
Andros keluar dari perpustakaan dan mengedarkan pandangannya, mencari vena namun tidak bisa menemukannya.
Andros menyusuri tepi danau ketika mendengar sesuatu dari sebalik bebatuan besar. Ia mendekat dan mendengar sesuatu yang aneh.
"Hyah.... jangan di sana... ahn..ahh.. geli.... ahhh....Uhmm.." terdengar seperti desahan seorang gadis.
"Suara apa itu?" Andros langsung melompat ke batu yang mengeluarkan suara aneh itu dan melebarkan matanya.
Terlihat Vena yang tubuhnya di kerubungi oleh ikan putih yang kecil. Ikan ikan itu memakan kotoran serta kulit mati yang ada di tubuh Vena dan itu membuat Vena merasakan sensasi geli yang luar biasa.
"Vena!" Seru Andros.
Vena langsung menoleh ke belakang lalu berteriak dan melemparkan bebatuan di dekatnya ke arah Andros.
"Kyaaaa, dasar mesum!!. Pergi!!....."
Andros menghindari setiap lemparan itu dengan terkejut sebelum sebuah batu berukuran kepalan tangan menghantam dahinya. Andros kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam air.
Jbur!!
Andros langsung mengeluarkan kepalanya dari air dan mendapati Vena yang tanpa sehelai benangpun di hadapannya. Vena wajahnya seluruhnya merona dan panas.
"Kyaaaa!!!" Vena melesatkan sebuah tendangan.
"Tunggu dulu.. aku..... ugh!!" Tendangan itu menggunakan sihir angin, dan membuat Andros terpental dari air.
---
Kini Andros duduk membelakangi danau sambil memegangi pipinya yang memiliki cap punggung kaki vena.
Sementara Vena di belakang sana sedang memakai bajunya sambil mendengus kesal.
"Kenapa kau mengintip?" Dengus Vena.
"Yah, aku tidak ada niatan seperti itu. Aku hanya mencarimu lalu..... tidak sengaja" Andros masih mengelus pipinya dengan memunggungi Vena.
Vena lalu menghela nafas panjang, jika saja Andros memiliki niat seperti itu sudah tentu Andros melakukannya sejak lama. Setelah selesai memakai bajunya Vena bertanya apakah sudah ada petunjuk tentang pintu itu.
Andros menggeleng, pintu itu sangat keras dan tidak bisa sembarangan di hancurkan.
"Berarti kita akan terjebak disini untuk sementara." Vena mengelus dagunya.
__ADS_1
"Untuk sekarang bagaimana jika kita makan terlebih dahulu?, Mungkin seekor atau dua ekor ikan bakar cukup untuk mengisi perut."
"Aku akan mencari buah buahan di hutan itu." Vena menunjuk hutan lebat dengan pohon raksasa itu.
Andros sedikit ragu, hutan itu sepertinya tidak aman. Belum lagi kemungkinan hutan itu memiliki Demonic Beast berbahaya.
"Mungkin karena kau selalu menyelamatkanku beberapa kali, kau sudah lupa jika aku ini seorang Magician juga." Vena mengeluarkan pisaunya dan memutarnya.
"Kau tidak mengenakan topengmu hari ini?"
Vena menggeleng pelan, ia merasa lebih bebas jika tidak mengenakannya dan juga pemuda di hadapannya ini tidak pernah sekalipun menatapnya dengan tatapan tidak sopan. Jadi Vena hanya menggeleng pelan. Tapi jauh di hati kecil Vena, ia kesal karena penampilan miliknya tidak membuat pemuda ini tertarik. Setiap gadis tentu ingin di puji tidak terkecuali Vena.
"Jika disini, aku rasa aku tidak membutuhkannya." Vena menggantungkan topengnya di pinggang.
Lalu Vena memberitahu Andros agar tidak khawatir dan langsung menuju hutan itu. Andros yang tidak bisa menghalanginya hanya tersenyum kecut lalu pergi menangkap ikan.
Vena berjalan santai, ia takjub dengan ukuran pepohonan disini. Batangnya sangat besar serta tinggi, mungkin mencapai seratus kaki.
Meski begitu ada pula pepohonan yang memiliki tinggi biasa dan memiliki buah. Vena memetik buah yang sekiranya aman untuk di konsumsi sampai ia mendengar sesuatu dari balik akar pohon.
"Apa itu?" Vena mendekati asal bunyi itu lalu melihat seekor anak kucing yang kakinya tersangkut akar pohon.
Kucing itu mengeong ngeong seperti meminta tolong kepada Vena.
"Kakimu terluka, baiklah aku akan merawatmu" Vena mengelus kepala kucing itu. Dan membawanya bersama buah buahan itu kembali ke tepi danau.
Ketika sampai di pinggir danau Vena melihat sebuah pondokan sederhana yang terbuat dari Batang kayu dan dedaunan sebagai atap.
"Apa ini?" Tanya Vena.
"Yah, untuk bersantai di siang hari. Jadi aku membuatnya" Andros mengelap keringatnya.
Mereka berdua menikmati makanan yang mereka dapat dan kucing kecil itu terlihat lahap sekali makan ikan yang di tangkap Andros.
Setelah makan Andros kembali ke depan pintu itu lalu mulai meditasi lagi sedangkan Vena masuk ke dalam perpustakaan itu bersama kucing kecil itu. Mereka berkeliling dan mendapati ruangan aneh di sudut perpustakaan ini.
Ia membuka pintu itu dan melebarkan matanya.
---
Scar dan Raiden berjalan di daerah pegunungan. Mereka melalui hutan dan sungai dengan cepat hingga tiba di puncak gunung tertinggi di pegunungan ini.
__ADS_1
Di puncak itu terdapat tanah lapang yang cukup luas. Dan di ujungnya terdapat dua gundukan tanah yang nampak seperti kuburan.
Scar mendekat dan melihat kedua kuburan itu dengan perasaan campur aduk, ia melihat nama yang tertulis di masing masing batu nisan itu.
-Skye
-Elisa
Di antara kedua makam itu terdapat sebuah pedang lebar yang tertancap, pedang itu panjang dan juga besar juga memiliki keunikan yaitu dua gagang pedang yang panjang karena sudah berlapis lumut menunjukkan jika pedang itu sudah lama tidak tersentuh.
Scar memegang gagang pedang itu lalu menghela nafas, sekali lagi ia memegang pedang peninggalan gurunya. 'Sky Fission Great Sword'.
Ia cabut pedang itu lalu mengalirkan Sejumlah Energi sihir kepada pedang itu. Seketika seluruh lumut dan karat yang menempel terkelupas dan menunjukkan wujud asli pedang itu.
Meski sudah di biarkan selama puluhan tahun pedang itu sama sekali tidak kehilangan ketajamannya. Ini menunjukkan bahwa pedang itu merupakan pusaka sihir yang berkualitas.
Scar memejamkan matanya, ia hirup udara dingin puncak gunung ini sambil mengingat masa masa ia memegang pedang ini dahulu. Meski tidak lama kenangannya berpetualang dengan guru serta kekasihnya itu tidak tergantikan.
Sebenarnya Scar sendiri tidak pernah menyatakan cintanya pada Elisa, begitu juga sebaliknya jadi terlalu jauh jika menyebut mereka sepasang kekasih.
"Jadi, kau sudah selesai." Ujar Raiden.
"Hm. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanyanya kepada Raiden yang melompat ke atas batu lalu menegak isi kendi araknya.
"Ada sesuatu yang mengincar kedamaian Geateria Kingdom saat ini" nada Raiden mulai serius.
"Apa itu?" Scar mendekat lalu merampas kendi arak itu lalu meminumnya setelah itu ia kembalikan kepada Raiden.
"Orang yang sama yang memberiku kedua mata ini dan memberimu Heaven Sword Grimoire" ucap Raiden serius.
"Bayangan putih itu?"
"Ya, dia mulai bergerak. Akan terjadi kekacauan di Geateria Kingdom jika di biarkan."
Lalu Mata Raiden menangkap sesuatu di kejauhan, sesuatu yang terbungkus kain putih yang melayang di udara.
"Itu dia!" Raiden berdiri lalu membuka matanya.
"Di mana?, Aku tidak bisa melihatnya." Scar mengikuti pandangan Raiden namun tidak bisa menangkap apa yang di lihat.
Kedua mata itu mengeluarkan cahaya biru berbentuk bundar. Raiden mengeluarkan Senjatanya dan menembak benda itu tapi ketika peluru itu sampai benda putih itu hilang. Raiden mendecih lalu menutup kembali matanya.
__ADS_1
"Hei, beritahu aku apa yang kau lihat?"
"Baiklah, tatap mataku. Akan ku perlihatkan apa yang kulihat."