BATTLE CRY

BATTLE CRY
Lontara 32: Kalian Bersaudara?


__ADS_3

"Ah, Melampaui Malam


Menembus kegelapan


Untuk bertemu dirimu


Cahaya matahari pagi dan


Pelangi setelah hujan


Sekarang saatnya, aku kan menjemputmu


Kubuka jendela sambil tersenyum.


Kurasakan matahari tertawa hari ini


Kubuka lembaran kehidupanku dengan penuh semangat


Ku saksikan diri sendiri sedang tersenyum di cermin......"


Andria sangat menikmati musiknya bahkan Cyana juga tertarik, tapi dari kejauhan Andria melihat seorang pemuda sebaya dengannya bersorak gembira dengan sebuah Lukisan seukuran papan kayu yang sedang ia angkat tinggi tinggi. Di lukisan itu tergambar wajah gadis ayu yang memiliki wajah manis dan di kepang dua, yaitu Isabella. Di sudut lukisan itu tertulis 'Isabella, aku penggemar mu!'


Andria hanya tersenyum tipis melihat itu, pemuda tadi sebenarnya adalah temannya.


Lalu sampailah Isabella pada bagian lagu dimana Kara menyanyikannya dengan suara menyeramkan tadi.


"Sekarang, saatnya... ku kan Menjemputmu.. Hooouuoooooh" Isabella membawakannya dengan indah, nada tingginya pas, tepat, perfecto!


Isabella membawakan beberapa lagu lagi sebelum acara amal itu selesai setelah para penonton menaruh sumbangan mereka di tempat yang sudah disediakan panitia. Karena ini adalah penampilan terakhirnya ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pendukungnya, yang di sambut isakan haru para penonton.


Andria dan Cyana berjalan menuju belakang panggung dan melihat Isabella sedang di kelilingi beberapa orang mereka meminta hal yang sama, yaitu tanda tangan Isabella.


Satu persatu penggemar sudah di berikan tanda tangan, pemuda tadi terlihat ikut berkumpul juga. Andria melihat itu lalu mendekatinya. Pemuda itu sadar jika Andria mendekat lalu menyapanya


"Hai, Andria kau datang untuk tanda tangan juga?"


"Tidak, aku tidak butuh hal seperti itu"


"Hmph, sebagian orang tidak menyadari betapa indahnya tanda tangan Nona Isabella ini." Ucap Pemuda itu sambil menatap lukisan itu dalam dalam.

__ADS_1


Lalu tibalah giliran pemuda itu, ia yang terakhir. Isabella menandatangani lukisan itu dan mengulurkan tangan.


"Terima kasih atas dukungannya" Isabella tersenyum hangat pada pemuda itu dan tangan Isabella di sambut oleh pemuda itu sambil di goyangkan dengan cepat.


"Aku... adalah penggemar terberat mu, Nona Isabella!" Ucap pemuda itu dengan sumringah. Tangannya berkeringat saking gugupnya.


Setelah mendapat tanda tangan dan menunjukkan jka ia penggemar Isabella. Pemuda itu pamit untuk memamerkan lukisan dan tanda tangan itu kepada teman-temannya. Andria mendekati Isabella lalu menghela nafas.


"Dia masih belum mengetahuinya?" Andria mengatakan itu sambil menggeleng pelan.


"Ya, sepertinya begitu" Isabella menghela nafas panjang lalu mohon diri sebentar untuk ganti baju.


"Well, kurasa ia terlalu bodoh untuk menyadarinya" Andria menaikkan kedua bahunya.


Andria mengangguk lalu Isabella memasuki ruang ganti yang disediakan untuknya. Sekitar beberapa menit seorang gadis keluar dari ruang ganti itu. Gadis itu mengubah gaya rambutnya menjadi kuncir kuda dan membiarkan poninya menutupi sebagian kening lalu memakai kaca mata. Dan memakai gaun sederhana yang biasa dipakai gadis desa pada umumnya.


"Jadi... sudah selesai Isabel?" Andria menyapa gadis berkaca mata itu.


"Iya" Isabel mengangkat tas berisi gitar miliknya lalu menuju ke arah Andria.


Lalu mereka bertiga berjalan menuju Padang luas di sana. Di Padang gembala itu terdapat sebatang pohon rindang yang di bawahnya terdapat empat orang pemuda yang sedang bercengkrama riang.


Mereka adalah Dag, Kara, Ling dan Roland si bocah yang membawa lukisan tadi. Andria, Cyana, dan Isabel mendekat ke arah mereka berempat.


"Hei, Isabel lihat. Aku mendapatkan tanda tangan Isabella" Roland dengan Antusias menunjukkan lukisan itu kepada Isabel sementara para teman-temannya hanya menggeleng pelan, Roland itu Tampan..... tapi Bodoh.


"Haha, itu bagus" Isabel tersenyum canggung kepada Roland sementara Roland mengambil tas Gitar milik Isabel lalu memainkan nada nada lembut yang dinyanyikan Isabella di pertunjukan tadi.


"Karena kau juga penggemarnya Isabella, bagaimana jika kita berduet bersama?" Ajak roland dan di setujui oleh Isabel.


Mereka bernyanyi beberapa lagu lalu Roland memuji kualitas gitar milik Isabel, suaranya, bentuknya, besarnya sama dengan milik Isabella dari situlah Roland menyimpulkan bahwa Isabel juga penggemar berat Isabella, Kesimpulan yang sangat cerdas bukan?


Bahkan mungkin anak bayipun bisa menyimpulkan seperti itu.


"Kuh, andai saja aku bisa bersama nona Isabella setiap saat" Roland tersenyum kepada langit.


"Hei, Roland kau tidak berpikir Isabella itu dari Desa kita?" Celetuk Ling.


"Hm, entahlah. Aku tidak begitu yakin tapi... dari manapun ia aku akan selalu menjadi Penggemar beratnya" Roland memukul dadanya sendiri seolah bangga akan hal itu.

__ADS_1


"Jadi kau tidak akan menikah jika tidak dengan Isabella?" Tanya Dag.


"Hm, aku belum berpikir sampai sana dan kurasa aku sangatlah tidak pantas untuk Nona Isabella, aku berharap bisa didekatnya dan terus memastikan dia tersenyum setiap saat!..... dan oleh karena itu jika aku akan menikah, mungkin aku akan menikahi Isabel...." ucap Roland ringan.


"Eh?"


"Nani!?"


"Ha?"


"Apa?"


Ucap mereka bersamaan sedangkan Detak jantung Isabel hendak copot sepertinya. Ia tersipu malu lalu menyembunyikan wajah merahnya menggunakan kedua telapak tangan.


"Roland, Jangan-jangan kau tau kalau Isabel itu....." belum selesai Ling berbicara di mulutnya langsung mendarat dua telapak kaki, Ling terbungkam seketika. mereka tidak bisa menggunakan telapak tangan karena tidak sampai.


"Memangnya kenapa?" Roland mengerutkan dahi.


"Apa alasan kau ingin menikahi Isabel?" Tanya Kara Serius. Semuanya juga penasaran kecuali Cyana, apakah Roland sudah sadar jika Isabel adalah Isabella atau belum?. Itu lah pertanyaan mereka.


'aku pasang 2 koin perak!'


'aku 1 koin perak'


'aku tiga koin perak'


Trio kara, Dag,dan Ling mulai saling menatap dan mengangguk, mereka bertaruh. Entah bagaimana mereka dapat berkomunikasi tanpa mengeluarkan suara.


"Karena dia juga penggemar Isabella, jadi kupikir kami akan cocok. Bukan begitu?" Roland dengan senyum polosnya tersenyum kepada Isabel. Andria dan ketiga temannya yang lain hanya menggeleng pelan sambil menepuk kening.


"Ku-Kupikir, i-itu ide Bagus" Ucap Isabel dengan suara pelan suaranya nyaris tak terdengar. Ia tersipu-sipu sendiri sambil memainkan jari-jari kecilnya.


"Kalau dipikir-pikir kalian memang mirip ya? Kau dan isabella." Roland mendekatkan wajahnya ke wajah Isabel dan memperhatikan wajah Isabel dengan lekat sambil mengelus dagunya. Isabel memalingkan wajahnya yang kembali panas.


"Apa kalian ini saudara jauh?" Roland mengerutkan dahi.


'ISABEL ITU ADALAH ISABELLA, OTAK UDANG!!!!" Ucap mereka bersamaan di dalam hati.


---

__ADS_1


**Mohon maaf atas keterlambatan Update karena beberapa hal namun sekarang Battle Cry akan update seperti biasa.


Dukung Battle Cry dengan cara Vote, like dan Share Novel ini kepada teman teman kalian**!


__ADS_2