
Andros maju dan menyerang. Setiap pukulan yang ia keluarkan begitu bertenaga, membuat pria itu heran.
'bocah ini!. Bukannya ia sedang terluka parah?'. Pria itu menghindari setiap pukulan namun pukulan pukulan milik andros sangat susah di tebak dan tidak memiliki suara.
Tinju Senyap Delapan penjuru, merupakan salah satu ilmu pukulan tingkat tinggi di masanya. Setiap serangannya tidak memiliki suara dan lentur. Sebenarnya jurus ini lebih cocok di gunakan oleh perempuan dari pada laki-laki.
Ketika dia menangkis dengan tangan terdengar suara tulang retak di bekas pukulan Andros di sertai rasa dingin yang sangat menggigit.
"Sial, pukulannya keras sekali. Apakah ia manusia?" Padahal pria itu telah menggunakan sihir angin untuk meningkatkan kecepatan dan sihir tanah untuk mengeraskan pertahanan tubuhnya tapi sihirnya seolah tidak mempan.
Meski seorang Silver Mage pemimpin Bandit ini masihlah lemah dari siver Mage lainnya arena baru saja mencapai tahap itu.
Andros menyerang tangan dan kaki pria itu dengan penuh nafsu, berusaha menghancurkan tulang pria itu.
Pria itu mengeluarkan sihir petir namun itu tidak mempan sama sekali, karena Andros sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Pria itu juga tidak bisa menggunakan sihir skala besar miliknya karena akan melukai Vena.
"Cih, tidak ada pilihan lain." Melihat posisinya tidak di untungkan ia langsung memakai sihir tanah dan masuk ke dalam tanah untuk kabur. Padahal ia ingin sekali menikmati tubuh gadis itu tapi, jika ia meregang nyawa disini ia tidak akan bisa menikmati tubuh gadis lagi.
Andros sangat kesal lalu keluar tenda untuk mencari kemana perginya pria itu tapi, ketika di luar ia terkejut melihat mayat bergelimpangan dengan jasad hangus. Seluruh bandit telah di bantai habis.
Di tengah kumpulan mayat itu berdiri pria dengan Zirah putih dengan pedang yang di selimuti sihir api.
Pria itu merasakan energi sihir yang merayap di dalam tanah. Ia langsung menusukkan pedangnya ke bumi.
"Fire Magic - Volcano Burst" seketika tanah di sekelilingnya meledak dan mengeluarkan lidah api yang sangat besar.
Sesuatu terlihat terlempar dari dalam tanah, Pemimpin Bandit itu terlempar dengan luka bakar di lengan kirinya.
__ADS_1
"Bandit seperti kalian harus di habisi!" Pria itu melompat dengan menggunakan ledakkan sihir api di kakinya dan terbang ke arah Pemimpin Bandit.
Ia melesat begitu cepat sebelum menghujamkan pedangnya ke perut bandit itu, bahkan Iron Wound Armor milik pemimpin bandit itu tembus.
"Tidak mungkin!, Kau akan ikut bersamaku!" Bandit itu menjerit
"Kurasa tidak hari ini" pria itu menutup mata dan memusatkan energi sihir di pedangnya.
"Fire Magic - Volcano Burst!" Ledakan besar terjadi dari dalam tubuh pemimpin bandit itu, Lidah api keluar dari ke tujuh lubang tubuh miliknya. Pria itu mencabut pedangnya lalu mendarat di dekat Andros.
Pemimpin bandit itu hangus karena suhu tinggi yang pria itu hasilkan.
"Kau hebat sekali, Paman Ozo." Andros terkagum.
"Kau juga, Bakat pedangmu sangat mengerikan. Di usia semuda ini bisa menghadapi banyak bandit seperti itu belum lagi melukai seorang Silver Mage, kau memang jenius Jalan Pedang"
Paman Ozo membakar beberapa mayat yang membusuk padahal baru saja terbunuh. 'perempuan itu pasti dari aliran hitam' pikir Paman Ozo Karena ilmu racun hanya di pelajari oleh aliran hitam, aliran putih tidak akan mempelajari ilmu yang tidak berperikemanusiaan seperti ini.
Ketika Andros sampai, ia langsung memutuskan rantai di leher Vena dengan mudah, ia melepaskan ikatan, lalu memangku kepala Vena dan ia mengalirkan tenaga dalam untuk membuat Vena sadar.
Vena yang pingsan merasakan sesuatu mengalir di dalam tubuhnya, terasa hangat dan menenangkan. Perlahan ia membuka mata dan melihat wajah Andros.
"Syukurlah, kau sadar" Andros menghela nafas lega. Vena masih terdiam, ia lihat lekat lekat wajah babak belur dan tubuh penuh luka itu.
Vena perlahan bangun, ia melihat bajunya masih tertutup rapat dari dalam hati ia sangat bersyukur. Ia hendak menangis tapi ia tahan tangisan itu, ia tidak bisa menangis di hadapan orang lain. Ia tunduk dan melihat pakaiannya.
"Tenang saja, semuanya sudah baik-baik saja" ucap Andros tenang.
__ADS_1
Dengan wajah merah padam menahan tangis ia memberanikan diri melihat wajah Andros, ia mengangkat wajah dan menemukan wajah pemuda itu masih di hiasi senyum khasnya walau terlihat aneh karena lebam, goresan dan darah di wajahnya.
Vena merasa damai saat ini, sebuah sensasi yang ia tidak dapatkan meski dengan meracuni seribu orangpun.
Sebuah bayangan masa lalu terlintas di pikirannya, ketika itu sedang malam hari, lilin menyala redup di ruangan itu. Vena sedang menyelimuti diri karena di luar sedang hujan di sertai petir. Ia begitu takut saat itu, hingga ia merasa seseorang naik ke ranjang miliknya lalu dengan perasaan kasih memeluk dan mengecup keningnya. Orang itu tersenyum lembut dan berkata semua baik-baik saja. Ia tidak mengingat dengan jelas wajah wanita yang memeluknya itu karena ketika itu ia terlalu kecil untuk mengingatnya.
Sekali lagi ia merasakan sensasi yang sama dengan saat itu. Ia meraba wajahnya dan sadar jika ia sedang tidak memakai topeng. Ia masih kagum karena pemuda di hadapannya masih tidak terpengaruh dengan wajah cantiknya.
Andros melihat Vena menatap topengnya yang pecah di lantai, lalu merobek sedikit pakaiannya dan memberinya kepada Vena.
"Pasti tidak nyaman untuk mu jika tidak mengenakan penutup wajah" ucap Andros sambil menyerahkan robekan pakaiannya.
Vena memandang potongan kain di tangan Andros sejenak. Andros yang tersadar jika meski potongan pakaian itu tidak memiliki noda darah tetap saja potongan itu telah terkena keringat dan bau darah miliknya.
"Oh, iya... tidak sopan bagiku jika..." Andros hendak menarik kembali kain hitam itu tapi tangan Vena menceganya dan mengambil Kain itu dan memakainya sebagai penutup wajah dan tersenyum di baliknya, Ah, andai kalian tau betapa manisnya gadis dingin itu jika tersenyum.
Andros tau jika Vena sedang tersenyum dan membalas senyumannya.
Andros masih tersenyum lembut lalu perlahan perubahannya mulai menghilang, detak jantungnya mulai normal dan urat urat di tubuhnya kembali tidak terlihat, tapi seketika Andros lalu memuntahkan darah segar Andros tumbang tapi Vena langsung menangkapnya.
Andros batuk darah, dan nafasnya mulai melemah matanya mulai kabur, ia merasakan sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya dan ototnya. Efek samping karena ia memakai Teknik tingkat tinggi dengan tubuh yang masih kurang kuat.
Vena panik, ia tidak memiliki pil penyembuh yang tersisa untuk Andros. Ia mulai merasakan detak jantung Andros mulai melemah dengan segera ia membaringkan Andros dan segera mengalirkan energi sihir ke dada Andros, karena ia tidak menguasai sihir penyembuh, Tapi percuma energi sihir itu menolak untuk terserap di tubuh andros. Tanpa Vena sadari sebuah tetes air mata mengalir di pipinya.
---
Mohon Dukungan kepada para pembaca untuk mensupport novel ini dengan memberi like, komentar maupun share ke teman-teman kalian.
__ADS_1