BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 48: Gadis Berambut Hitam


__ADS_3

Hutan yang lebat serta pepohonan yang besar membuat Andros kesulitan namun Belum jauh mereka bergerak Andros menangkap dua bayangan yang sedang mengikutinya.


"Oh, ya ampun. Yang benar saja" Andros mengeluarkan pedang darahnya dan dari kanan dan kiri terlihat dua Demonic Beast berbentuk serigala berlari mengepungnya.


Dengan mudah, Andros menebas leher kedua serigala itu dan berlari lagi mengikuti Weiss.


Setiap beberapa ratus meter dia pasti akan di hadang oleh Banyak Demonic Beast, dengan darah bersimbah di tubuhnya Andros menghadapi makhluk itu satu persatu.


Hal ini terus di lakukan sampai beberapa hari, Weiss hanya berhenti beberapa kali untuk membiarkan Andros beristirahat, karena tidak semua Demonic Beast yang ia hadapi itu lemah, tak jarang ia bertemu Demonic Beast setingkat Silver Mage bahkan Platinum Mage.


"Ini hanya wilayah aman, kau akan melihat wilayah paling berbahaya di seluruh Padarise Lost Realm setelah pemurnian tenaga dalam."


Mendengar hal itu Andros menelan ludahnya sendiri.


Mereka berdua terus bergerak sampai Andros keluar dari semak semak dan menyadari jika tempat yang ia tuju ini adalah tempat yang ia kenali.


Andros melihat danau besar di sertai air terjun di sisinya, ia melihat di seberang sana terdapat sebuah bangunan tua yang berwarna coklat hitam dan telah bersih dari tanaman rambat.


Karena mempelajari ilmu Penempaan tubuh dan sering mengonsumsi tanaman sihir mata Andros menjadi tajam dan melihat sebuah titik di kejauhan.


Seorang gadis yang sedang berdiri membelakangi nya serta terlihat seperti membawa seorang bayi. Rambut gadis itu berwarna hitam serta memakai pakaian gaun dari sutra putih. Setahu Andros Vena itu memiliki rambut hijau tua, mungkin spirit Beast yang mengambil wujud manusia pikirnya.


Weiss pergi sebentar karena suatu urusan sedang Andros langsung masuk ke dalam air dan berenang cepat ke sebrang danau.


Dengan cepat Andros sampai ke tepian dan lompat keluar dari air dan mendatangi gadis itu. Gadis itu meletakkan bayi di gendongannya ke kursi panjang lalu mengikat rambutnya.


"Anu.... permisi..." Andros menyapa wanita itu seketika wanita itu membalikkan badan karena terkejut.


Andros menaikkan alisnya, untuk sesaat ia merasa darahnya berdesir halus melihat wajah gadis ini, Rambut Hitam panjang mengkilap serta halus, bibir tipis berwarna merah muda alami dan iris mata berwarna seperti Zamrud yang cantik. Belum lagi kulitnya yang putih dan lembut serta kecantikan yang tidak dimiliki wanita kebanyakan.


Gadis itu kehilangan kata kata sejenak, mulutnya terbuka namun tidak mengatakan apa apa.


Andros menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu secara spontan gadis itu menghambur memeluk Andros, kedua tangannya mengalungkan diri di leher Andros.


Andros yang bingung, tidak tahu harus berbuat apa hanya berdiam diri tidak membalas pelukan itu.


"Eh... Anda tidak apa apa" tanya andros

__ADS_1


Gadis itu melepaskan pelukannya dan Andros lihat sudut matanya berair dan wajahnya merona merah.


"Kamu ini dari mana saja?!!" Gadis itu menghentakkan kakinya dan mengomeli Andros. dan Andros langsung bergidik.


"Siang malam aku menunggumu kau tidak juga pulang, kamu mau aku jadi gila?" Gadis itu mulai menunjuk wajah Andros dengan wajah memerah.


"Eh, anu.."


"Anu?.... setelah dua tahun pergi hanya itu kata yang ingin kau ucapkan?"


Andros mengerutkan dahinya, dalam benaknya dia berpikir siapa sih gadis ini?


"Kau tidak tahu kalau aku ini sangat kesal?, Aku... aku... Urrgghh!"


Gadis itu mulai menendang kaki Andros, tapi kualitas tulangnya membuat tendangan itu tidak sakit.


"Tenang dulu nona aku.. ."


"Oh bahkan sekarang kau tidak mengingat namaku. Bagus...." Gadis itu memasang kuda kuda yang Andros tidak ketahui.


"Nona tunggu sebentar" Andros mencoba menenangkan gadis itu.


Andros menghindari setiap pisau itu dengan cepat lalu mengeluarkan darah dari ujung jarinya lalu darah itu melayang layang dengan cepat membentuk sebuah tameng, pisau Angin itu langsung terpental ketika bertabrakan dengan tameng itu.


"Teknik Beladiri berdarah - Bentuk ke dua, Perisai kristal darah!"


"Tenang dulu.... apa mungkin kamu ini Vena?" Tanya andros, karena perisai itu sedikit tembus pandang jadi ia mencoba berkomunikasi dengan gadis itu.


"Menurutmu siapa gadis yang terjebak denganmu disini?, Hanya aku!!"


Andros memperhatikan wajah gadis itu dengan Vena yang dulu dan Andros merasa mereka memang mirip.


Gadis itu melakukan gerakan tangan lalu memunculkan sebuah pusaran angin yang cukup besar.


"Wind Magic - East Sky Wrath!"


Angin itu menuju Andros, dan Andros yang sedang berfikir terkena sihir itu dan terlempar ke danau.

__ADS_1


Kepala Andros menyembul keluar dari air dan mencoba tersenyum.


"Oh hai, Vena... aku... aku..." Andros bingung mau mengeluarkan kata,.


"Hmph!!"


Vena hanya menggembungkan pipi lalu menggendong bayi yang ia pegang tadi lalu berjalan ke perpustakaan, Andros melihat bayi itu tergelak tertawa sedari tadi.


Di ujung dekat air terjun Weiss mengerutkan dahi dan bertanya pada istrinya yang sedari tadi memperhatikan mereka.


"Kenapa mereka?"


"Biasa pertengkaran pasangan muda.....ah aku jadi teringat masa lalu hihi" istri Weiss mengibaskan tangannya, weiss hanya menatapnya dengan menaikkan alis.


"Apa? Mau bertangkar juga? Kau pikir aku akan lupa akan masalah kita yang terakhir?"


"Ahahah tentu saja tidak, Sa... Sayang" weiss tertawa renyah sebelum ia membuat istrinya marah.


---


Kini Andros sedang duduk diatas kedua bestisnya di lantai menghadap Vena yang duduk di kursi. Vena menyilangkan kakinya.


Hanya hening lama, tidak ada satupun yang mengeluarkan suara sedari tadi. Andros berpikir keras apa yang harus ia katakan saat ini. Sementara Vena menyilangkan tangan didepan dada dan memalingkan pandangan sambil memanyunkan bibirnya.


"Uh.... um.... oke, aku minta maaf." Andros mengangkat kepalanya.


Vena melirik di sudut matanya. Lalu memutar bola matanya seperti tak perduli.


Andros menggaruk pipinya, membuat wanita marah memang mengerikan. Sekarang ia bingung harus apa tapi karena tidak tau harus bagaimana ia bersuara lembut.


"Baiklah, aku benar-benar minta maaf karena tidak pernah berkunjung. Jadi..... maukah kau memaafkan ku" Andros mencoba meminta maaf setulus mungkin dengan harapan itu dapat meluluhkan hati Vena.


Melihat Andros yang seperti itu Vena menghela nafas dan berdiri. Dia menarik Andros untuk bangkit lalu memperhatikan pemuda itu dari atas sampai bawah.


"Kau lebih tinggi dari yang kuingat?, Juga tubuhmu lebih besar. Apa kau rajin makan?"


"Uh, ya... aku berlatih terlalu keras mungkin"

__ADS_1


Karena berlatih Penempaan tubuh dari kitab Bintang Naga membuat tubuh andros nampak besar dan gagah.


Vena hanya tersenyum tipis lalu pergi ke depan. Ada dapur sederhana di sana yang di buat olehnya.


__ADS_2