
Angin Padang menyapu mereka bertujuh dengan semilir lembut, mereka adalah sekumpulan anak desa yang ingin berlatih menjadi Magician di Sekte Lembah Alam. Alasan mereka untuk berlatih dan menjalani kerasnya dunia Sihir adalah karena kebutuhan akan uang.
Untuk orang biasa uang itu sulit di cari tapi berbeda dengan mereka yang merupakan seorang Magician, uang seratus emas tidak begitu berharga bagi mereka tapi jika untuk orang biasa itu nilai yang sangat tinggi.
"Jadi, Bagaimana reaksi Lily ketika kau mempersembahkan lagu untuknya?" Tanya Dag.
"Wah, kali ini lain dari biasanya. Reaksinya begitu berbeda dari yang sebelumnya." Ucap Kara ambil senyum ke arah Padang
"Dia suka?, Begitukah maksudmu?" Tanya Ling sambil setengah bercanda.
"Jika biasanya aku mengirim puisi akan dia remas remas kertas puisiku itu lalu ia lemparkan ke wajahku, tapi Sekarang lain.... penantian panjang ku telah terbayarkan, usahaku telah berbuah manis, bagaikan pungguk yang menggapai bulan.." Kara makin tersenyum lebar ketika mengatakannya.
Dag dan Ling mulai dirayapi rasa penasaran yang tidak tertahankan karena tidak mungkin gadis seperti Lily yang memiliki lesung pipi dan mata seperti bintang kejora itu menerima pemuda dengan wajah sekonyol Kara, sudahlah wajah bulat, telinga lebar, bermata sipit, gigi macam tikus pula.
"Kalian tau, dia tadi mendatangiku dengan wajah merah merona macam orang sedang di Landa asmara. Aku tidak akan lupa wajah Kasmaran yang merona itu." Mendengar itu Dag dan Ling terkejut sekali.
"Ia datang kepadaku dan berbicara sebanyak tiga kata, bayangkan ia berbicara padaku sebanyak Tiga kata tidak kurang tidak lebih." Mulut Dag dan Ling terbuka lebar. Lily mau berbicara kepada Kara itu adalah sebuah anomali, bagai sebuah keanehan alam. Meski hanya tiga kata itu sudah luar biasa.
"Kau yakin akan itu?!" Ling merapatkan gigi.
"Belum pernah aku seyakin ini dalam hidupku" kara mengibaskan rambut keritingnya.
"Terus bagaimana selanjutnya?!!" Dag berdiri saking penasarannya.
"Lalu ia hempaskan gelas jusnya ke wajahku hingga basah." Raut wajah mereka langsung berubah ia melanjutkan
"Tapi aku rasa itu bentuk dari rasa tersipunya, lalu ia berjalan dengan hentakan kaki dan melangkah pergi dengan bahu bergetar." Kara menutup ceritanya dengan senyuman yang tidak tergambar oleh kata kata.
__ADS_1
Mungkin di seluruh daratan benua tengah hanya kara lah yang dapat berfikir sepositif itu, cacian Lily merupakan dendang lagu merdu di telinganya.
"Boleh aku tau, apa tiga kalimat yang dia ucapkan padamu?" Tanya Roland.
"Tidak mungkin 'Aku cinta Padamu' Kan?" Ling menepuk dahi. Dan tertawa remeh.
"Ia berkata 'Kuharap Kau Mati!'. Lihatlah ia menyuruhku mati karena satu alasan. Cinta kami ini sangat besar hingga dunia ini tidak sanggup menampungnya!" Seluruh telinga yang mendengar spekulasi tidak masuk akal milik kara hanya menghela nafas pelan sementara Dag Dan Ling tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut mereka. Mereka semua penasaran apa isi kepala pemuda ini.
---
Andria dan kelompoknya mendatangi Magic Sale House untuk membeli beberapa perlengkapan. Meski barang yang ada disini termasuk murah bagi para Magician tetapi bagi mereka yang memiliki orang tua yang bukan Magician harga barang di toko ini tetaplah mahal.
"Selamat datang di Magic Sale House" suara gadis muda menyambut mereka.
"Hai, kak Anne" Andria melambaikan tangan dan Cyana memberi hormat.
"Jadi, apa yang kamu butuhkan. Andria?" Tanyanya.
"Kami hanya membutuhkan perlengkapan awal untuk para Magician."
"Kalian akan bergabung dengan Lembah Alam ya, tidak sembarang orang dapat bergabung dengan sekte besar seperti itu." Anne lalu menyiapkan beberapa set perlengkapan.
Lalu Andria membisikkan sesuatu yang membuat Anne terkejut.
"Bagaimana hadiahnya, sudahkah kakak berikan kepada kak Andros."
Anne mengerjapkan matanya beberapa kali lalu melihat gelang yang melingkar di pergelangannya sambil tersenyum sendiri.
__ADS_1
"Ya, sudah ku berikan."
Anne tersenyum kepada Andria sambil mengingat masa lalu.
Yang membuat Anne begitu tertarik kepada Andros adalah kepribadiannya yang sangat kukuh dan tidak peduli berapa banyak hinaan yang di berikan kepadanya Andros tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Ia masih ingat ketika dulu para anak anak di desa menyorakinya ketika latihan fisik. Para anak-anak itu melemparinya dengan batu namun Andros sama sekali tidak bergeming dan tidak menyimpan dendam
Anne memperhatikan setiap latihan Andros dari jauh sambil terkagum dengan pemuda bertekad baja itu.
Pernah suatu hari Anne yang sedang mencari Jamur di dekat hutan di ganggu oleh beberapa Remaja, Andros yang ketika itu masih berumur dua belas tahun berdiri diantara Anne dengan berani sambil mengacungkan pedang kayu miliknya.
"Jangan Ganggu Kakak ini!!" Tanpa sedikitpun rasa takut Andros menghadang tiga orang pemuda itu dan berakhir babak belur sebelum ketiga pemuda itu pergi dengan tawa terbahak bahak.
Anne yang merasa tertolong mendekati Andros dan berterima kasih.
Wajah Andros memiliki lebam besar dan beberapa memar di tubuhnya namun bocah cilik itu tersenyum kepada Anne dengan lebarnya menunjukkan sederet gigi putihnya.
"Itu sudah tugasku, Melindungi Orang lain adalah kewajibanku"
Itulah yang membuatnya terpesona pada Andros. Sambil mengingat hal itu Andria menyikut lengan Anne lalu tersenyum jahil.
"Tapi, kak Andros sekarang sedang berada di istana loh. Bisa jadi ia akan tertarik kepada sang putri." Goda Andria.
"Um, a-aku tidak berniat untuk kalah meski melawan seorang tuan putri." Anne mengeratkan kepalanya yang hanya di balas tawa oleh Andria.
---
__ADS_1
Mohon Dukungan para pembaca sekalian demi kelangsungan Novel ini, terima kasih