
Andros menghindar dan menangkis menggunakan tangannya. Semakin lama ia perhatikan gerakan Gadis ini semakin cepat, walau tidak memiliki daya serang yang kuat tapi satu sayatan saja pada kulit Andros, itu sudah cukup untuk racun dari pisau itu masuk ke tubuh andros. Karena itu gadis ini hanya melatih kecepatan serangan saja.
Meskipun sangat cepat, tapi itu belumlah cukup untuk mengimbangi kecepatan tangan Andros. Andros menangkap kedua tangan gadis itu dan menahannya.
Gadis itu bergerak cepat, ia melepaskan sebuah tendangan yang mengarah ke ************ Andros. Andai Andros tidak cepat menyadarinya zakarnya pasti pecah karena tendangan itu. Tendangan itu langsung di halau menggunakan kaki kanan Andros dan mengunci kaki gadis itu.
Kaki kiri gadis itu tertahan dan di jepit oleh kaki Andros.ia berontak namun sia sia tenaga Andros lebih kuat darinya.
Vena yang tidak kehabisan akal langsung menyemburkan gas beracun dari mulutnya. Andros langsung melepaskan kunciannya dan melompat mundur sejauh lima meter.
"Anda ternyata mahir dalam hal racun, Nona muda."
Terlambat sedikit saja, racun itu pasti sudah terhirup oleh Andros. Meski hanya diam, Vena sebenarnya juga kagum. Ia yakin pemuda di depannya seumuran dengannya tapi memiliki tenaga yang besar dan kecepatan gesit.
Vena sedari tadi menggunakan sihir angin dan racunnya Secara bergantian namun ia belum melihat tanda tanda Andros mengeluarkan sihirnya. Vena menduga jika pemuda di hadapannya hanya menggunakan murni tenaga fisik tanpa sihir penguat seperti yang Vena gunakan.
Andros melompat sejauh mungkin lalu menghirup nafas dengan cepat. Ia menggunakan teknik pernafasan Matahari dan Bulan untuk menahan nafas selama mungkin.
Setelah mengambil nafas Andros kembali masuk ke kumpulan kabut racun itu dan mulai menyerang namun Andros sengaja tidak menggunakan serangan yang dapat melukai.
Vena merasa pemuda di hadapannya begitu bodoh untuk masuk langsung ke kumpulan kabut racun miliknya.
Namun semakin lama mereka bertukar jurus, Vena mulai kelelahan, terus menerus menggunakan 'Tempest' membuat Energi sihirnya berkurang cepat, belum lagi sihir racun di sekelilingnya. Ia berkonsentrasi penuh agar racun itu tidak terserap ke tubuhnya.
Nafas Vena mulai tidak teratur sementara ia tidak percaya karena pemuda di hadapannya menahan nafas sangat lama, bahkan tidak terganggu dengan itu bahkan kecepatan serangannya malah bertambah.
Karena mulai kehilangan keseimbangan Vena langsung hendak terjatuh, karena ia mulai tidak bisa mengendalikan kabut racun miliknya. Tapi sebelum ia terjatuh sebuah tangan memegang pinggulnya lalu mengangkat badannya dan meloncat keluar dari kabut itu.
Ia sempat menghirup racun itu sedikit, sekarang ia mulai kehilangan kesadaran. Ia hanya bisa melihat siluet hitam dari orang yang menyelamatkannya dari kabut racunnya sendiri. Lalu ia merasa orang itu membuka topengnya lalu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya.
---
Vena terbangun dengan wajah berkeringat, tubuhnya baru saja demam karena efek netralisir racun dari pil yang di berikan Andros sebelumnya.
Waktu sudah hampir sore ketika ia terbangun. Ia demam selama tiga jam saja.
__ADS_1
Vena langsung panik karena ia sekarang tengah terbaring di atas ranjang sebuah rumah Reyot. Ia langsung meraba tubuhnya takut jika seseorang telah melakukan sesuatu padanya.
Dan ia juga menyadari topengnya sekarang telah terlepas dari wajahnya dan itu membuat kemarahan Vena membuncah.
Suara berderik pintu terdengar ia langsung melompat dari tempat tidur dan melesatkan tendangan kepada seorang pemuda yang masuk, dengan sigap pemuda itu Menangkap tendangan itu.
"Kau!!, Apa yang telah kau lakukan padaku!!" Vena yang murka langsung melesatkan tendangan lainnya tapi langsung di tepis Andros.
"Tenanglah, Nona. Aku tidak melakukan apapun pada Anda." Andros hanya menghela nafas sebelum melepaskan cengkeramannya.
"Kau berbohong!" Kali ini sebuah pukulan yang mengarah ke rahang Andros. Pukulan itu mengenainya tapi tidak cukup menyakitkan Andros.
"Aw, Anda ini sama sekali tidak bisa tenang ya?" Andros memegang pipinya.
"Dimana topengku?" Vena menatapnya dingin.
Andros menunjuk ke arah paku yang tergantung sebuah topeng di atasnya.
Vena merasa sangat marah dan ingin meracuni pemuda di hadapannya namun tubuhnya masih terasa lemas akibat Racun yang ia hirup sebelumnya.
Vena menatapnya dengan tajam, ia tidak percaya jika ada seorang laki-laki yang tidak tertarik kepada tubuhnya apalagi setelah melihat wajahnya.
"Memang sih, tatapan penduduk desa ketika aku membawamu sangat tidak nyaman." Andros mengingat pandangan penduduk desa pada Andros ketika menggendong Vena seperti melihat mangsa dan ingin menyantapnya.
Bahkan ia merasa aneh ketika membawa Vena, Paman Ozo berkali-kali bergumam pelan jika ia sayang istrinya sambil menundukkan kepalanya seperti berusaha keras.
"Pasti berat ya, jadi dirimu" Andros mengeluarkan senyum khasnya sambil merasa simpati pada Vena. Vena yang sedang marah merasakan ketulusan dalam setiap kata pemuda ini.
Ia menyadari jika hanya Andros laki laki yang tidak menatap Vena dengan tatapan itu.
Padahal Vena mencoba membunuhnya tapi Andros malah menatap Vena dengan tatapan lembut nan hangat.
Vena merasa Andros melihatnya sebagai manusia seutuhnya bukan sekadar seonggok daging yang menggoda.
Semakin ia lihat wajah Andros yang tersenyum kemarahannya meluntur sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Akhirnya Vena menghirup nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya.
"Apa kau jujur dengan perkataanmu!?" Vena dengan setengah membentak masih memberikan tatapan tajam pada Andros.
"Berjanjilah. jika benar, kau tidak menyentuhku tadi!?"
"Ya, jika aku berbohong maka aku akan mati keracunan!" Andros berjanji.
"Oh iya, lain kali jangan menggunakan racun yang tidak Anda miliki" mendengar itu Vena hanya mendengus
Kini Vena menghela nafasnya lalu keluar dengan Andros. Ketika di luar, Paman Ozo memalingkan pandangannya dan kembali berkomat Kamit.
"Aku sayang istriku, Aku sayang istriku, aku sayang istriku, aku sayang istriku. Aku sayang istriku." mulutnya berkomat Kamit dengan suara rendah dan mata terpejam.
Kakek Kades memalingkan matanya sementara Mantha berkeringat dingin ia masih teringat tatapan mata Vena sehingga ia tidak berani menatap Vena.
---
Matahari telah terbenam, rencana mereka akan segera di jalankan. Mereka berdiri di puncak bukit dan mengintai markas perampok. Tapi kali ini Vena juga terlihat ikut.
Andros dengan memakai pakaian hitam dan membalut Snowflake Katana miliknya dengan perban hitam berlari menuruni gunung. Ia berlari seperti berjalan di udara, cepat sekali.
Segera saja, ia sampai di dekat gudang penyimpanan.
"Ah, benar. Ia tidak dapat terdeteksi, pantas saja aku tidak bisa membaca tingkat ilmu sihirnya." Paman Ozo kagum sementara Vena menyiapkan beberapa jarum racun dan senjata rahasia miliknya.
Paman Ozo dan Vena hanya berjaga jika Andros ketahuan. Mereka akan langsung turun dan membantu Andros.
Andros menyelinap namun ia mendapati beberapa orang tengah menyiksa seorang wanita muda di atas meja makan, perempuan itu menjerit namun pria besar itu makin keras tawanya seperti menikmati jeritan wanita itu. Terlihat pula beberapa gadis yang sedang menangis di dalam kurungan kayu.
---
**Mohon Dukungan Para pembaca sekalian dengan memberikan like di setiap Chapter dan bagikan ke teman teman kalian.
Oh iya, apakah kalian butuh bonus Chapter**?
__ADS_1