.
Sedangkan Vena bukannya waspada malah menatap tangan Andros yang menggenggam tangannya. Ia balas genggaman Andros Dengan lembut lalu berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup dkencangnya.
Andros merasa semakin dalam mereka berjalan ada dorongan aneh pada dirinya yang seperti menyuruhnya untuk masuk.
Dengan mengeratkan tangannya pada tangan Vena ia memantapkan langkah masuk lebih dalam.
---
**Dukung terus Battle Cry dengan memberikan Like komen serta Vote. jangan lupa bagikan pula dengan teman teman kalian,
__ADS_1
Karena Novel ini sedang mengikuti lomba Novel toon maka penulis mohon dukungan para pembaca, terima kasih**.