
Andros melihat itu dan menancapkan ikannya lalu membuka bajunya, ia memakai dua lapis baju dan memberikan lapisan terluar untuk di pakai Vena.
"Ini pakailah, baju seperti itu pasti tidak tahan terhadap dingin." Andros memberikan bajunya dan di sambut vena.
"Terima kasih." Vena mengenakan Baju itu di luar baju ketat miliknya.
"Aku khawatir apakah Paman Ozo dan Hazel akan baik-baik saja. Ini sudah malam dan mereka pasti akan mencari kita."
"Tenang saja, Paman Ozo itu seorang Silver Mage. Dan juga ia sepertinya sudah sering mengembara, tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang mereka." Vena menimpali.
"Ya, benar. Pertama Tama kita harus keluar dari tempat ini"
Setelah habis memakan ikan dan udang itu mereka menghabiskan waktu dengan berbaring di atas rerumputan dan menatap ke langit berbintang sambil berbagi cerita.
"Pasti sulit, mendapatkan perlakuan seperti itu dari teman sebayamu" Vena sedikit mengerutkan dahinya mendengar masa kecil Andros yang di kucilkan oleh anak anak seusianya.
"Kalau kau sendiri bagaimana?" Tanya Andros tiba-tiba.
"Hm... ini bukanlah cerita yang bagus tapi, mungkin aku bisa membaginya denganmu...."
Vena bercerita tentang masa kecilnya. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Dahulu Vena merupakan anak periang dan senang bermain seperti anak-anak pada umumnya, semua orang menyukai gadis kecil yang periang itu. Tapi ketika berumur lima tahun Vena di ketahui hanya memiliki dua elemen pada spirit rootnya dan salah satunya adalah elemen racun. Ayah dan para tetua lain begitu bangga karena lahir seorang jenius di dalam sekte mereka namun kejeniusan Vena membuat keempat saudaranya dengki kepadanya.
Sikap mereka perlahan berubah menjadi dingin dan sering menakut-nakuti Vena. Itu membuat Vena sangat sedih dan kesepian namun ibunya tetap menyayanginya bahkan setelah mendapat perlakuan seperti itu dari saudaranya ibu Vena malah semakin sayang kepada Vena, hal itu membuat keempat saudaranya malah semakin geram.
__ADS_1
Mereka mulai menjahili Vena dengan berbagai cara. Itu membuat Vena semakin frustasi apalagi di tambah dengan latihan yang diberikan oleh ayahnya yang berat. Meski begitu Vena kecil tidak mengeluh karena apabila sudah pulang maka ibunya akan menyambutnya dengan pelukan dan ciuman hangat.
Tapi semua berubah ketika ibu Vena terbunuh saat pergi untuk sebuah urusan bersama ayahnya. Kereta mereka di sergap oleh puluhan Magician, Pada saat itu Ayah Vena gagal menyelamatkan ibunya yang sudah terkena tikaman tepat di jantungnya. Akhirnya Ayah Vena yang geram membantai habis seluruh penyerang sampai tidak bersisa.
Setelah mendapat kabar jika ibunya telah tiada Vena sangat terpukul. Hatinya hancur namun ia tidak menangis bahkan ketika pemakaman ibunya ia hanya berdiri tanpa ekspresi melihat peti mati ibunya di kubur.
Mulai hari itu sesuatu berubah dalam diri Vena, ia bukanlah gadis kecil yang dulu lagi. Sekarang ia berani menentang keempat kakaknya, tapi karena ilmunya masih rendah ia selalu kalah oleh saudara-saudaranya.
Karena itu ia berlatih lebih rajin, ia menunjukkan perkembangan yang sangat cepat berkat kegigihan dan bimbingan ayahnya yang juga merupakan seorang ahli racun dan akhirnya dapat mengalahkan para saudaranya.
Setelah itu ia menjadi terobsesi terhadap racun, awalnya ia melakukannya pada hewan kecil seperti kelinci atau kucing lama kelamaan ia dengan secara sembunyi ia menguji coba racunnya terhadap saudara saudaranya.
Setelah itu ia menjadi ketagihan dan terus membuat penelitian maupun ekperimen terhadap tubuh manusia sehingga mendapat julukan 'Mad Venom Princess' oleh para Magician aliran hitam. Bahkan itu membuat neneknya khawatir jika para pria takut kepadanya dan Vena tidak akan bisa menikah.
Ia semakin muak terhadap mata yang selalu memandangnya dengan tatapan tidak sopan, jika ia melihat ada pria yang mencoba melihatnya dengan tatapan seperti itu maka ia akan langsung melemparkan jarum beracun ke bola mata orang itu. Mulai saat itu ia mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya.
"Seperti itulah kisahku....." Vena bercerita diikuti helaan nafas pelan, ia mengangkat topeng yang selalu ia kenakan sambil menatap topengnya itu.
Andros hanya mendengarkan sambil menatap langit berbintang lalu mengalihkan wajahnya kepada Vena.
Vena yang menyadari itu langsung melihat balik ke arah Andros.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Hm... benar juga, jika di perhatikan lagi ternyata kamu ini sangat Cantik." Andros memperhatikan bentuk wajah Vena baik baik.
"U...um, Benarkah?" Vena langsung memalingkan wajahnya ke sisi lain.
Andros kembali menatap bintang yang berkelap-kelip di angkasa. Mereka berdua berbaring di atas rumput dan beratapkan langit mereka saling melempar canda lalu perlahan terlelap bersama suara jangkrik dari hutan.
---
Andros berdiri di depan pintu hitam yang menjadi tempat masuk dirinya bersama Vena, pintu itu Sekarang tertutup rapat dan tidak dapat di hancurkan meski Andros mengeluarkan tenaga penuhnya. Meski tidak menggunakan tenaga dalam seharusnya itu cukup untuk menghancurkan batu besar. Tapi pintu ini tidak bergeming sedikitpun.
Andros duduk bersila di hadapan pintu itu sambil memikirkan bagaimana caranya keluar dari sini.
Sementara di luar sana, Vena sedang duduk di pinggir danau. Ia memainkan permukaan air lalu menoleh ke kanan dan kiri lalu melihat ke arah pintu bangunan perpustakaan itu.
Lalu berdiri dan pergi ke area bebatuan besar di dekat sungai yang sekiranya cukup tertutup. Ia menerawang sekitar lalu perlahan membuka kuncian baju miliknya. Dengan hati hati ia menanggalkan satu persatu pakaiannya. Tubuh putih dan indah, terlihat dari balik balutan pakaian hitam itu.
Lalu vena berendam di balik sebuah batu yang besar.
"Ah.... surga dunia." Vena membenamkan seluruh tubuhnya hingga lehernya. Air ini terasa sangat nyaman dan menyejukkan seolah seluruh kotoran dan keringatnya di sapu bersih.
Lalu Vena membersihkan tubuhnya, sampai ia merasakan sesuatu mencubit punggungnya. Vena menoleh ke belakang dan melihat seekor ikan putih kecil mencuil punggungnya.
"Ah kamu lagi.. di mana teman-temanmu."
__ADS_1
Vena merasa sesuatu mencuil bahunya. Ia lihat dua ikan kecil diikuti ikan kecil lainnya.