BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 26: Hutan Keselarasan Kematian


__ADS_3

"Kau mendapatkan Grimoire Yang ada di dalam legenda dan berhasil menguasainya ya." Raiden berbicara kepadanya dan perlahan membuka matanya, terpancar pendar biru dari kedua Mata Raiden. Scar melihat kedua bola mata Raiden dan terkejut belum pernah ia melihat bola mata seperti itu dan itu bukan mata asli milik Raiden.


Keseluruhan bola mata itu berwarna biru dan memiliki corak putih yang indah.


"Kau,...ternyata rahasia mengapa tembakannya tidak pernah meleset adalah itu!, Angel Eyes." Angel Eyes adalah sepasang pusaka sihir yang ada di dalam legenda yang sama dengan Heaven Sword Grimoire, kitab yang berisi sihir pedang surga.


Legenda mengatakan jika dahulu ada beberapa pusaka sihir dan Grimoire terkuat yang tersebar di Benua Tengah. Pusaka dan Grimoire ini merupakan yang terkuat siapa bisa mengendalikannya maka akan menjadi Magician nomor satu di Daratan Benua Tengah.


Scar sadar jika menatap mata itu secara langsung bisa berakibat fatal. Ia langsung menutup matanya.


"Ini belumlah kekuatan penuh dari mata ini." Raiden mengeluarkan tatapan dingin kepada Scar, Scar terasa seperti di tindih batu besar. Aura yang terpancar dari mata itu membuatnya susah untuk bergerak dan bernafas, Scar mencoba mengurangi dampak aura itu dengan mengeluarkan aura pembunuh yang ia kumpulkan dari Demonic Beast yang ia bunuh.


Tapi percuma aura itu terlalu kuat, pedang pedang miliknya berjatuhan di tanah dan Scar tertekuk lututnya. Ia berusaha lepas namun percuma.


"Bunuh aku...." ucap Scar pelan. Tersirat kesedihan mendalam di kedua kata yang ia lontarkan itu.


Raiden hanya terdiam, lalu menutup matanya kembali. Aura yang menekan Scar hilang sepenuhnya.


"Tolong, Bunuh aku Raiden... Tolong." Kini Scar yang tengah tertekuk lutut meski aura yang menekannya telah di tarik dan menatap tanah di bawahnya.


"A... aku sudah tidak kuat"


Raiden hanya berdiri tegak di situ tanpa membalas ucapan Scar.


"Dia mati karena aku terlalu lemah, semuanya salahku. Aku malu hidup sebagai orang yang tidak bisa menyelamatkan temanku sendiri, tapi aku sudah tidak punya muka untuk bertemu mereka di alam sana" Pria paruh baya itu menutup wajah dengan kedua tangannya.


Ia tidak bisa menyalahkan Raiden karena ia lah yang di beri tanggung jawab oleh gurunya.


"Itu bukan salahmu sepenuhnya, aku juga lemah" akhirnya Raiden angkat suara, lalu Scar mengangkat kepalanya dan melihat Raiden.


Raiden kemudian membuka bajunya, di bagian kiri tubuh pemuda itu sekarang terlihat, tubuh bagian kirinya penuh bekas luka dan terlihat bekas gigitan besar di bagian perut. Namun yang membuat Scar terkejut adalah Tangan Kiri Raiden Telah hilang.


"Apa yang terjadi?" Tanya Scar.


"Malam itu...." Raiden melihat langit yang mulai mengeluarkan sang Surya dari cakrawala timur dan bercerita apa yang terjadi lima belas tahun yang lalu.


Malam itu Raiden mendapatkan pesan yang dikirim oleh Scar melalui burung elang miliknya, isi pesannya jika Scar dan Elisa tengah berada dalam masalah.


"Sial aku seharusnya tidak meninggalkan mereka ketika di perbatasan!" Raiden mengepalkan tangannya dan menerobos kegelapan malam dengan kuda miliknya untuk pergi ke lokasi Scar.


Butuh waktu lama untuk ke lokasi mereka berdua karena Jalan yang gelap dan Raiden terus menerus di hadang oleh Demonic Beast, karena ketika itu terjadi gejolak besar besaran di Geateria Kingdom oleh para Demonic Beast yang mengamuk dan menyerang manusia.


Ketika ia hampir sampai, ia di kepung oleh sekumpulan Silver Eye wolf, yang setingkat dengan Gold Mage dan dipimpin oleh Golden Fang Wolf yang setingkat Three Star Wizard. Waktu itu ia masih di tingkat Cooper Mage tahap Akhir. Tentu saja ia bukan lawan dari seekor Golden Fang Wolf maupun anak buahnya, tapi ia berhasil melarikan diri dari Golden Fang Wolf meski pun harus membayar mahal untuk itu yaitu terputusnya tangan kiri miliknya.


Ketika berusaha untuk mencari lokasi Scar ia terkulai pingsan karena kekurangan darah dan tersadar ketika tim pembasmi yang di kirim kerajaan menyelamatkannya, Raiden mencari keberadaan kedua temannya itu namun hasilnya nihil. Sejak saat itu Raiden mengira kedua temannya telah tewas.


Raiden menutup ceritanya dengan menutup bagian kiri tubuhnya lagi.


"Kau tau, hutan ini bernama Death Harmony Forest. Dan konon katanya kita bisa berbicara dengan yang telah tiada di jantung hutan ini" ucap Raiden sambil melihat hutan dengan pepohonan rimbun nan tinggi di belakangnya.

__ADS_1


"Ayo ikut aku" Raiden melangkah memasuki hutan itu sementara Scar sedikit penasaran dengan paparan Raiden mengikuti dari belakang meninggalkan seluruh pedang miliknya.


Mereka memasuki hutan itu dan semakin mereka masuk semakin sedikit cahaya matahari yang bisa masuk karena lebatnya hutan ini.


Mereka menyusuri hutan hingga tidak ada satu cahayapun yang terlihat ketika masuk lebih jauh, mata Raiden menangkap kerlip cahaya di kejauhan.


Ketika sampai di jantung hutan ini terlihat rimbunan pohon yang mengeluarkan cahaya redup berwarna ungu, lalu ada sesuatu yang berbentuk bintik bintik kecil berterbangan di udara. Pemandangan di dalam sekumpulan pohon bercahaya itu begitu indah. Seperti di negeri para peri.


"Pejamkan matamu" Raiden menyuruh Scar menutup matanya.


Scar menghirup nafas lalu mengeluarkannya lalu menutup matanya.


Tidak ada yang terlihat, hanya hitam dan seketika ia merasa ada hembusan angin di sekitarnya. Perlahan ia membuka mata dan terkejut karena tiba-tiba ia sekarang berdiri di sebuah Padang bunga luas dengan sinar matahari yang menghangatkan. Hamparan bunga yang berwarna merah dan putih. Semilir suara angin yang menyapu Padang itu terdengar begitu lembut.


Ia menghirup aroma bunga itu dengan perasaan rindu, rindu yang terkubur selama puluhan tahun terakhir ini.


Ia berlutut lalu memetik sebuah bunga yang berwarna merah ia duduk lalu menikmati pemandangan ini, entah berada di mana ia sekarang. Mungkin saja ini adalah alam sebrang, pikirnya.


Ia masih menatap Padang bunga luas itu hingga ia merasa seseorang bersandar di punggungnya. Perasaan hangat dan damai menyelimutinya.


Scar tidak perlu berbalik untuk tau siapa yang bersandar pada punggungnya karena ia tau betul siapa itu, hanya satu orang yang pernah bersandar di punggungnya dan hanya orang itu yang boleh.


"Apa yang kau lakukan di sini, Scar?" Ucap orang itu lembut.


Suara yang terasa jauh, suara yang membuatnya rindu, suara merdu yang mengingatkannya akan masa lalu.


"Apa yang kau inginkan?" Suara itu terdengar bahagia.


"Kurasa, aku ingin di maafkan" Scar merapatkan giginya, ia berusaha keras untuk tidak berbalik menatap gadis yang tengah bersandar di punggungnya ini.


Gadis itu tertawa. Ah, tawa itu.. bagaikan senandung dari surga di telinga Scar.


"Di maafkan?, Untuk apa?. Kamu seharusnya bukan meminta maaf kepadaku"


"Tapi, kakakmu... maksudku guru..."


"Bukan ke kakakku juga"


Gadis itu sekarang berbalik menatap punggung Andros.


"Orang yang seharusnya memaafkan dirimu bukanlah Aku maupun kakak..... tapi orang itu adalah dirimu sendiri, Scar" Scar melebarkan matanya, ia berbalik hendak menatap gadis yang ia rindukan setengah mati itu.


"Tapi Daripada kata maaf, aku lebih suka kata terima kasih, kau sudah berjuang, atau aku bersyukur kau ada di sini.... nah, waktu ku sudah habis. Jaga dirimu, Scar"


Tapi ketika ia berbalik gadis itu lenyap, hanya suara tawa manisnya saja yang masih terdengar di telinga Scar.


Lalu terdengar suara dari langit.


"Sampai jumpa, Scar."

__ADS_1


Scar tidak bisa menahan rasa di dadanya dan menangis di Padang bunga itu, air mata yang ia tahan selama ini Tumpah seketika, ia menangis bagai anak kecil yang sangat bersedih.


"Terima kasih, Elisa..... hiks...... Aku bersyukur...... kau pernah muncul di kehidupan ku" ucap Scar sambil terisak.


"Hoi, kenapa kau menangis?," lalu Suara seorang pria terdengar di telinga Scar diiringi tawa yang terbahak-bahak. "Kau ini sudah berusia sembilan puluh tiga tahun, Sudah tua!. Yah meski pun parasmu masih seperti berusia empat puluh sih." Suara seorang pria yang familiar di telinga Scar terdengar.


Ia membalikkan badan dan melihat wujud pria yang menjadi guru sekaligus kakak dari pujaan hatinya.


"Guru..." ucap Scar menatap pria itu.


"Hm..ada apa ini?, tidak biasanya kau memanggilku guru. Biasanya kau memanggilku Skye saja atau Skye Sialan." Ia tersenyum geli.


"Maafkan aku, aku tidak bisa memikul beban yang kau berikan padaku. Aku membiarkan Adikmu mati" Scar tertunduk.


"Hedeh... penyakit keras kepalamu ternyata masih ada bahkan setelah berumur hampir satu abad. Bukankah Elisa sudah menjelaskannya barusan." Skye menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi... kau meninggalkan jalan pedangku?" Tanya Skye.


"Aku... aku tidak berani memegang pedang peninggalanmu itu."


"Yah, aku tidak bisa lama lama disini. Pesanku bahwa kau harus hidup, jalani hidupmu. Ingat kau harus hidup, hidup, hidup lalu matilah, yang bisa ku wariskan padamu hanya sebuah pedang, Mimpi dan semangatku" wujud Skye perlahan menghilang menjadi Debu bercahaya sebelum hilang sepenuhnya.


Tangis Scar pecah lagi. Ia bersorak kepada langit. "Akan ku pikul mimpi mimpimu itu, dan ketika sudah sampai di tempatmu semua mimpi yang tercapai itu akan ku lemparkan ke wajahmu, Guru sialan" setelah itu Scar tertawa ke langit dengan perasaan lega


Ia tidak tau apakah ia bisa memaafkan dirinya atau tidak, tapi yang jelas kehidupannya masih panjang bahkan mungkin ia masih bisa hidup seratus tahun lagi. Wajah itu, Wajah tersenyum lega yang sudah bertahun-tahun tidak terlihat sekali lagi tampak di wajah Scar.


Scar membuka matanya dan terlihat Raiden yang sedang duduk sambil meminum Arak di kendi labu miliknya.


Scar menghilangkan sisa air matanya lalu berdiri sambil berkata dengan nada tenang.


"Hei, apakah dosa itu bisa di tebus?" Ucapnya sambil menatap pepohonan.


"Entahlah" jawab Raiden singkat.


"Kupikir aku akan mencobanya"


Mereka berdua terdiam cukup lama sebelum Scar bertanya.


"Apa kau juga menemui mereka yang sudah tiada?" Tanya Scar


"Tidak"


"Kenapa?, padahal kau juga menutup mata." Scar mengerutkan keningnya.


"Itu karena....aku bisa melihat menembus kelopak mataku" terasa nada kesal di suara Raiden barusan.


Scar berusaha menahan tawanya mendengar itu


---

__ADS_1


Mohon para pembaca memberikan like, komen, share dan Vote agar Novel ini dapat sukses sampai tamat😄


__ADS_2